Sabtu, 06 Mei 2017

Tidak Mendustakan Kesinambungan Turunnya "Wahyu Ilahi" Tetapi Mendustakan "Kenabian" & Mempercayai "Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Masih Hidup Di Langit" Bertentangan Dengan Pernyataan Allah Swt. Dalam Al-Quran Tentang "Telah Wafatnya" Beliau Saw.



Bismillaahirrahmaanirrahiim

“ARBA’IN”

ARBA’IN LI-ITMÂMIL HUJJAH ‘ALAL MUKHALLIFÎN
(Empat Puluh Risalah, Menyempurnakan Argumen Bagi Para Penentang)

  Karya

  Mirza Ghulam Ahmad a.s.
(Al-Masih Al-Mau’ud a.s.   -- Al-Masih yang Dijanjikan a.s.)


Bagian 18

ARBA’ÎN KE II

 TIDAK MENDUSTAKAN KESINAMBUNGAN TURUNNYA WAHYU ILAHI TETAPI MENDUSTAKAN KENABIAN &   MEMPERCAYAI NABI ISA IBNU MARYAM A.S. MASIH HIDUP DI LANGIT BERTENTANGAN DENGAN PERNYATAAN ALLAH SWT.  DALAM AL-QURAN TENTANG TELAH WAFATNYA BELIAU A.S.

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir  Bab sebelumnya   telah dikemukakan wahyu-wahyu Ilahi yang diterima Masih Mau’ud a.s.   dalam topik Pembukaan Berbagai Rahasia Khazanah Sifat-sifat Ilahi. Beliau a.s. bersabda:
      “Ini merupakan kabar suka yang beberapa tahun sebelumnya telah diisyaratkan kepada kejadian ketika fatwa pengkafiran terhadap diriku dinyatakan. Kemudian Allah Swt. berfirman:
Kesakitan apa yang menimpa engkau karena pernyataan murtad adalah sebagai akibat dari Allah. Itu akan menjadi cobaan maka sabarlah sebagaimana orang-orang yang berkemauan  (ulul ‘Azham --   para  nabi) bersabar. Akhirnya Allah akan menggagalkan rencana orang ingkar. Ketahuilah dan ingatlah, cobaan itu dari Allah supaya Dia mencintai engkau dengan kecintaan besar, kecintaan dari Allah Maha Kuasa, Tuhan Maha Mulia. Ganjaran yang tidak putus dan disampaikan kepada engkau.
Aku adalah khazanah tersembunyi maka Aku ingin supaya dikenal. Langit dan bumi adalah masa yang padat   yang isi dan rahasianya tersembunyi lalu Kami memisahkan keduanya.”

 Menurut Al-Quran Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Telah Wafat

      Ini berarti telah diciptakan manusia di abad ini yang sedang mencari sifat dan karakteristik benda (material) di bumi, sementara di pihak lain manusia lannya diciptakan untuk mencapai pintu gerbang  di langit yang telah dibuka.
“Mereka mengejek engaku dan berkata: “Inikah orang yang diutus Allah?” Katakanlah kepada mereka: “Aku hanya seorang manusia ciptaan Tuhan, kepadaku telah diwahyukan bahwa Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Esa.” (Farsi) “Bergembirakah karena waktu engkau telah tiba dan jejak kaki orang Muslim telah dicetak pada menara yang tinggi.” (Urdu) – “Kesamaan Nabi Suci Muhammad saw., Pemimpin semua nabi.”
      Hal ini mengisyaratkan bahwa musuh-musuh akan berusaha membuat satu masalah agar orang-orang berfikir bahwa, “Orang ini bukanlah orang suci bahkan tidak beriman.”  
(Arab) - “Hai Isa, Aku akan mewafatkan engkau dan meninggikan engkau ke sisi-Ku. Aku akan menempatkan Jemaat engkau di atas penentang engkau sampai Hari Kiamat”.  Akan ada sahabat pertama yang menerima di masa awal, yang menerima setelah menyaksikan  Tanda yang berulang.”
(Urdu) – “Aku akan memperlihatkan cahaya-Ku. Aku akan memuliakan engkau sebagai perwujudan kekuasaan-Ku. Seorang  Pemberi ingat telah datang ke dunia tetapi dunia tidak menerimanya, tetapi Tuhan akan menerimanya serta akan memperlihatkan kebenaran dengan serangan dahsyat.”
(Arab) – “Allah adalah Pelindungnya. Kecintaan Allah adalah pelindungnya. Kami mewahyukannya dan Kami yang melindunginya. Allah adalah Pelindung yang terbaik dan Dia Maha Pemurah, Maha Penyayang.
Pemimpin kaum ingkar mencoba menakuti engkau. Jangan takut, engkau akan unggul. Allah akan menolong engkau dalam setiap bidang. Hari-Ku akan menjadi hari peradilan besar. Aku telah memberikan perkataankan-Ku: “Aku dan rasul-rasulku pasti akan memang.” Tak seorang pun dapat mengubah perkataan-KuEngkau beserta-ku dan Aku beserta engkau. Aku menciptakan malam dan siang untuk engkau. Berbuatlah sebagaimana yang kamu kehendaki, Aku telah mengampuni engkau. Engkau di sisi-Ku berada dalam kedudukan yang tidak diketahui orang-orang.
Apakah  mereka berfikir bahwa ia orang yang misterius yang tinggal di langit atau tersembunyi dalam gua? Katakanlah: “Allah akan memperlihatkan keajaiban demi keajaiban. Setiap hari Dia membuat keajaiban baru. Dia Yang menurunkan hujan ke bawah setelah mereka kehilangan harapan.” Katakanlah kepada mereka: “Kemukakanlah argumentasi kamu kalau kamu orang benar.” Berikanlah  kabar suka kepada orang yang beriman bahwa mereka mempunyai tempat kebenaran di sisi Tuhan mereka. Kepada-Nya akan naik semua perkataan murni. Salam atas Ibrahim (yaitu diriku yang lemah ini). Kami telah mencurahkan cinta kami kepadanya dan telah menjauhkannya dari kesedihan. Kami sendiri yang melakukan itu, maka ikutilah jejak Ibrahim.

Tujuan Kesinambungan Pengutusan Rasul Allah  Dari Kalangan Bani Adam

      Demikianlah berbagai wahyu (ilham) Ilahi yang diterima Mirza Ghulam Ahmad a.s. --  Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah  -- sebagai dalil bahwa beliau adalah Imam Mahdi a.s. dan juga Masih Mau’ud a.s.  yang kedatangannya dinubuatkan Allah Swt. dan Nabi Besar Muhammad saw. dalam Al-Quran serta hadits-hadits., sebagai  penggenapan janji Allah Swt. mengenai kesinambungan rasul Allah dari kalangan Bani Adam, firman-Nya:
وَ لِکُلِّ اُمَّۃٍ  اَجَلٌ ۚ فَاِذَا  جَآءَ  اَجَلُہُمۡ  لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ سَاعَۃً  وَّ لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾ یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾   
Dan bagi  tiap-tiap umat ada batas waktu, maka apabila telah datang batas waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula dapat memajukannya. یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ  --  Wahai Bani Adam,  jika datang kepada kamu  rasul-rasul dari antara kamu yang menceritakan  Ayat-ayat-Ku kepada kamuفَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ --      maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri, maka tidak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan bersedih hati. وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ  --  Dan  orang-orang yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan takabur berpaling  darinya, mereka itu penghuni Api, mereka kekal di dalamnya. (Al-A’rāf [7]:35-37).
   Makna ayat: وَ لِکُلِّ اُمَّۃٍ  اَجَلٌ ۚ فَاِذَا  جَآءَ  اَجَلُہُمۡ  لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ سَاعَۃً  وَّ لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ --  “Dan bagi  tiap-tiap umat ada batas waktu, maka apabila telah datang batas waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula dapat memajukannya“   bahwa apabila waktu yang ditetapkan untuk menghukum suatu kaum tiba, waktu itu tidak dapat dihindarkan, diulur-ulur, atau ditunda-tunda.
 Seperti pada beberapa ayat-ayat sebelumnya (yakni QS.7:27, 28 & 32)  seruan dengan kata-kata Hai anak-cucu Adam, ditujukan kepada umat manusia di zaman Nabi Besar Muhammad saw. dan kepada generasi-generasi yang akan lahir kemudian, bukan kepada umat manusia yang hidup di masa jauh silam (kaum-kaum purbakala)   yang datang tak lama sesudah masa  Nabi Adam a.s..
  Ada pun tujuan dari kesinambungan pengutusan para rasul Allah dari kalangan Bani Adam tersebut selain sebagai “kaum pengganti”  kaum-kaum sebelumnya yang diazab Allah Swt.   -- karena kedurhakaan mereka kepada Allah Swt. dan rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan kepada mereka – juga untuk menghidupkan akhlak dan ruhani  orang-orang yang beriman kepada Rasul Allah yang dijanjikan tersebut, firman-Nya:  فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ --  maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri, maka tidak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan bersedih hati.”
   Kata-kata dalam ayat selanjutnya:  وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ  --  Dan  orang-orang yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan takabur berpaling  darinya, mereka itu penghuni Api, mereka kekal di dalamnyaberarti bahwa mereka yang menolak Utusan-utusan Allah akan melihat dengan mata kepala sendiri penyempurnaan kabar-kabar gaib yang meramalkan kekalahan dan kegagalan mereka. Mereka akan merasakan hukuman yang dijanjikan kepada mereka karena menentang utusan-utusan Allah Swt..

Tidak Melakukan Protes  Kepada Ilham-ilham Ilahi Dalam Buku Barāhin-e-Ahmadiyyah Tetapi Menentang Pendakwaan Sebagai Imam Mahdi a.s. dan Masih Mau’ud a.s.

     Sekarang, coba   perhatikan, semua ilham itu adalah ilham-ilham yang terdapat  dalam Barâhin-e-Ahmadiyyah, yang tentangnya Maulvi Muhammad Hussain Batalwi telah menulis  review (tanggapannya). Demikian pula semua ulama kenamaan dari Punjab dan Hindustan menerimanya, dan tak seorang pun ada yang menyangkalnya. Padahal di dalam ilham-ilham tersebut banyak terdapat salam dan shalawat dari Allah Ta’ala atas diriku. Dan ilham-ilham ini datangnya dariku ketika mereka mengakuiku, tetapi setelah para ulama menentangku maka beribu-ribu sangkalan diajukannya, itulah sebabnya walau betapa kerasnya mereka menentang pendakwaanku tetapi tidak menyangkal ilham-ilham itu sebab mereka telah mengakuinya.
    Setelah dipikirkan,  menjadi jelaslah bahwa dasar-dasar pendakwaanku sebagai Masih Mau’ud adalah ilham-ilham tersebut, dan di dalam ilham-ilham itulah Tuhan memberi nama Isa kepadaku. Dan tanda-tanda Masih Mau’ud adalah ilham-ilham tersebut, dan di dalam ilham-ilham itulah Tuhan memberikan nama Isa kepadaku, dan tanda-tanda Masih Mau’ud dan kebenarannya semua diterangkan atas kebenaranku.
       Seandainya para ulama sebelumnya tahu bahwa dari ilham-ilham itu terbukti kebenaran pendakwaan orang ini, pasti mereka sekali-kali tidak akan menerima kebenaran ilham-ilham tersebut.  Semua ini adalah kekuasaan Tuhan hingga mereka mengabulkan (menerima kebenaran) ilham-ilham tersebut, bagaikan terperangkap ke dalamnya.
     Pendeknya, mereka tidak berpikir ketika menentang ilham-ilham itu, bahwa orang yang mendakwakan diri sebagai Masih memang benar dialah orangnya, yang kepadanya diturunkan ilham-ilham dari Tuhan Azza wa Jalla, dan terhadapnyalah Rasulullah saw. memuliakannya, dimana beliau bersabda, “Betapa bahagianya umat itu yang pada permulaannya ada aku dan di akhirnya ada Masih Mau’ud”.
        Dari hadits-hadits jelas terbukti, bahwa walaupun orang itu berasal dari satu umat (ummati), tetapi padanya terdapat keistimewaan nabi-nabi. Lalu kenapa pula tidak boleh mengucapkan salam dan shalawat   kepadanya?  Tidak diketahui penghalang apa yang terdapat di dalam akal orang-orang itu, sehingga mereka menganggapnya suatu kehinaan, sampai-sampai mengucapkan shalawat dan salam pun terhadapnya diharamkan? Padahal semenjak kejadian dunia ini hingga zaman Rasulullah saw. para nabi memuliakannya (Masih Mau’ud a.s.).
      Inilah sebabnya kami selalu menasihati mereka agar takut kepada Tuhan. Ketahuilah, bahwa orang yang dikatakan   Masih Mau’ud bukanlah orang biasa-biasa, karena dia telah tertulis di dalam Kitab Tuhan, yang jauh sebelum kita semua para nabi  memuliakannya. Jika kamu memang mengimaninya tidak ada paksaan dari kami, tetapi jika kamu mempelajarinya dari kitab-kitab maka inilah yang kamu dapati. Dan jika kamu katakan  bahwa  Masih Mau’ud adalah yang turun dari langit[1], maka yang demikian itu adalah pendustaan dan penentangan  terhadap Kitab-kitab suci-Nya”.

Menurut Al-Quran Nabi Isa Ibnu Maryam  a.s. telah Wafat

     Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. – sesuai dengan beberapa pernyataan ayat Al-Quran (QS.3:56 & 145; QS.5:17-18; QS.21:35) -- mengemukakan tentang telah wafatnya Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
      “Telah menjadi keputusan yang tak dapat disangkal lagi dari  Quran Syarif,  bahwa Nabi Isa a.s. telah wafat. Mustahil jika Tuhan sendiri di dalam Quran Syarif telah menerangkan bahwa Hadhrat Isa telah wafat tetapi kalian mau menurunkannya dari langit! Apakah sekarang ini kisah-kisah Quran Syarif telah mansukh (dihapus)? Padahal inilah Quran Syarif -- yang jika mendengar satu ayatnya saja -- ratusan ribu   sahabah menundukkan kepala, taat tanpa bantahan sedikitpun juga, bahwa semua nabi yang datang sebelum Hadhrat Rasulullah saw., termasuk Isa a.s., telah wafat. Dan Quran Syarif itu jugalah yang kami sajikan ke hadapan anda sekalian, tetapi anda  tidak memperhatikannya sedikitpun. Tidak pula Anda sekalian memperhatikan buku-buku yang sedemikian banyaknya. Kapan dan dimanakah waktu luang anda sekalian?
      Tetapi seandainya anda sekalian mau membaca dengan teliti  selebaran-selebaranku  selama 2 jam saja – seperti Tuhfah Glorawiyah dan Tuhfah Gaznawiyah – yang ditulis untuk memberi petunjuk Pir  Mehr Ali Syah dan Maulvi Abdul Jabbar dan Abdul Wahid serta Abdul Haq dan  lain-lain, yang semuanya dari golongan Gaznawiyah, dari sana anda sekalian akan dapat mengetahui apa kata Quran Syarif tentang Masih yang sebenarnya. Ingatlah! Seberapa jauh yang anda sekalian perjuangkan tentang kehidupan (masih hidupnya) Al-Masih, semuanya itu bertentangan dengan Kalam Ilahi.”
         Sehubungan dengan kenyataan tersebut Allah Swt. berfirman mengenai telah wafatnya seluruh Rasul Allah  sebelum Nabi Besar Muhammad saw.  – tanpa kecuali, termasuk  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., firman-Nya:    
وَ مَا جَعَلۡنَا لِبَشَرٍ مِّنۡ قَبۡلِکَ الۡخُلۡدَ ؕ اَفَا۠ئِنۡ  مِّتَّ  فَہُمُ  الۡخٰلِدُوۡنَ﴿﴾
Dan Kami sekali-kali tidak  menjadikan seorang manusia pun sebelum engkau hidup kekal, maka  jika engkau mati  maka apakah me-reka itu akan hidup kekal?  (Al-Anbiya [21]:35).
         Menurut ayat ini  bahwa tidak seorang pun – termasuki Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. -- yang kebal terhadap kehancuran dan kematian jasmani, bahkan Nabi Besar Muhammad saw.  pun tidak. Kekekalan dan keabadian merupakan Sifat-sifat  khusus Allah Swt.  
        Ayat ini dapat pula mengandung maksud semua syariat dan sistem agama yang bermacam-macam di masa sebelum  Nabi Besar Muhammad saw.  telah ditetapkan dan ditakdirkan untuk mengalami kehancuran dan kematian ruhani, dan hanyalah syariat  Nabi Besar Muhammad saw. --  syariat Islam - sajalah yang ditakdirkan Allah Swt. akan hidup dan akan berlaku terus sampai Akhir Zaman (QS.3:20 & 86).
      Allah Swt. berfirman lagi mengenai telah wafatnya Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. sebelum munculnya ajaran Trinitas dan penebusan dosa  dan penyembahan terhadap  Maryam binti ‘Imran  --  ibunda Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.   sebagai “bunda Tuhan”  --  firman-Nya:
وَ  اِذۡ قَالَ اللّٰہُ یٰعِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ  ءَاَنۡتَ قُلۡتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُوۡنِیۡ وَ اُمِّیَ  اِلٰہَیۡنِ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ قَالَ سُبۡحٰنَکَ مَا یَکُوۡنُ لِیۡۤ  اَنۡ اَقُوۡلَ مَا لَیۡسَ لِیۡ ٭ بِحَقٍّ ؕ؃ اِنۡ کُنۡتُ قُلۡتُہٗ فَقَدۡ عَلِمۡتَہٗ ؕ تَعۡلَمُ  مَا فِیۡ نَفۡسِیۡ وَ لَاۤ اَعۡلَمُ مَا فِیۡ نَفۡسِکَ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ عَلَّامُ  الۡغُیُوۡبِ ﴿﴾ مَا قُلۡتُ لَہُمۡ اِلَّا مَاۤ اَمَرۡتَنِیۡ بِہٖۤ اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ رَبِّیۡ وَ رَبَّکُمۡ ۚ وَ کُنۡتُ عَلَیۡہِمۡ  شَہِیۡدًا مَّا دُمۡتُ فِیۡہِمۡ ۚ فَلَمَّا تَوَفَّیۡتَنِیۡ  کُنۡتَ اَنۡتَ الرَّقِیۡبَ عَلَیۡہِمۡ ؕ وَ  اَنۡتَ عَلٰی کُلِّ  شَیۡءٍ  شَہِیۡدٌ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa ibnu Maryam, apakah engkau telah berkata kepada manusia: Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain  Allah?" Ia berkata: “Maha Suci Engkau. Tidak patut bagiku mengatakan  apa yang  sekali-kali  bukan hakku. Jika  aku telah mengatakannya maka sungguh  Engkau mengetahuinya. Engkau me-ngetahui apa yang ada dalam diriku, sedangkan aku tidak mengetahui apa yang ada dalam diri Engkau sesungguh-nya Engkau benar-benar Maha Mengetahui segala yang gaib.  Aku sekali-kali tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang telah Engkau perintahkan kepadaku, yaitu: ”Beribadahlah kepada Allah, Rabb-ku (Tuhan-ku) dan Rabb (Tuhan) kamu.”  Dan aku menjadi saksi atas mereka selama aku berada di antara mereka,    tetapi tatkala Engkau telah mewafatkanku  maka Engkau-lah Yang benar-benar menjadi Pengawas atas mereka, dan Engkau adalah Saksi atas segala sesuatu. (Al-Māidah [5]:117-118).

Orang yang Dijanjikan Allah Swt. Telah Datang

      “Wahai saudara-saudaraku yang kucintai! Ketahuilah bahwa orang yang akan datang itu kini telah datang. Dan abad yang pada permulaannya akan turun Al-Masih telah berlalu 17 tahun, dan  hal itu telah sempurna. Tetapi   di dalam abad yang tentang kedatangannya    telah   kabarkan oleh para wali berdasarkan ucapan-ucapan anda sekalian  bahwa satupun   dari yang sekecil-kecilnya mujaddid  tidak lahir (muncul) di dalamnya, kecuali satu dajjal.  Apakah dosa semacam itu tidak akan ditanyakan tanggungjawabnya di hadapan Tuhan?
       Walau bagaimanapun kerasnya hati, namun hendaknya anda sekalian takut kepada Tuhan. Janganlah tergesa-gesa mendustai orang semacam itu, yang kelahirannya (kemunculannya) pada awal abad telah dibenarkan oleh peristiwa terjadinya gerhana bulan dan matahari pada bulan Ramadhan.
        Selain itu, kelemahan Islam dan serangan musuh-musuh Islam yang gencar sekali telah menuntut perlunya kedatangannya. Juga para Sahabah yang telah lalu pun telah memberikan kepastian yang tak terbantahkan. Dengan terjadinya gerhana itu maka jelaslah bahwa dia (Al-Masih Mau’ud) akan lahir pada awal abad ke 14, dan hal itu  telah terjadi di Punjab.
     Pada akhirnya, satu saat maut (kematian) pun akan datang dan semuanya akan ditinggalkan di sana. Ketahuilah, aku datang dari Allah tetapi  anda sekalian mendustakanku dan mengkafirkanku serta menyebutku dajjal. Lalu jawaban apakah yang akan anda sekalian berikan di hadapan Tuhan?
      Apakah jawaban anda sekalian seperti jawaban yang diberikan oleh kaum Yahudi ketika mereka menolak pendakwaan Rasulullah saw., yang semuanya itu termaktub di dalam Kitab mereka, yakni mereka menjawab  bahwa semua tanda yang telah ada di dalam Taurat tidak sempurna dan sebagiannya masih tertinggal (belum genap)?
     Maka kini sudah waktunya Tuhan memberikan jawabannya, bahwa semua apa yang ada di tangan anda sekalian tidak benar, dan apa-apa yang sedang anda sekalian kerjakan semuanya tidak benar. Dengar dan taatilah apa-apa yang disampaikan oleh orang yang diutus sebagai Hakim yang adil! Itulah jawaban dari Tuhan.
     Sekarang terserah pada anda sekalian, jika anda sekalian mau  maka terimalah. Kehendak anda sekalian memang berpegang pada contoh kaum Yahudi dan Nasrani, yakni “Kami tidak akan beriman kepada Hadhrat Isa  a.s. dan kepada Hadhrat Muhammad saw. selama tanda-tandanya belum sempurna (genap).”

Cara “Menghakimi“  Keshahihah Hadits-hadits

    Oleh karena nasibnya yang sial -- akibat panjangnya waktu dan perkembangan serta perubahan -- maka hal yang demikian tidaklah mungkin, karena itu mereka mati dalam kekufuran. Oleh sebab itu janganlah anda sekalian bernasib seperti itu, sebagaimana yang dialami kaum Yahudi dan Nasrani. Jika yang anda sekalian miliki segala-galanya benar, maka apa perlunya kedatangan mujaddid yang Hakaman ‘adalan (hakim yang adil)? Setiap golongan mengatakan, bahwa ”Apa yang kami miliki itulah yang benar”, oleh sebab itu yang benar adalah yang keluar dari mulut Sang Hakam (hakim). Jika  anda sekalian beriman, maka dengan hukum Tuhan yang hakam (bijaksana) telah tetapkan, untuk meninggalkan sebagian hadits dan menakwilkannya  bukanlah suatu hal sulit.
     Berikut ini adalah usul (pendapat) dari para pemimpin  anda sekalian, bahwa hadits anu shahih dan yang anu benar serta yang anu masyhur, lalu yang anu maudhu (dibuat-buat). Semuanya itu bukanlah perintah Tuhan dan bukan  pula dari wahyu untuk mengklarifikasikannya. Kemudian  mengapa pula suatu hadits yang sebenarnya bertentangan dengan hadits hadits lain serta bertentangan pula  dengan hukum Tuhan tidak ditolak? Apakah menjadi suatu keharusan bahwa setiap datang seorang utusan (rasul) Tuhan maka wajib mentaati setiap fatwa umat di waktu itu,  dimana fatwa  itu ditujukan kepada utusan tersebut?
     Kalau memang inilah ukuran standarnya maka tiada suatu nubuwatan (kabar gaib)  tentang Hadhrat Al-Masih akan terbukti, dan tidak pula nubuwatan tentang Hadhrat Muhammad saw. akan nyata. Misalnya, bagi Al-Masih terdapat tanda-tanda di dalam kitab nabi-nabi yang ada pada tangan orang-orang Yahudi, bahwa selama Nabi Elia belum datang kedua kalinya maka Al-Masih tidak akan datang. Dalam tanda kedua adalah bahwa Al-Masih akan datang sebagai seorang raja, dan akan membebaskan kaum Yahudi dari cengkraman bangsa lain.

Perlu Menakwilkan Bahasa Nubuatan

     Tetapi bagaimana buktinya? Apakah Al-Masih datang dalam wujud seorang raja? Atau sebelum kedatangan Al-Masih terlebih dulu Nabi Elia telah turun kedua kalinya  dari langit?  Bahkan kedua kabar  tersebut tidak tepat, dan tidak ada tanda yang benar seperti itu untuk Al-Masih. Pada akhirnya sesuai dengan takwil tersebut Hadhrat Al-Masih menunaikan tugas, walaupun hingga sekarang orang-orang Yahudi tetap tidak menerimanya.  Bahkan membuatnya tertawaan dan ejekan, dan – na’udzubillāh -- mereka menganggapnya pembohong. Dan mereka berkata  bahwa, “Di dalam kitab nabi-nabi jelas dikatakan bahwa Nabi Elia sendirilah yang akan datang kedua kalinya. Tidak dikatakan  bahwa seseorang yang menyerupainya yang akan datang”.
     Dilihat dari segi ibarat (perumpamaan) nampaknya Yahudi memang benar, karena  Al-Masih yang akan datang itu yang tertera di dalam kitab-kitab mereka akan zahir sebagai seorang raja. Dan dalam makna-makna harfiah tersebut juga Yahudi  tampaknya benar,  tetapi  di dalam kenyataannya meragukan.
        Jadi apa lagi yang masih ada (tersisa) bahwa Hadhrat Al-Masih adalah nabi yang benar? Sebab hakikat yang sebenarnya adalah bahwa mengenai kabar suka bisa termasuk secara kiasan dan samaran, dimana  perubahan dan pertukarannya bisa juga terjadi, karena itu setiap nabi atau pembawa kabar suka yang datang sebagai Hakam (hakim), dia menggenapi sebagian ucapan-ucapan umat dan membatalkan sebagian lainnya. Dan apa-apa yang dipastikan oleh mereka itu sebagian ada benarnya dan sebagian lagi ada salahnya, karena  di dalamnya ada yang bercampur-aduk dan ada pula yang salah serta  terbalik mengartikannya.
    Oleh karena itu  barangsiapa berkeras kepala terhadap diriku dengan  berpendirian bahwa, “Kami tidak akan beriman kepadanya selama tanda-tanda yang diberikan oleh Syiah dan Sunni belum sempurna (genap) semuanya”,  maka orang itu benar-benar aniaya. Orang-orang itu jika hidup di zaman Rasulullah saw., mereka  sekali-kali  tidak akan beriman kepada beliau saw..
     Demikian pula seandainya mereka hidup di zaman Nabi Isa a.s.   mereka pun tidak akan menerimanya. Untuk itu bagi pencari jalan kebenaran, inilah satu sarana yang bersih dan  aman, bahwa untuk mendukung bahwa seseorang itu benar dalam pendakwaannya, jika tanda-tandanya telah nyata dalam tanda-tanda langit maka dia takut  untuk mendustakannya, sebab pernyataan-pernyataan tertulis dari hadits-hadits yang dipegang oleh setiap mazhab  untuk menguatkan dalil-dalilnya merupakan  satu khazanah baginya.
     Pada dasarnya semua itu tidak lebih dari syakwasangka yang buruk, bahwa Masih Mau’ud akan turun dari langit, dan hanya akan merupakan keragu-raguan belaka yang tidak mempunyai dasar, sebab yang demikian itu mendustakan Quran Syarif dan hadits mi’raj, karena Rasulullah saw. pun naik ke langit  tetapi tidak ada yang melihat beliau benar-benar naik ke langit biru.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
                                                                              ***
Pajajaran Anyar,  6  Mei     2017





[1] Tak satu pun yang melihat di malam  mikraj, bahwa Hadhrat Rasulullah saw. naik ke langit dan tidak pula beliau saw. turun dari langit. Lalu apakah wajib orang-orang mengatakan bahwa Masih itu lebih mulia daripada Rasulullah saw.? (Pen).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Persamaan "Sunnatullaah" Mengeai "Kebinasaan Para Pendusta" Atas Nama "Allah Swt." Dalam "Al-Quran" Dengan "Sunnatullaah" Dalam "Kitab-kitab Ilhami"Dalam "Bible"

Bismillaahirrahmaanirrahiim “ARBA’IN” ARBA’IN LI-ITMÂMIL HUJJAH ‘ALAL MUKHALLIFÎN (Empat Puluh Risalah, Menyempurnakan Argu...