Bismillaahirrahmaanirrahiim
“ARBA’IN”
ARBA’IN LI-ITMÂMIL HUJJAH ‘ALAL MUKHALLIFÎN
(Empat Puluh Risalah, Menyempurnakan Argumen Bagi Para
Penentang)
Karya
Mirza Ghulam Ahmad
a.s.
(Al-Masih Al-Mau’ud a.s.
-- Al-Masih yang Dijanjikan a.s.)
Bagian 15
ARBA’ÎN KE II
BERBAGAI MACAM "PENUTUP HATI" YANG MENGHALANGI MANUSIA BERIMAN KEPADA RASUL ALLAH YANG DIJANJIKAN & PENTINGNYA MENYAMPAIKAN “SALAM” DARI NABI
BESAR MUHAMMAD SAW. KEPADA MASIH MAU’UD
A.S.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan topik “Duel
Makar” yang Senantiasa Berulang sehubungan dengan firman
Allah Swt.:
وَ اِذۡ یَمۡکُرُ بِکَ الَّذِیۡنَ
کَفَرُوۡا لِیُثۡبِتُوۡکَ اَوۡ یَقۡتُلُوۡکَ اَوۡ یُخۡرِجُوۡکَ ؕ وَ یَمۡکُرُوۡنَ
وَ یَمۡکُرُ اللّٰہُ ؕ وَ اللّٰہُ خَیۡرُ الۡمٰکِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika orang-orang kafir merancang
makar terhadap engkau, supaya mereka
dapat menangkap engkau atau membunuh engkau atau mengusir engkau. وَ یَمۡکُرُوۡنَ وَ یَمۡکُرُ اللّٰہُ
-- Mereka merancang makar buruk, dan Allah pun merancang makar
tandingan, وَ اللّٰہُ خَیۡرُ الۡمٰکِرِیۡنَ -- dan Allah sebaik-baik Perancang
makar. (Al-Anfāl [8]:31).
Kenyataan yang terjadi adalah bahwa
selamatnya Nabi Besar Muhammad saw. pada malam pengepungan rumah beliau
saw. pada peristiwa “duel makar”
tersebut (QS.8:31) -- kecuali tertidur-pulasnya
para pengepung rumah -- tidak ada hal yang bersifat spektakuler, karena dalam kenyataannya beliau saw.
berhasil menyelinap keluar dari rumah ketika para pengepung
rumah beliau saw. yang zalim tertidur, lalu bersama dengan Abu Bakar Shiddiq r.a. beliau saw. meninggalkan kota Mekkah dan untuk sementara
waktu keduanya bersembunyi di gua Tsaur (QS.9:40), firman-Nya:
اِلَّا تَنۡصُرُوۡہُ فَقَدۡ نَصَرَہُ اللّٰہُ اِذۡ اَخۡرَجَہُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ثَانِیَ اثۡنَیۡنِ اِذۡ ہُمَا فِی
الۡغَارِ اِذۡ یَقُوۡلُ لِصَاحِبِہٖ لَا تَحۡزَنۡ اِنَّ
اللّٰہَ مَعَنَا ۚ فَاَنۡزَلَ اللّٰہُ سَکِیۡنَتَہٗ عَلَیۡہِ وَ اَیَّدَہٗ بِجُنُوۡدٍ لَّمۡ
تَرَوۡہَا وَ جَعَلَ کَلِمَۃَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوا
السُّفۡلٰی ؕ وَ کَلِمَۃُ اللّٰہِ ہِیَ الۡعُلۡیَا ؕ وَ اللّٰہُ
عَزِیۡزٌ
حَکِیۡمٌ ﴿﴾
Jika kamu tidak menolongnya maka sungguh Allah telah menolongnya ketika ia (Rasulullah) diusir oleh orang-orang kafir, sedangkan ia kedua dari yang dua ketika keduanya
berada dalam gua, lalu ia berkata
kepada temannya: “Janganlah engkau sedih sesungguhnya Allah beserta kita”, lalu Allah
menurunkan ketenteraman-Nya kepadanya
dan menolongnya dengan lasykar-lasykar
yang kamu tidak melihatnya, dan Dia menjadikan perkataan orang-orang yang kafir itu rendah sedangkan Kalimah Allah
itulah yang tertinggi, dan Allah
Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (At-Taubah [9]:40).
Berlebihan Dalam Mempersepsikan “Mukjizat”
Kata pengganti
nama hī (nya) dalam anak kalimat
“ketenteraman-Nya kepadanya” dapat
mengisyaratkan kepada Abubakar Shiddiq r.a. karena selama itu Nabi Besar Muhammad saw. sendiri senantiasa dalam keadaan setenang-tenangnya. Sedangkan kata
pengganti “nya” dalam anak kalimat “menolongnya”
bagaimanapun juga mengisyaratkan kepada Nabi Besar Muhammad saw..
Dipergunakannya kata-kata pengganti nama dengan cara berpencaran ini, dikenal
sebagai Intisyar al-Dhama’ir dan sudah lazim dalam bahasa Arab. Lihat
QS.48:10.
Yang dimaksud oleh
ayat ini ialah hijrah Nabi Besar Muhammad saw. dari Mekkah
ke Medinah ketika beliau saw. didampingi
oleh Abubakar Shiddiq r.a. berlindung
di sebuah gua yang disebut Tsaur, sebab para pemburu dari Mekkah terus mengejar keduanya. Ayat ini menjelaskan martabat ruhani amat tinggi
Abubakar Shiddiq r.a. yang telah disebut sebagai “salah satu di antara dua orang” dengan disertai
Allah Swt. dan Allah Swt. Sendiri meredakan rasa ketakutannya.
Telah tercatat
dalam sejarah bahwa ketika berada dalam gua
Abubakar shiddiq r.a. mulai menangis, dan ketika ditanya oleh
Nabi Besar Muhammad saw. mengapa beliau menangis, beliau menjawab: “Saya tidak menangis untuk hidupku, ya
Rasulullah, sebab jika saya mati, ini hanya menyangkut satu jiwa saja, tetapi
jika Anda mati, ini akan merupakan kematian Islam dan kematian seluruh umat
Islam.” (Zurqani).
Jadi, walau pun
dalam kenyataannya peristiwa “hijrah”
Nabi Besar Muhammad saw. mulai dari malam
pengepungan rumah beliau saw. (QS.8:31) sampai dengan sampainya beliau saw.
dan Abubakar Shiddiq r.a. ke Madinah
menghabiskan waktu berhari-hari dan bermalam-malam, tetapi Allah Swt. telah menyebut “peristiwa hijrah” Nabi Besar Muhammad
saw. dari Mekkah ke Madinah tersebut menggunakan
istilah “Dia telah memperjalankan hamba-Nya pada waktu malam”, firman-Nya: سُبۡحٰنَ
الَّذِی - “Maha Suci Dia Yang memperjalankan hamba-Nya pada waktu malam dari Masjid
Haram ke Masjid-al-Aqsha yang sekelilingnya
telah Kami berkati.“ (Bani Israil [17]:2).
Jadi,
dalam berbagai peristiwa “duel makar”
antara Allah Swt. dengan para penentang Rasul
Allah sama sekali tidak ada peristiwa “spektakuler”
yang bertentangan dengan hukum alam -- seperti kepercayaan keliru mengangkat Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. hidup-hidup ke atas langit atau beliau diangkat kepada Allah Swt. seperti yang
diisyaratkan dalam ayat: بَلۡ رَّفَعَہُ
اللّٰہُ اِلَیۡہِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ عَزِیۡزًا حَکِیۡمًا --
“Bahkan Allah telah mengangkatnya
kepada-Nya ” (Ali ‘Imran [3]:159).
Berbagai Rahasia Gaib yang Dibukakan Allah Swt. Kepada Masih
Mau’ud a.s.
Dengan demikian jelaslah bahwa makna ayat
peristiwa Isra Nabi Besar Muhammad saw.: “Maha Suci Dia Yang memperjalankan hamba-Nya pada waktu malam dari Masjid
Haram ke Masjid-al-Aqsha yang sekelilingnya
telah Kami berkati.“ (Bani Israil [17]:2) sama dengan makna
hakiki dari ayat
بَلۡ رَّفَعَہُ
اللّٰہُ اِلَیۡہِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ عَزِیۡزًا حَکِیۡمًا -- “Bahkan
Allah telah mengangkatnya kepada-Nya”
(QS.34:159) mengenai penyelamatan yang dilakukan Allah Swt.
terhadap Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. -- dari “kematian
terkutuk di tiang salib” yang dirancang
oleh para pemuka agama Yahudi tersebut -- yakni tidak ada hubungannya dengan pengangkatan tubuh
jasmani Nabi Isa Ibnu Maryam
as. ke atas langit atau diangkat kepada Allah Swt. atau memperjalankan
tubuh jasmani Nabi Besar Muhammad saw. dalam satu malam dari Masjidil-Haram ke Masjidil-Aqsha (masjid yang jauh) di Palestina (Yerusalem) lalu
beliau saw. balik lagi ke Mekkah, sebagaimana
yang umumnya disalah-tafsirkan.
Itulah
berbagai rahasia
gaib yang dibukakan Allah Swt.
kepada Masih Mau’ud a.s. berkenaan misteri
persitiwa mi’raj dan Isra Nabi Besar Muhammad saw. dan misteri
penyaliban Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. yang
telah menggelincirkan orang-orang yang berhati bengkok, dan banyak rahasia-rahasia gaib lainnya yang dibukakan Allah Swt. kepada beliau
sebagaimana firman-Nya:
عٰلِمُ الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی
غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا ﴿ۙ﴾ اِلَّا مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ
یَسۡلُکُ مِنۡۢ بَیۡنِ یَدَیۡہِ وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا ﴿ۙ﴾ لِّیَعۡلَمَ اَنۡ
قَدۡ اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ
رَبِّہِمۡ وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ اَحۡصٰی کُلَّ شَیۡءٍ عَدَدًا ﴿٪﴾
Dia-lah Yang mengetahui yang gaib, maka Dia tidak menzahirkan rahasia gaib-Nya kepada siapa pun, kecuali kepada
Rasul yang Dia ridhai, maka sesungguhnya barisan pengawal berjalan di hadapannya dan di belakangnya, supaya Dia mengetahui bahwa sungguh
mereka telah menyampaikan Amanat-amanat Rabb (Tuhan) mereka, dan Dia meliputi semua yang ada pada
mereka dan Dia membuat perhitungan
mengenai segala sesuatu. (Al-Jin [72]:27-29).
Firman-Nya
lagi:
مَا
کَانَ اللّٰہُ لِیَذَرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ عَلٰی مَاۤ اَنۡتُمۡ عَلَیۡہِ حَتّٰی یَمِیۡزَ الۡخَبِیۡثَ مِنَ الطَّیِّبِ ؕ وَ مَا کَانَ
اللّٰہُ لِیُطۡلِعَکُمۡ عَلَی الۡغَیۡبِ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ یَجۡتَبِیۡ مِنۡ
رُّسُلِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ ۪
فَاٰمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ ۚ وَ
اِنۡ تُؤۡمِنُوۡا وَ تَتَّقُوۡا فَلَکُمۡ
اَجۡرٌ عَظِیۡمٌ﴿﴾
Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman di dalam keadaan kamu berada
di dalamnya hingga
Dia memi-sahkan yang buruk
dari yang baik. Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan yang gaib kepada kamu, tetapi Allah memilih di antara rasul-rasul-Nya siapa yang Dia
kehendaki, karena itu berimanlah
kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya,
dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagi kamu ganjaran yang besar. (Ali ‘Imran [3]:180).
Kedustaan Pembicaraan Dalam “Majlis
Ghibat” (Gunjing)
Kembali kepada sabda Masih Mau’ud a.s. dalam Arba’in
II, selanjutnya beliau menjelaskan:
“Baiklah,
jika pada musuh ada sekumit saja kejujuran
maka silakan dengan tenang bentuklah
satu majlis (pertemuan) darurat
bersama dengan beberapa orang terhormat dan para cendekiawan untuk membahas dan mengajukan masalah-masalah yang menurut mereka termasuk aib, atau beberapa kabar gaibku yang menurut mereka belum sempurna, yang menurut mereka hal itu tidak terdapat di dalam kabar-kabar suka para nabi atau di dalam riwayat-riwayatnya.
Ingatlah,
jika di dalam majlis (pertemuan)
mereka terdapat cendekiawan dan orang terpelajar ingin mengambil suatu keputusan, maka pasti akan terbukti bahwa mereka
itu hanya para penggunjing
dan penipu belaka. Perbuatan membicarakan sesuatu
yang tanpa bukti di belakang adalah ghibat (pergunjingan). Sebab penggunjing jika ia sendirian akan lebih banyak kesempatan berbuat dusta dan penipuan. Jika telah
demikian maka tak ayal lagi majlis (pertemuan) yang demikian itu di sisi Allah bukanlah majlis pencari kebenaran.”
Jangankan terhadap Masih Mau’ud a.s. – yang merupakan pengikut dan pengkhidmat
hakiki Nabi Besar Muhammad saw. (QS.11:18; QS.62:3-4; QS.85:4) – bahkan sekali
pun terhadap Nabi Besar Muhammad saw.
yang kepada beliau saw. Al-Quran telah diwahyukan Allah Swt., tetap saja para pemuka kaum kafir Quraisy melakukan pendustaan dan penentangan
secara zalim, firman-Nya:
وَ اِذَا قَرَاۡتَ الۡقُرۡاٰنَ
جَعَلۡنَا بَیۡنَکَ وَ بَیۡنَ الَّذِیۡنَ
لَا یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡاٰخِرَۃِ حِجَابًا مَّسۡتُوۡرًا ﴿ۙ﴾ وَّ جَعَلۡنَا عَلٰی
قُلُوۡبِہِمۡ اَکِنَّۃً اَنۡ یَّفۡقَہُوۡہُ وَ فِیۡۤ
اٰذَانِہِمۡ وَقۡرًا ؕ وَ اِذَا ذَکَرۡتَ رَبَّکَ فِی الۡقُرۡاٰنِ وَحۡدَہٗ وَلَّوۡا عَلٰۤی اَدۡبَارِہِمۡ
نُفُوۡرًا ﴿﴾ نَحۡنُ
اَعۡلَمُ بِمَا یَسۡتَمِعُوۡنَ بِہٖۤ اِذۡ
یَسۡتَمِعُوۡنَ اِلَیۡکَ وَ اِذۡ ہُمۡ
نَجۡوٰۤی اِذۡ یَقُوۡلُ الظّٰلِمُوۡنَ اِنۡ تَتَّبِعُوۡنَ اِلَّا رَجُلًا مَّسۡحُوۡرًا ﴿﴾ اُنۡظُرۡ
کَیۡفَ ضَرَبُوۡا لَکَ الۡاَمۡثَالَ فَضَلُّوۡا
فَلَا یَسۡتَطِیۡعُوۡنَ سَبِیۡلًا ﴿﴾
Dan apabila engkau membaca Al-Quran, Kami menjadikan antara engkau dan orang-orang yang tidak beriman kepada
akhirat suatu penghalang yang
tersembunyi. Dan Kami menjadikan tutupan di atas hati mereka supaya mereka tidak memahaminya dan dalam telinga mereka ada ketulian. Dan apabila engkau menyebutkan Rabb (Tuhan) engkau Yang Tunggal dalam
Al-Quran mereka membalikkan punggungnya
karena benci. نَحۡنُ اَعۡلَمُ بِمَا یَسۡتَمِعُوۡنَ بِہٖۤ اِذۡ یَسۡتَمِعُوۡنَ اِلَیۡکَ وَ اِذۡ ہُمۡ نَجۡوٰۤی -- Kami lebih mengetahui untuk apa mereka
mendengarkannya ketika mereka
mendengarkan engkau dan ketika
mereka sedang berunding secara rahasia, اِذۡ یَقُوۡلُ الظّٰلِمُوۡنَ
اِنۡ تَتَّبِعُوۡنَ اِلَّا رَجُلًا مَّسۡحُوۡرًا -- ketika
orang-orang zalim itu berkata satu
sama lain: ”Ka-mu tidak lain melainkan mengikuti
seorang laki-laki yang terkena sihir.” اُنۡظُرۡ کَیۡفَ ضَرَبُوۡا لَکَ الۡاَمۡثَالَ فَضَلُّوۡا فَلَا
یَسۡتَطِیۡعُوۡنَ سَبِیۡلًا -- Perhatikanlah bagaimana
mereka mengada-adakan tamsil-tamsil mengenai diri engkau, maka akibat-nya
mereka menjadi sesat lalu mereka tidak dapat menemukan jalan. (Bani Israil [17]:46-49). Lihat pula
QS.58:9-11).
Bermacam-macam “Tutupan Hati”
Adalah tutupan
dengki dan cemburu (QS.2:88-91
& 214; QS.3:20; QS.45:17-19), atau tutupan
perasaan hormat yang palsu dan rasa
kebanggaan atas kebangsaan (QS.11:26-30; QS.26:112-115); atau tutupan
yang timbul dari kekhawatiran akan
kehilangan kedudukan dalam masyarakat, atau berkurangnya penghasilan (QS.28:77-83); atau pun tutupan sebagai akibat adat
kebiasaan dan kepercayaan lama
yang dipegang dengan erat dan asyik
(QS.2:171; QS.5:105;
QS.10:79; QS.21:53-54; QS31:22) itulah yang menjadi penghalang bagi orang-orang
kafir untuk menerima kebenaran. Tutupan-tutupan itulah yang sungguh tidak disadari oleh orang-orang kafir sendiri.
Bahkan berkenaan Al-Quran – yang merupakan kitab suci terakhir dan tersempurna (QS.5:4) -- para pemuka
kaum kafir Quraisy berkata kepada Nabi Besar Muhammad saw, firman-Nya:
وَ
اِذَا تُتۡلٰی عَلَیۡہِمۡ
اٰیَاتُنَا بَیِّنٰتٍ ۙ قَالَ الَّذِیۡنَ لَا یَرۡجُوۡنَ لِقَآءَنَا ائۡتِ
بِقُرۡاٰنٍ غَیۡرِ ہٰذَاۤ اَوۡ بَدِّلۡہُ ؕ قُلۡ مَا یَکُوۡنُ لِیۡۤ اَنۡ
اُبَدِّلَہٗ مِنۡ تِلۡقَآیِٔ نَفۡسِیۡ ۚ اِنۡ اَتَّبِعُ اِلَّا مَا یُوۡحٰۤی اِلَیَّ ۚ
اِنِّیۡۤ اَخَافُ اِنۡ عَصَیۡتُ
رَبِّیۡ عَذَابَ یَوۡمٍ
عَظِیۡمٍ ﴿﴾
Dan apabila dibacakan kepada mereka Ayat-ayat
Kami yang nyata, maka orang-orang
yang tidak meng-harapkan pertemuan
dengan Kami berkata: ”Datangkanlah yang bukan Al-Quran ini,
atau ubahlah dia.” Katakanlah:
“Sekali-kali tidak patut bagiku untuk
mengubahnya dari pihak diriku, tidaklah
aku kecuali hanya meng-ikuti
apa yang diwahyukan kepadaku, sesungguhnya aku takut pada azab Hari yang
besar jika aku mendur-hakai Rabb-ku (Tuhan-ku)” (Yunus
10]:16).
Makna “azab Hari yang besar” dalam ayat: اِنِّیۡۤ اَخَافُ اِنۡ
عَصَیۡتُ رَبِّیۡ عَذَابَ یَوۡمٍ
عَظِیۡمٍ --
“sesungguhnya aku takut pada azab Hari
yang besar jika aku
mendurhakai Rabb-ku (Tuhan-ku)” mengandung arti malapetaka nasional. Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
قُلۡ لَّوۡ شَآءَ اللّٰہُ مَا
تَلَوۡتُہٗ عَلَیۡکُمۡ وَ لَاۤ
اَدۡرٰىکُمۡ بِہٖ ۫ۖ فَقَدۡ لَبِثۡتُ فِیۡکُمۡ عُمُرًا مِّنۡ قَبۡلِہٖ ؕ اَفَلَا تَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾ فَمَنۡ اَظۡلَمُ
مِمَّنِ افۡتَرٰی عَلَی اللّٰہِ
کَذِبًا اَوۡ کَذَّبَ بِاٰیٰتِہٖ ؕ اِنَّہٗ لَا یُفۡلِحُ الۡمُجۡرِمُوۡنَ ﴿﴾
Katakanlah:
“Seandainya Allah menghendaki, aku
sama sekali tidak akan membacakannya kepada kamu dan tidak pula Dia akan memberi-tahukan
mengenainya kepada kamu. فَقَدۡ لَبِثۡتُ فِیۡکُمۡ عُمُرًا
مِّنۡ قَبۡلِہٖ ؕ اَفَلَا تَعۡقِلُوۡنَ -- Maka sungguh
sebelum ini aku telah tinggal bersama kamu
dalam masa yang panjang, tidakkah kamu mempergunakan akal? Maka siapakah
yang lebih zalim daripada orang-orang
yang mengada-adakan suatu dusta terhadap Allah atau mendustakan Tanda-tanda-Nya? Sesungguhnya orang-orang berdosa tidak akan
berhasil.” (Yunus 10]:17-18).
Kema’shuman (Kesucian) Semua Nabi Allah Sebelum dan Sesudah Pendakwaan Kenabiannya
Ayat: فَقَدۡ لَبِثۡتُ فِیۡکُمۡ عُمُرًا مِّنۡ قَبۡلِہٖ ؕ اَفَلَا تَعۡقِلُوۡنَ -- “Maka sungguh sebelum ini aku telah tinggal
bersama kamu dalam masa yang pan-jang, tidakkah kamu mempergunakan akal?” Ayat ini mengandung batu ujian yang amat jitu
untuk menguji kebenaran seseorang
yang mengaku dirinya seorang nabi Allah.
Apabila kehidupan
seorang nabi Allah sebelum dakwa kenabiannya menampakkan kejujuran dan ketulusan hati yang bertaraf
luar biasa tingginya, dan di antara masa
itu dengan dakwa kenabiannya tidak
ada masa-antara yang dapat memberikan
kesan
bahwa beliau telah jatuh dari
keutamaan akhlak yang tinggi tarafnya itu, maka dakwa kenabiannya harus diterima
sebagai dakwa orang yang tinggi akhlaknya, orang jujur, dan benar.
Contohnya
sebelum Nabi Besar Muhammad saw. tasa
perintah Allah Swt. mendakwakan diri
sebagai rasul Allah para pemuka kaum Quraisy Mekkah sendiri yang telah memberi
gelar “al-Amīn” (orang yang jujur)
kepada beliau saw.
Tentu saja seseorang
yang terbiasa kepada suatu sikap atau tingkah-laku tertentu
disebabkan adat-kebiasaannya atau tabiatnya, ia akan memer-lukan waktu yang lama untuk mengadakan perubahan besar dalam dirinya untuk
menjadi orang baik atau orang buruk, karena itu bagaimanakah Nabi Besar Muhammad saw. tiba-tiba
dapat berubah menjadi seorang penipu, padahal sepanjang kehidupan
beliau saw. sebelum dakwa kenabian,
beliau saw. adalah orang yang tidak ada
taranya dalam kejujuran dan kelurusan?
Makna
ayat selanjutnya: فَمَنۡ
اَظۡلَمُ مِمَّنِ افۡتَرٰی عَلَی
اللّٰہِ کَذِبًا اَوۡ کَذَّبَ بِاٰیٰتِہٖ
ؕ اِنَّہٗ لَا یُفۡلِحُ الۡمُجۡرِمُوۡنَ -- “Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan suatu dusta terhadap Allah atau mendustakan Tanda-tanda-Nya?
Sesungguhnya orang-orang berdosa tidak
akan berhasil.” Ayat ini
menjelaskan dua kebenaran yang kekal:
(a) Orang-orang
yang mengada-adakan dusta mengenai Allah Swt. dan orang-orang
yang menolak dan menentang
utusan-utusan-Nya sama sekali tidak akan luput dari hukuman Tuhan;
(b) Pendusta-pendusta dan nabi-nabi palsu tidak dapat berhasil
dalam tujuannya.
Ketentuan Allah Swt. yang berlaku
terhadap Besar Muhammad saw. – dan semua rasul Allah lainnya -- tersebut berlaku
juga terhadap Masih Mau’ud a.s.
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai
hakikat pengucapan salam
(‘alaihis- salām):
“Jika hati manusia menginginkan kejujuran, hendaknya bertanya tentang apa-apa yang tidak diketahui olehnya. Jika kabar suka aku
dituduh tidak sempurna, atau terus ditunggu-tunggu kesempurnaannya,
maka jika aku mengambil dari keterangan kabar-kabar
suka para nabi a.s., aku tidak dapat membuktikannya, atau sebagian
sedang ditunggu-tunggu kesempurnaannya, dan juga tidak akan sempurna
sebagaimana kabar gaib dari para nabi, maka tidak ragu-ragu lagi di setiap majlis
(pertemuan) aku dapat dijuluki pendusta. Tetapi jika ucapanku sama dengan ucapan para nabi tetapi tetap
saja ada yang mengatakan bahwa aku
adalah pendusta maka dia
sebenarnya tidak takut kepada Tuhan.”
Pernyataan Masih Mau’ud a.s. tersebut sesuai dengan ayat terakhir dari
firman-Nya sebelum ini:
قُلۡ لَّوۡ شَآءَ اللّٰہُ مَا
تَلَوۡتُہٗ عَلَیۡکُمۡ وَ لَاۤ
اَدۡرٰىکُمۡ بِہٖ ۫ۖ فَقَدۡ لَبِثۡتُ فِیۡکُمۡ عُمُرًا مِّنۡ قَبۡلِہٖ ؕ اَفَلَا تَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾ فَمَنۡ اَظۡلَمُ
مِمَّنِ افۡتَرٰی عَلَی اللّٰہِ
کَذِبًا اَوۡ کَذَّبَ بِاٰیٰتِہٖ ؕ اِنَّہٗ لَا یُفۡلِحُ الۡمُجۡرِمُوۡنَ ﴿﴾
Katakanlah:
“Seandainya Allah menghendaki, aku
sama sekali tidak akan membacakannya kepada kamu dan tidak pula Dia akan memberi-tahukan
mengenainya kepada kamu. فَقَدۡ لَبِثۡتُ فِیۡکُمۡ عُمُرًا
مِّنۡ قَبۡلِہٖ ؕ اَفَلَا تَعۡقِلُوۡنَ -- Maka
sungguh sebelum ini aku telah tinggal
bersama kamu dalam masa yang panjang,
tidakkah kamu mempergunakan akal? فَمَنۡ اَظۡلَمُ
مِمَّنِ افۡتَرٰی عَلَی اللّٰہِ
کَذِبًا اَوۡ کَذَّبَ بِاٰیٰتِہٖ ؕ اِنَّہٗ لَا یُفۡلِحُ الۡمُجۡرِمُوۡنَ -- Maka siapakah
yang lebih zalim daripada orang-orang
yang mengada-adakan suatu dusta terhadap Allah atau mendustakan Tanda-tanda-Nya? Sesungguhnya orang-orang berdosa tidak akan
berhasil.” (Yunus 10]:17-18).
Hakikat Pengucapan “Salam” (‘Alaihis- Salām) & Penyampaian Ucapan “Salām”
dari Nabi Besar Muhammad saw.
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. mengomentari penyebutan “salām” yang disalah-tafsirkan
oleh orang-orang yang fanatik buta
dan jahil:
“Sebagian orang juga tanpa pengetahuan apa-apa ikut
menentangku, mereka mengatakan “Jemaat
orang itu mengucapkan ‘alayhi shalatu wa salâm atasnya,
padahal perbuatan itu adalah haram!” Maka jawabnya karena aku adalah Masih Mau’ud a.s., dan orang-orang
mengucapkan doa dan salam, karena dari
satu segi adalah perintah Rasulullah
saw. bahwa, “Barangsiapa bertemu dengannya atau mengetahuinya (Masih Mau’ud)
maka sampaikanlah salamku kepadanya”.
Ratusan lafaz yang menerangkan salam dan doa kepada Masih Mau’ud terdapat
pada hadits-hadits dan riwayat para muhaddits. Kemudian jika kepada para nabi dikatakan ‘alayhi salâm, kepada para sahabah dikatakan radhiallâhu ‘anhu,
lalu jika Allah Sendiri mengucapkan
atasku nabi ‘alayhi salâm, lalu kenapa pula para pengikutku diharamkan mengucapkan lafaz tersebut?
Padahal di dalam Quran
Syarif atas semua mukmin umumnya lafaz salam
dan doa itu ada. Dan ketika Maulvi
Muhammad Hussain Batalwi -- pemimpin
para penentang -- menulis review
(tanggapan) tentang buku Barâhin-e-Ahmadiyyah,
cobalah tanyakan apakah ia membaca ilham berikut ini atau tidak,
yang tertulis pada halaman 242 dalam buku tersebut:
As-hābus- suffah wa mā
adrāka mā as-hābus- suffah,
tarā ‘ayunahum tahfīdhu mina dam-‘i yushallūna ‘alayka,
Rabbanā innanā sami’nā munādiyan- yunādi lil īmāni wa dā’iyan
ilallāhi, wa sirājan- munīrān.
Terjemah
bebasnya:
Ingatlah penghuni Suffah,
apakah yang engkau ketahui tentangnya? Betapa tinggi derajatnya dan betapa mulia iradahnya (kehendaknya).
Hai penghuni suffah, engkau akan
menyaksikan air mata mengalir dari mata mereka dan mereka akan mendoakan[1] engkau dan berkata, “Wahai Rabb-ku (Tuhan-ku), kami
telah mendengar seorang penyeru, yakni kami
telah beriman kepadanya dan taat
kepada ucapannya. Seruannya berbunyi: “Kuatkanlah
iman kamu pada Allah”. Dia adalah Penyeru
dari Allah, dan dia adalah Pelita penerang yang bercahaya.”
Perhatikanlah,
hamba yang baik adalah yang mengirimkan shalawat dan doa atasku, dan tanyakanlah
kepada Maulwi Muhammad Hussain Batalwi,
mengapa kalau memang hal itu harus
ditentang, tetapi ketika menulis review (tanggapan) tersebut ia tidak menyanggahnya? Bahkan satu protes yang lebih keras daripada itu bisa diajukan, yaitu kalimat “Penyeru dari Allah” dan “Pelita
penerang”, kedua gelar
tersebut adalah diberikan kepada Rasulullah
saw. di dalam Quran Syarif.
Kemudian kedua gelar itu pulalah
yang telah diberikan kepadaku.”
Ada pun yang dimaksud oleh Masih Mau’ud a.s. mengenai gelar kepada Nabi Besar Muhammad saw.
tersebut adalah dalam firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡ یُصَلِّیۡ عَلَیۡکُمۡ وَ
مَلٰٓئِکَتُہٗ لِیُخۡرِجَکُمۡ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَی النُّوۡرِ ؕ وَ کَانَ بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ
رَحِیۡمًا ﴿﴾ تَحِیَّتُہُمۡ یَوۡمَ
یَلۡقَوۡنَہٗ سَلٰمٌ ۖۚ وَ اَعَدَّ لَہُمۡ
اَجۡرًا کَرِیۡمًا ﴿﴾ یٰۤاَیُّہَا
النَّبِیُّ اِنَّاۤ اَرۡسَلۡنٰکَ شَاہِدًا وَّ مُبَشِّرًا وَّ نَذِیۡرًا ﴿ۙ﴾ وَّ دَاعِیًا اِلَی اللّٰہِ بِاِذۡنِہٖ وَ سِرَاجًا مُّنِیۡرًا ﴿﴾ وَ بَشِّرِ
الۡمُؤۡمِنِیۡنَ بِاَنَّ لَہُمۡ مِّنَ اللّٰہِ فَضۡلًا کَبِیۡرًا ﴿﴾ وَ لَا
تُطِعِ الۡکٰفِرِیۡنَ وَ الۡمُنٰفِقِیۡنَ
وَ دَعۡ اَذٰىہُمۡ وَ
تَوَکَّلۡ عَلَی اللّٰہِ ؕ وَ
کَفٰی بِاللّٰہِ وَکِیۡلًا ﴿﴾
Dia-lah Yang menganugerahkan rahmat-Nya kepada kamu, dan malaikat-malaikat-Nya pun berdoa bagi kamu,
supaya Dia mengeluarkan kamu dari
berbagai kegelapan kepada cahaya.
Dan Dia Maha Penyayang terhadap orang-orang yang beriman. تَحِیَّتُہُمۡ یَوۡمَ یَلۡقَوۡنَہٗ سَلٰمٌ ۖۚ
وَ اَعَدَّ لَہُمۡ اَجۡرًا کَرِیۡمًا -- Salam penghormatan mereka ketika mereka
menemui-Nya adalah: “Selamat
sejahtera.” Dan Dia menyediakan bagi
mereka ganjaran yang sangat mulia.
یٰۤاَیُّہَا
النَّبِیُّ اِنَّاۤ اَرۡسَلۡنٰکَ شَاہِدًا وَّ مُبَشِّرًا وَّ نَذِیۡرًا -- Wahai Nabi,
sesungguhnya Ka-mi mengutus engkau
sebagai saksi dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. وَّ دَاعِیًا اِلَی اللّٰہِ
بِاِذۡنِہٖ وَ سِرَاجًا مُّنِیۡرًا -- Dan sebagai penyeru kepada Allah dengan perintah-Nya, dan juga sebagai matahari yang memancarkan cahaya. Dan
berilah kabar gembira kepada orang-orang beriman bahwa
sesungguhnya bagi mereka ada karu-nia
yang besar dari Allah. وَ لَا تُطِعِ الۡکٰفِرِیۡنَ
وَ الۡمُنٰفِقِیۡنَ وَ دَعۡ
اَذٰىہُمۡ -- Dan janganlah mengikuti orang-orang kafir dan orang-orang munafik, dan janganlah menghiraukan gangguan mereka,
وَ
تَوَکَّلۡ عَلَی اللّٰہِ ؕ وَ
کَفٰی بِاللّٰہِ وَکِیۡلًا -- bertawakkallah kepada Allah, dan cukuplah Allah sebagai Pelindung.
(Al-Ahzāb
[33]:44-49).
Kata yushalli berarti mengirim shalawat
dan doa. Dalam ayat تَحِیَّتُہُمۡ یَوۡمَ یَلۡقَوۡنَہٗ سَلٰمٌ ۖۚ وَ اَعَدَّ لَہُمۡ اَجۡرًا کَرِیۡمًا -- Salam penghormatan mereka
ketika mereka menemui-Nya adalah:
“Selamat sejahtera” merupakan rujukan sabda Masih mau’ud a.s.
sebelum ini: “Padahal di dalam Quran
Syarif atas semua mukmin umumnya lafaz salam
dan doa itu ada.“
Kemudian mengenai mkan ayat: وَّ دَاعِیًا اِلَی اللّٰہِ
بِاِذۡنِہٖ وَ سِرَاجًا مُّنِیۡرًا -- “Dan sebagai penyeru kepada Allah dengan perintah-Nya, dan juga sebagai matahari yang memancarkan cahaya”. Sebagaimana matahari merupakan titik-pusat
alam semesta lahiriah, begitulah
pribadi Nabi Besar Muhammad saw.. pun merupakan titik-pusat alam keruhanian.
Nabi Besar Muhammad
saw. merupakan matahari dalam jumantara nabi-nabi
dan mujaddid-mujaddid, yang seperti
sekalian banyak bintang dan bulan berkeliling (beredar) di sekitar
beliau saw. serta meminjam cahaya dari beliau saw.. Nabi Besar Muhammad saw.. diriwayatkan pernah
bersabda: “Sahabat-sahabatku adalah bagaikan bintang-bintang yang begitu banyak;
siapa pun di antara mereka kamu ikut, kamu akan mendapat petunjuk” (Shaghir).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik
Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 2 Mei 2017
[1] Berdoa pada saat menyaksikan kebesaran Tuhan dan
sesuatu yang menakjubkan adalah fitrat
Islam dan manusia. Lalu (yushallūna
‘alayka) mengisyaratkan, bahwa orang-orang yang tetap teguh pada setiap
langkahnya, mereka selalu melihat tanda-tanda yang kadang-kadang pengaruhnya
bisa mengalirkan air mata, dan tanpa
sengaja dari mulut mereka keluar doa-doa, dan demikianlah banyak kenyataannya.
Dan kabar suka ini berulang-ulang datangnya, dengan syarat setiap pergaulan
haruslah dengan orang-orang baik dan hal ini pasti bisa diperolehnya. (Pen).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar