Sabtu, 29 April 2017

"Duel Makar" Dalam Peristiwa "Hijrah" Nabi Besar Muhammad Saw. dan Hubungannya Dengan "Perkembangan Islam" yang "Dinubuatkan" Dalam Peristiwa "Isra" Nabi Besar Muhammad Saw.



Bismillaahirrahmaanirrahiim

“ARBA’IN”

ARBA’IN LI-ITMÂMIL HUJJAH ‘ALAL MUKHALLIFÎN
(Empat Puluh Risalah, Menyempurnakan Argumen Bagi Para Penentang)

  Karya

  Mirza Ghulam Ahmad a.s.
(Al-Masih Al-Mau’ud a.s.   -- Al-Masih yang Dijanjikan a.s.)


Bagian 14

ARBA’ÎN KE II

DUEL MAKAR”  DALAM PERISTIWA HIJRAH NABI BESAR MUHAMMAD SAW. DAN HUBUNGANNYA DENGAN  PERKEMBANGAN ISLAM  YANG DINUBUATKAN DALAM  PERISTIWA ISRA   NABI BESAR  MUHAMMAD SAW.       

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir  Bab sebelumnya   telah dikemukakan topik    Nubuatan Dalam Nama “Masjid-al-Aqsha” (Mesjid yang Jauh) sehubungan dengan firman Allah Swt.:
سُبۡحٰنَ الَّذِیۡۤ  اَسۡرٰی بِعَبۡدِہٖ لَیۡلًا مِّنَ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ  اِلَی الۡمَسۡجِدِ الۡاَقۡصَا الَّذِیۡ بٰرَکۡنَا حَوۡلَہٗ  لِنُرِیَہٗ مِنۡ اٰیٰتِنَا ؕ اِنَّہٗ  ہُوَ  السَّمِیۡعُ  الۡبَصِیۡرُ ﴿﴾
Maha Suci Dia  Yang  memperjalankan  hamba-Nya pada waktu malam  dari Masjid Haram ke Masjid Aqsha   yang   sekelilingnya telah Kami berkati supaya Kami memperlihatkan kepadanya sebagian dari Tanda-tanda Kamiاِنَّہٗ  ہُوَ  السَّمِیۡعُ  الۡبَصِیۡرُ --   sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat  (Bani Israil [17]:2).
          Ayat ini, yang nampaknya menyebut suatu kasyaf (pengalaman ruhani) Nabi Besar Muhammad saw., telah dianggap oleh sebagian ahli tafsir Al-Quran menunjuk kepada Mi’raj (kenaikan ruhani) beliau saw.. Berlawanan dengan pendapat umum, kami cenderung kepada pendapat bahwa ayat ini membahas masalah Isra (perjalanan ruhani di waktu malam)  Nabi Besar Muhammad saw.,  dari Mekkah ke Yerusalem dalam kasyaf, sedang peristiwa mikraj beliau saw. telah dibahas agak terinci dalam Surah Al-Najm [53]:1-19).

Dua Peristiwa  Ruhani yang  Berbeda Waktu

       Semua kejadian yang disebut dalam Surah Al-Najm (ayat-ayat 8-18) yang telah diwahyukan tidak lama sesudah hijrah umat Islam ke Abessinia, yang telah terjadi di bulan Rajab tahun ke-5 nabawi, diceriterakan secara terinci dalam buku-buku hadits yang membahas mikraj  Nabi Besar Muhammad saw.,  sedang peristiwa Isra beliau saw.   dari Mekkah ke Yerusalem yang dibahas oleh  surah Bani Israil (Al-Isra) ayat 2 yang sedang dibahas.,  menurut Zurqani terjadi pada tahun ke-11 nabawi, menurut Sir Williams Muir dan beberapa pengarang Kristen lainnya pada tahun ke-12. Tetapi menurut Mardawaih dan Ibn Sa’d, peristiwa Isra terjadi pada 17 Rabiul-awal, setahun sebelum hijrah (Al-Khashaish al-Kubra).   Baihaqi pun menceriterakan, bahwa Isra itu terjadi setahun atau 6 bulan sebelum hijrah.
         Dengan demikian semua hadits yang bersangkutan dengan persoalan ini menunjukkan bahwa peristiwa  Isra itu terjadi setahun atau 6 bulan sebelum hijrah, yaitu kira-kira pada tahun ke-12 nabawi, setelah Siti Khadijah r.a. wafat, yang terjadi pada tahun ke-10 nabawi, ketika  Nabi Besar Muhammad saw.  tinggal bersama-sama dengan Ummi Hani, saudari sepupu beliau saw..
        Tetapi peristiwa mikraj, menurut pendapat sebagian terbesar ulama, terjadi kira-kira pada tahun ke-5 nabawi. Dengan demikian dua kejadian itu dipisahkan satu dengan yang lain oleh jarak waktu 6 atau 7 tahun, dan oleh karenanya kedua kejadian itu tidak mungkin sama, peristiwa yang satu (mikraj) harus dianggap berbeda dan terpisah dari yang lain (Isra).
        Lagi pula peristiwa-peristiwa yang menurut hadits terjadi dalam mi'raj  Nabi Besar Muhammad saw.,   sama sekali berbeda dalam sifatnya dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam Isra. Secara sambil lalu dapat disebutkan di sini bahwa kedua peristiwa itu hanya kejadian-kejadian ruhani belaka, dan  Nabi Besar Muhammad saw.,  tidak naik ke langit atau pergi ke Yerusalem dengan tubuh kasar, sebagaimana yang umumnya dipercayai kalangan umat Islam.

Bukti-bukti Peristiwa Isra Berbeda Dengan  Peristiwa Mikraj

         Selain kesaksian sejarah yang kuat ini, ada pula kejadian-kejadian lain yang berkaitan dengan peristiwa itu mendukung pendapat bahwa kejadian  mi’raj dan Isra itu sama sekali berbeda dan terpisah satu sama lain:
       (a) Al-Quran menguraikan kejadian mi'raj  Nabi Besar Muhammad saw.,   dalam surah An-Najm [53], tetapi sedikit pun tidak menyinggung  Isra, sedang dalam Surah Bani Israil yang sedang dibahas  Al-Quran membahas soal Isra, tetapi sedikit pun tidak menyinggung peristiwa mi'raj.
        (b) Ummi Hani r.a., saudari sepupu  Nabi Besar Muhammad saw.,  yang di rumahnya beliau saw. menginap pada malam peristiwa Isra terjadi, hanya membicarakan perjalanan  Nabi Besar Muhammad saw.  ke Yerusalem, dan sama sekali tidak menyinggung kenaikan beliau ke langit.
        Ummi Hani r.a. adalah orang pertama yang kepadanya  Nabi Besar Muhammad saw.,   menceriterakan “perjalanan beliau di waktu malam”  (isra) ke Yerusalem, dan paling sedikit tujuh penghimpun riwayat-riwayat hadits telah mengutip keterangan Ummi Hani r.a. mengenai kejadian ini, yang bersumber pada empat perawi yang berlain-lainan. Semua perawi ini sepakat, bahwa  Nabi Besar Muhammad saw.,  berangkat ke Yerusalem dan pulang kembali ke Mekkah pada malam itu juga.
         Jika seandainya  Nabi Besar Muhammad saw.,   telah membicarakan pula kenaikan beliau saw. ke langit (mikraj)  tentu Ummi Hani r.a.  tidak akan lupa menyebutkan hal ini dalam salah satu riwayatnya. Tetapi beliau tidak menyebut hal itu dalam satu riwayat pun, dengan demikian menun-jukkan dengan pasti bahwa pada malam yang bersangkutan itu  Nabi Besar Muhammad saw. hanya melakukan Isra  dari Mekkah ke  Yerusalem, dan bahwa mi'raj tidak terjadi pada ketika itu.
        Nampaknya beberapa perawi hadits mencampur-baurkan kedua peristiwa Isra dan mi'raj itu. Rupanya pikiran mereka dikacaukan oleh kata isra’, yang dipergunakan baik untuk Isra maupun untuk mi'raj, dan persamaan yang terdapat pada beberapa uraian terinci mengenai Isra dan Mi'raj telah menambah dan memperkuat pendapat mereka yang kacau- balau itu.
        (c) Hadits-hadits yang mula-mula meriwayatkan perjalanan Nabi Besar Muhammad saw. dari Mekkah  ke Yerusalem dan selanjutnya mengenai kenaikan (mi’raj) beliau saw. (Masjidil-Aqsha) dari sana ke langit, menyebut pula bahwa di Yerusalem beliau bertemu dengan beberapa nabi terdahulu,  -- termasuk Nabi Adam a.s.,  Nabi Ibrahim a.s.,  Nabi Musa a.s., dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  --  dan bahwa di berbagai petala (tingkatan)  langit beliau menemui kembali nabi-nabi yang itu-itu juga  tetapi tidak dapat mengenal mereka.
       Bagaimana mungkin  nabi-nabi tersebut, yang telah beliau jumpai di Yerusalem   -- dan  shalat berjama’ah di masjidi- Aqsha  yang diimami beliau saw.  – dan mereka pun telah sampai pula ke langit sebelum beliau saw.,  tetapi  mengapa beliau  saw. tidak mengenali mereka, padahal beliau  saw. telah melihat mereka beberapa saat sebelumnya dalam perjalanan itu-itu juga?
       Tidaklah masuk akal bahwa  Nabi Besar Muhammad saw.,  tidak dapat mengenali mereka, padahal hanya beberapa saat sebelum itu, beliau saw. bertemu dengan mereka dalam perjalanan itu juga.  Kenyataan ini membuktikan bahwa peristiwa mikraj  berlainan  peristiwa Isra  yang dipisahkan  jarak waktu selama 6-7 tahun.

Nubuatan Dalam Nama  Masjid-al-Aqsha (Mesjid yang Jauh)

         “Masjid Aqsa” (masjid yang jauh) menunjuk kepada rumah peribadatan (Kenisah) yang didirikan oleh Nabi Sulaiman a.s.   di Yerusalem. Dengan Demikian kasyaf  (penglihatan ruhani) Nabi Besar Muhammad saw.  yang disebut dalam ayat ini mengandung suatu nubuatan yang agungm bahwa “perjalanan malam hari” (Isra)  beliau saw.  ke “Masjid Aqsa” berarti hijrah beliau ke Medinah, tempat beliau saw. akan mendirikan suatu masjid Muslim  yang pertama  yaitu masjid Nabawi yang ditakdirkan kelak akan menjadi masjid pusat Islam. Inilah makna yang  pertama dari penyebutan “masjidil-aqsha” (mesjid  yang jauh) dalam peristiwa Isra Nabi Besar Muhammad saw.
          Ada pun  makna kedua dari “masjidil-Aqsha”  yang dalam peristiwa ruhani (kasyaf) tersebut  Nabi Besar Muhammad saw. saw. mengimami para nabi Allah lainnya dalam shalat berjama’ah   -- mengandung arti  bahwa agama baru, yaitu agama Islam,    sekali pun selama 13 tahun Nabi Besar Muhammad saw. dan para sahabat beliau saw. mendapat  penentangan zalim di Mekkah  -- dinubuatkan dalam ayat tersebut tidak akan terkurung di tempat kelahirannya saja di  Mekkah,  melainkan akan tersebar ke seantero dunia, dan pengikut-pengikut dari semua agama akan menggabungkan diri kepadanya.
        Kepergian  Nabi Besar Muhammad saw., ke Yerusalem dalam kasyaf peristiwa Isra tersebut   mengandung arti, bahwa beliau  saw. akan diberi kekuasaan atas daerah  yang terletak di Yerusalem itu. Nubuatan ini telah menjadi sempurna di masa khilafat (kekhalifahan)  Umar bin Khaththab r.a., lalu di Yerusalem dibangun mesjid Islam yang pertama yang diberi nama Masjid-al-Aqsha. Itulah makna kedua penyebutan “masjid-al-Aqsha” dalam peristiwa  Isra Nabi Besar Muhammad saw. tersebut.

Makna Ketiga “Masjid-al-Aqsha” (Mesjid yang Jauh)

      Ada pun makna yang ketiga   menunjuk kepada suatu “perjalanan ruhani”  Nabi Besar Muhammad saw. ke suatu yang negara   yang jauh  di suatu masa yang akan datang, yakni ketika setelah umat Islam mengalami 3 abad masa kejayaan Islam yang pertama,  kemudian secara berangsur-angsur  kegelapan ruhani akan melanda umat Islam – bahkan menutupi seluruh dunia  -- maka  Nabi Besar Muhammad saw.  akan muncul kembali secara ruhani dalam wujud salah seorang pengikut hakiki beliau saw  -- yaitu misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. atau Masih Mau’ud a.s. di Akhir Zaman --  di satu negara yang sangat jauh dari tempat pertama beliau saw. diutus di Mekkah yaitu di Hindustan sebagaimana diisyaratkan dalam perumpamaan mengenai kedatangan seorang laki-laki yang datang berlari-lari  dari bagian terjauh kota itu, firman-Nya:
وَ جَآءَ مِنۡ اَقۡصَا الۡمَدِیۡنَۃِ  رَجُلٌ یَّسۡعٰی قَالَ یٰقَوۡمِ اتَّبِعُوا الۡمُرۡسَلِیۡنَ ﴿ۙ﴾  اتَّبِعُوۡا مَنۡ لَّا یَسۡـَٔلُکُمۡ اَجۡرًا وَّ ہُمۡ مُّہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾
Dan datang dari bagian terjauh kota itu seorang laki-laki dengan berlari-lari,  ia berkata: “Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan  itu.   Ikutilah mereka yang tidak meminta upah dari kamu dan mereka yang telah mendapat petunjuk.” (Yā Sīn [36]:21-22).
        Isyarat yang terkandung dalam kata rajulun (seorang laki-laki) dapat tertuju kepada   Masih Mau’ud a.s. yang telah disebut demikian dalam suatu hadits yang terkenal (Bukhari, Kitab at-Tafsir surah Al-Jumu’ah). Dan  kata-kata yang sama dalam arti dan maksud dengan kata yas’a (berlari-lari) telah dipakai mengenai  Masih Mau’ud a.s.  oleh Nabi Besar Muhammad saw.  dalam beberapa sabda beliau saw.yang memberi isyarat kepada sifatnya yang tidak mengenal lelah, cepat bertindak dan tidak mengenal jemu dalam usahanya untuk kepentingan Islam, dalam rangka mewujudkan kejayaan Islam yang kedua di Akhir Zaman ini (QS.61:10).
        Mengenai    seorang laki-laki  yang datang dari bagian terjauh kota itu dengan berlari-lari  tersebut   sebelumnya Allah Swt. berfirman  tentang perumpamaan  sebuah kota yang kepada penduduknya Allah Swt.  secara berturut-turut mengutus  3 orang rasul  tetapi  ditolak oleh penduduk kota:
وَ اضۡرِبۡ لَہُمۡ مَّثَلًا  اَصۡحٰبَ الۡقَرۡیَۃِ ۘ اِذۡ جَآءَہَا  الۡمُرۡسَلُوۡنَ ﴿ۚ﴾ اِذۡ  اَرۡسَلۡنَاۤ  اِلَیۡہِمُ  اثۡنَیۡنِ  فَکَذَّبُوۡہُمَا فَعَزَّزۡنَا بِثَالِثٍ فَقَالُوۡۤا اِنَّاۤ  اِلَیۡکُمۡ مُّرۡسَلُوۡنَ ﴿﴾  قَالُوۡا مَاۤ  اَنۡتُمۡ  اِلَّا بَشَرٌ مِّثۡلُنَا ۙ وَ مَاۤ اَنۡزَلَ  الرَّحۡمٰنُ  مِنۡ شَیۡءٍ ۙ اِنۡ  اَنۡتُمۡ  اِلَّا تَکۡذِبُوۡنَ ﴿﴾ قَالُوۡا رَبُّنَا یَعۡلَمُ  اِنَّاۤ  اِلَیۡکُمۡ لَمُرۡسَلُوۡنَ ﴿﴾ وَ مَا عَلَیۡنَاۤ  اِلَّا  الۡبَلٰغُ  الۡمُبِیۡنُ ﴿﴾ قَالُوۡۤا اِنَّا تَطَیَّرۡنَا بِکُمۡ ۚ لَئِنۡ لَّمۡ تَنۡتَہُوۡا لَنَرۡجُمَنَّکُمۡ وَ لَیَمَسَّنَّکُمۡ مِّنَّا عَذَابٌ  اَلِیۡمٌ ﴿﴾ قَالُوۡا طَآئِرُکُمۡ مَّعَکُمۡ ؕ اَئِنۡ ذُکِّرۡتُمۡ ؕ بَلۡ  اَنۡتُمۡ  قَوۡمٌ  مُّسۡرِفُوۡنَ﴿﴾
Dan kemukakanlah bagi mereka   misal mengenai  penduduk suatu kota  ketika orang-orang yang diutus (rasul-rasul) datang kepada mereka.   Ketika Kami mengirimkan kepada mereka dua orang rasul, maka mereka mendustakan keduanya, maka Kami memperkuat dengan yang ketigaفَقَالُوۡۤا اِنَّاۤ  اِلَیۡکُمۡ مُّرۡسَلُوۡنَ --   lalu mereka berkata: “Sesungguhnya  kami adalah orang-orang yang diutus kepada  kamu.”   Mereka berkata:  Kamu sekali-kali tidak lain hanya  manusia seperti kami, dan Tuhan Yang Maha Pemurah sekali-kali tidak menurunkan sesuatu, kamu tidak lain hanya berdusta belaka.”   Mereka berkata: “Rabb (Tuhan) kami mengetahui sesungguhnya kami benar-benar diutus kepada kamu.    Dan  tugas  kami  sekali-kali tidak lain hanya menyampaikan dengan jelas.”   Mereka berkata: “Sesungguhnya kemalangan kami karena kamu, jika kamu tidak benar-benar berhenti niscaya kami akan merajam kamu,   dan niscaya azab yang pedih akan menimpa kamu dari  kami” Mereka, para rasul, berkata: “Kemalangan kamu itu bersama dirimu sendiri. Apakah jika kamu  diper-ingatkan kamu mengancam kami? Bahkan kamu adalah  kaum yang me-lampaui batas.” (Yā Sīn [36]:14-20).

Empat “Burung” Nabi Ibrahim a.s.

        Qaryah dapat berarti sesuatu kota atau tempat, atau secara kiasan dapat dipakai dalam arti seluruh dunia. Jadi ash-hab-al-qaryah dapat berarti umat manusia umumnya. Atau kata yang berarti kota tertentu itu dapat mengisyaratkan kepada kota Mekkah,  yaitu Pusat dan Benteng Islam yang disebut ummul-qura (induk kota).   Sejalan dengan makna qaryah   tersebut maka  kata “orang-orang yang diutus”  akan berlaku untuk Nabi Besar Muhammad saw.   yang dalam wujud beliau saw. menampilkan   semua rasul dan nabi Allah.
        Ada pun makna pengiriman “dua orang rasul” dalam ayat selanjutnya dapat mengisyaratkan kepada Nabi Ibrahim a.s. . dan  Nabi Isma’il a.s. atau kepada    Nabi Musa a.s.  dan  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., sedangkan makna rasul Allah yang ketiga merujuk kepada Nabi Besar Muhammad saw. yang kedatangannya bukan saja “memperkuat” Nabi Ibrahim a.s. . dan  Nabi Isma’il a.s. tetapi juga  “memperkuat” Nabi Musa a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.61:6-7),  karena Nabi Besar Muhammad saw, bukan saja merupakan perwujudan  pengabulan doa Nabi Ibrahim a.s. pada waktu membangun kembali Ka’bah (Baitullah) bersama Nabi Isma’il a.s. (QS.2:128-130), juga Nabi Besar Muhammad saw.  datang sebagai “Nabi yang seperti Musa” dan “Ahmad” atau “Roh Kebenaran” yang membawa “seluruh kebenaran”  sebagaimana nubuatan Nabi Musa a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (Ulangan 18:15-19; QS.11:18; QS.46:11; QS.73:16 & Yahya 16:12-13; QS.61:7).  
        Ada pun makna ayat  “seorang laki-laki   yang datang  berlari-lari” dari “bagian terjauh kota itu”  dalam ayat selanjutnya (21) mengisyaratkan kepada kedatangan misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58), sehingga “burung-burung” Nabi Ibrahim a.s. jumlahnya “4 burung” (QS.2:261), yakni (1) Nabi Musa a.s., (2) Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., (3) Nabi Besar Muhammad saw. (misal Nabi Musa a.s.) dan (4) Mirza Ghulam Ahmad a.s. (misal   Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.) atau Masih Mau’ud a.s.,  yakni “seorang laki-laki yang datang berlari-lari” dari “bagian terjauh kota itu”, firman-Nya:
وَ جَآءَ مِنۡ اَقۡصَا الۡمَدِیۡنَۃِ  رَجُلٌ یَّسۡعٰی قَالَ یٰقَوۡمِ اتَّبِعُوا الۡمُرۡسَلِیۡنَ ﴿ۙ﴾  اتَّبِعُوۡا مَنۡ لَّا یَسۡـَٔلُکُمۡ اَجۡرًا وَّ ہُمۡ مُّہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾
Dan datang dari bagian terjauh kota itu seorang laki-laki dengan berlari-lari,  ia berkata: “Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan  itu.   Ikutilah mereka yang tidak meminta upah dari kamu dan mereka yang telah mendapat petunjuk.” (Yā Sīn [36]:21-22).
         Satu penunjukan yang khusus kepada Isra kedua kali atau  kebangkitan kedua  atau “perjalanan ruhani”  Nabi Besar Muhammad saw.  secara ruhani  di Akhir Zaman terdapat dalam QS.62:3-4, firman-Nya:
   ہُوَ الَّذِیۡ  بَعَثَ فِی  الۡاُمِّیّٖنَ  رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ  یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتِہٖ  وَ  یُزَکِّیۡہِمۡ وَ  یُعَلِّمُہُمُ  الۡکِتٰبَ وَ  الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾  وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾  ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta huruf seorang     rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mere-ka Tanda-tanda-Nyamensucikan mereka, dan mengajarkan kepada me-reka Kitab dan Hikmah  walaupun sebelumnya mereka berada dalam ke-sesatan yang nyata,  وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ   --  Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ --   Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.   ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ --  Itulah karunia Allah, Dia menganugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Al-Jumu’ah [62]:3-5).     
      Pada hakikatnya tidak ada Pembaharu dapat benar-benar berhasil dalam misinya bila ia tidak menyiapkan dengan contoh mulia dan quat-qudsiahnya (daya pensuciannya), suatu jemaat yang pengikut-pengikutnya terdiri dari orang-orang mukhlis, patuh, dan bertakwa, yang kepada mereka itu mula-mula mengajarkan cita-cita dan asas-asas ajarannya serta mengajarkan falsafat, arti, dan kepentingan cita-cita dan asas-asas ajaran-nya itu,  kemudian mengirimkan pengikut-pengikutnya ke luar negeri untuk mendakwahkan ajaran itu kepada bangsa-bangsa lain.
     Didikan yang Nabi Besar Muhammad saw.  berikan kepada para pengikut beliau saw. memperluas dan mempertajam kecerdasan mereka, dan filsafat ajaran beliau saw. menimbulkan dalam diri mereka keyakinan iman, dan contoh mulia beliau saw. menciptakan di dalam diri mereka kesucian hati. Kenyataan-dasar agama itulah yang diisyaratkan oleh ayat ini (QS.62:3).

Para Sahabat Nabi Besar Muhammad Saw. di masa Awal dan di Akhir Zaman

     Makna ayat: وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ   --  Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka.“  Ajaran  Nabi Besar Muhammad saw.   ditujukan bukan kepada bangsa Arab belaka  --  yang di tengah-tengah bangsa itu beliau saw. dibangkitkan (QS.2:130)  --  melainkan kepada seluruh bangsa bukan-Arab juga, dan bukan hanya kepada orang-orang sezaman beliau saw., melainkan juga kepada keturunan demi keturunan manusia yang akan datang hingga Kiamat.
    Atau ayat ini dapat juga berarti bahwa  Nabi Besar Muhammad saw.      akan dibangkitkan di antara kaum (umat Islam) yang belum pernah tergabung dalam para pengikut semasa hidup beliau saw.. karena dipisahkan jarak waktu 13 abad.  
Isyarat di dalam ayat ini dan di dalam hadits Nabi saw. yang termasyhur, tertuju kepada pengutusan Nabi Besar Muhammad saw.       untuk kedua kali dalam wujud  Masih Mau’ud a.s.  di Akhir Zaman ini. Abu Hurairah r.a.  berkata: “Pada suatu hari kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah    saw., ketika Surah Jumu’ah diturunkan. Saya minta keterangan kepada Rasulullah saw.:  “Siapakah yang diisyaratkan oleh kata-kata  Dan Dia akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka yang belum bertemu dengan mereka?” – Salman al-Farsi (Salman asal Parsi) sedang duduk di antara kami.
   Setelah saya berulang-ulang mengajukan pertanyaan itu, Rasulullah saw. meletakkan tangan beliau pada Salman dan bersabda: “Bila iman telah terbang ke Bintang Tsuraya, seorang lelaki dari mereka ini pasti akan menemukannya.” (Bukhari).
    Hadits Nabi Besar Muhammad saw. ini menunjukkan bahwa ayat ini dikenakan kepada seorang lelaki dari keturunan Parsi.   Dan Masih Mau’ud a.s.,  pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah, yang   walau pun dari pihak nenek   beliau termasuk Ahli Bait Nabi Besar Muhammad saw.   tetapi dari pihak laki-laki adalah dari keturunan Parsi.
   Mereka itulah yang dimaksud oleh Nabi Besar Muhammad saw. yang diibaratkan   “tetesan air hujan yang akhir” yang kebaikannya sama dengan “tetesan air hujan yang awal”, beliau saw. bersabda:
Perumpamaan umatku seperti halnya hujan, tidak diketahui manakah yang lebih baik, awalnya atau akhirnya” (HR Tirmidzi 2869; Ahmad dalam Musnadnya).
        Dengan perkataan lain ada dua golongan   sahabat Nabi Besar Muhammad saw. yakni di masa awal  yang hidup bersama beliau saw. dan di Akhir Zaman  yang beriman kepada pengutusan kedua kali beliau saw. secara ruhani dalam wujud Masih  Mau’ud a.s. (QS.62:3-4).

Duel Makar” yang Senantiasa Berulang
                                       
    Hadits Nabi Besar Muhammad saw. lainnya menyebutkan bahwa kedatangan Al-Masih Mau’ud a.s. pada saat ketika “tidak ada yang tertinggal di dalam Al-Quran kecuali kata-katanya, dan tidak ada yang tertinggal di dalam Islam selain namanya”, yaitu  jiwa ajaran Islam yang sejati akan lenyap (Baihaqi) sesuai dengan firman-Nya dalam QS.17:86-89     mengenai “pencabutan ruhAl-Quran untuk sementara waktu pada masa kemunduran Islam setelah mengalami kejayaan yang pertama selama 3 abad (QS.32:6).
     Jadi, Al-Quran dan hadits kedua-duanya sepakat bahwa ayat وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ   --  Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka   ini menunjuk kepada kedatangan kedua kali  Nabi Besar Muhammad saw. atau “Isra” (perjalanan ruhani pada waktu malam) di Akhir Zaman dalam wujud   Masih Mau’ud a.s..
    Dengan demikian sempurna pulalah nubuatan yang terkandung dalam peristiwa Isra Nabi Besar Muhammad saw. dalam firman-Nya:
سُبۡحٰنَ الَّذِیۡۤ  اَسۡرٰی بِعَبۡدِہٖ لَیۡلًا مِّنَ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ  اِلَی الۡمَسۡجِدِ الۡاَقۡصَا الَّذِیۡ بٰرَکۡنَا حَوۡلَہٗ  لِنُرِیَہٗ مِنۡ اٰیٰتِنَا ؕ اِنَّہٗ  ہُوَ  السَّمِیۡعُ  الۡبَصِیۡرُ ﴿﴾
Maha Suci Dia  Yang  memperjalankan  hamba-Nya pada waktu malam  dari Masjid Haram ke Masjid Aqsha   yang   sekelilingnya telah Kami berkati supaya Kami memperlihatkan kepadanya sebagian dari Tanda-tanda Kami   sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat  (Bani Israil [17]:2).     
        Jadi kembali kepada pembahasan firman Allah Swt. mengenai  “duel makar” antara “makar buruk” Abu Jahal dkk dengan “makar tandingan” Allah Swt. (QS.8:31) yang mengakibatkan terjadi peristiwa Hijrah Nabi Besar Muhammad saw. dari Mekkah ke Madinah  dinubuatkan dalam firman-Nya:
سُبۡحٰنَ الَّذِیۡۤ  اَسۡرٰی بِعَبۡدِہٖ لَیۡلًا مِّنَ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ  اِلَی الۡمَسۡجِدِ الۡاَقۡصَا الَّذِیۡ بٰرَکۡنَا حَوۡلَہٗ  لِنُرِیَہٗ مِنۡ اٰیٰتِنَا ؕ اِنَّہٗ  ہُوَ  السَّمِیۡعُ  الۡبَصِیۡرُ ﴿﴾
Maha Suci Dia  Yang  memperjalankan  hamba-Nya pada waktu malam  dari Masjid Haram ke Masjid Aqsha   yang   sekelilingnya telah Kami berkati supaya Kami memperlihatkan kepadanya sebagian dari Tanda-tanda Kami,     sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat  (Bani Israil [17]:2).
      Dengan demikian  jelaslah bahwa penyebut masjid Al-Aqsha dalam ayat mengenai peristiwa Isra Nabi Besar Muhammad saw. sama sekali tidak ada hubungannya dengan nama mesjid yang dibangun umat Islam di Palestina (Yeusalem) yang diberi nama Mesjid-al-Aqsha, sebab penyebutan masjid-al-Aqsha  (mesjid yang jauh) dalam surah Al-Isra (Bani Israil) merupakan nubuatan,  bahwa   keberkatan dari peristiwa hijrah   --  yakni  upaya makar-buruk  yang gagal  Abu Jahal dkk – terhadap Nabi Besar Muhammad  saw. dari Mekkah ke Madinah maka  umat Islam akan banyak sekali membangun mesjid-mesjid di berbagai wilayah  kekuasaan umat Islam yang jauh dari kota Mekkah (masjid-al-Haram), sesuai ayat:   “yang   sekelilingnya telah Kami berkati   supaya Kami memperlihatkan kepadanya sebagian dari Tanda-tanda Kami,  sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.”  

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
                                                                              ***

Pajajaran Anyar,  30 April    2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Persamaan "Sunnatullaah" Mengeai "Kebinasaan Para Pendusta" Atas Nama "Allah Swt." Dalam "Al-Quran" Dengan "Sunnatullaah" Dalam "Kitab-kitab Ilhami"Dalam "Bible"

Bismillaahirrahmaanirrahiim “ARBA’IN” ARBA’IN LI-ITMÂMIL HUJJAH ‘ALAL MUKHALLIFÎN (Empat Puluh Risalah, Menyempurnakan Argu...