Bismillaahirrahmaanirrahiim
“ARBA’IN”
ARBA’IN LI-ITMÂMIL HUJJAH ‘ALAL MUKHALLIFÎN
(Empat Puluh Risalah, Menyempurnakan Argumen Bagi Para
Penentang)
Karya
Mirza Ghulam Ahmad
a.s.
(Al-Masih Al-Mau’ud a.s.
-- Al-Masih yang Dijanjikan a.s.)
Bagian 21
ARBA’ÎN KE III
MAKNA NUBUATAN
IMAM MAHDI A.S. AKAN MEMBAGI-BAGIKAN
HARTA KEKAYAAN TETAPI BANYAK YANG MENOLAKNYA
& SELEBARAN BERHADIAH BAGI PARA PENENTANG MASIH MAU’UD A.S
Oleh
Ki Langlang Buana
Kusuma
D
|
alam akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan Para Pendakwa
Palsu Pasti Dibinasakan Allah
Swt. berkenaan dengan wahyu-wahyu Ilahi yang diterima Masih Mau’ud a.s. -- dalam kapasitasnya sebagai Rasul
Akhir Zaman (QS.61:10) -- yang
mengenai wahyu-wahyu-Nya Allah Swt. seperti itu Dia tidak
pernah membiarkan para pendusta
yang mengada-ada atas nama-Nya tanpa hukuman yang mengerikan, sebagaimana firman-Nya mengenai Nabi Besar Muhammad saw.:
فَلَاۤ اُقۡسِمُ بِمَا تُبۡصِرُوۡنَ ﴿ۙ﴾ وَ
مَا لَا تُبۡصِرُوۡنَ ﴿ۙ﴾ اِنَّہٗ لَقَوۡلُ رَسُوۡلٍ
کَرِیۡمٍ ﴿ۚۙ﴾ وَّ مَا ہُوَ بِقَوۡلِ شَاعِرٍ ؕ
قَلِیۡلًا مَّا تُؤۡمِنُوۡنَ﴿ۙ﴾ وَ لَا بِقَوۡلِ کَاہِنٍ ؕ قَلِیۡلًا مَّا تَذَکَّرُوۡنَ ﴿ؕ﴾ تَنۡزِیۡلٌ
مِّنۡ رَّبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾
وَ لَوۡ تَقَوَّلَ عَلَیۡنَا بَعۡضَ
الۡاَقَاوِیۡلِ ﴿ۙ﴾ لَاَخَذۡنَا مِنۡہُ بِالۡیَمِیۡنِ ﴿ۙ﴾ ثُمَّ لَقَطَعۡنَا مِنۡہُ الۡوَتِیۡنَ ﴿۫ۖ﴾ فَمَا
مِنۡکُمۡ مِّنۡ اَحَدٍ عَنۡہُ حٰجِزِیۡنَ
﴿﴾
Maka Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat,
dan apa yang tidak kamu lihat. Sesungguhnya
Al-Quran itu benar-benar firman
yang disampaikan seorang Rasul
mulia, dan bukanlah Al-Quran itu
perkataan seorang penyair, sedikit sekali apa yang kamu percayai. Dan bukanlah
ini perkataan ahlinujum, sedikit sekali kamu mengambil nasihat. Al-Quran
adalah wahyu yang diturunkan dari Rabb
(Tuhan) seluruh alam. وَ لَوۡ تَقَوَّلَ عَلَیۡنَا بَعۡضَ
الۡاَقَاوِیۡلِ -- Dan seandainya
ia mengada-adakan sebagian perkataan
atas nama Kami, لَاَخَذۡنَا مِنۡہُ
بِالۡیَمِیۡنِ -- niscaya
Kami akan menangkap dia dengan tangan
kanan, ثُمَّ لَقَطَعۡنَا مِنۡہُ الۡوَتِیۡنَ -- kemudian niscaya Kami memotong urat nadinya, فَمَا مِنۡکُمۡ مِّنۡ اَحَدٍ
عَنۡہُ حٰجِزِیۡنَ -- dan tidak
ada seorang pun di antara kamu dapat mencegah itu darinya (Al-Hāqqah [69]:39-48). Lihat pula QS.6:22 & 94; QS.7:38;
QS.10:18; QS.11:19; QS.40:29;
Makna ayat 39-40 bahwa hal-hal
yang nampak kepada kita bekerja di alam
dunia jasmani ini -- yakni kenyataan-kenyataan hidup yang dapat dilihat -- dan hal-hal yang tersembunyi dari pandangan mata, yaitu akal dan kata-hati manusia, telah disinggung dalam ayat-ayat 39 dan 40
sebagai kesaksian-kesaksian guna membuktikan bahwa Al-Quran yang diwahyukan
kepada Nabi Besar Muhammad saw.
benar-benar berasal dari Allah Swt..
Atau ayat-ayat itu dapat berarti bahwa Tanda-tanda agung yang disaksikan oleh orang-orang kafir di zaman Nabi Besar Muhammad saw. dengan mata kepala mereka sendiri dan nubuatan-nubuatan
mengenai hari depan Islam yang gilang
gemilang dan masih menunggu penyem-purnaannya,
keduanya merupakan dalil yang tidak
dapat ditolak bahwa Al-Quran itu firman Allah Sendiri yang telah diturunkan oleh-Nya kepada Nabi
Agung, Muhammad Musthafa saw..
Ayat selanjutnya menjelaskan bahwa Al-Quran
membahas kenyataan-kenyataan hidup lagi
pasti dan bukan impian-impian gila seorang penyair,
bukan pula rekayasa dan terkaan
seorang juru nujum di dalam kegelapan: وَّ مَا ہُوَ بِقَوۡلِ شَاعِرٍ ؕ قَلِیۡلًا مَّا تُؤۡمِنُوۡنَ -- “dan bukanlah Al-Quran itu perkataan seorang penyair, sedikit
sekali apa yang kamu percayai. وَ لَا بِقَوۡلِ کَاہِنٍ ؕ قَلِیۡلًا مَّا
تَذَکَّرُوۡنَ -- Dan bukanlah ini perkataan ahlinujum, sedikit sekali kamu mengambil nasihat.
Dalam
ayat 48 dan dalam tiga ayat sebelumnya keterangan-keterangan telah diberikan
bahwa bila Nabi Besar Muhammad saw. itu pendusta,
maka tangan perkasa Allah Swt. pasti menangkap dan memutuskan urat pada leher beliau saw. dan pasti beliau saw. telah
menemui ajal (kematian) pedih, serta seluruh pekerjaan
dan misi beliau saw. pasti telah hancur berantakan, sebab memang
demikianlah nasib seorang nabi palsu, firman-Nya:
وَ لَوۡ تَقَوَّلَ عَلَیۡنَا بَعۡضَ
الۡاَقَاوِیۡلِ -- Dan seandainya
ia mengada-adakan sebagaian perkataan
atas nama Kami, لَاَخَذۡنَا مِنۡہُ
بِالۡیَمِیۡنِ -- niscaya
Kami akan menangkap dia dengan tangan
kanan, ثُمَّ لَقَطَعۡنَا مِنۡہُ الۡوَتِیۡنَ -- kemudian niscaya Kami memotong urat nadinya, فَمَا مِنۡکُمۡ مِّنۡ اَحَدٍ
عَنۡہُ حٰجِزِیۡنَ -- dan tidak
ada seorang pun di antara kamu dapat mencegah itu darinya.”
Dakwa dan keterangan yang
tercantum dalam ayat-ayat ini, agaknya merupakan reproduksi yang tepat dari peryataan Bible dalam Ulangan 18:20.
ARBA’IN III & Makna Nubuatan Imam Mahdi a.s. Akan
Membagi-bagikan Harta Kekayaan
Dengan demikian
pembahasan mengenai ARBA’IN II telah selesai dan selanjutnya akan dikemukakan
risalat ARBA’IN III berkenaan “selebaran berhadiah” bagi para penentang Masih Mau’ud a.s.. Selebaran
“berhadiah” tersebut merupakan salah
satu dari penggenapan nubuatan Nabi Besar Muhammad saw. bahwa Imam Mahdi a.s. atau Masih Mau’ud a.s. akan membagi-bagikan harta tetapi orang-orang
tidak mau menerimanya.
Ada pun yang dimaksud
dengan “harta” dalam nubuatan Nabi Besar Muhammad saw.
tersebut mengisyaratkan kepada:
(1) Harta
kekayaan (khazanah) ruhani Al-Quran yang dibukakan
Allah Swt. di Akhir Zaman ini kepada Imam Mahdi a.s. atau Masih Mau’ud a.s. (QS.3:180;
QS.72:27-29), sebagaimana yang dilakukan Allah
Swt. kepada Adam a.s. (Khalifah
Allah -- QS.31:24), ketika umat
Islam mengalami puncak kemundurannya dalam masa
kemundurannya selama 1000 tahun -- setelah mengalami masa kejayaan pertama selama 3 abad -- karena ruh Al-Quran telah terbang ke bintang Tsurayya (QS.17:86-89; QS.32:6;QS.62:3-4).
(2) Harta kekayaan
berupa “hadiah” bagi para penentang yang dapat melayani tantangan Masih Mau’ud a.s. agar mampu
membuat tandingan karya-karya tulis
beliau dalam membela kesempurnaan Islam
(Al-Quran) serta kesucian akhlak dan ruhani Nabi Besar Muhammad saw..
Contohnya mengenai karya tulis beliau yang menomental Barāhin-e-Ahmadiyah telah menyediakan “hadiah” sebesar 10.000
rupee bagi siapa pun yang mampu membantah
dalil-dalil Al-Quran yang beliau kemukakan dalam buku tersebut.
Pada masa itu (1835-1908)
jumlah tersebut sangat besar karena merupakan nilai seluruh harta warisan Masih Mau’ud a.s. dari ayahandanya. Sehubungan buku Barāhin-e-Ahmadiyah ulama besar India, Muhammad Hussain Batalwi, yang hidup sezaman dengan Pendiri Jemaat Ahmadiyah, ia menulis tentang Masih Mau'ud a.s. di dalam majalah 'Isya'atus-Sunnah:
“Pengarang kitab Barahin-e-Ahmadiyyah sebagai yang telah disaksikan dan
dilihat oleh kawan dan lawan adalah seorang yang berpegang atas syariat, lagi muttaqi dan
seorang yang benar"......lebih lanjut dikatakannya:
“Dengan ringkas dan tidak berlebih-lebihan, kami terangkan pemandangan
kami tentang kitab ini (Barahin-e-Ahmadiyah), bahwa melihat kepada keadaan yang
ada pada masa sekarang, adalah kitab ini
suatu kitab yang tidak ada bandingannya, dan belum ada contohnya di dalam Islam sampai sekarang. Dan pengarangnya
pun adalah seorang yang selalu tetap memajukan Islam dengan pengorbanan jiwa,
tulisan dan perkataan dengan perbuatan dan kenyataan. Orang semacam ini, di antara orang Islam yang dahulu-dahulu pun jarang
di dapat contohnya”.
Pengakuan ulama besar India ini ditulis sebelum pendakwaan Mirza Ghulam Ahmad a.s. sebagai Masih Mau'ud a.s., yang kemudian setelah pendakwaan. beliau ulama tersebut sangat membenci Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah dan merupakan salah satu penentang terdepan di kalangan para ulama Hindustan (India), selain para ulama Hindustan lainnya yang nama-namanya dikemukakan dalam selebaran yang ditulis Masih Mau'ud a.s. berikut ini:
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Nahmaduhu wa nushalli ‘alâ rasûlihil karîm
رَبَّنَا
افۡتَحۡ بَیۡنَنَا وَ بَیۡنَ قَوۡمِنَا بِالۡحَقِّ وَ اَنۡتَ خَیۡرُ الۡفٰتِحِیۡنَ ﴿ ﴾
”Ya Tuhan kami, berilah keputusan di antara kami dan kaum
kami dengan haq dan Engkau adalah sebaik-baik Pemberi Keputusan.”
Âmīn.
Isytihar (selebaran) berhadiah
atas nama Tuan Hafiz Muhammad Yusuf
dari Kabupaten Darun-Nehr. Demikian pula ditujukan kepada orang-orang yang
namanya tertulis di bawah ini:
1. Tuan Pir Mehr Alisyah Golrawiyah.
2. Tuan
Maulvi Nazir Hussein Dehlewi.
3. Tuan Maulvi Muhammad Basyir Bhopalwi.
4. Tuan Maulvi Hafiz Muhammad Yusuf Bhopalwi.
5. Tuan Maulvi Taltaf Hussain Dehlewi.
6. Tuan Maulvi
Abdul-haq Dehlewi Tafsir Haqqani.
7. Tuan Maulvi Rasyid Ahmad Ganggowi.
8. Tuan
Maulvi Muhammad Shadiq Dyobandihall,
Madras Bichrayong, Kab. Murad Abad.
9. Tuan Syekh Khalililrrahman Jamali Sarsawa, Kab.
Saharanpur.
10.
Tuan
Maulvi Muhammad Aziz Ludhiyanah.
11.
Tuan
Maulvi Muhammad Ludhiyanah.
12.
Tuan Maulvi Muhammad Hassan Ludhiyanah.
13.
Tuan Maulvi
Ahmadullah Amrisari.
14.
Tuan Maulvi
Abdul Jabbar Gaznawi Tsuma Amritsari.
15.
Tuan
Maulvi Ghulam Rasul Arif Rusul Baba.
16.
Tuan
Maulvi Abdullah Townki, Lahore.
17.
Tuan
Maulvi Chekralwi, Lahore.
18.
Tuan Maulvi
Defti Fatah Alisyah, Delfi Klark
Nehr Lahore.
19.
Tuan
Mansya Ilahi Bakhs, Akuntan, Lahore.
20.
Tuan Mansa
Abdul-Haq (pensiunan akuntan).
21.
Tuan
Maulvi Muhammad Hussain Abulfez Sakin
Bhini
22.
Tuan
Maulvi Sayyid Umardaiz, Heyderabad.
23.
Tuan Ulama Nadwatul Islam.
24.
Tuan Ma’rifat Muhammad Ali, Sekretaris
Nadwatul Ulama.
25.
Tuan Maulvi Sultan-ud-Din, Jepur.
26.
Tuan
Kiyai Masihuz- Zaman.
27.
Tuan Ustadz Nisam Syah Jahanpur.
28.
Tuan Maulvi
Izazhushen Khan Syah, Jahanpur.
29.
Tuan Maulvi Riyasat Alikhan Syah, Jahanpur.
30.
Tuan Sayyid Sufi Jan Syah, Mereth.
31.
Tuan Maulvi Ishaq Petiyalah; Jami’-ul-Lama
Kalkuta, Bombay dan Madras.
32.
Jamius-Sajadah
Nasinan dan Masyaih Hindustan, dan
33. Tuan-tuan
Jami’u ahli aqal wa insyaf wa taqwa wa iman dari kaum Muslimin.
Bukti Melakukan
Penentangan Terhadap Ketentuan Allah Swt. dalam Al-Quran
Nampaklah
bahwa Hafiz Muhammad Yusuf dari Kabupaten Darun-Nehr, akibat ketidakpahaman dan didikan yang salah dari para maulvi, maka ia di dalam satu majlis
(pertemuan) yang dihadiri pula oleh:
1. Tuan Mirza
Khuda Bakhs
2. Tuan Nawab
Muhammad Ali Khan
3. Tuan Miya
Mirajuddin, Lahore
4. Tuan Mufti Muhammad
Shadiq
5. Tuan Sufi
Muhammad Ali, Klerk
6. Tuan Miya Cetu, Lahore
7. Tuan Khalifah
Rijabuddin, pengusaha Lahore
8. Tuan Syekh
Ya’qub Ali, editor surat kabar Al-Hakam
9. Tuan Muhammad
Hakim Muhammad Hussain Quraisyi
10. Tuan Hakim Muhammad Hussain, pedagang (alm)
11. Tuan Cerajuddin, Klerk;
12. Tuan Maulwi Yar Muhammad
Di dalam
majlis itu hafiz Muhammad Yusuf dengan
lancang sekali berkata, bahwa:
“Jika ada seorang nabi atau rasul atau seorang ma’mur minallah (orang yang diperintah dari Allah) mendakwakan diri dengan kepalsuan
dan dengan itu ia ingin menyesatkan orang-orang, kemudian setelah ia berdusta atas nama
Allah dia masih dapat hidup selama 23 tahun atau lebih, maka dalil semacam itu tidak bisa diakui sebagai
satu dalil kebenaran.”
Kemudian Hafiz Muhammad Yusuf berkata lagi:
“Aku pun sanggup memberikan nama orang-orang
yang semacam itu, yang mendakwakan
dirinya nabi atau rasul dari Allah, dan mereka itu hidup selama 23 tahun atau lebih dan dapat menyampaikan dakwahnya kepada orang-orang bahwa ‘Kalam Ilahi telah turun kepada kami’,
padahal mereka itu semua dusta.”
Pendeknya,
Tuan Hafiz hanya melihat catatan hawalah pribadinya saja, yang selanjutnya
menggunakan pendakwaan semacam itu
yang mengakibatkan timbulnya paham yang
menyalahkan ayat Al-Quran yang datang dari Tuhan kepada Rasulullah saw.,
seolah-olah Tuhan sendiri salah
sepenuhnya telah mengemukakan dalil ini ke hadapan orang-orang Nasrani,
Yahudi, dan para Musyrikin. Juga seolah-olah para pemimpin dan para ahli tafsir – semata-mata karena kebodohannya -- memakai dalil
ini melawan musuh-musuh, hingga
terhadap akidah tafsirku juga.
Meremehkan Al-Quran adalah Perbuatan
Kufur
Mengenai
hal ini, pada satu kitab akidah Ahlus-Sunnah tertulis, bahwa meremehkan Quran Syarif atau dalil-dalilnya
adalah perbuatan kufur, para ulama
pun sependapat akan hal ini. Tetapi tak tahulah pikiran apa yang membuat Tuan Hafiz berbuat begitu, padahal dia telah mendakwakan hafiz
(hafal) Al-Quran, lupakah dia akan ayat berikut ini:
اِنَّہٗ لَقَوۡلُ رَسُوۡلٍ
کَرِیۡمٍ ﴿ۚۙ﴾ وَّ مَا ہُوَ بِقَوۡلِ شَاعِرٍ ؕ
قَلِیۡلًا مَّا تُؤۡمِنُوۡنَ ﴿ۙ﴾ وَ لَا بِقَوۡلِ کَاہِنٍ ؕ قَلِیۡلًا مَّا تَذَکَّرُوۡنَ ﴿ؕ﴾ تَنۡزِیۡلٌ مِّنۡ رَّبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ
﴿﴾ وَ لَوۡ تَقَوَّلَ عَلَیۡنَا بَعۡضَ
الۡاَقَاوِیۡلِ ﴿ۙ﴾ لَاَخَذۡنَا مِنۡہُ بِالۡیَمِیۡنِ ﴿ۙ﴾ ثُمَّ
لَقَطَعۡنَا مِنۡہُ الۡوَتِیۡنَ
﴿۫ۖ﴾ فَمَا مِنۡکُمۡ مِّنۡ اَحَدٍ عَنۡہُ حٰجِزِیۡنَ ﴿﴾
(Sesungguhnya
Al-Quran benar-benar firman [yang diturunkan kepada] Rasul yang
mulia, dan [Al Quran] itu bukanlah
perkataan seorang penyair, sedikit sekali kamu beriman kepadanya. Dan bukan
pula perkataan tukang tenung, sedikit
sekali kamu mengambil pelajaran daripadanya. Ia adalah wahyu yang diturunkan
dari Tuhan seluruh alam. Dan
seandainya ia (Muhammad) mengadakan
sebagian perkataan atas (nama) Kami,
niscaya benar-benar Kami pegang Dia pada tangan kanannya, kemudian
benar-benar Kami potong urat tali jantungnya, maka sekali-kali tidak ada
seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami) dari
itu” - Al-Hāqqah
[69]:41-48).
Yakni,
“Al-Quran ini adalah perkataan rasul,
yakni melalui wahyulah diturunkan kepadanya, dan ini bukanlah ucapan penyair.
Tetapi oleh karena kurangnya keimanan
kamu maka kamu tidak mengenalnya. Dan bukan pula ini ucapan seorang ahli nujum,
yakni bukan ucapan yang ada
hubungannya jin (mistis), akan tetapi kamu sedikit sekali mengambil nasihat
darinya, karena itu kamu berpikir demikian. Kamu tidak berpikir bahwa betapa
hina dan rendahnya derajat seorang penujum. Ini adalah Firman Tuhan seluruh
alam. Tuhan alam jasmani dan ruhani, yakni sebagaimana Dia mendidik jasmani
kamu begitu pula Dia mendidik ruhani kamu. Dan oleh karena tuntutan Ketuhanan
inilah maka Dia mengutus seorang Rasul. Dan sekiranya Rasul itu membuat-buat
sendiri ucapannya dengan mengatakan bahwa “Ini adalah Firman Tuhan yang telah
turun kepadaku”, padahal itu hanyalah ucapannya sendiri, bukan Firman Tuhan,
maka Kami akan pegang tangan kanannya kemudian
Kami potong urat nadinya. Tak seorangpun di antara kamu dapat
menolongnya. Yakni jika dia mendustai Kami maka hukumannya adalah kematian,
sebab dalam hal ini dia menghendaki jalan kekufuran dengan kedustaannya,
sedangkan kedustaan menuju kepada kehancuran. Maka kematiannya itu lebih baik daripada kehancuran ini, yang bisa
meliputi dunia akibat dari ajarannya itu. Ini adalah sunnah
(kebiasaan/ketetapan) Kami sejak dahulu, yaitu Kami membasmi orang-orang yang
menuntun ke jalan kehancuran bagi dunia dan mengajarkan kedustaan serta
kepalsuan akidah dengan mengharapkan kematian ruhani hamba Tuhan, sedangkan
berdusta atas nama Tuhan adalah perbuatan dosa.”
Kini,
jelaslah bahwa dengan ayat ini Tuhan
memberikan dalil atas kebenaran
Rasulullah saw., yaitu “Jika yang mendakwakan diri itu bukanlah
dari Tuhan, maka Kami akan membinasakan dia, sekali-kali dia tidak akan bisa
hidup walaupun kamu berusaha menyelamatkannya”.
Tetapi Tuan Hafiz tidak percaya akan dalil ini
malah berkata bahwa, “Jangka waktu yang
telah ditetapkan dalam wahyu Rasulullah saw. selama 23 tahun itu, aku sanggup memberikan bukti-bukti orang-orang
yang mendakwakan nubuatan
(kenabian) atau risalat (kerasulan)
palsu yang dapat hidup lebih
dari jangka waktu itu, walaupun ia berdusta atas nama Tuhan.” Oleh karena
itu dalil Quran Syarif ini menurut Tuan Hafiz adalah batil dan bohong,
dan dengan demikian nubuwatan
Rasulullah saw. tidak bisa terbukti kebenarannya.”
Kesedihan Rasul
Akhir Zaman
Penjelasan Masih Mau’ud a.s. mengenai sikap naïf dan jahil
para penentang beliau a.s. tersebut membuktikan kebenaran nubuatan Al-Quran berikut ini, firman-Nya:
وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی
اتَّخَذُوۡا ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ مَہۡجُوۡرًا ﴿﴾ وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ
نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ َادِیًا وَّ نَصِیۡرًا ﴿﴾ وَ
قَالَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا لَوۡ لَا نُزِّلَ عَلَیۡہِ الۡقُرۡاٰنُ جُمۡلَۃً
وَّاحِدَۃً ۚۛ کَذٰلِکَ ۚۛ لِنُثَبِّتَ بِہٖ فُؤَادَکَ وَ رَتَّلۡنٰہُ
تَرۡتِیۡلًا﴿﴾ وَ لَا یَاۡتُوۡنَکَ
بِمَثَلٍ اِلَّا جِئۡنٰکَ بِالۡحَقِّ وَ اَحۡسَنَ تَفۡسِیۡرًا ﴿ؕ﴾ اَلَّذِیۡنَ
یُحۡشَرُوۡنَ عَلٰی وُجُوۡہِہِمۡ اِلٰی جَہَنَّمَ ۙ اُولٰٓئِکَ شَرٌّ مَّکَانًا
وَّ اَضَلُّ سَبِیۡلًا ﴿﴾
Dan Rasul
itu berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku),
sesungguhnya kaumku telah menjadikan
Al-Quran ini sesuatu yang telah ditinggalkan. Dan demikianlah Kami telah
menjadikan musuh bagi tiap-tiap nabi
dari antara orang-orang yang
berdosa, dan cukuplah Rabb (Tuhan)
engkau sebagai pemberi petunjuk dan penolong. Dan orang-orang
kafir berkata: “Mengapa Al-Quran tidak ditu-runkan kepadanya seluruhnya sekali-gus?
Seperti itulah Kami telah menurunkannya
supaya Kami
meneguh-kan hati engkau dengannya, dan Kami telah menyusunnya dalam susunan yang sebaik-baiknya. Dan mereka
tidak datang ke-pada engkau dengan sesuatu keberatan melainkan Kami melengkapi engkau dengan kebenaran dan
sebaik-baik penjelasan. Orang-orang
yang akan di-himpunkan dengan
menyeret wajahnya ke
dalam Jahannam, mereka
itulah yang akan paling buruk tempatnya
dan paling sesat jalannya. (Al-Furqān
[25]:31-35).
Ayat
31 dengan sangat tepat sekali dapat dikenakan kepada mereka yang menamakan diri
orang-orang Muslim dan mengaku sebagai ulama Islam,tetapi telah menyampingkan
Al-Quran dan telah melemparkannya ke
belakang. Barangkali belum pernah terjadi selama 14 abad ini di mana Al-Quran demikian rupa diabaikan dan dilupakan oleh orang-orang Muslim
seperti dewasa ini.
Ada sebuah hadits Nabi Besar Muhammad saw. yang mengatakan: “Satu saat akan datang kepada kaumku, bila tidak ada yang tinggal dari Islam melainkan namanya dan dari Al-Quran
melainkan kata-katanya” (Baihaqi, Syu’ab-ul-iman). Sungguh
masa sekarang-sekarang inilah saat yang dimaksudkan itu.
Rasul Allah yang Hakiki Selalu Didustakan dan Ditentang
Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai Sunnah-Nya berkenaan dengan para rasul Allah, termasuk berkenaan Masih
Mau’ud a.s. di Akhir Zaman ini: وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ
عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ َادِیًا وَّ نَصِیۡرًا -- “Dan demikianlah Kami telah menjadikan musuh bagi tiap-tiap nabi dari antara orang-orang yang berdosa, dan cukuplah
Rabb (Tuhan) engkau sebagai pemberi
petunjuk dan penolong.”
Jangankan terhadap wahyu-wahyu non-syariat yang diterima oleh Masih Mau’ud a.s. – sekali pun banyak yang merupakan pengulangan pewahyuan ayat-ayat Al-Quran
– bahkan terhadap wahyu Al-Quran yang
diwahyukan Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw. pun berbagai macam keberatan dan tuduhan dusta,
sebagaimana ayat selanjutnya: وَ قَالَ الَّذِیۡنَ
کَفَرُوۡا لَوۡ لَا نُزِّلَ عَلَیۡہِ الۡقُرۡاٰنُ جُمۡلَۃً وَّاحِدَۃً -- “Dan orang-orang
kafir berkata: “Mengapa Al-Quran tidak
diturunkan kepadanya seluruhnya sekali-gus?
کَذٰلِکَ ۚۛ لِنُثَبِّتَ بِہٖ فُؤَادَکَ -- Seperti itulah Kami
telah menurunkannya supaya Kami meneguhkan hati engkau dengannya, وَ رَتَّلۡنٰہُ تَرۡتِیۡلًا -- dan Kami telah
menyusunnya dalam susunan yang sebaik-baiknya.”
Al-Quran diwahyukan Allah Swt. sedikit-sedikit
dan pada waktu yang terpisah-pisah. Hal ini dimaksudkan untuk memenuhi beberapa
tujuan tertentu yang sangat berguna:
(a) waktu
selang antara wahyu berbagai bagian, memberikan kesempatan kepada orang-orang
beriman untuk menyaksikan sempurnanya beberapa nubuatan yang terkandung di dalam
bagian yang sudah diwahyukan, dengan
demikian keimanan mereka menjadi teguh dan kuat. Tambahan pula hal itu dimaksudkan untuk menjawab keberatan-keberatan yang dilancarkan
oleh orang-orang kafir dalam waktu
selang itu.
(b) Bila
orang-orang Muslim memerlukan petunjuk pada kejadian tertentu untuk
memenuhi keperluan tertentu maka
ayat-ayat yang diperlukan dan
bersangkut-paut dengan hal itu diturunkan.
Wahyu Al-Quran terpencar sepanjang masa 23
tahun, agar para sahabat Nabi Besar Muhammad saw. dapat menghafalkan, mempelajari,
dan menyesuaikan diri. Sebab seandainya wahyu
Al-Quran diturunkan sekaligus
dalam bentuk sebuah kitab yang lengkap maka orang-orang
kafir dapat mengatakan bahwa Nabi Besar Muhammad saw. telah menyuruh seseorang menyiapkannya
(QS.16:104; QS.25:5-7).
Dengan demikian diwahyukan-Nya Al-Quran secara bertahap pada waktu-waktu yang
berlainan, pada kesempatan-kesempatan yang berlainan, dan di dalam
keadaan-keadaan yang jauh sekali berbeda, menjawab
keberatan yang mungkin timbul. Al-Quran diturunkan sebagian demi sebagian
agar supaya dapat dihafalkan di luar kepala dengan mudah.
Diturunkannya Al-Quran
sedikit-demi sedikit memenuhi juga nubuatan dalam Bible seperti berikut: “Maka siapa gerangan diajarkannya
pengetahuan? dan siapa diartikannya barang yang ke-dengaran itu? kanak-kanak
yang baharu lepas susukah? kanak-kanak yang baharu dice-raikan dari susu
emaknya? Karena adalah hukum bertambah hukum dan hukum bertambah hukum, syarat
bertambah syarat dan syarat bertambah syarat, di sini sedikit, di sana sedikit”
(Yesaya 28:9-10).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik
Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 11 Mei 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar