Senin, 01 Mei 2017

Berbagai Macam "Penutup Hati" yang Menghalangi Manusia "Beriman" Kepada "Rasul Allah" yang Dijanjikan & Pentingnya Menyampaikan "Salam" Dari Nabi Besar Muhammad Saw. Kepada Masih Mau'ud a.s.



Bismillaahirrahmaanirrahiim

“ARBA’IN”

ARBA’IN LI-ITMÂMIL HUJJAH ‘ALAL MUKHALLIFÎN
(Empat Puluh Risalah, Menyempurnakan Argumen Bagi Para Penentang)

  Karya

  Mirza Ghulam Ahmad a.s.
(Al-Masih Al-Mau’ud a.s.   -- Al-Masih yang Dijanjikan a.s.)


Bagian 15

ARBA’ÎN KE II

BERBAGAI MACAM "PENUTUP HATI" YANG MENGHALANGI  MANUSIA BERIMAN KEPADA RASUL ALLAH YANG DIJANJIKAN   & PENTINGNYA MENYAMPAIKAN “SALAM”  DARI NABI BESAR MUHAMMAD SAW. KEPADA MASIH MAU’UD A.S.  

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir  Bab sebelumnya   telah dikemukakan topik     “Duel Makar” yang Senantiasa Berulang sehubungan dengan  firman Allah Swt.:  
وَ اِذۡ یَمۡکُرُ بِکَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا لِیُثۡبِتُوۡکَ اَوۡ یَقۡتُلُوۡکَ اَوۡ یُخۡرِجُوۡکَ ؕ وَ یَمۡکُرُوۡنَ وَ یَمۡکُرُ  اللّٰہُ  ؕ وَ اللّٰہُ خَیۡرُ الۡمٰکِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika orang-orang kafir merancang makar  terhadap engkau, supaya mereka dapat menangkap engkau atau membunuh engkau atau mengusir engkau. وَ یَمۡکُرُوۡنَ وَ یَمۡکُرُ  اللّٰہُ    --   Mereka merancang makar buruk, dan Allah pun merancang  makar tandingan,  وَ اللّٰہُ خَیۡرُ الۡمٰکِرِیۡنَ  -- dan Allah sebaik-baik  Perancang makar. (Al-Anfāl [8]:31).
        Kenyataan yang terjadi  adalah bahwa selamatnya  Nabi Besar Muhammad saw.  pada malam pengepungan rumah beliau  saw.   pada peristiwa “duel makar” tersebut (QS.8:31) -- kecuali tertidur-pulasnya para pengepung rumah --  tidak ada hal yang bersifat spektakuler,   karena dalam kenyataannya beliau saw. berhasil menyelinap  keluar dari rumah ketika para pengepung rumah beliau saw.  yang zalim tertidur, lalu bersama dengan Abu Bakar Shiddiq r.a. beliau saw.  meninggalkan kota Mekkah dan untuk sementara waktu keduanya bersembunyi di gua Tsaur (QS.9:40), firman-Nya:
اِلَّا تَنۡصُرُوۡہُ فَقَدۡ  نَصَرَہُ  اللّٰہُ  اِذۡ اَخۡرَجَہُ الَّذِیۡنَ  کَفَرُوۡا ثَانِیَ اثۡنَیۡنِ اِذۡ ہُمَا فِی الۡغَارِ اِذۡ یَقُوۡلُ لِصَاحِبِہٖ    لَا تَحۡزَنۡ اِنَّ اللّٰہَ مَعَنَا ۚ فَاَنۡزَلَ اللّٰہُ سَکِیۡنَتَہٗ عَلَیۡہِ وَ اَیَّدَہٗ  بِجُنُوۡدٍ لَّمۡ تَرَوۡہَا وَ جَعَلَ کَلِمَۃَ  الَّذِیۡنَ کَفَرُوا السُّفۡلٰی ؕ وَ کَلِمَۃُ  اللّٰہِ ہِیَ الۡعُلۡیَا ؕ وَ اللّٰہُ  عَزِیۡزٌ  حَکِیۡمٌ  ﴿﴾
Jika kamu tidak menolongnya maka  sungguh Allah  telah menolongnya ketika ia (Rasulullah) diusir oleh orang-orang kafir, sedangkan ia kedua dari yang dua ketika keduanya berada dalam gua, lalu ia berkata kepada temannya:       Janganlah engkau sedih sesungguhnya Allah beserta kita”, lalu  Allah menurunkan ketenteraman-Nya kepadanya  dan menolongnya dengan lasykar-lasykar yang kamu tidak melihatnya,  dan Dia menjadikan perkataan orang-orang yang kafir itu rendah sedangkan Kalimah Allah itulah yang tertinggi, dan Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.  (At-Taubah [9]:40).

Berlebihan Dalam Mempersepsikan “Mukjizat

    Kata pengganti nama  (nya) dalam anak kalimat “ketenteraman-Nya kepadanya” dapat mengisyaratkan kepada   Abubakar Shiddiq r.a.    karena selama itu Nabi Besar Muhammad saw.  sendiri senantiasa dalam keadaan setenang-tenangnya. Sedangkan kata pengganti “nya” dalam anak kalimat “menolongnya” bagaimanapun juga mengisyaratkan kepada Nabi Besar Muhammad saw.. Dipergunakannya kata-kata pengganti nama dengan cara berpencaran ini, dikenal sebagai Intisyar al-Dhama’ir dan sudah lazim dalam bahasa Arab. Lihat QS.48:10.
        Yang dimaksud oleh ayat ini ialah hijrah  Nabi Besar Muhammad saw.    dari Mekkah ke Medinah ketika beliau saw. didampingi oleh   Abubakar Shiddiq r.a.  berlindung di sebuah gua yang disebut Tsaur, sebab para pemburu dari Mekkah terus mengejar keduanya.  Ayat ini menjelaskan martabat ruhani amat tinggi  Abubakar Shiddiq r.a.  yang telah disebut sebagai “salah satu di antara dua orang” dengan disertai Allah Swt.   dan  Allah Swt.  Sendiri meredakan rasa ketakutannya.
         Telah tercatat dalam sejarah bahwa ketika berada dalam gua  Abubakar shiddiq r.a. mulai menangis, dan ketika ditanya oleh Nabi Besar Muhammad saw. mengapa beliau menangis, beliau menjawab: “Saya tidak menangis untuk hidupku, ya Rasulullah, sebab jika saya mati, ini hanya menyangkut satu jiwa saja, tetapi jika Anda mati, ini akan merupakan kematian Islam dan kematian seluruh umat Islam.” (Zurqani).
         Jadi, walau pun dalam kenyataannya peristiwa “hijrah” Nabi Besar Muhammad saw. mulai dari malam pengepungan rumah beliau saw. (QS.8:31) sampai dengan sampainya beliau saw. dan Abubakar Shiddiq r.a. ke Madinah menghabiskan waktu berhari-hari dan bermalam-malam,  tetapi Allah Swt. telah menyebut “peristiwa hijrah” Nabi Besar Muhammad saw. dari Mekkah ke Madinah tersebut menggunakan istilah    “Dia telah memperjalankan hamba-Nya pada waktu malam”, firman-Nya: سُبۡحٰنَ الَّذِی - “Maha Suci Dia  Yang  memperjalankan  hamba-Nya pada waktu malam  dari Masjid Haram ke Masjid-al-Aqsha   yang   sekelilingnya telah Kami berkati.“ (Bani Israil [17]:2).
           Jadi, dalam berbagai peristiwa “duel makar” antara Allah Swt. dengan para penentang Rasul Allah sama sekali tidak ada peristiwa “spektakuler” yang bertentangan dengan hukum alam --   seperti kepercayaan keliru  mengangkat Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. hidup-hidup ke atas langit atau beliau  diangkat  kepada Allah Swt. seperti yang diisyaratkan dalam ayat: بَلۡ رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ عَزِیۡزًا حَکِیۡمًا  --  “Bahkan Allah telah mengangkatnya kepada-Nya ”   (Ali ‘Imran [3]:159).

Berbagai Rahasia Gaib yang Dibukakan Allah Swt.  Kepada Masih Mau’ud a.s.

        Dengan demikian jelaslah bahwa  makna ayat  peristiwa Isra  Nabi Besar Muhammad saw.:   “Maha Suci Dia  Yang  memperjalankan  hamba-Nya pada waktu malam  dari Masjid Haram ke Masjid-al-Aqsha   yang   sekelilingnya telah Kami berkati.“ (Bani Israil [17]:2) sama dengan  makna hakiki   dari ayat  بَلۡ رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ عَزِیۡزًا حَکِیۡمًا  --  “Bahkan Allah telah mengangkatnya kepada-Nya” (QS.34:159) mengenai  penyelamatan yang dilakukan Allah Swt. terhadap Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  --   dari “kematian terkutuk di tiang salib” yang dirancang oleh para pemuka agama Yahudi tersebut  -- yakni tidak ada hubungannya dengan pengangkatan  tubuh jasmani  Nabi Isa Ibnu Maryam as.  ke atas langit atau diangkat kepada Allah Swt.  atau memperjalankan tubuh jasmani Nabi Besar Muhammad saw. dalam satu malam  dari Masjidil-Haram ke Masjidil-Aqsha (masjid yang jauh) di Palestina (Yerusalem) lalu beliau saw.  balik lagi ke Mekkah,  sebagaimana yang umumnya disalah-tafsirkan
       Itulah  berbagai  rahasia gaib yang dibukakan Allah Swt. kepada Masih Mau’ud a.s. berkenaan misteri  persitiwa mi’raj dan Isra Nabi Besar Muhammad saw.  dan misteri penyaliban Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. yang  telah menggelincirkan  orang-orang yang berhati bengkok, dan banyak  rahasia-rahasia gaib lainnya yang dibukakan Allah Swt. kepada beliau sebagaimana firman-Nya:
عٰلِمُ الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا ﴿ۙ﴾    اِلَّا مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ  بَیۡنِ یَدَیۡہِ  وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا ﴿ۙ﴾ لِّیَعۡلَمَ  اَنۡ  قَدۡ  اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ رَبِّہِمۡ وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ اَحۡصٰی کُلَّ  شَیۡءٍ عَدَدًا ﴿٪﴾
Dia-lah Yang mengetahui yang gaib, maka Dia tidak menzahirkan rahasia gaib-Nya kepada siapa pun,  kecuali kepada Rasul yang Dia ridhai, maka sesungguhnya barisan pengawal berjalan di hadapannya dan di belakangnya,  supaya Dia mengetahui bahwa  sungguh  mereka telah menyampaikan Amanat-amanat Rabb (Tuhan) mereka,  dan Dia meliputi semua yang ada pada mereka dan Dia membuat perhitungan mengenai segala sesuatu. (Al-Jin [72]:27-29).
 Firman-Nya lagi:
مَا  کَانَ اللّٰہُ لِیَذَرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ عَلٰی مَاۤ  اَنۡتُمۡ عَلَیۡہِ حَتّٰی یَمِیۡزَ  الۡخَبِیۡثَ مِنَ الطَّیِّبِ ؕ وَ مَا کَانَ اللّٰہُ لِیُطۡلِعَکُمۡ عَلَی الۡغَیۡبِ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ یَجۡتَبِیۡ مِنۡ رُّسُلِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ ۪ فَاٰمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ ۚ وَ  اِنۡ تُؤۡمِنُوۡا وَ تَتَّقُوۡا فَلَکُمۡ  اَجۡرٌ  عَظِیۡمٌ﴿﴾
Allah sekali-kali tidak akan  membiarkan orang-orang yang beriman di dalam keadaan kamu berada di dalamnya       hingga  Dia memi-sahkan yang buruk dari yang baik. Dan Allah sekali-kali tidak akan    memperlihatkan  yang gaib kepada kamu, tetapi Allah memilih   di antara rasul-rasul-Nya siapa yang Dia kehendaki, karena itu berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagi kamu ganjaran yang besar. (Ali ‘Imran [3]:180).

Kedustaan Pembicaraan Dalam  “Majlis Ghibat” (Gunjing)   

       Kembali kepada sabda Masih Mau’ud a.s. dalam Arba’in II, selanjutnya beliau menjelaskan:
       “Baiklah, jika pada musuh ada sekumit saja kejujuran maka silakan dengan tenang bentuklah satu majlis (pertemuan) darurat bersama dengan  beberapa orang terhormat dan para cendekiawan untuk membahas dan mengajukan masalah-masalah yang menurut mereka termasuk aib, atau beberapa kabar gaibku yang menurut mereka belum sempurna, yang menurut mereka hal itu tidak terdapat di dalam kabar-kabar suka para nabi atau di dalam riwayat-riwayatnya.
       Ingatlah, jika di dalam majlis (pertemuan) mereka terdapat cendekiawan dan orang terpelajar ingin mengambil suatu keputusan, maka pasti akan terbukti bahwa mereka itu hanya para penggunjing dan penipu belaka. Perbuatan membicarakan sesuatu yang tanpa bukti di belakang adalah ghibat (pergunjingan). Sebab penggunjing jika ia sendirian akan lebih banyak kesempatan berbuat dusta dan penipuan. Jika telah demikian   maka tak ayal lagi majlis (pertemuan) yang demikian  itu di sisi Allah bukanlah majlis pencari kebenaran.”
      Jangankan terhadap Masih Mau’ud a.s. – yang merupakan pengikut dan  pengkhidmat hakiki Nabi Besar Muhammad saw. (QS.11:18; QS.62:3-4; QS.85:4) – bahkan sekali pun terhadap Nabi Besar Muhammad saw. yang  kepada beliau saw. Al-Quran telah diwahyukan  Allah Swt.,  tetap saja para pemuka kaum kafir Quraisy melakukan pendustaan dan penentangan secara zalim, firman-Nya:
وَ اِذَا قَرَاۡتَ الۡقُرۡاٰنَ جَعَلۡنَا بَیۡنَکَ وَ بَیۡنَ  الَّذِیۡنَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡاٰخِرَۃِ حِجَابًا مَّسۡتُوۡرًا  ﴿ۙ﴾ وَّ جَعَلۡنَا عَلٰی قُلُوۡبِہِمۡ  اَکِنَّۃً  اَنۡ یَّفۡقَہُوۡہُ  وَ فِیۡۤ  اٰذَانِہِمۡ وَقۡرًا ؕ وَ اِذَا ذَکَرۡتَ رَبَّکَ فِی الۡقُرۡاٰنِ وَحۡدَہٗ  وَلَّوۡا عَلٰۤی  اَدۡبَارِہِمۡ  نُفُوۡرًا ﴿﴾  نَحۡنُ اَعۡلَمُ بِمَا یَسۡتَمِعُوۡنَ بِہٖۤ  اِذۡ یَسۡتَمِعُوۡنَ  اِلَیۡکَ وَ اِذۡ ہُمۡ نَجۡوٰۤی  اِذۡ یَقُوۡلُ الظّٰلِمُوۡنَ  اِنۡ تَتَّبِعُوۡنَ  اِلَّا رَجُلًا  مَّسۡحُوۡرًا ﴿﴾  اُنۡظُرۡ کَیۡفَ ضَرَبُوۡا لَکَ الۡاَمۡثَالَ فَضَلُّوۡا  فَلَا  یَسۡتَطِیۡعُوۡنَ  سَبِیۡلًا ﴿﴾
Dan apabila engkau membaca Al-Quran, Kami menjadikan antara engkau dan orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat suatu penghalang yang tersembunyi.  Dan Kami menjadikan tutupan  di atas hati mereka supaya mereka tidak memahaminya dan dalam telinga mereka ada ketulian.  Dan apabila engkau menyebutkan Rabb (Tuhan) engkau Yang Tunggal dalam Al-Quran mereka membalikkan punggungnya karena benci.  نَحۡنُ اَعۡلَمُ بِمَا یَسۡتَمِعُوۡنَ بِہٖۤ  اِذۡ یَسۡتَمِعُوۡنَ  اِلَیۡکَ وَ اِذۡ ہُمۡ نَجۡوٰۤی    --  Kami lebih mengetahui untuk apa mereka mendengarkannya ketika mereka mendengarkan engkau dan ketika mereka sedang berunding secara rahasia, اِذۡ یَقُوۡلُ الظّٰلِمُوۡنَ  اِنۡ تَتَّبِعُوۡنَ  اِلَّا رَجُلًا  مَّسۡحُوۡرًا  -- ketika  orang-orang zalim itu berkata satu sama lain:     Ka-mu tidak lain melainkan mengikuti seorang laki-laki yang terkena sihir.” اُنۡظُرۡ کَیۡفَ ضَرَبُوۡا لَکَ الۡاَمۡثَالَ فَضَلُّوۡا  فَلَا  یَسۡتَطِیۡعُوۡنَ  سَبِیۡلًا  -- Perhatikanlah  bagaimana mereka mengada-adakan tamsil-tamsil mengenai diri engkau, maka akibat-nya mereka menjadi sesat lalu mereka tidak dapat menemukan jalan.  (Bani Israil [17]:46-49). Lihat pula QS.58:9-11).

Bermacam-macam “Tutupan Hati

       Adalah tutupan dengki dan cemburu (QS.2:88-91 & 214; QS.3:20; QS.45:17-19), atau tutupan perasaan hormat yang palsu dan rasa kebanggaan atas kebangsaan (QS.11:26-30; QS.26:112-115);  atau tutupan yang timbul dari kekhawatiran akan kehilangan kedudukan dalam masyarakat, atau berkurangnya penghasilan  (QS.28:77-83); atau pun tutupan sebagai akibat adat kebiasaan dan kepercayaan lama yang dipegang dengan erat dan asyik   (QS.2:171; QS.5:105; QS.10:79; QS.21:53-54; QS31:22) itulah  yang menjadi penghalang bagi orang-orang kafir untuk menerima kebenaran. Tutupan-tutupan itulah yang sungguh tidak disadari oleh orang-orang kafir sendiri.
    Bahkan berkenaan Al-Quran – yang merupakan kitab suci terakhir dan tersempurna (QS.5:4) --  para pemuka kaum kafir Quraisy berkata kepada Nabi Besar Muhammad saw, firman-Nya:
وَ  اِذَا تُتۡلٰی عَلَیۡہِمۡ  اٰیَاتُنَا بَیِّنٰتٍ ۙ قَالَ الَّذِیۡنَ لَا یَرۡجُوۡنَ لِقَآءَنَا ائۡتِ بِقُرۡاٰنٍ غَیۡرِ  ہٰذَاۤ  اَوۡ بَدِّلۡہُ ؕ قُلۡ مَا یَکُوۡنُ لِیۡۤ اَنۡ اُبَدِّلَہٗ  مِنۡ تِلۡقَآیِٔ  نَفۡسِیۡ ۚ اِنۡ  اَتَّبِعُ اِلَّا مَا یُوۡحٰۤی اِلَیَّ ۚ اِنِّیۡۤ  اَخَافُ اِنۡ عَصَیۡتُ رَبِّیۡ  عَذَابَ  یَوۡمٍ  عَظِیۡمٍ ﴿﴾
Dan apabila dibacakan kepada mereka Ayat-ayat Kami yang nyata, maka  orang-orang yang tidak meng-harapkan pertemuan dengan Kami berkata:  Datangkanlah yang bukan Al-Quran ini, atau ubahlah dia.” Katakanlah: “Sekali-kali tidak patut bagiku untuk mengubahnya dari pihak diriku, tidaklah aku  kecuali hanya  meng-ikuti apa yang diwahyukan kepadaku, sesungguhnya aku takut pada azab Hari yang  besar  jika aku mendur-hakai Rabb-ku (Tuhan-ku)” (Yunus 10]:16).
       Makna  “azab Hari yang besar” dalam ayat:  اِنِّیۡۤ  اَخَافُ اِنۡ عَصَیۡتُ رَبِّیۡ  عَذَابَ  یَوۡمٍ  عَظِیۡمٍ  -- “sesungguhnya aku takut pada azab Hari yang  besar jika aku mendurhakai Rabb-ku (Tuhan-ku)”   mengandung arti malapetaka nasional. Selanjutnya Allah Swt. berfirman: 
قُلۡ لَّوۡ شَآءَ اللّٰہُ مَا تَلَوۡتُہٗ عَلَیۡکُمۡ  وَ لَاۤ اَدۡرٰىکُمۡ بِہٖ ۫ۖ فَقَدۡ لَبِثۡتُ فِیۡکُمۡ عُمُرًا مِّنۡ  قَبۡلِہٖ ؕ اَفَلَا  تَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾  فَمَنۡ  اَظۡلَمُ  مِمَّنِ افۡتَرٰی عَلَی اللّٰہِ  کَذِبًا اَوۡ کَذَّبَ بِاٰیٰتِہٖ ؕ اِنَّہٗ  لَا یُفۡلِحُ الۡمُجۡرِمُوۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: “Seandainya  Allah menghendaki,  aku sama sekali tidak akan  membacakannya kepada kamu dan tidak pula Dia akan memberi-tahukan mengenainya kepada kamu. فَقَدۡ لَبِثۡتُ فِیۡکُمۡ عُمُرًا مِّنۡ  قَبۡلِہٖ ؕ اَفَلَا  تَعۡقِلُوۡنَ -- Maka sungguh sebelum ini aku telah tinggal bersama kamu dalam masa yang panjang, tidakkah kamu mempergunakan akal?   Maka  siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan suatu dusta terhadap Allah atau mendustakan Tanda-tanda-Nya? Sesungguhnya orang-orang berdosa  tidak akan berhasil.” (Yunus 10]:17-18).

Kema’shuman (Kesucian) Semua Nabi Allah Sebelum dan Sesudah Pendakwaan Kenabiannya

        Ayat:  فَقَدۡ لَبِثۡتُ فِیۡکُمۡ عُمُرًا مِّنۡ  قَبۡلِہٖ ؕ اَفَلَا  تَعۡقِلُوۡنَ -- “Maka sungguh sebelum ini aku telah tinggal bersama kamu dalam masa yang pan-jang, tidakkah kamu mempergunakan akal?”  Ayat ini mengandung batu ujian yang amat jitu untuk menguji kebenaran seseorang yang mengaku dirinya seorang nabi Allah.
    Apabila kehidupan seorang nabi Allah sebelum dakwa kenabiannya menampakkan kejujuran dan ketulusan hati yang bertaraf luar biasa tingginya, dan di antara masa itu dengan dakwa kenabiannya tidak ada masa-antara yang dapat memberikan kesan  bahwa beliau telah jatuh dari keutamaan akhlak yang tinggi tarafnya itu, maka dakwa kenabiannya harus diterima sebagai dakwa orang yang tinggi akhlaknya, orang jujur, dan benar.
     Contohnya sebelum  Nabi Besar Muhammad saw. tasa perintah Allah Swt. mendakwakan diri sebagai rasul Allah  para pemuka kaum  Quraisy Mekkah sendiri yang telah memberi gelar “al-Amīn” (orang yang jujur) kepada beliau saw.
     Tentu saja seseorang yang terbiasa kepada suatu sikap atau tingkah-laku tertentu disebabkan adat-kebiasaannya atau tabiatnya, ia akan memer-lukan waktu yang lama untuk mengadakan perubahan besar dalam dirinya untuk menjadi orang baik atau orang buruk, karena itu bagaimanakah  Nabi Besar Muhammad saw.   tiba-tiba dapat berubah menjadi seorang penipu, padahal sepanjang kehidupan beliau saw. sebelum dakwa kenabian, beliau saw. adalah orang yang tidak ada taranya dalam kejujuran dan kelurusan?
       Makna ayat selanjutnya:  فَمَنۡ  اَظۡلَمُ  مِمَّنِ افۡتَرٰی عَلَی اللّٰہِ  کَذِبًا اَوۡ کَذَّبَ بِاٰیٰتِہٖ ؕ اِنَّہٗ  لَا یُفۡلِحُ الۡمُجۡرِمُوۡنَ  -- “Maka  siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan suatu dusta terhadap Allah atau mendustakan Tanda-tanda-Nya? Sesungguhnya orang-orang berdosa  tidak akan berhasil.”  Ayat ini menjelaskan dua kebenaran yang kekal:
     (a) Orang-orang yang mengada-adakan dusta mengenai Allah Swt.   dan orang-orang yang menolak dan menentang utusan-utusan-Nya sama sekali tidak akan luput dari hukuman Tuhan;
      (b) Pendusta-pendusta dan nabi-nabi palsu tidak dapat berhasil dalam tujuannya.
       Ketentuan Allah Swt. yang berlaku terhadap  Besar Muhammad saw.  – dan semua rasul Allah lainnya -- tersebut berlaku juga terhadap Masih Mau’ud a.s.  
      Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai  hakikat pengucapan salam (‘alaihis- salām):
       “Jika hati manusia menginginkan kejujuran, hendaknya bertanya tentang apa-apa yang tidak diketahui olehnya. Jika kabar suka aku dituduh tidak sempurna, atau terus ditunggu-tunggu kesempurnaannya, maka jika aku mengambil dari  keterangan kabar-kabar suka para nabi a.s., aku tidak dapat membuktikannya, atau sebagian sedang ditunggu-tunggu kesempurnaannya, dan juga tidak akan sempurna sebagaimana kabar gaib dari para nabi, maka tidak ragu-ragu lagi di setiap majlis (pertemuan) aku dapat dijuluki pendusta. Tetapi jika ucapanku sama dengan ucapan para nabi    tetapi tetap saja ada yang mengatakan bahwa aku adalah pendusta maka dia  sebenarnya tidak takut kepada Tuhan.”
         Pernyataan Masih Mau’ud a.s. tersebut sesuai dengan ayat terakhir dari firman-Nya sebelum ini:
قُلۡ لَّوۡ شَآءَ اللّٰہُ مَا تَلَوۡتُہٗ عَلَیۡکُمۡ  وَ لَاۤ اَدۡرٰىکُمۡ بِہٖ ۫ۖ فَقَدۡ لَبِثۡتُ فِیۡکُمۡ عُمُرًا مِّنۡ  قَبۡلِہٖ ؕ اَفَلَا  تَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾  فَمَنۡ  اَظۡلَمُ  مِمَّنِ افۡتَرٰی عَلَی اللّٰہِ  کَذِبًا اَوۡ کَذَّبَ بِاٰیٰتِہٖ ؕ اِنَّہٗ  لَا یُفۡلِحُ الۡمُجۡرِمُوۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: “Seandainya  Allah menghendaki,  aku sama sekali tidak akan  membacakannya kepada kamu dan tidak pula Dia akan memberi-tahukan mengenainya kepada kamu. فَقَدۡ لَبِثۡتُ فِیۡکُمۡ عُمُرًا مِّنۡ  قَبۡلِہٖ ؕ اَفَلَا  تَعۡقِلُوۡنَ -- Maka sungguh sebelum ini aku telah tinggal bersama kamu dalam masa yang panjang, tidakkah kamu mempergunakan akal? فَمَنۡ  اَظۡلَمُ  مِمَّنِ افۡتَرٰی عَلَی اللّٰہِ  کَذِبًا اَوۡ کَذَّبَ بِاٰیٰتِہٖ ؕ اِنَّہٗ  لَا یُفۡلِحُ الۡمُجۡرِمُوۡنَ --   Maka  siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan suatu dusta terhadap Allah atau mendustakan Tanda-tanda-Nya? Sesungguhnya orang-orang berdosa  tidak akan berhasil.” (Yunus 10]:17-18).

Hakikat Pengucapan “Salam” (‘Alaihis- Salām) & Penyampaian Ucapan  “Salām” dari Nabi Besar Muhammad saw.

         Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. mengomentari      penyebutan “salām” yang disalah-tafsirkan oleh orang-orang yang fanatik buta dan jahil:
     “Sebagian orang juga tanpa pengetahuan apa-apa ikut menentangku, mereka mengatakan “Jemaat orang itu mengucapkan ‘alayhi shalatu wa salâm atasnya, padahal perbuatan itu adalah haram!” Maka jawabnya  karena aku adalah Masih Mau’ud a.s., dan orang-orang mengucapkan doa dan salam, karena dari satu segi adalah perintah Rasulullah saw.  bahwa, “Barangsiapa bertemu dengannya atau mengetahuinya (Masih Mau’ud) maka sampaikanlah salamku kepadanya”.
      Ratusan lafaz yang menerangkan salam dan doa kepada Masih Mau’ud  terdapat  pada hadits-hadits dan riwayat para muhaddits. Kemudian jika kepada para nabi dikatakan ‘alayhi salâm, kepada para sahabah dikatakan radhiallâhu ‘anhu, lalu jika Allah Sendiri mengucapkan atasku nabi ‘alayhi salâm, lalu kenapa pula para pengikutku diharamkan mengucapkan lafaz  tersebut?
       Padahal di dalam  Quran Syarif atas semua mukmin umumnya lafaz salam dan doa itu ada. Dan ketika Maulvi Muhammad Hussain Batalwi -- pemimpin para penentang -- menulis review (tanggapan) tentang buku Barâhin-e-Ahmadiyyah, cobalah tanyakan apakah ia membaca ilham berikut ini atau tidak, yang tertulis pada halaman 242 dalam buku tersebut:
As-hābus- suffah wa mā  adrāka mā  as-hābus- suffah, tarā  ‘ayunahum  tahfīdhu mina dam-‘i yushallūna  ‘alayka,   Rabbanā innanā  sami’nā  munādiyan- yunādi lil īmāni wa dā’iyan ilallāhi, wa sirājan- munīrān.
Terjemah bebasnya:
Ingatlah penghuni Suffah, apakah yang  engkau ketahui tentangnya? Betapa tinggi derajatnya dan betapa mulia iradahnya (kehendaknya). Hai penghuni suffah, engkau  akan menyaksikan air mata mengalir dari mata mereka dan mereka akan mendoakan[1]  engkau dan berkata, “Wahai Rabb-ku (Tuhan-ku),  kami telah mendengar seorang penyeru, yakni kami telah beriman kepadanya dan taat kepada ucapannya. Seruannya berbunyi: “Kuatkanlah iman kamu pada Allah”. Dia adalah Penyeru dari Allah, dan  dia adalah Pelita penerang yang bercahaya.”
         Perhatikanlah, hamba yang baik adalah yang mengirimkan shalawat dan doa atasku, dan tanyakanlah kepada Maulwi Muhammad Hussain Batalwi, mengapa kalau memang hal itu harus ditentang, tetapi ketika menulis review (tanggapan) tersebut ia tidak menyanggahnya? Bahkan satu protes yang lebih keras daripada itu bisa diajukan, yaitu kalimat  “Penyeru dari Allah” dan “Pelita penerang”, kedua gelar tersebut adalah diberikan kepada Rasulullah saw. di dalam Quran Syarif. Kemudian  kedua gelar itu pulalah yang telah diberikan kepadaku.”
       Ada pun yang dimaksud oleh Masih Mau’ud a.s. mengenai gelar kepada Nabi Besar Muhammad saw. tersebut  adalah dalam  firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡ یُصَلِّیۡ عَلَیۡکُمۡ وَ مَلٰٓئِکَتُہٗ لِیُخۡرِجَکُمۡ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَی النُّوۡرِ ؕ وَ کَانَ بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ رَحِیۡمًا ﴿﴾  تَحِیَّتُہُمۡ یَوۡمَ یَلۡقَوۡنَہٗ سَلٰمٌ ۖۚ وَ اَعَدَّ لَہُمۡ   اَجۡرًا کَرِیۡمًا ﴿﴾  یٰۤاَیُّہَا النَّبِیُّ  اِنَّاۤ  اَرۡسَلۡنٰکَ شَاہِدًا وَّ مُبَشِّرًا وَّ  نَذِیۡرًا ﴿ۙ﴾   وَّ دَاعِیًا اِلَی اللّٰہِ  بِاِذۡنِہٖ وَ سِرَاجًا مُّنِیۡرًا ﴿﴾ وَ بَشِّرِ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ بِاَنَّ لَہُمۡ مِّنَ اللّٰہِ فَضۡلًا کَبِیۡرًا ﴿﴾ وَ لَا تُطِعِ  الۡکٰفِرِیۡنَ وَ الۡمُنٰفِقِیۡنَ وَ دَعۡ  اَذٰىہُمۡ  وَ  تَوَکَّلۡ  عَلَی اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ  وَکِیۡلًا ﴿﴾
Dia-lah Yang menganugerahkan rahmat-Nya kepada kamu, dan malaikat-malaikat-Nya pun berdoa bagi kamu, supaya Dia mengeluarkan kamu dari berbagai kegelapan kepada  cahaya. Dan Dia Maha Penyayang terhadap orang-orang yang beriman. تَحِیَّتُہُمۡ یَوۡمَ یَلۡقَوۡنَہٗ سَلٰمٌ ۖۚ وَ اَعَدَّ لَہُمۡ   اَجۡرًا کَرِیۡمًا  --   Salam penghormatan mereka ketika mereka menemui-Nya adalah: Selamat sejahtera.” Dan Dia menyediakan bagi mereka ganjaran yang sangat mulia.  یٰۤاَیُّہَا النَّبِیُّ  اِنَّاۤ  اَرۡسَلۡنٰکَ شَاہِدًا وَّ مُبَشِّرًا وَّ  نَذِیۡرًا  -- Wahai Nabi, sesungguhnya Ka-mi mengutus engkau sebagai saksi dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan.  وَّ دَاعِیًا اِلَی اللّٰہِ  بِاِذۡنِہٖ وَ سِرَاجًا مُّنِیۡرًا  --   Dan  sebagai penyeru kepada Allah dengan perintah-Nya, dan juga sebagai matahari yang memancarkan cahaya.   Dan berilah kabar gembira  kepada orang-orang beriman  bahwa sesungguhnya bagi mereka ada karu-nia yang besar dari Allah.  وَ لَا تُطِعِ  الۡکٰفِرِیۡنَ وَ الۡمُنٰفِقِیۡنَ وَ دَعۡ  اَذٰىہُمۡ    --    Dan janganlah mengikuti orang-orang kafir dan orang-orang munafik,  dan janganlah menghiraukan gangguan mereka, وَ  تَوَکَّلۡ  عَلَی اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ  وَکِیۡلًا --  bertawakkallah kepada Allah, dan cukuplah Allah sebagai Pelindung. (Al-Ahzāb [33]:44-49).
          Kata yushalli berarti  mengirim shalawat dan doa. Dalam ayat  تَحِیَّتُہُمۡ یَوۡمَ یَلۡقَوۡنَہٗ سَلٰمٌ ۖۚ وَ اَعَدَّ لَہُمۡ   اَجۡرًا کَرِیۡمًا  --   Salam penghormatan mereka ketika mereka menemui-Nya adalah: Selamat sejahtera”   merupakan rujukan sabda Masih mau’ud a.s. sebelum ini: “Padahal di dalam  Quran Syarif atas semua mukmin umumnya lafaz salam dan doa itu ada.
    Kemudian mengenai mkan ayat:  وَّ دَاعِیًا اِلَی اللّٰہِ  بِاِذۡنِہٖ وَ سِرَاجًا مُّنِیۡرًا  --   “Dan  sebagai penyeru kepada Allah dengan perintah-Nya, dan juga sebagai matahari yang memancarkan cahaya”. Sebagaimana matahari merupakan titik-pusat alam semesta lahiriah, begitulah pribadi Nabi Besar Muhammad saw.. pun merupakan titik-pusat alam keruhanian.
         Nabi Besar Muhammad saw.  merupakan matahari dalam jumantara nabi-nabi dan mujaddid-mujaddid, yang seperti sekalian banyak bintang dan bulan berkeliling (beredar) di sekitar beliau saw. serta  meminjam cahaya dari beliau saw..  Nabi Besar Muhammad saw.. diriwayatkan pernah bersabda: “Sahabat-sahabatku adalah bagaikan bintang-bintang yang begitu banyak; siapa pun di antara mereka kamu ikut, kamu akan mendapat petunjuk” (Shaghir).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
                                                                              ***
Pajajaran Anyar,  2  Mei     2017



[1] Berdoa pada saat menyaksikan kebesaran Tuhan dan sesuatu yang menakjubkan adalah fitrat Islam dan manusia. Lalu (yushallūna ‘alayka) mengisyaratkan, bahwa orang-orang yang tetap teguh pada setiap langkahnya,  mereka selalu melihat tanda-tanda yang kadang-kadang pengaruhnya bisa mengalirkan  air mata, dan tanpa sengaja dari mulut mereka keluar doa-doa, dan demikianlah banyak kenyataannya. Dan kabar suka ini berulang-ulang datangnya, dengan syarat setiap pergaulan haruslah dengan orang-orang baik dan hal ini pasti  bisa diperolehnya. (Pen).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Persamaan "Sunnatullaah" Mengeai "Kebinasaan Para Pendusta" Atas Nama "Allah Swt." Dalam "Al-Quran" Dengan "Sunnatullaah" Dalam "Kitab-kitab Ilhami"Dalam "Bible"

Bismillaahirrahmaanirrahiim “ARBA’IN” ARBA’IN LI-ITMÂMIL HUJJAH ‘ALAL MUKHALLIFÎN (Empat Puluh Risalah, Menyempurnakan Argu...