Sabtu, 20 Mei 2017

Makna Lain Para "Penyair" yang Berlalu-lalang di "Lembah-lembah" Tanpa Tujuan & Pengulangan "Pewahyuan" Al-Quran di "Akhir Zaman" Kepada "Masih Mau'ud a.s." Guna Mewujudkan "Kejayaan Islam" Kedua Kali


Bismillaahirrahmaanirrahiim

“ARBA’IN”

ARBA’IN LI-ITMÂMIL HUJJAH ‘ALAL MUKHALLIFÎN
(Empat Puluh Risalah, Menyempurnakan Argumen Bagi Para Penentang)

  Karya

  Mirza Ghulam Ahmad a.s.
(Al-Masih Al-Mau’ud a.s.   -- Al-Masih yang Dijanjikan a.s.)


Bagian 26

ARBA’ÎN KE III

MAKNA LAIN PARA “PENYAIR” YANG BERLALU- LALANG DI “LEMBAH-LEMBAH”  TANPA TUJUAN & PENGULANGAN “PEWAHYUAN” AL-QURAN  DI AKHIR ZAMAN  KEPADA   MASIH MAU’UD A.S. GUNA MEWUJUDKAN KEJAYAAN ISLAM KEDUA KALI   
   
Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir  Bab sebelumnya   telah dikemukakan topik  Perumpamaan “Anjing yang Menjulurkan Lidahnyasehubungan dengan penyataan Masih Mau’ud a.s.  berkenaan Maulvi Abdullah Ghaznawi: “Dia selalu memperdengarkan mimpi-mimpinya di dalam mempertahankan diri, dan pernah pula bermubahalah dengan seorang penentang. Lalu kenapa kemudian condong kepada dunia?”  selaras dengan firman Allah Swt. mengenai perumpamaan “seekor anjing” berikut ini,  Dia berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ اتۡلُ عَلَیۡہِمۡ  نَبَاَ الَّذِیۡۤ  اٰتَیۡنٰہُ  اٰیٰتِنَا فَانۡسَلَخَ مِنۡہَا فَاَتۡبَعَہُ الشَّیۡطٰنُ فَکَانَ مِنَ  الۡغٰوِیۡنَ ﴿﴾ وَ لَوۡ شِئۡنَا لَرَفَعۡنٰہُ بِہَا وَ لٰکِنَّہٗۤ اَخۡلَدَ اِلَی الۡاَرۡضِ وَ اتَّبَعَ ہَوٰىہُ ۚ فَمَثَلُہٗ  کَمَثَلِ الۡکَلۡبِ ۚ اِنۡ  تَحۡمِلۡ عَلَیۡہِ یَلۡہَثۡ اَوۡ تَتۡرُکۡہُ یَلۡہَثۡ ؕ ذٰلِکَ مَثَلُ الۡقَوۡمِ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا ۚ فَاقۡصُصِ الۡقَصَصَ لَعَلَّہُمۡ یَتَفَکَّرُوۡنَ ﴿﴾
Dan ceritakanlah kepada mereka  berita orang-orang yang telah Kami berikan Tanda-tanda Kami kepadanya, lalu ia melepaskan diri darinya maka syaitan mengikutinya dan jadilah ia termasuk orang-orang yang sesat.  Dan seandainya  Kami menghendaki niscaya Kami meninggikan derajatnya dengan itu, akan tetapi ia cenderung ke bumi  dan mengikuti hawa nafsunya, maka keadaannya seperti seekor anjing yang kehausan, jika engkau menghalaunya ia menjulurkan lidahnya dan jika engkau membiarkannya ia tetap menjulurkan   lidahnya. Demikianlah misal orang-orang yang mendustakan Tanda-tanda Kami, maka kisahkanlah kisah ini supaya mereka merenungkannya. (Al-A’rāf [7]:176-177).
    Yang dimaksudkan ayat 76  bukanlah seseorang tertentu melainkan semua orang yang kepada mereka Allah Swt.  memperlihatkan Tanda-tanda  Ilahi  melalui seorang nabi Allah yang kedatangannya dijanjikan  (QS.7:35-37) tapi  karena berbagai pertimbangan duniawi kemudian mereka menolaknya (mendustakannya).  
  Ungkapan semacam itu terdapat di tempat lain dalam Al-Quran (seperti QS.2:18). Ayat itu telah dikenakan secara khusus kepada seorang yang bernama Bal’am bin Ba’ura (Bileam bin Beor) yang menurut kisah pernah hidup di zaman Nabi Musa a.s. dan konon dahulunya ia seorang wali Allah yang doa-doanya maqbul. Tetapi kesombongan merusak pikirannya dan ia mengakhiri hidupnya dalam kenistaan.

Para Pencinta  Kehidupan Duniawi

   Ayat itu dapat juga dikenakan kepada Abu Jahal, pemimpin kaum kafir Mekkah, atau kepada  Abdullah bin Ubbay bin Salul  -- pemimpin orang-orang munafik Madinah,  atau dapat pula kepada tiap-tiap pemimpin kekafiran termasuk di Akhir Zaman ini yang mendustakan dan menentang Masih Mau’ud a.s. (Rasul Akhir Zaman).
  Seandainya mereka tetap berpegang-teguh terhadap Tanda-tanda Ilahi yang telah disaksikannya:  لَرَفَعۡنٰہُ بِہَا  -- “niscaya Kami meninggikan derajatnya dengan itu,” yakni Allah Swt. akan menjadikan mereka menjadi orang-orang terpilih yang  bersama-sama dengan Rasul Allah yang kebenaran pendakwaannya mereka saksikan  sendiri.
  Makna ayat: وَ لٰکِنَّہٗۤ اَخۡلَدَ اِلَی الۡاَرۡضِ وَ اتَّبَعَ ہَوٰىہُ  --  “akan tetapi ia cenderung ke bumi dan mengikuti hawa nafsunya,“ yakni ia lebih cenderung kepada hal-hal yang bersifat kebendaan (duniawi) -- pada khususnya kecintaan akan uang  -- sehingga bukannya kemuliaan akhlak dan ruhani yang diperolehnnya (QS.4:70-71), melainkan kehinaan martabat, sebagaimana iblis yang kemudian “diusir” Allah Swt.  dari “keadaan surgawi” yang sebelumnya dinikmatinya  lalu  menjadi pemimpin kekafiran  (QS.7:12-19).
  Sehubungan dengan hal tersebut selanjutnya Allah Swt. berfirman:  فَمَثَلُہٗ  کَمَثَلِ الۡکَلۡبِ ۚ اِنۡ  تَحۡمِلۡ عَلَیۡہِ یَلۡہَثۡ اَوۡ تَتۡرُکۡہُ یَلۡہَثۡ  -- “maka keadaannya seperti seekor anjing yang kehausan, jika engkau menghalaunya ia menjulurkan lidahnya dan jika engkau membiarkannya ia tetap menjulurkan   lidahnya.
  Yalhats dari kata lahatsa, yang berarti nafasnya tersengal-sengal karena kelelahan atau kepenatan, maksudnya  adalah  baik diminta ataupun tidak untuk berkorban pada jalan agama (jalan Allah Swt.)  orang semacam itu nampaknya terengah-engah seperti seekor anjing kehausan, seakan-akan beban pemberian pengorbanan yang terus menerus bertambah membuatnya amat penat sekali.

Orang-orang yang Terusir dari  “Surga Keridhaaan” Allah Swt.

   Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai orang-orang yang “bernasib malang” – yang terusir dari “surga keridhaan Allah Swt.”   --  seperti itu:
سَآءَ مَثَلَاۨ الۡقَوۡمُ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اَنۡفُسَہُمۡ کَانُوۡا یَظۡلِمُوۡنَ ﴿ مَنۡ یَّہۡدِ اللّٰہُ فَہُوَ الۡمُہۡتَدِیۡ ۚ وَ مَنۡ یُّضۡلِلۡ  فَاُولٰٓئِکَ  ہُمُ  الۡخٰسِرُوۡنَ ﴿
Sangat buruk misal  orang-orang yang mendustakan Tanda-tanda Kami, dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim.    Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah   maka dialah yang mendapat petunjuk, dan barangsiapa yang Dia sesatkan  maka mereka itulah orang-orang yang rugi  (Al-A’rāf [7]:178-179).
   Orang-orang  beragama yang seperti itu bukannya berusaha untuk “menghidupkan agama” dan “menegakkan syariat” – sebagaimana yang dilakukan Masih Mau’ud a.s. dan para pengikut hakiki beliau a.s. (QS.61:10)  -- melainkan menjadi orang-orang yang  mencari kehidupan duniawi melalui agama,” firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ  رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ  الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ  عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ ٪﴿
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama, walaupun orang musyrik tidak menyukai. (Ash-Shaf [61]:10).

Para “Penyair” yang “Menggantang Asap

      Dalam surah Al-Quran lain  para penentang rasul Allah  yang mencintai kehidupan duniawi seperti itu disebut  para “ahli syair” yang mengembara di “lembah-lembah subur” yang pandai  “mengatakan apa yang tidak mereka lakukan” (QS.2:45; QS.61:3-5), firman-Nya:
ہَلۡ اُنَبِّئُکُمۡ عَلٰی مَنۡ تَنَزَّلُ الشَّیٰطِیۡنُ ﴿﴾ؕ تَنَزَّلُ عَلٰی کُلِّ  اَفَّاکٍ  اَثِیۡمٍ ﴿﴾ۙ یُّلۡقُوۡنَ السَّمۡعَ وَ اَکۡثَرُہُمۡ کٰذِبُوۡنَ ﴿﴾ؕ وَ الشُّعَرَآءُ  یَتَّبِعُہُمُ  الۡغَاوٗنَ ﴿﴾ؕ اَلَمۡ  تَرَ  اَنَّہُمۡ  فِیۡ کُلِّ وَادٍ  یَّہِیۡمُوۡنَ ﴿﴾ۙ وَ  اَنَّہُمۡ  یَقُوۡلُوۡنَ مَا  لَا  یَفۡعَلُوۡنَ ﴿﴾ۙ اِلَّا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَ ذَکَرُوا اللّٰہَ  کَثِیۡرًا وَّ انۡتَصَرُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا ظُلِمُوۡا ؕ وَ سَیَعۡلَمُ الَّذِیۡنَ ظَلَمُوۡۤا اَیَّ  مُنۡقَلَبٍ  یَّنۡقَلِبُوۡنَ ﴿﴾٪
Maukah kamu Aku beri tahu   kepada siapa syaitan-syaitan itu turun?   Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta yang berdosa.   Mereka mengarahkan  telinga ke langit dan kebanyakan mereka pendusta. وَ الشُّعَرَآءُ  یَتَّبِعُہُمُ  الۡغَاوٗنَ -- Dan penyair-penyair itu yang  mengikuti mereka adalah orang yang sesat. اَلَمۡ  تَرَ  اَنَّہُمۡ  فِیۡ کُلِّ وَادٍ  یَّہِیۡمُوۡنَ  -- Tidakkah engkau melihat  bahwasanya mereka itu berjalan kian-kemari  tanpa tujuan di dalam setiap lembah,  وَ  اَنَّہُمۡ  یَقُوۡلُوۡنَ مَا  لَا  یَفۡعَلُوۡنَ --  dan bahwasanya mereka itu mengatakan apa yang  tidak mereka  lakukan.    Kecuali orang-orang yang beriman, dan beramal saleh  serta banyak-banyak mengingat Allah, dan mereka   membela diri setelah mereka dizalimi. Dan orang-orang zalim itu segera akan  mengetahui  ke tempat mana mereka akan kembali. (Asy-Syu’arā [26]:222-228).
      Dalam ayat-ayat ini tuduhan bahwa Nabi Besar Muhammad saw.  adalah seorang penyair (QS.21:6) disangkal. Tiga alasan yang diberikan sebagai sangkalan, ialah:
       (1) Orang-orang yang mengikut dan berteman dengan penyair-penyair bukanlah orang-orang yang berbudi pekerti tinggi, tetapi para pengikut  Nabi Besar Muhammad saw.   memiliki cita-cita yang sangat mulia dan berbudi pekerti yang sangat luhur.
       (2) Penyair-penyair tidak mempunyai cita-cita atau rencana hidup yang terarah. Mereka itu seakan-akan melantur tidak menentu arah-tujuannya di tiap-tiap lembah. Akan tetapi  Nabi Besar Muhammad saw.    mempunyai suatu tugas hidup yang  sangat agung dan luhur.
        (3). Penyair-penyair tidak mengamalkan apa yang mereka ucapkan, sedangkan  Nabi Besar Muhammad saw.    bukan hanya Guru yang paling mulia, melainkan juga seorang pribadi terbesar dari antara orang-orang yang sibuk berkarya, dan seorang suri teladan yang sempurna (QS.33:22).

Rūhul- Amīn” Pembawa Wahyu Al-Quran Kepada “Al-Amīn

        Kenyataan seperti itu  adalah  karena  Nabi Besar Muhammad saw.  mendapat petunjuk langsung dari Allah Swt. melalui wahyu Al-Quran, firman-Nya:
وَ  اِنَّہٗ   لَتَنۡزِیۡلُ  رَبِّ  الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ؕ    نَزَلَ  بِہِ  الرُّوۡحُ  الۡاَمِیۡنُ ﴿﴾ۙ   عَلٰی قَلۡبِکَ لِتَکُوۡنَ مِنَ الۡمُنۡذِرِیۡنَ ﴿﴾    بِلِسَانٍ عَرَبِیٍّ مُّبِیۡنٍ ﴿ ﴾ؕ  وَ  اِنَّہٗ  لَفِیۡ  زُبُرِ الۡاَوَّلِیۡنَ ﴿   اَوَ لَمۡ  یَکُنۡ لَّہُمۡ اٰیَۃً  اَنۡ یَّعۡلَمَہٗ عُلَمٰٓؤُا بَنِیۡۤ   اِسۡرَآءِیۡلَ ﴿   ﴾ؕ  وَ لَوۡ  نَزَّلۡنٰہُ عَلٰی بَعۡضِ الۡاَعۡجَمِیۡنَ ﴿  ﴾ۙ
Dan sesungguhnya Al-Quran ini diturunkan oleh Rabb (Tuhan) seluruh alam.   Telah turun dengannya  Ruh yang terpercaya,  atas kalbu engkau  supaya engkau termasuk di antara para pemberi peringatan.    Dengan bahasa Arab yang jelas. Dan sesungguhnya Al-Quran benar-benar tercantum di dalam kitab-kitab terdahulu. Dan tidakkah ini merupakan satu Tanda bagi mereka bahwa ulama-ulama Bani Israil pun mengetahuinya?  (Asy-Syu’arā [26]:193-198).
          Ayat  193 ini bermaksud mengatakan bahwa wahyu Al-Quran bukanlah suatu gejala baru. Seperti amanat-amanat para nabi Allah  sebelumnya amanat Al-Quran juga telah diwahyukan oleh Allah Swt., tetapi dengan perbedaan bahwa nabi-nabi terdahulu dikirim kepada kaum masing-masing, sedang Al-Quran diturunkan kepada Nabi Besar Muhammad saw. untuk seluruh bangsa di dunia (QS.7:159; QS.21:108;  QS.25:2; QS.34:29), sebab Al-Quran “diturunkan oleh Rabb (Tuhan) seluruh alam” (QS.1:2). Itulah makna ayat: وَ  اِنَّہٗ   لَتَنۡزِیۡلُ  رَبِّ  الۡعٰلَمِیۡنَ  -- “Dan sesungguhnya Al-Quran ini diturunkan oleh Rabb (Tuhan) seluruh alam.
        Dalam ayat selanjutnya   malaikat yang membawa wahyu Al-Quran disebut rūhul-amīn, yaitu “Ruh yang terpercaya”. Di tempat lain disebut Ruhul-qudus (QS.16:103), yakni ruh suci.  Sebutan  Rūhul-amīn      (Ruh yang terpercaya) adalah nama kehormatan terakhir dipergunakan dalam Al-Quran untuk menunjuk kepada kebebasan yang kekal-abadi dan mutlak dari setiap kekeliruan atau noda; dan penggunaan nama kehormatan yang pertama (Rūhul-Amīn) mengandung arti, bahwa Al-Quran akan terus-menerus mendapat perlindungan Ilahi terhadap segala usaha yang merusak keutuhan teksnya  (QS.15:10; QS.41:43).
         Nama kehormatan Rūhul-amīn      (Ruh yang terpercaya)  ini secara khusus telah dipergunakan berkenaan dengan wahyu Al-Quran, sebab janji pemeliharaan Ilahi yang kekal-abadi tidak diberikan kepada kitab-kitab suci lainnya; dan kata-kata dalam kitab-kitab suci terdahulu itu  -- akibat  berlalunya masa yang lama --  telah menderita campur tangan manusia dan perubahan, firman-Nya: نَزَلَ  بِہِ  الرُّوۡحُ  الۡاَمِیۡنُ ﴿﴾ۙ   عَلٰی قَلۡبِکَ لِتَکُوۡنَ مِنَ الۡمُنۡذِرِیۡنَ  – “Telah turun dengannya  Ruh yang terpercaya,  atas kalbu engkau  supaya engkau termasuk di antara para pemberi peringatan.”
       Sungguh mengherankan, bahwa di Mekkah  Nabi Besar Muhammad saw.   sendiri dikenal sebagai Al-Amīn (si benar; terpercaya). Betapa besar penghormatan Ilahi dan betapa besar kesaksian mengenai keterpercayaan Al-Quran, karena wahyu Al-Quran dibawa oleh Rūhul-amīn (Ruh yang terpercaya) yakni Malaikat Jibrail kepada seorang amin!

Al-Quran Dinubuatkan Oleh  Para Nabi Allah Sebelumnya & Rasul Akhir Zaman yang Bukan Bangsa Arab

       Kata-kata “atas kalbu engkau” telah dibubuhkan untuk mengatakan  bahwa wahyu-wahyu Al-Quran bukan hanya gagasan yang dicetuskan Nabi Besar Muhammad saw.   dengan perkataan beliau saw. sendiri, melainkan benar-benar Kalam Allah Swt.   Sendiri, yang turun (diwahyukan) kepada hati  Nabi Besar Muhammad saw.  dengan perantaraan Malaikat Jibril a.s..
       Makna ayat:  وَ  اِنَّہٗ  لَفِیۡ  زُبُرِ الۡاَوَّلِیۡنَ -- “Dan sesungguhnya Al-Quran benar-benar tercantum di dalam kitab-kitab terdahulu.”  Hal diutusnya  Nabi Besar Muhammad saw.   dan hal turunnya Al-Quran, kedua-duanya telah dinubuatkan dalam kitab-kitab suci terdahulu.
          Makna ayat selanjutnya:  اَوَ لَمۡ  یَکُنۡ لَّہُمۡ اٰیَۃً  اَنۡ یَّعۡلَمَہٗ عُلَمٰٓؤُا بَنِیۡۤ   اِسۡرَآءِیۡلَ  -- “Dan tidakkah ini merupakan satu Tanda bagi mereka bahwa ulama-ulama Bani Israil pun mengetahuinya?”   Kabar-kabar gaib tentang itu kita dapati dalam Kitab-kitab hampir setiap agama,   tetapi Bible —yang merupakan kitab suci yang paling dikenal dan paling luas dibaca di antara seluruh kitab wahyu sebelum Al-Quran, dan juga karena merupakan pendahulunya dan dalam kemurniannya  konon merupakan rekan sejawat, kitab syariat— mengandung paling banyak jumlah nubuatan demikian. Lihat Ulangan 18:18 dan 33:2; Yesaya 21:13-17; Amtsal Solaiman 1:5-6; Habakuk 3:7; Matius 21:42-45 dan Yahya 16:12-14.
      Dalam ayat sebelumnya Allah Swt. berfirman mengenai wahyu Al-Quran: بِلِسَانٍ عَرَبِیٍّ مُّبِیۡنٍ  -- “Dengan bahasa Arab yang jelas” (QS.26:196) – lihat pula QS.16:104; 41:45; QS.46:13 – kemudian Allah Swt. berfirman:
وَ لَوۡ  نَزَّلۡنٰہُ عَلٰی بَعۡضِ الۡاَعۡجَمِیۡنَ ﴿﴾ۙ  فَقَرَاَہٗ  عَلَیۡہِمۡ مَّا کَانُوۡا بِہٖ مُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾ؕ  کَذٰلِکَ سَلَکۡنٰہُ  فِیۡ قُلُوۡبِ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ﴿﴾ؕ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ بِہٖ حَتّٰی یَرَوُا الۡعَذَابَ الۡاَلِیۡمَ ﴿﴾ۙ
Dan seandainya Kami menurunkannya kepada salah seorang di antara orang yang bukan-Arab,   lalu ia membacakannya kepada mereka, mereka sekali-kali tidak akan beriman kepadanya.   Demikianlah Kami telah me-masukkan hal itu dalam hati orang-orang yang berdosa.     Mereka tidak akan beriman kepadanya hingga mereka melihat azab yang  pedih,    maka azab itu akan datang kepada mereka dengan tiba-tiba, sedang mereka tidak menyadari.  (Asy-Syu’arā [26]:199-203).
      Makna ayat وَ لَوۡ  نَزَّلۡنٰہُ عَلٰی بَعۡضِ الۡاَعۡجَمِیۡنَ  --   “Dan seandainya Kami menurunkannya kepada salah seorang di antara orang yang bukan-Arab, فَقَرَاَہٗ  عَلَیۡہِمۡ مَّا کَانُوۡا بِہٖ مُؤۡمِنِیۡنَ --  lalu ia membacakannya kepada mereka, mereka sekali-kali tidak akan beriman kepadanya.”  Dalam ayat-ayat tersebut mengandung nubuatan  mengenai pengulangan “pewahyuan” Al-Quran kepada salah seorang pengikut hakiki Nabi Besar Muhammad saw.  di Akhir Zaman  yang “bukan bangsa Arab” (QS.62:3-4) yaitu pada masa puncak kemunduran Islam selama 1000 tahun (QS.32:2) setelah berlalunya  masa  kejayaan Islam yang pertama selama 300.

Pengulangan “Pewahyuan” Al-Quran Kepada Imam Mahdi a.s. atau Masih Mau’ud a.s. di Akhir Zaman

      Kepada Rasul Allah pengikut hakiki Nabi Besar Muhammad saw. yang bukan  bangsa Arab itulah – yakni Imam Mahdi a.s. atau Masih Mau’ud a.s.  – Allah Swt, kembali mewahyukan hakikat-hakikat Al-Quran yang telah “terbang ke bintang Tsurayya” (QS.32:2) guna mewujudkan kejayaan Islam yang kedua kali di Akhir Zaman ini (QS.61:10) sekali pun beliau a.s. mendapat penentangan sengit dan zalim dari para pemuka agama Islam – baik yang berbangsa Arab mau yang bukan bangsa Arab. Itulah makna ayat:  وَ لَوۡ  نَزَّلۡنٰہُ عَلٰی بَعۡضِ الۡاَعۡجَمِیۡنَ  --   “Dan seandainya Kami menurunkannya kepada salah seorang di antara orang yang bukan-Arab, فَقَرَاَہٗ  عَلَیۡہِمۡ مَّا کَانُوۡا بِہٖ مُؤۡمِنِیۡنَ --  lalu ia membacakannya kepada mereka, mereka sekali-kali tidak akan beriman kepadanya.” (QS.26:199-200).

Penentangan Terhadap Rasul Allah Mengakibatkan Kebutaan Mata Ruhani

      Selanjutnya Allah Swt. berfirman:  کَذٰلِکَ سَلَکۡنٰہُ  فِیۡ قُلُوۡبِ الۡمُجۡرِمِیۡنَ  -- “Demikianlah Kami telah memasukkan hal itu dalam hati  orang-orang yang berdosa.”  (QS.26:201).    Kebiasaan buruk orang-orang kafir ini berakar dalam hati mereka sendiri, dan kebiasaan buruk itu lahir akibat mereka telah bergelimang dalam dosa dan keburukan, dan bukanlah datang dari luar.
    Sesungguhnya ayat ini menyatakan hakikat umum bahwa  jika seseorang bergelimang dalam dosa maka kata  hatinya menjadi tumpul, malahan dengan berlalunya waktu  tumbuh rasa suka dalam dirinya kepada dosa itu. Dengan cara demikianlah dosa menimbulkan karat dan kerusakan “dalam hati orang-orang yang berdosa.”
     Sehubungan dengan timbulnya “karat dalam hati” yang mengakibatkan “kebutaan mata ruhani” para penentang rasul Allah  tersebut dalam surah lain Allah Swt. berfirman:
وَیۡلٌ یَّوۡمَئِذٍ لِّلۡمُکَذِّبِیۡنَ ﴿ۙ﴾ الَّذِیۡنَ یُکَذِّبُوۡنَ بِیَوۡمِ الدِّیۡنِ ﴿ؕ﴾ وَ مَا یُکَذِّبُ بِہٖۤ  اِلَّا کُلُّ مُعۡتَدٍ اَثِیۡمٍ ﴿ۙ﴾ اِذَا  تُتۡلٰی عَلَیۡہِ  اٰیٰتُنَا  قَالَ اَسَاطِیۡرُ الۡاَوَّلِیۡنَ ﴿ؕ﴾ کَلَّا بَلۡ ٜ رَانَ عَلٰی قُلُوۡبِہِمۡ مَّا کَانُوۡا یَکۡسِبُوۡنَ ﴿﴾ کَلَّاۤ  اِنَّہُمۡ عَنۡ رَّبِّہِمۡ یَوۡمَئِذٍ لَّمَحۡجُوۡبُوۡنَ ﴿ؕ﴾ ثُمَّ  اِنَّہُمۡ  لَصَالُوا الۡجَحِیۡمِ ﴿ؕ﴾ ثُمَّ یُقَالُ ہٰذَا الَّذِیۡ کُنۡتُمۡ بِہٖ تُکَذِّبُوۡنَ ﴿ؕ﴾
Celakalah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan,   yaitu orang-orang yang mendustakan Hari Pembalasan.   Dan sekali-kali tidak ada yang mendusta-kannya kecuali setiap pelanggar batas lagi sangat berdosa.  اِذَا  تُتۡلٰی عَلَیۡہِ  اٰیٰتُنَا  قَالَ اَسَاطِیۡرُ الۡاَوَّلِیۡنَ  --  Apabila Tanda-tanda Kami dibacakan kepadanya  ia berkata: “Ini-lah dongeng orang-orang dahulu!” کَلَّا بَلۡ ٜ رَانَ عَلٰی قُلُوۡبِہِمۡ مَّا کَانُوۡا یَکۡسِبُوۡنَ  -- Sekali-kali tidak, bahkan  apa yang mereka usahakan telah menjadi karat pada hati mereka.  کَلَّاۤ  اِنَّہُمۡ عَنۡ رَّبِّہِمۡ یَوۡمَئِذٍ لَّمَحۡجُوۡبُوۡنَ --    Sekali-kali tidak, bahkan sesungguhnya pada hari itu mereka be-nar-benar terhalang dari melihat  Rabb (Tuhan) mereka.  ثُمَّ  اِنَّہُمۡ  لَصَالُوا الۡجَحِیۡمِ --   Kemudian sesungguhnya  mereka pasti masuk ke dalam Jahannam.  ثُمَّ یُقَالُ ہٰذَا الَّذِیۡ کُنۡتُمۡ بِہٖ تُکَذِّبُوۡنَ   -- Kemudian  dikatakan: “Inilah apa yang senantiasa kamu  dustakan.”  (Al-Muthaffifīn [83]:11-18).
  Makna ayat:  کَلَّا بَلۡ ٜ رَانَ عَلٰی قُلُوۡبِہِمۡ مَّا کَانُوۡا یَکۡسِبُوۡنَ  -- “Sekali-kali tidak, bahkan  apa yang mereka usahakan telah menjadi karat pada hati mereka.”     Nikmat melihat wajah Allah dianugerahkan kepada orang beriman  melalui dua tingkat:  Tingkat pertama ialah tingkat keimanan, ketika memperoleh keyakinan teguh kepada sifat-sifat Allah Tingkat kedua atau tingkat lebih tinggi berupa anugerah kenyataan mengenai Dzat Ilahi.
  Orang-orang berdosa disebabkan dosa-dosa mereka – terutama akibat pendustaan dan penentangan mereka  kepada Rasul Allah yang datang untuk mengajarkan makrifat Ilahi yang hakiki (QS.2:31-35; QS.3:180; QS.72:27-29) --  maka mereka akan tetap luput dari makrifat Dzat Ilahi pada Hari Pembalasan mereka tidak akan melihat Wajah Allah (QS.20:125-129).

Bukti Kebenaran Wahyu Ilahi Dalam buku Barâhin-e- Ahmadiyyah

  Kembali kepada pokok pembahasan,  selanjutnya Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai kedegilan   hati   Maulvi Abdullah Gaznawi yang mengingkari kesaksiannya sendiri berkenaan kebenaran pendakwaan beliau sebagai Masih Mau’ud a.s.:   
    “Tetapi kami tidak mengharapkan bahwa Tuan akan membukakan matanya, dan inilah yang  tinggal harapan, yakni selama beliau hidup dalam keadaan seperti itu. Dan ingatlah, penyebab utama terbitnya selebaran ini ialah    karena pada hari-hari ini beliau yang pertama-tama gencar sekali mengatakan bahwa, “Dalil  Al-Quran yang berbunyi: Jika  nabi ini dengan kepalsuan mendakwakan diri menerima wahyu maka Aku akan binasakan dia”. Katanya ini tidak ada apa-apanya  bahwa lebih banyak lagi pendusta semacam itu terdapat di dunia ini yang mereka itu mendakwakan diri menerima nubuatan (kenabian) atau kerasulan atau ma’mur minallāh dengan kepalsuan serta berdusta kepada Tuhan, tetapi masih  dapat hidup hingga 23 tahun lamanya.
     Itulah perkataan Tuan Hafiz dimana tak seorang mukmin pun bisa tahan mendengarnya. Demikianlah mereka yang di dalam hatinya ada laknat Tuhan. Apakah kalam Tuhan  itu dusta? [Dia berfirman]
“Dan siapakah yang lebih zalim daripada yang mendustakan Kitab Allah  kecuali mengatakan perkataan Allah yang hak (benar),   dan niscaya kutukan Allah atas  para pendusta.”
       Ini adalah kudrat Tuhan, Dia telah  memperlihatkan kalimat-kalimat itu dan juga tanda-tanda yang ditujukan bagiku. Hari-hari aku menerima wahyu sama dengan hari-hari Sayyidina Muhammad saw. menerima wahyu. Semenjak dijadikan-Nya dunia  tak seorang pun  nadzīr (seeorang pemberi ingat)  dapat dijumpai -- yang seperti Sayyidina Muhammad saw. -- hidup selama 23 tahun  dalam pendakwaan palsu. Ini adalah kemuliaan Nabi kita saw. yang telah diberikan Allah, di segala zaman pun telah membenarkannya.
       Hai orang-orang yang beriman! Jika kamu menjumpai  orang semacam itu yang mengaku ma’mur minallāh (orang yang diperintah Allah) dan kamu mendapat bukti kebenarannya – bahwa pengakuannya telah berlalu selama 23 tahun dan selama itu dia tidak henti-hentinya mendakwakan dirinya menerima wahyu dari Tuhan, serta  pengakuannya itu selalu terbukti benar dalam tulisan-tulisan yang telah beredar, maka ketahuilah bahwa dia itu sesungguhnya datang dari Tuhan. Sebab tidak mungkin seorang pendusta yang Allah sendiri mengetahuinya bisa mendapatkan jangka waktu 23 tahun seperti Rasulullah saw. di dalam pendakwaannya.
      Tidak salah, untuk hal ini memerlukan pembuktian, bahwa orang itu selama 23 tahun tak henti-hentinya  mendakwakan diri sejak awal hingga akhir. Orang yang demikian itu di dalam umat ini adalah aku, yang telah diberi tempo selama 23 tahun seperti yang dialami Rasulullah saw. selama 23 tahun, silsilah (rangkaian) wahyu terus berlangsung.
     Untuk membuktikannya adalah: Pertama, aku telah menulis mukalimatillâhi (percakapan dengan Allah) di dalam buku Barâhin-e- Ahmadiyyah yang telah 21 tahun beredar di masyarakat, dan 7-8 tahun yang lalu akupun telah menyebarkannya secara lisan, bukti ini  Barâhin-e- Ahmadiyyah sendirilah yang telah  memberikannya.
    Kemudian beberapa mukalimatillâhi (percakapan dengan Allah)  lainnya akan kutulis di dalam buku-buku lainnya secara bertahap. Karena itu hanya sebagai contoh saja mukalimatillâhi kutulis di dalam  Barâhin-e- Ahmadiyyah secara singkat. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat di dalam Barâhin-e- Ahmadiyyah.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
                                                                              ***

Pajajaran Anyar,  20 Mei     2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Persamaan "Sunnatullaah" Mengeai "Kebinasaan Para Pendusta" Atas Nama "Allah Swt." Dalam "Al-Quran" Dengan "Sunnatullaah" Dalam "Kitab-kitab Ilhami"Dalam "Bible"

Bismillaahirrahmaanirrahiim “ARBA’IN” ARBA’IN LI-ITMÂMIL HUJJAH ‘ALAL MUKHALLIFÎN (Empat Puluh Risalah, Menyempurnakan Argu...