Jumat, 12 Mei 2017

Makna "Nubuatan" Imam Mahdi a.s. Akan Membagi-bagikan "Harta Kekayaan" Tetapi Banyak yang Menolaknya & Selebaran "Berhadiah" Bagi Para "Penentang" Masih Mau'ud a.s.



Bismillaahirrahmaanirrahiim

“ARBA’IN”

ARBA’IN LI-ITMÂMIL HUJJAH ‘ALAL MUKHALLIFÎN
(Empat Puluh Risalah, Menyempurnakan Argumen Bagi Para Penentang)

  Karya

  Mirza Ghulam Ahmad a.s.
(Al-Masih Al-Mau’ud a.s.   -- Al-Masih yang Dijanjikan a.s.)


Bagian 21

ARBA’ÎN KE III

MAKNA  NUBUATAN IMAM MAHDI A.S. AKAN MEMBAGI-BAGIKAN HARTA KEKAYAAN TETAPI BANYAK YANG MENOLAKNYA & SELEBARAN BERHADIAH BAGI PARA PENENTANG  MASIH MAU’UD A.S

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir  Bab sebelumnya   telah dikemukakan   Para Pendakwa Palsu Pasti Dibinasakan Allah Swt. berkenaan dengan   wahyu-wahyu Ilahi yang diterima Masih Mau’ud a.s.   -- dalam kapasitasnya  sebagai Rasul Akhir Zaman  (QS.61:10) -- yang  mengenai wahyu-wahyu-Nya  Allah Swt. seperti itu  Dia tidak   pernah membiarkan  para pendusta yang mengada-ada atas nama-Nya tanpa hukuman yang mengerikan, sebagaimana firman-Nya mengenai  Nabi Besar Muhammad saw.:
فَلَاۤ  اُقۡسِمُ بِمَا  تُبۡصِرُوۡنَ ﴿ۙ﴾  وَ مَا  لَا تُبۡصِرُوۡنَ ﴿ۙ﴾  اِنَّہٗ  لَقَوۡلُ  رَسُوۡلٍ  کَرِیۡمٍ ﴿ۚۙ﴾ وَّ مَا ہُوَ بِقَوۡلِ شَاعِرٍ ؕ قَلِیۡلًا  مَّا تُؤۡمِنُوۡنَ﴿ۙ﴾  وَ لَا بِقَوۡلِ کَاہِنٍ ؕ قَلِیۡلًا مَّا تَذَکَّرُوۡنَ ﴿ؕ﴾ تَنۡزِیۡلٌ مِّنۡ رَّبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ وَ لَوۡ تَقَوَّلَ عَلَیۡنَا بَعۡضَ الۡاَقَاوِیۡلِ ﴿ۙ﴾ لَاَخَذۡنَا مِنۡہُ  بِالۡیَمِیۡنِ ﴿ۙ﴾ ثُمَّ  لَقَطَعۡنَا مِنۡہُ  الۡوَتِیۡنَ ﴿۫ۖ﴾ فَمَا مِنۡکُمۡ  مِّنۡ اَحَدٍ عَنۡہُ حٰجِزِیۡنَ ﴿﴾     
Maka Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat, dan apa yang tidak kamu lihat. Sesungguhnya Al-Quran itu benar-benar firman yang disampaikan seorang Rasul mulia,          dan bukanlah Al-Quran itu perkataan seorang penyair, sedikit sekali apa yang kamu percayai. Dan bukanlah ini perkataan ahlinujum, sedikit sekali kamu mengambil nasihatAl-Quran  adalah wahyu yang diturunkan dari  Rabb (Tuhan) seluruh alam. وَ لَوۡ تَقَوَّلَ عَلَیۡنَا بَعۡضَ الۡاَقَاوِیۡلِ  -- Dan  seandainya ia mengada-adakan sebagian perkataan  atas nama Kami, لَاَخَذۡنَا مِنۡہُ  بِالۡیَمِیۡنِ  --   niscaya Kami akan menangkap dia dengan tangan kanan, ثُمَّ  لَقَطَعۡنَا مِنۡہُ  الۡوَتِیۡنَ  -- kemudian niscaya Kami memotong urat nadinya,  فَمَا مِنۡکُمۡ  مِّنۡ اَحَدٍ عَنۡہُ حٰجِزِیۡنَ --  dan tidak ada seorang pun di antara kamu dapat mencegah itu darinya (Al-Hāqqah   [69]:39-48). Lihat pula   QS.6:22 & 94; QS.7:38; QS.10:18;  QS.11:19; QS.40:29;
      Makna ayat 39-40  bahwa hal-hal yang nampak kepada kita bekerja di alam dunia jasmani ini  -- yakni kenyataan-kenyataan hidup yang dapat dilihat -- dan hal-hal yang tersembunyi dari pandangan mata,  yaitu  akal dan kata-hati manusia, telah disinggung dalam ayat-ayat 39 dan 40 sebagai kesaksian-kesaksian guna membuktikan bahwa Al-Quran yang diwahyukan kepada Nabi Besar Muhammad saw. benar-benar berasal dari Allah Swt..
     Atau ayat-ayat itu dapat berarti bahwa Tanda-tanda agung yang disaksikan oleh orang-orang kafir di zaman Nabi Besar Muhammad saw.   dengan mata kepala mereka sendiri dan nubuatan-nubuatan mengenai  hari depan Islam yang gilang gemilang dan masih menunggu penyem-purnaannya, keduanya merupakan dalil yang tidak dapat ditolak bahwa Al-Quran itu firman Allah Sendiri yang telah diturunkan oleh-Nya kepada Nabi Agung, Muhammad Musthafa saw..
   Ayat selanjutnya menjelaskan bahwa Al-Quran membahas kenyataan-kenyataan hidup lagi pasti dan bukan impian-impian gila seorang penyair, bukan pula rekayasa dan  terkaan seorang juru nujum di dalam kegelapanوَّ مَا ہُوَ بِقَوۡلِ شَاعِرٍ ؕ قَلِیۡلًا  مَّا تُؤۡمِنُوۡنَ -- “dan bukanlah Al-Quran itu perkataan seorang penyair, sedikit sekali apa yang kamu percayai. وَ لَا بِقَوۡلِ کَاہِنٍ ؕ قَلِیۡلًا مَّا تَذَکَّرُوۡنَ -- Dan bukanlah ini perkataan ahlinujum, sedikit sekali kamu mengambil nasihat.
    Dalam ayat 48 dan dalam tiga ayat sebelumnya keterangan-keterangan telah diberikan bahwa bila Nabi Besar Muhammad saw.  itu pendusta, maka tangan perkasa Allah Swt. pasti menangkap dan memutuskan urat pada leher beliau  saw. dan pasti beliau saw. telah menemui ajal (kematian) pedih,  serta  seluruh pekerjaan dan misi beliau saw. pasti telah hancur berantakan, sebab memang demikianlah nasib seorang nabi palsu, firman-Nya: وَ لَوۡ تَقَوَّلَ عَلَیۡنَا بَعۡضَ الۡاَقَاوِیۡلِ  -- Dan  seandainya ia mengada-adakan sebagaian perkataan  atas nama Kami, لَاَخَذۡنَا مِنۡہُ  بِالۡیَمِیۡنِ  --   niscaya Kami akan menangkap dia dengan tangan kanan, ثُمَّ  لَقَطَعۡنَا مِنۡہُ  الۡوَتِیۡنَ  -- kemudian niscaya Kami memotong urat nadinya,  فَمَا مِنۡکُمۡ  مِّنۡ اَحَدٍ عَنۡہُ حٰجِزِیۡنَ --  dan tidak ada seorang pun di antara kamu dapat mencegah itu darinya.”
 Dakwa dan keterangan yang tercantum dalam ayat-ayat ini, agaknya merupakan reproduksi yang tepat dari peryataan Bible dalam Ulangan 18:20.

ARBA’IN III &  Makna Nubuatan Imam Mahdi a.s. Akan Membagi-bagikan Harta Kekayaan

   Dengan demikian pembahasan mengenai ARBA’IN II telah selesai dan selanjutnya akan dikemukakan risalat ARBA’IN III  berkenaan “selebaran berhadiah” bagi  para penentang Masih Mau’ud a.s..  Selebaran “berhadiah” tersebut merupakan  salah satu dari   penggenapan nubuatan Nabi Besar Muhammad saw. bahwa Imam Mahdi a.s. atau Masih Mau’ud a.s. akan membagi-bagikan harta tetapi orang-orang tidak mau menerimanya.
   Ada pun yang dimaksud dengan “harta” dalam nubuatan Nabi Besar Muhammad saw. tersebut  mengisyaratkan kepada:
  (1)  Harta kekayaan (khazanah) ruhani Al-Quran  yang dibukakan Allah Swt. di Akhir Zaman ini kepada Imam Mahdi a.s. atau Masih Mau’ud a.s. (QS.3:180; QS.72:27-29), sebagaimana yang dilakukan Allah Swt. kepada Adam a.s. (Khalifah Allah  -- QS.31:24),  ketika umat Islam mengalami puncak kemundurannya  dalam masa kemundurannya selama  1000 tahun  -- setelah mengalami masa kejayaan   pertama selama 3 abad  -- karena ruh Al-Quran telah terbang ke bintang Tsurayya  (QS.17:86-89; QS.32:6;QS.62:3-4).
    (2) Harta kekayaan berupa “hadiah” bagi para penentang yang dapat melayani tantangan Masih Mau’ud a.s. agar mampu membuat tandingan karya-karya tulis beliau dalam membela kesempurnaan Islam (Al-Quran) serta kesucian akhlak dan ruhani Nabi Besar Muhammad saw.. Contohnya mengenai karya tulis beliau yang menomental Barāhin-e-Ahmadiyah  telah menyediakan “hadiah” sebesar 10.000 rupee bagi siapa pun yang mampu membantah dalil-dalil Al-Quran yang beliau kemukakan dalam buku tersebut.
  Pada masa itu (1835-1908) jumlah tersebut sangat besar karena merupakan nilai   seluruh harta warisan Masih Mau’ud a.s.  dari ayahandanya. Sehubungan buku Barāhin-e-Ahmadiyah ulama  besar India, Muhammad Hussain Batalwi, yang hidup sezaman dengan Pendiri Jemaat Ahmadiyah, ia menulis tentang Masih Mau'ud a.s. di dalam majalah 'Isya'atus-Sunnah: 
“Pengarang kitab Barahin-e-Ahmadiyyah sebagai yang telah disaksikan dan dilihat oleh kawan dan lawan adalah seorang yang berpegang atas syariat, lagi muttaqi dan seorang yang benar"......lebih lanjut dikatakannya:
Dengan ringkas dan tidak berlebih-lebihan, kami terangkan pemandangan kami tentang kitab ini (Barahin-e-Ahmadiyah), bahwa melihat kepada keadaan yang ada pada masa sekarang, adalah kitab ini suatu kitab yang tidak ada bandingannya, dan belum ada contohnya di dalam Islam sampai sekarang. Dan pengarangnya pun adalah seorang yang selalu tetap memajukan Islam dengan pengorbanan jiwa, tulisan dan perkataan dengan perbuatan dan kenyataan. Orang semacam ini, di antara orang Islam yang dahulu-dahulu pun jarang di dapat contohnya”.
   Pengakuan ulama besar India ini ditulis sebelum pendakwaan Mirza Ghulam Ahmad a.s. sebagai Masih Mau'ud a.s., yang kemudian setelah pendakwaan. beliau ulama tersebut sangat membenci Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah dan merupakan salah satu penentang terdepan di kalangan para ulama Hindustan (India), selain para ulama Hindustan lainnya yang nama-namanya dikemukakan dalam  selebaran yang ditulis Masih Mau'ud a.s. berikut ini: 

Bismillaahirrahmaanirrahiim


Nahmaduhu wa nushalli ‘alâ rasûlihil karîm

رَبَّنَا افۡتَحۡ بَیۡنَنَا وَ بَیۡنَ قَوۡمِنَا بِالۡحَقِّ وَ اَنۡتَ خَیۡرُ  الۡفٰتِحِیۡنَ ﴿
 ”Ya Tuhan kami,  berilah keputusan di antara kami dan kaum kami dengan haq dan Engkau adalah sebaik-baik Pemberi Keputusan.”
Âmīn.
         Isytihar (selebaran) berhadiah atas nama Tuan Hafiz Muhammad Yusuf dari Kabupaten Darun-Nehr. Demikian pula ditujukan kepada orang-orang yang namanya tertulis di bawah ini:
1.     Tuan Pir Mehr Alisyah Golrawiyah.
2.     Tuan  Maulvi  Nazir Hussein Dehlewi.
3.     Tuan Maulvi Muhammad Basyir Bhopalwi.
4.     Tuan Maulvi Hafiz Muhammad  Yusuf Bhopalwi.
5.     Tuan Maulvi Taltaf Hussain Dehlewi.
6.      Tuan  Maulvi  Abdul-haq Dehlewi Tafsir Haqqani.
7.      Tuan  Maulvi Rasyid Ahmad Ganggowi.
8.      Tuan Maulvi  Muhammad Shadiq Dyobandihall, Madras Bichrayong, Kab. Murad Abad.
9.     Tuan Syekh Khalililrrahman Jamali Sarsawa, Kab. Saharanpur.
10.            Tuan Maulvi Muhammad Aziz Ludhiyanah.
11.            Tuan Maulvi Muhammad Ludhiyanah.
12.            Tuan  Maulvi Muhammad Hassan Ludhiyanah.
13.            Tuan  Maulvi  Ahmadullah Amrisari.
14.             Tuan  Maulvi Abdul Jabbar Gaznawi Tsuma Amritsari.
15.            Tuan Maulvi Ghulam Rasul Arif Rusul Baba.
16.             Tuan  Maulvi Abdullah Townki, Lahore.
17.            Tuan Maulvi Chekralwi, Lahore.
18.             Tuan Maulvi  Defti Fatah Alisyah,  Delfi Klark Nehr Lahore.
19.             Tuan  Mansya Ilahi Bakhs, Akuntan,  Lahore.
20.            Tuan Mansa Abdul-Haq (pensiunan  akuntan).
21.            Tuan Maulvi  Muhammad Hussain Abulfez Sakin Bhini
22.            Tuan Maulvi  Sayyid Umardaiz, Heyderabad.
23.             Tuan Ulama Nadwatul Islam.
24.             Tuan Ma’rifat Muhammad Ali, Sekretaris Nadwatul Ulama.
25.            Tuan  Maulvi Sultan-ud-Din,  Jepur.
26.             Tuan  Kiyai Masihuz- Zaman.
27.             Tuan Ustadz Nisam Syah Jahanpur.
28.             Tuan Maulvi  Izazhushen Khan Syah, Jahanpur.
29.             Tuan Maulvi Riyasat Alikhan Syah, Jahanpur.
30.             Tuan Sayyid Sufi Jan Syah,  Mereth.
31.            Tuan Maulvi Ishaq Petiyalah; Jami’-ul-Lama Kalkuta, Bombay dan Madras. 
32.            Jamius-Sajadah Nasinan dan Masyaih Hindustan, dan 
33.        Tuan-tuan Jami’u ahli aqal wa insyaf wa taqwa wa iman dari kaum Muslimin.

Bukti  Melakukan Penentangan Terhadap Ketentuan Allah Swt. dalam Al-Quran

     Nampaklah bahwa Hafiz Muhammad Yusuf dari Kabupaten Darun-Nehr, akibat ketidakpahaman  dan didikan yang salah dari para maulvi, maka ia di dalam satu majlis (pertemuan) yang dihadiri pula oleh:
1.     Tuan Mirza Khuda Bakhs
2.     Tuan Nawab Muhammad Ali Khan
3.     Tuan Miya Mirajuddin, Lahore
4.     Tuan Mufti Muhammad Shadiq
5.     Tuan Sufi Muhammad Ali,  Klerk
6.      Tuan Miya Cetu, Lahore
7.     Tuan Khalifah Rijabuddin, pengusaha Lahore
8.     Tuan Syekh Ya’qub Ali, editor surat kabar Al-Hakam
9.     Tuan Muhammad Hakim Muhammad Hussain Quraisyi
10.    Tuan Hakim Muhammad Hussain, pedagang (alm)
11.    Tuan Cerajuddin, Klerk;
12.    Tuan Maulwi Yar Muhammad
        Di dalam majlis itu hafiz Muhammad Yusuf  dengan lancang sekali berkata, bahwa:
Jika ada seorang nabi atau rasul atau seorang ma’mur minallah (orang yang diperintah dari Allah) mendakwakan diri dengan kepalsuan dan dengan  itu ia ingin menyesatkan orang-orang, kemudian setelah ia berdusta atas  nama Allah dia masih dapat hidup selama 23 tahun atau lebih, maka dalil semacam itu tidak bisa diakui sebagai satu dalil kebenaran.”
Kemudian Hafiz Muhammad Yusuf berkata lagi:
Aku pun sanggup memberikan nama orang-orang yang semacam itu, yang mendakwakan dirinya nabi atau rasul dari Allah, dan  mereka itu hidup selama 23 tahun atau lebih dan dapat menyampaikan dakwahnya kepada orang-orang  bahwa ‘Kalam Ilahi telah turun kepada kami’, padahal mereka itu semua dusta.”
      Pendeknya, Tuan Hafiz hanya melihat catatan hawalah pribadinya saja, yang selanjutnya menggunakan pendakwaan semacam itu yang mengakibatkan timbulnya paham yang menyalahkan ayat Al-Quran yang datang dari Tuhan kepada Rasulullah saw., seolah-olah Tuhan sendiri salah sepenuhnya telah mengemukakan  dalil ini ke hadapan orang-orang Nasrani, Yahudi, dan para Musyrikin. Juga seolah-olah para pemimpin dan para ahli tafsir – semata-mata karena kebodohannya --  memakai dalil ini melawan musuh-musuh, hingga terhadap akidah tafsirku juga.

Meremehkan Al-Quran adalah Perbuatan Kufur

     Mengenai hal ini, pada satu kitab akidah Ahlus-Sunnah  tertulis, bahwa meremehkan Quran Syarif atau dalil-dalilnya adalah perbuatan kufur, para ulama pun sependapat akan hal ini. Tetapi tak tahulah pikiran apa yang membuat Tuan Hafiz berbuat begitu, padahal dia telah mendakwakan  hafiz (hafal) Al-Quran, lupakah dia akan ayat berikut ini:
اِنَّہٗ  لَقَوۡلُ  رَسُوۡلٍ  کَرِیۡمٍ ﴿ۚۙ﴾ وَّ مَا ہُوَ بِقَوۡلِ شَاعِرٍ ؕ قَلِیۡلًا  مَّا تُؤۡمِنُوۡنَ ﴿ۙ﴾ وَ لَا بِقَوۡلِ کَاہِنٍ ؕ قَلِیۡلًا مَّا تَذَکَّرُوۡنَ ﴿ؕ﴾  تَنۡزِیۡلٌ مِّنۡ رَّبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ وَ لَوۡ تَقَوَّلَ عَلَیۡنَا بَعۡضَ الۡاَقَاوِیۡلِ ﴿ۙ﴾ لَاَخَذۡنَا مِنۡہُ  بِالۡیَمِیۡنِ ﴿ۙ﴾   ثُمَّ  لَقَطَعۡنَا مِنۡہُ  الۡوَتِیۡنَ ﴿۫ۖ﴾ فَمَا مِنۡکُمۡ  مِّنۡ اَحَدٍ عَنۡہُ حٰجِزِیۡنَ ﴿﴾
(Sesungguhnya Al-Quran   benar-benar firman  [yang diturunkan kepada] Rasul yang mulia,  dan [Al Quran] itu bukanlah perkataan seorang penyair, sedikit sekali kamu beriman kepadanya. Dan bukan pula perkataan tukang tenung,  sedikit sekali kamu mengambil pelajaran daripadanya. Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan seluruh alam.  Dan seandainya  ia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami,  niscaya benar-benar Kami pegang Dia pada tangan kanannya, kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya, maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami)  dari   itu”  - Al-Hāqqah [69]:41-48).
      Yakni, “Al-Quran ini adalah  perkataan rasul, yakni melalui wahyulah diturunkan kepadanya, dan ini bukanlah ucapan penyair. Tetapi oleh karena kurangnya  keimanan kamu maka kamu tidak mengenalnya. Dan bukan pula ini ucapan seorang ahli nujum, yakni  bukan ucapan yang   ada hubungannya jin (mistis), akan tetapi kamu sedikit sekali mengambil nasihat darinya, karena itu kamu berpikir demikian. Kamu tidak berpikir bahwa betapa hina dan rendahnya derajat seorang penujum. Ini adalah Firman Tuhan seluruh alam. Tuhan alam jasmani dan ruhani, yakni sebagaimana Dia mendidik jasmani kamu begitu pula Dia mendidik ruhani kamu. Dan oleh karena tuntutan Ketuhanan inilah maka Dia mengutus  seorang Rasul. Dan sekiranya Rasul itu membuat-buat sendiri ucapannya dengan mengatakan bahwa “Ini adalah Firman Tuhan yang telah turun kepadaku”, padahal itu hanyalah ucapannya sendiri, bukan Firman Tuhan, maka Kami akan pegang tangan kanannya kemudian  Kami potong urat nadinya. Tak seorangpun di antara kamu dapat menolongnya. Yakni jika dia mendustai Kami maka hukumannya adalah kematian, sebab dalam hal ini dia menghendaki jalan kekufuran dengan kedustaannya, sedangkan kedustaan menuju kepada kehancuran. Maka kematiannya itu lebih  baik daripada kehancuran ini, yang bisa meliputi dunia akibat dari ajarannya itu. Ini adalah sunnah (kebiasaan/ketetapan) Kami sejak dahulu, yaitu Kami membasmi orang-orang yang menuntun ke jalan kehancuran bagi dunia dan mengajarkan kedustaan serta kepalsuan akidah dengan mengharapkan kematian ruhani hamba Tuhan, sedangkan berdusta atas nama Tuhan adalah perbuatan dosa.”
      Kini, jelaslah bahwa dengan ayat ini Tuhan memberikan dalil atas kebenaran Rasulullah saw., yaitu  “Jika yang mendakwakan diri itu bukanlah dari Tuhan, maka Kami akan membinasakan dia, sekali-kali dia tidak akan bisa hidup walaupun kamu berusaha menyelamatkannya”.
     Tetapi Tuan Hafiz tidak percaya akan dalil ini malah berkata bahwa, “Jangka waktu yang telah ditetapkan dalam wahyu Rasulullah saw. selama  23 tahun itu, aku  sanggup memberikan bukti-bukti orang-orang yang mendakwakan nubuatan (kenabian) atau risalat (kerasulan) palsu yang dapat hidup lebih dari jangka waktu itu, walaupun ia berdusta atas nama Tuhan.” Oleh karena itu dalil Quran Syarif ini menurut Tuan Hafiz adalah batil dan bohong, dan dengan demikian nubuwatan Rasulullah saw. tidak bisa terbukti kebenarannya.”

Kesedihan Rasul Akhir Zaman

       Penjelasan Masih Mau’ud a.s. mengenai  sikap naïf  dan jahil para penentang beliau a.s. tersebut membuktikan kebenaran nubuatan Al-Quran berikut ini, firman-Nya:
   وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ مَہۡجُوۡرًا ﴿﴾ وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ  َادِیًا وَّ نَصِیۡرًا ﴿﴾  وَ قَالَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا لَوۡ لَا نُزِّلَ عَلَیۡہِ الۡقُرۡاٰنُ جُمۡلَۃً وَّاحِدَۃً ۚۛ   کَذٰلِکَ ۚۛ لِنُثَبِّتَ بِہٖ فُؤَادَکَ وَ رَتَّلۡنٰہُ تَرۡتِیۡلًا﴿﴾  وَ لَا یَاۡتُوۡنَکَ بِمَثَلٍ اِلَّا جِئۡنٰکَ بِالۡحَقِّ وَ اَحۡسَنَ تَفۡسِیۡرًا ﴿ؕ﴾ اَلَّذِیۡنَ یُحۡشَرُوۡنَ عَلٰی وُجُوۡہِہِمۡ اِلٰی جَہَنَّمَ ۙ اُولٰٓئِکَ شَرٌّ مَّکَانًا وَّ اَضَلُّ سَبِیۡلًا ﴿﴾
Dan  Rasul itu berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Quran ini sesuatu yang telah ditinggalkan.   Dan demikianlah Kami  telah menjadikan musuh bagi tiap-tiap nabi   dari antara orang-orang yang berdosa, dan cukuplah Rabb (Tuhan) engkau sebagai pemberi petunjuk dan penolong. Dan  orang-orang kafir berkata:  “Mengapa Al-Quran tidak ditu-runkan kepadanya seluruhnya sekali-gus? Seperti itulah Kami telah menurunkannya   supaya Kami  meneguh-kan hati engkau dengannya, dan Kami telah menyusunnya dalam susunan yang sebaik-baiknya.  Dan mereka tidak datang ke-pada engkau dengan sesuatu keberatan melainkan Kami melengkapi engkau dengan kebenaran dan sebaik-baik penjelasan.   Orang-orang yang akan di-himpunkan dengan menyeret wajahnya  ke dalam Jahannam,  mereka itulah yang akan paling buruk tempatnya dan paling sesat jalannya. (Al-Furqān [25]:31-35).
           Ayat 31 dengan sangat tepat sekali dapat dikenakan kepada mereka yang menamakan diri orang-orang Muslim  dan mengaku sebagai ulama Islam,tetapi telah menyampingkan Al-Quran dan telah melemparkannya ke belakang. Barangkali belum pernah terjadi selama 14 abad ini di mana Al-Quran demikian rupa diabaikan dan dilupakan oleh orang-orang Muslim seperti dewasa ini.
Ada sebuah hadits Nabi Besar Muhammad saw.    yang mengatakan: “Satu saat akan datang kepada kaumku, bila tidak ada yang tinggal dari Islam melainkan namanya dan dari Al-Quran melainkan kata-katanya (Baihaqi, Syu’ab-ul-iman). Sungguh masa sekarang-sekarang inilah saat yang dimaksudkan itu.

Rasul Allah yang Hakiki Selalu Didustakan dan Ditentang

    Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai Sunnah-Nya berkenaan dengan para rasul Allah, termasuk berkenaan  Masih Mau’ud a.s.  di Akhir Zaman ini:  وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ  َادِیًا وَّ نَصِیۡرًا -- “Dan demikianlah Kami  telah menjadikan musuh bagi tiap-tiap nabi   dari antara orang-orang yang berdosa, dan cukuplah Rabb (Tuhan) engkau sebagai pemberi petunjuk dan penolong.
    Jangankan terhadap wahyu-wahyu non-syariat yang diterima oleh Masih Mau’ud a.s. – sekali pun banyak yang merupakan pengulangan pewahyuan ayat-ayat Al-Quran – bahkan terhadap wahyu Al-Quran yang diwahyukan Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw.  pun berbagai macam keberatan dan tuduhan dusta, sebagaimana ayat selanjutnya:  وَ قَالَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا لَوۡ لَا نُزِّلَ عَلَیۡہِ الۡقُرۡاٰنُ جُمۡلَۃً وَّاحِدَۃً -- “Dan  orang-orang kafir berkata:  “Mengapa Al-Quran tidak diturunkan kepadanya seluruhnya sekali-gus?     کَذٰلِکَ ۚۛ لِنُثَبِّتَ بِہٖ فُؤَادَکَ  -- Seperti itulah Kami telah menurunkannya   supaya Kami  meneguhkan hati engkau dengannya,  وَ رَتَّلۡنٰہُ تَرۡتِیۡلًا --  dan Kami telah menyusunnya dalam susunan yang sebaik-baiknya.”
       Al-Quran diwahyukan Allah Swt. sedikit-sedikit dan pada waktu yang terpisah-pisah. Hal ini dimaksudkan untuk memenuhi beberapa tujuan tertentu yang sangat berguna:
      (a) waktu selang antara wahyu berbagai bagian, memberikan kesempatan kepada orang-orang beriman untuk menyaksikan sempurnanya beberapa nubuatan yang terkandung di dalam bagian yang sudah diwahyukan, dengan demikian keimanan mereka menjadi teguh dan kuat. Tambahan pula hal itu dimaksudkan untuk menjawab keberatan-keberatan yang dilancarkan oleh orang-orang kafir dalam waktu selang itu.
      (b) Bila orang-orang Muslim memerlukan petunjuk pada kejadian tertentu untuk memenuhi keperluan tertentu maka ayat-ayat yang diperlukan dan bersangkut-paut dengan hal itu diturunkan.
       Wahyu Al-Quran terpencar sepanjang masa 23 tahun, agar para sahabat Nabi Besar Muhammad saw.  dapat menghafalkan, mempelajari, dan menyesuaikan diri. Sebab seandainya wahyu Al-Quran diturunkan sekaligus dalam bentuk sebuah kitab yang lengkap maka  orang-orang kafir dapat mengatakan bahwa Nabi Besar Muhammad saw.  telah menyuruh seseorang menyiapkannya (QS.16:104; QS.25:5-7).
       Dengan demikian diwahyukan-Nya Al-Quran  secara bertahap pada waktu-waktu yang berlainan, pada kesempatan-kesempatan yang berlainan, dan di dalam keadaan-keadaan yang jauh sekali berbeda, menjawab keberatan yang mungkin timbul. Al-Quran diturunkan sebagian demi sebagian agar supaya dapat dihafalkan di luar kepala dengan mudah.
      Diturunkannya Al-Quran sedikit-demi sedikit memenuhi juga nubuatan dalam Bible seperti berikut: “Maka siapa gerangan diajarkannya pengetahuan? dan siapa diartikannya barang yang ke-dengaran itu? kanak-kanak yang baharu lepas susukah? kanak-kanak yang baharu dice-raikan dari susu emaknya? Karena adalah hukum bertambah hukum dan hukum bertambah hukum, syarat bertambah syarat dan syarat bertambah syarat, di sini sedikit, di sana sedikit” (Yesaya 28:9-10).


(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
                                                                              ***

Pajajaran Anyar,  11  Mei     2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Persamaan "Sunnatullaah" Mengeai "Kebinasaan Para Pendusta" Atas Nama "Allah Swt." Dalam "Al-Quran" Dengan "Sunnatullaah" Dalam "Kitab-kitab Ilhami"Dalam "Bible"

Bismillaahirrahmaanirrahiim “ARBA’IN” ARBA’IN LI-ITMÂMIL HUJJAH ‘ALAL MUKHALLIFÎN (Empat Puluh Risalah, Menyempurnakan Argu...