Bismillaahirrahmaanirrahiim
“ARBA’IN”
ARBA’IN LI-ITMÂMIL HUJJAH ‘ALAL MUKHALLIFÎN
(Empat Puluh Risalah, Menyempurnakan Argumen Bagi Para
Penentang)
Karya
Mirza Ghulam Ahmad
a.s.
(Al-Masih Al-Mau’ud a.s.
-- Al-Masih yang Dijanjikan a.s.)
Bagian 26
ARBA’ÎN KE III
MAKNA LAIN PARA “PENYAIR” YANG BERLALU- LALANG
DI “LEMBAH-LEMBAH” TANPA TUJUAN & PENGULANGAN
“PEWAHYUAN” AL-QURAN DI AKHIR
ZAMAN KEPADA MASIH MAU’UD A.S. GUNA MEWUJUDKAN KEJAYAAN ISLAM KEDUA KALI
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan topik Perumpamaan “Anjing yang Menjulurkan
Lidahnya” sehubungan dengan penyataan Masih Mau’ud a.s. berkenaan Maulvi Abdullah Ghaznawi: “Dia selalu memperdengarkan
mimpi-mimpinya di dalam mempertahankan diri, dan pernah pula bermubahalah dengan seorang penentang. Lalu kenapa kemudian condong kepada dunia?” selaras dengan firman Allah Swt. mengenai
perumpamaan “seekor anjing” berikut ini, Dia berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ اتۡلُ عَلَیۡہِمۡ نَبَاَ الَّذِیۡۤ اٰتَیۡنٰہُ
اٰیٰتِنَا فَانۡسَلَخَ مِنۡہَا فَاَتۡبَعَہُ الشَّیۡطٰنُ فَکَانَ مِنَ الۡغٰوِیۡنَ ﴿﴾ وَ لَوۡ شِئۡنَا
لَرَفَعۡنٰہُ بِہَا وَ لٰکِنَّہٗۤ اَخۡلَدَ اِلَی الۡاَرۡضِ وَ اتَّبَعَ ہَوٰىہُ ۚ
فَمَثَلُہٗ کَمَثَلِ الۡکَلۡبِ ۚ
اِنۡ تَحۡمِلۡ عَلَیۡہِ یَلۡہَثۡ اَوۡ
تَتۡرُکۡہُ یَلۡہَثۡ ؕ ذٰلِکَ مَثَلُ الۡقَوۡمِ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا
ۚ فَاقۡصُصِ الۡقَصَصَ لَعَلَّہُمۡ یَتَفَکَّرُوۡنَ ﴿﴾
Dan ceritakanlah kepada mereka berita orang-orang yang telah Kami berikan Tanda-tanda
Kami kepadanya, lalu ia melepaskan
diri darinya maka syaitan
mengikutinya dan jadilah ia termasuk
orang-orang yang sesat. Dan seandainya Kami menghendaki niscaya Kami meninggikan derajatnya dengan
itu, akan tetapi ia cenderung ke
bumi dan mengikuti hawa nafsunya, maka keadaannya seperti seekor anjing yang
kehausan, jika engkau menghalaunya
ia menjulurkan lidahnya dan jika
engkau membiarkannya ia tetap menjulurkan lidahnya. Demikianlah misal orang-orang yang mendustakan
Tanda-tanda Kami, maka kisahkanlah
kisah ini supaya mereka
merenungkannya. (Al-A’rāf [7]:176-177).
Yang dimaksudkan ayat 76 bukanlah seseorang
tertentu melainkan semua orang
yang kepada mereka Allah Swt. memperlihatkan
Tanda-tanda Ilahi melalui seorang nabi Allah yang kedatangannya
dijanjikan (QS.7:35-37) tapi karena berbagai pertimbangan duniawi kemudian mereka menolaknya (mendustakannya).
Ungkapan
semacam itu terdapat di tempat lain dalam Al-Quran (seperti QS.2:18). Ayat itu
telah dikenakan secara khusus kepada seorang yang bernama Bal’am bin Ba’ura (Bileam bin Beor) yang menurut kisah pernah hidup
di zaman Nabi Musa a.s. dan
konon dahulunya ia seorang wali Allah
yang doa-doanya maqbul. Tetapi kesombongan merusak pikirannya dan ia mengakhiri hidupnya dalam kenistaan.
Para Pencinta Kehidupan Duniawi
Ayat itu
dapat juga dikenakan kepada Abu Jahal, pemimpin
kaum kafir Mekkah, atau kepada Abdullah bin Ubbay bin Salul -- pemimpin orang-orang munafik Madinah, atau dapat
pula kepada tiap-tiap pemimpin kekafiran
termasuk di Akhir Zaman ini yang mendustakan dan menentang Masih Mau’ud a.s. (Rasul
Akhir Zaman).
Seandainya mereka tetap berpegang-teguh terhadap Tanda-tanda
Ilahi yang telah disaksikannya: لَرَفَعۡنٰہُ بِہَا
-- “niscaya Kami meninggikan derajatnya
dengan itu,” yakni Allah Swt. akan menjadikan mereka menjadi orang-orang terpilih yang bersama-sama dengan Rasul Allah yang kebenaran pendakwaannya
mereka saksikan sendiri.
Makna ayat: وَ لٰکِنَّہٗۤ اَخۡلَدَ اِلَی الۡاَرۡضِ
وَ اتَّبَعَ ہَوٰىہُ -- “akan tetapi ia cenderung ke bumi dan mengikuti
hawa nafsunya,“ yakni ia lebih cenderung
kepada hal-hal yang bersifat kebendaan
(duniawi) -- pada khususnya kecintaan
akan uang -- sehingga bukannya kemuliaan akhlak dan ruhani yang
diperolehnnya (QS.4:70-71), melainkan kehinaan
martabat, sebagaimana iblis yang kemudian “diusir” Allah Swt. dari “keadaan
surgawi” yang sebelumnya dinikmatinya lalu
menjadi pemimpin kekafiran (QS.7:12-19).
Sehubungan dengan hal tersebut selanjutnya
Allah Swt. berfirman: فَمَثَلُہٗ کَمَثَلِ الۡکَلۡبِ ۚ اِنۡ تَحۡمِلۡ عَلَیۡہِ یَلۡہَثۡ اَوۡ تَتۡرُکۡہُ
یَلۡہَثۡ -- “maka
keadaannya seperti seekor anjing yang
kehausan, jika engkau menghalaunya ia
menjulurkan lidahnya dan jika engkau
membiarkannya ia tetap menjulurkan
lidahnya.”
Yalhats
dari kata lahatsa, yang berarti nafasnya
tersengal-sengal karena kelelahan
atau kepenatan, maksudnya adalah
baik diminta ataupun tidak untuk berkorban pada jalan agama (jalan Allah Swt.) orang semacam itu nampaknya terengah-engah seperti seekor anjing kehausan, seakan-akan beban pemberian pengorbanan yang terus
menerus bertambah membuatnya amat penat sekali.
Orang-orang yang Terusir dari “Surga
Keridhaaan” Allah Swt.
Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai
orang-orang yang “bernasib malang” –
yang terusir dari “surga keridhaan Allah Swt.” --
seperti itu:
سَآءَ مَثَلَاۨ الۡقَوۡمُ الَّذِیۡنَ
کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اَنۡفُسَہُمۡ کَانُوۡا یَظۡلِمُوۡنَ ﴿ ﴾ مَنۡ یَّہۡدِ
اللّٰہُ فَہُوَ الۡمُہۡتَدِیۡ ۚ وَ مَنۡ یُّضۡلِلۡ فَاُولٰٓئِکَ
ہُمُ الۡخٰسِرُوۡنَ ﴿ ﴾
Sangat buruk misal orang-orang yang mendustakan
Tanda-tanda Kami, dan kepada diri mereka sendirilah mereka
berbuat zalim. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah
maka dialah yang mendapat
petunjuk, dan barangsiapa yang Dia
sesatkan maka mereka itulah orang-orang yang rugi (Al-A’rāf [7]:178-179).
Orang-orang beragama
yang seperti itu bukannya berusaha
untuk “menghidupkan agama” dan “menegakkan syariat” – sebagaimana yang
dilakukan Masih Mau’ud a.s. dan para pengikut hakiki beliau a.s. (QS.61:10) -- melainkan menjadi orang-orang yang mencari
kehidupan duniawi melalui agama,”
firman-Nya:
ہُوَ
الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ
بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ
لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ
لَوۡ کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ ٪﴿ ﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk
dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama,
walaupun orang musyrik tidak
menyukai. (Ash-Shaf [61]:10).
Para “Penyair” yang “Menggantang
Asap”
Dalam
surah Al-Quran lain para penentang rasul Allah yang mencintai kehidupan duniawi seperti itu disebut para “ahli
syair” yang mengembara di “lembah-lembah
subur” yang pandai “mengatakan apa yang tidak mereka lakukan”
(QS.2:45; QS.61:3-5), firman-Nya:
ہَلۡ اُنَبِّئُکُمۡ عَلٰی مَنۡ
تَنَزَّلُ الشَّیٰطِیۡنُ ﴿﴾ؕ
تَنَزَّلُ عَلٰی کُلِّ اَفَّاکٍ
اَثِیۡمٍ ﴿﴾ۙ یُّلۡقُوۡنَ السَّمۡعَ وَ اَکۡثَرُہُمۡ
کٰذِبُوۡنَ ﴿﴾ؕ وَ الشُّعَرَآءُ یَتَّبِعُہُمُ
الۡغَاوٗنَ ﴿﴾ؕ اَلَمۡ
تَرَ اَنَّہُمۡ فِیۡ کُلِّ وَادٍ یَّہِیۡمُوۡنَ ﴿﴾ۙ وَ اَنَّہُمۡ
یَقُوۡلُوۡنَ مَا لَا یَفۡعَلُوۡنَ ﴿﴾ۙ اِلَّا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَ ذَکَرُوا اللّٰہَ کَثِیۡرًا وَّ انۡتَصَرُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا
ظُلِمُوۡا ؕ وَ سَیَعۡلَمُ الَّذِیۡنَ ظَلَمُوۡۤا اَیَّ مُنۡقَلَبٍ
یَّنۡقَلِبُوۡنَ ﴿﴾٪
Maukah kamu Aku beri tahu kepada siapa syaitan-syaitan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta yang berdosa.
Mereka mengarahkan telinga ke langit dan kebanyakan mereka pendusta. وَ الشُّعَرَآءُ یَتَّبِعُہُمُ
الۡغَاوٗنَ -- Dan penyair-penyair
itu yang mengikuti mereka adalah orang
yang sesat. اَلَمۡ تَرَ
اَنَّہُمۡ فِیۡ کُلِّ وَادٍ یَّہِیۡمُوۡنَ -- Tidakkah engkau melihat bahwasanya mereka itu berjalan kian-kemari
tanpa tujuan di dalam setiap lembah,
وَ اَنَّہُمۡ
یَقُوۡلُوۡنَ مَا لَا یَفۡعَلُوۡنَ -- dan bahwasanya mereka itu mengatakan apa yang
tidak mereka lakukan. Kecuali orang-orang
yang beriman, dan beramal
saleh serta banyak-banyak mengingat Allah, dan mereka membela diri setelah
mereka dizalimi. Dan orang-orang
zalim itu segera akan
mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali. (Asy-Syu’arā
[26]:222-228).
Dalam
ayat-ayat ini tuduhan bahwa Nabi
Besar Muhammad saw. adalah
seorang penyair (QS.21:6) disangkal. Tiga alasan yang diberikan sebagai sangkalan,
ialah:
(1) Orang-orang yang mengikut dan berteman dengan penyair-penyair
bukanlah orang-orang yang berbudi pekerti
tinggi, tetapi para pengikut Nabi Besar Muhammad saw. memiliki
cita-cita yang sangat mulia dan berbudi pekerti yang sangat luhur.
(2) Penyair-penyair
tidak mempunyai cita-cita atau rencana hidup yang terarah.
Mereka itu seakan-akan melantur tidak
menentu arah-tujuannya di tiap-tiap lembah. Akan tetapi Nabi Besar Muhammad saw. mempunyai
suatu tugas hidup yang sangat agung dan luhur.
(3). Penyair-penyair
tidak mengamalkan apa yang mereka ucapkan, sedangkan Nabi Besar Muhammad saw. bukan
hanya Guru yang paling mulia,
melainkan juga seorang pribadi terbesar
dari antara orang-orang yang sibuk
berkarya, dan seorang suri teladan
yang sempurna (QS.33:22).
“Rūhul- Amīn” Pembawa Wahyu Al-Quran Kepada “Al-Amīn”
Kenyataan seperti
itu adalah karena Nabi Besar Muhammad saw. mendapat petunjuk
langsung dari Allah Swt. melalui wahyu
Al-Quran, firman-Nya:
وَ
اِنَّہٗ لَتَنۡزِیۡلُ رَبِّ
الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ؕ نَزَلَ
بِہِ الرُّوۡحُ الۡاَمِیۡنُ ﴿﴾ۙ عَلٰی قَلۡبِکَ
لِتَکُوۡنَ مِنَ الۡمُنۡذِرِیۡنَ ﴿﴾ بِلِسَانٍ
عَرَبِیٍّ مُّبِیۡنٍ ﴿ ﴾ؕ وَ اِنَّہٗ
لَفِیۡ زُبُرِ الۡاَوَّلِیۡنَ ﴿ ﴾ اَوَ لَمۡ
یَکُنۡ لَّہُمۡ اٰیَۃً اَنۡ
یَّعۡلَمَہٗ عُلَمٰٓؤُا بَنِیۡۤ
اِسۡرَآءِیۡلَ ﴿ ﴾ؕ وَ
لَوۡ نَزَّلۡنٰہُ عَلٰی بَعۡضِ
الۡاَعۡجَمِیۡنَ ﴿ ﴾ۙ
Dan sesungguhnya Al-Quran ini diturunkan oleh Rabb (Tuhan) seluruh alam. Telah turun
dengannya Ruh yang terpercaya, atas kalbu
engkau supaya engkau termasuk di antara para pemberi
peringatan. Dengan bahasa Arab yang jelas. Dan sesungguhnya
Al-Quran benar-benar tercantum di dalam kitab-kitab terdahulu. Dan
tidakkah ini merupakan satu Tanda bagi
mereka bahwa ulama-ulama Bani Israil
pun mengetahuinya? (Asy-Syu’arā
[26]:193-198).
Ayat 193 ini bermaksud mengatakan bahwa wahyu Al-Quran bukanlah suatu gejala baru. Seperti amanat-amanat para nabi Allah sebelumnya amanat Al-Quran juga telah diwahyukan
oleh Allah Swt., tetapi dengan perbedaan
bahwa nabi-nabi terdahulu dikirim
kepada kaum masing-masing, sedang Al-Quran diturunkan kepada Nabi Besar
Muhammad saw. untuk seluruh bangsa di
dunia (QS.7:159; QS.21:108; QS.25:2;
QS.34:29), sebab Al-Quran “diturunkan
oleh Rabb (Tuhan) seluruh alam” (QS.1:2). Itulah makna ayat: وَ
اِنَّہٗ لَتَنۡزِیۡلُ رَبِّ
الۡعٰلَمِیۡنَ -- “Dan
sesungguhnya Al-Quran ini diturunkan oleh Rabb (Tuhan) seluruh alam.”
Dalam ayat selanjutnya malaikat yang membawa wahyu Al-Quran disebut rūhul-amīn,
yaitu “Ruh yang terpercaya”. Di tempat lain disebut Ruhul-qudus (QS.16:103),
yakni ruh suci. Sebutan Rūhul-amīn
(Ruh yang terpercaya) adalah nama kehormatan terakhir dipergunakan
dalam Al-Quran untuk menunjuk kepada kebebasan
yang kekal-abadi dan mutlak dari setiap kekeliruan atau noda; dan
penggunaan nama kehormatan yang pertama (Rūhul-Amīn) mengandung arti, bahwa Al-Quran akan terus-menerus mendapat perlindungan Ilahi terhadap segala usaha
yang merusak keutuhan teksnya (QS.15:10; QS.41:43).
Nama kehormatan Rūhul-amīn
(Ruh
yang terpercaya) ini secara khusus telah
dipergunakan berkenaan dengan wahyu
Al-Quran, sebab janji pemeliharaan
Ilahi yang kekal-abadi tidak
diberikan kepada kitab-kitab suci
lainnya; dan kata-kata dalam kitab-kitab suci terdahulu itu -- akibat berlalunya
masa yang lama -- telah menderita campur tangan manusia dan perubahan,
firman-Nya: نَزَلَ بِہِ الرُّوۡحُ
الۡاَمِیۡنُ ﴿﴾ۙ عَلٰی قَلۡبِکَ
لِتَکُوۡنَ مِنَ الۡمُنۡذِرِیۡنَ – “Telah turun
dengannya Ruh yang terpercaya, atas kalbu
engkau supaya engkau termasuk di antara para pemberi
peringatan.”
Sungguh mengherankan,
bahwa di Mekkah Nabi Besar Muhammad saw.
sendiri dikenal sebagai Al-Amīn
(si benar; terpercaya). Betapa besar penghormatan
Ilahi dan betapa besar kesaksian
mengenai keterpercayaan Al-Quran,
karena wahyu Al-Quran dibawa oleh Rūhul-amīn (Ruh yang terpercaya) yakni Malaikat
Jibrail kepada seorang amin!
Al-Quran Dinubuatkan Oleh
Para Nabi Allah Sebelumnya & Rasul Akhir Zaman yang Bukan
Bangsa Arab
Kata-kata
“atas kalbu engkau” telah dibubuhkan untuk mengatakan bahwa wahyu-wahyu
Al-Quran bukan hanya gagasan yang dicetuskan Nabi Besar Muhammad saw. dengan perkataan beliau saw. sendiri,
melainkan benar-benar Kalam Allah Swt.
Sendiri, yang turun (diwahyukan) kepada hati Nabi Besar Muhammad saw. dengan perantaraan Malaikat Jibril a.s..
Makna ayat: وَ
اِنَّہٗ لَفِیۡ زُبُرِ الۡاَوَّلِیۡنَ -- “Dan sesungguhnya Al-Quran benar-benar
tercantum di dalam kitab-kitab terdahulu.”
Hal diutusnya Nabi
Besar Muhammad saw. dan
hal turunnya Al-Quran, kedua-duanya
telah dinubuatkan dalam kitab-kitab suci terdahulu.
Makna ayat
selanjutnya: اَوَ لَمۡ یَکُنۡ لَّہُمۡ اٰیَۃً اَنۡ یَّعۡلَمَہٗ عُلَمٰٓؤُا بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ -- “Dan tidakkah ini merupakan satu Tanda bagi mereka bahwa ulama-ulama Bani Israil pun mengetahuinya?” Kabar-kabar gaib tentang itu kita dapati
dalam Kitab-kitab hampir setiap agama,
tetapi Bible
—yang merupakan kitab suci yang paling dikenal dan paling luas dibaca di antara
seluruh kitab wahyu sebelum Al-Quran,
dan juga karena merupakan pendahulunya dan dalam kemurniannya konon merupakan rekan sejawat, kitab syariat—
mengandung paling banyak jumlah nubuatan demikian. Lihat Ulangan 18:18
dan 33:2; Yesaya 21:13-17; Amtsal Solaiman 1:5-6; Habakuk
3:7; Matius 21:42-45 dan Yahya 16:12-14.
Dalam ayat sebelumnya
Allah Swt. berfirman mengenai wahyu Al-Quran: بِلِسَانٍ عَرَبِیٍّ مُّبِیۡنٍ -- “Dengan bahasa Arab yang jelas” (QS.26:196) – lihat pula QS.16:104; 41:45;
QS.46:13 – kemudian Allah Swt. berfirman:
وَ لَوۡ نَزَّلۡنٰہُ عَلٰی بَعۡضِ الۡاَعۡجَمِیۡنَ ﴿﴾ۙ فَقَرَاَہٗ
عَلَیۡہِمۡ مَّا کَانُوۡا بِہٖ مُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾ؕ کَذٰلِکَ سَلَکۡنٰہُ فِیۡ
قُلُوۡبِ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ﴿﴾ؕ
لَا یُؤۡمِنُوۡنَ بِہٖ حَتّٰی یَرَوُا
الۡعَذَابَ الۡاَلِیۡمَ ﴿﴾ۙ
Dan seandainya Kami menurunkannya kepada salah seorang di antara orang yang
bukan-Arab, lalu ia
membacakannya kepada mereka, mereka sekali-kali tidak akan beriman kepadanya. Demikianlah Kami telah me-masukkan hal itu dalam hati orang-orang yang berdosa. Mereka tidak
akan beriman kepadanya hingga mereka
melihat azab yang pedih, maka azab itu akan datang kepada mereka dengan tiba-tiba, sedang mereka tidak menyadari. (Asy-Syu’arā [26]:199-203).
Makna ayat وَ لَوۡ
نَزَّلۡنٰہُ عَلٰی بَعۡضِ الۡاَعۡجَمِیۡنَ -- “Dan
seandainya Kami menurunkannya kepada
salah seorang di antara orang yang
bukan-Arab, فَقَرَاَہٗ عَلَیۡہِمۡ مَّا کَانُوۡا بِہٖ مُؤۡمِنِیۡنَ -- lalu ia membacakannya kepada mereka, mereka
sekali-kali tidak akan beriman kepadanya.” Dalam ayat-ayat tersebut mengandung nubuatan mengenai pengulangan
“pewahyuan” Al-Quran kepada salah
seorang pengikut hakiki Nabi Besar
Muhammad saw. di Akhir Zaman yang “bukan bangsa Arab” (QS.62:3-4) yaitu
pada masa puncak kemunduran Islam
selama 1000 tahun (QS.32:2) setelah
berlalunya masa kejayaan Islam yang
pertama selama 300.
Pengulangan “Pewahyuan” Al-Quran Kepada Imam Mahdi a.s. atau
Masih Mau’ud a.s. di Akhir Zaman
Kepada Rasul Allah pengikut hakiki Nabi Besar Muhammad saw. yang bukan
bangsa Arab itulah – yakni Imam Mahdi a.s. atau Masih
Mau’ud a.s. – Allah Swt, kembali mewahyukan hakikat-hakikat Al-Quran
yang telah “terbang ke bintang Tsurayya”
(QS.32:2) guna mewujudkan kejayaan Islam
yang kedua kali di Akhir Zaman ini
(QS.61:10) sekali pun beliau a.s. mendapat penentangan
sengit dan zalim dari para pemuka agama Islam – baik yang berbangsa
Arab mau yang bukan bangsa Arab.
Itulah makna ayat: وَ لَوۡ
نَزَّلۡنٰہُ عَلٰی بَعۡضِ الۡاَعۡجَمِیۡنَ -- “Dan
seandainya Kami menurunkannya kepada
salah seorang di antara orang yang
bukan-Arab, فَقَرَاَہٗ عَلَیۡہِمۡ مَّا کَانُوۡا بِہٖ مُؤۡمِنِیۡنَ -- lalu ia membacakannya kepada mereka, mereka
sekali-kali tidak akan beriman kepadanya.”
(QS.26:199-200).
Penentangan Terhadap Rasul Allah Mengakibatkan Kebutaan
Mata Ruhani
Selanjutnya Allah Swt. berfirman: کَذٰلِکَ سَلَکۡنٰہُ فِیۡ قُلُوۡبِ الۡمُجۡرِمِیۡنَ -- “Demikianlah Kami telah memasukkan hal itu dalam hati
orang-orang yang berdosa.” (QS.26:201).
Kebiasaan buruk orang-orang
kafir ini berakar dalam hati mereka sendiri, dan kebiasaan buruk itu lahir akibat mereka telah bergelimang dalam dosa dan keburukan,
dan bukanlah datang dari luar.
Sesungguhnya ayat ini menyatakan hakikat umum bahwa jika seseorang bergelimang dalam dosa maka
kata
hatinya menjadi tumpul, malahan dengan berlalunya waktu tumbuh rasa
suka dalam dirinya kepada dosa
itu. Dengan cara demikianlah dosa
menimbulkan karat dan kerusakan “dalam hati orang-orang yang
berdosa.”
Sehubungan dengan timbulnya “karat dalam hati” yang mengakibatkan “kebutaan mata ruhani” para penentang rasul Allah tersebut dalam surah lain Allah Swt.
berfirman:
وَیۡلٌ یَّوۡمَئِذٍ لِّلۡمُکَذِّبِیۡنَ
﴿ۙ﴾ الَّذِیۡنَ یُکَذِّبُوۡنَ بِیَوۡمِ الدِّیۡنِ ﴿ؕ﴾ وَ مَا
یُکَذِّبُ بِہٖۤ اِلَّا کُلُّ مُعۡتَدٍ
اَثِیۡمٍ ﴿ۙ﴾ اِذَا
تُتۡلٰی عَلَیۡہِ اٰیٰتُنَا قَالَ اَسَاطِیۡرُ الۡاَوَّلِیۡنَ ﴿ؕ﴾ کَلَّا بَلۡ ٜ
رَانَ عَلٰی قُلُوۡبِہِمۡ مَّا کَانُوۡا یَکۡسِبُوۡنَ ﴿﴾ کَلَّاۤ اِنَّہُمۡ عَنۡ رَّبِّہِمۡ یَوۡمَئِذٍ
لَّمَحۡجُوۡبُوۡنَ ﴿ؕ﴾ ثُمَّ
اِنَّہُمۡ لَصَالُوا الۡجَحِیۡمِ
﴿ؕ﴾ ثُمَّ یُقَالُ ہٰذَا الَّذِیۡ کُنۡتُمۡ بِہٖ تُکَذِّبُوۡنَ ﴿ؕ﴾
Celakalah pada hari itu bagi orang-orang
yang mendustakan, yaitu orang-orang yang mendustakan
Hari Pembalasan. Dan sekali-kali
tidak ada yang mendusta-kannya kecuali setiap
pelanggar batas lagi sangat berdosa. اِذَا تُتۡلٰی عَلَیۡہِ اٰیٰتُنَا
قَالَ اَسَاطِیۡرُ الۡاَوَّلِیۡنَ -- Apabila Tanda-tanda Kami dibacakan kepadanya ia berkata: “Ini-lah dongeng orang-orang dahulu!” کَلَّا بَلۡ ٜ رَانَ عَلٰی قُلُوۡبِہِمۡ مَّا
کَانُوۡا یَکۡسِبُوۡنَ -- Sekali-kali tidak, bahkan apa
yang mereka usahakan telah menjadi karat pada hati mereka. کَلَّاۤ اِنَّہُمۡ عَنۡ
رَّبِّہِمۡ یَوۡمَئِذٍ لَّمَحۡجُوۡبُوۡنَ -- Sekali-kali tidak, bahkan sesungguhnya
pada hari itu mereka be-nar-benar terhalang dari melihat Rabb (Tuhan) mereka. ثُمَّ اِنَّہُمۡ لَصَالُوا الۡجَحِیۡمِ -- Kemudian sesungguhnya mereka
pasti masuk ke dalam Jahannam. ثُمَّ یُقَالُ ہٰذَا الَّذِیۡ کُنۡتُمۡ بِہٖ
تُکَذِّبُوۡنَ -- Kemudian dikatakan: “Inilah apa yang senantiasa kamu dustakan.” (Al-Muthaffifīn [83]:11-18).
Makna ayat: کَلَّا بَلۡ ٜ رَانَ عَلٰی قُلُوۡبِہِمۡ
مَّا کَانُوۡا یَکۡسِبُوۡنَ -- “Sekali-kali tidak, bahkan apa yang mereka usahakan telah menjadi
karat pada hati mereka.” Nikmat
melihat wajah Allah dianugerahkan
kepada orang beriman melalui dua tingkat: Tingkat pertama ialah tingkat keimanan, ketika memperoleh keyakinan teguh kepada sifat-sifat Allah. Tingkat kedua atau tingkat
lebih tinggi berupa anugerah kenyataan
mengenai Dzat Ilahi.
Orang-orang berdosa disebabkan dosa-dosa mereka – terutama akibat pendustaan dan penentangan
mereka kepada Rasul Allah yang datang untuk mengajarkan makrifat Ilahi yang hakiki (QS.2:31-35; QS.3:180; QS.72:27-29)
-- maka mereka akan tetap luput dari makrifat Dzat Ilahi pada Hari
Pembalasan mereka tidak akan melihat
Wajah Allah (QS.20:125-129).
Bukti Kebenaran Wahyu Ilahi Dalam buku Barâhin-e- Ahmadiyyah
Kembali kepada pokok pembahasan, selanjutnya Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai kedegilan hati Maulvi
Abdullah Gaznawi yang mengingkari
kesaksiannya sendiri berkenaan kebenaran
pendakwaan beliau sebagai Masih Mau’ud a.s.:
“Tetapi kami tidak mengharapkan bahwa Tuan akan membukakan matanya, dan
inilah yang tinggal harapan, yakni selama beliau hidup dalam keadaan seperti itu. Dan ingatlah, penyebab utama terbitnya selebaran
ini ialah karena pada hari-hari ini beliau yang
pertama-tama gencar sekali mengatakan bahwa, “Dalil Al-Quran yang berbunyi: Jika nabi ini dengan kepalsuan
mendakwakan diri menerima wahyu maka Aku akan binasakan dia”. Katanya ini tidak ada apa-apanya bahwa lebih banyak lagi pendusta semacam itu terdapat di dunia ini yang mereka itu mendakwakan diri menerima nubuatan
(kenabian) atau kerasulan atau ma’mur minallāh dengan kepalsuan serta
berdusta kepada Tuhan, tetapi masih dapat hidup hingga 23 tahun lamanya.
Itulah perkataan Tuan Hafiz dimana tak
seorang mukmin pun bisa tahan
mendengarnya. Demikianlah mereka
yang di dalam hatinya ada laknat Tuhan.
Apakah kalam Tuhan itu dusta?
[Dia berfirman]
“Dan siapakah
yang lebih zalim daripada yang mendustakan Kitab Allah kecuali mengatakan perkataan Allah yang hak (benar),
dan niscaya kutukan Allah atas para pendusta.”
Ini
adalah kudrat Tuhan, Dia telah memperlihatkan kalimat-kalimat itu dan juga
tanda-tanda yang ditujukan bagiku. Hari-hari aku menerima wahyu sama dengan hari-hari
Sayyidina Muhammad saw. menerima wahyu.
Semenjak dijadikan-Nya dunia tak seorang pun nadzīr (seeorang pemberi
ingat) dapat dijumpai -- yang seperti Sayyidina Muhammad saw. -- hidup selama
23 tahun dalam pendakwaan palsu. Ini adalah kemuliaan Nabi kita saw. yang
telah diberikan Allah, di segala
zaman pun telah membenarkannya.
Hai
orang-orang yang beriman! Jika kamu menjumpai orang semacam itu yang mengaku ma’mur minallāh (orang yang
diperintah Allah) dan kamu mendapat
bukti kebenarannya – bahwa pengakuannya
telah berlalu selama 23 tahun dan selama
itu dia tidak henti-hentinya mendakwakan dirinya menerima wahyu dari Tuhan,
serta pengakuannya itu selalu terbukti benar dalam tulisan-tulisan yang telah
beredar, maka ketahuilah bahwa dia itu sesungguhnya datang dari Tuhan.
Sebab tidak mungkin seorang pendusta yang
Allah sendiri mengetahuinya bisa
mendapatkan jangka waktu 23 tahun seperti Rasulullah saw. di dalam pendakwaannya.
Tidak
salah, untuk hal ini memerlukan
pembuktian, bahwa orang itu selama
23 tahun tak henti-hentinya mendakwakan
diri sejak awal hingga akhir. Orang
yang demikian itu di dalam umat ini adalah aku, yang telah diberi tempo
selama 23 tahun seperti yang dialami
Rasulullah saw. selama 23 tahun, silsilah (rangkaian) wahyu terus berlangsung.
Untuk
membuktikannya adalah: Pertama, aku
telah menulis mukalimatillâhi (percakapan dengan Allah) di dalam buku Barâhin-e-
Ahmadiyyah yang telah 21
tahun beredar di masyarakat, dan 7-8 tahun yang lalu akupun telah menyebarkannya secara lisan, bukti ini Barâhin-e- Ahmadiyyah sendirilah
yang telah memberikannya.
Kemudian
beberapa mukalimatillâhi (percakapan dengan Allah) lainnya akan
kutulis di dalam buku-buku lainnya secara bertahap. Karena itu hanya sebagai contoh saja mukalimatillâhi kutulis
di dalam Barâhin-e- Ahmadiyyah
secara singkat. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat di dalam Barâhin-e-
Ahmadiyyah.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik
Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 20 Mei 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar