Bismillaahirrahmaanirrahiim
“ARBA’IN”
ARBA’IN LI-ITMÂMIL HUJJAH ‘ALAL MUKHALLIFÎN
(Empat Puluh Risalah, Menyempurnakan Argumen Bagi Para
Penentang)
Karya
Mirza Ghulam Ahmad
a.s.
(Al-Masih Al-Mau’ud a.s.
-- Al-Masih yang Dijanjikan a.s.)
Bagian 18
ARBA’ÎN KE II
TIDAK MENDUSTAKAN KESINAMBUNGAN TURUNNYA WAHYU ILAHI TETAPI MENDUSTAKAN KENABIAN & MEMPERCAYAI
NABI ISA IBNU MARYAM A.S. MASIH HIDUP DI
LANGIT BERTENTANGAN DENGAN PERNYATAAN
ALLAH SWT. DALAM AL-QURAN TENTANG TELAH
WAFATNYA BELIAU A.S.
Oleh
Ki Langlang Buana
Kusuma
|
D
|
alam akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan wahyu-wahyu Ilahi yang diterima Masih
Mau’ud a.s. dalam topik
Pembukaan Berbagai Rahasia Khazanah Sifat-sifat Ilahi. Beliau a.s. bersabda:
“Ini
merupakan kabar suka yang
beberapa tahun sebelumnya telah diisyaratkan kepada kejadian ketika fatwa pengkafiran terhadap diriku
dinyatakan. Kemudian Allah Swt. berfirman:
“Kesakitan apa yang menimpa engkau karena pernyataan murtad adalah sebagai akibat dari Allah. Itu akan menjadi cobaan maka sabarlah
sebagaimana orang-orang yang berkemauan (ulul
‘Azham -- para
nabi) bersabar. Akhirnya Allah
akan menggagalkan rencana orang ingkar. Ketahuilah dan ingatlah, cobaan itu dari Allah supaya Dia mencintai engkau dengan
kecintaan besar, kecintaan dari
Allah Maha Kuasa, Tuhan Maha Mulia. Ganjaran
yang tidak putus dan disampaikan kepada engkau.
Aku
adalah khazanah tersembunyi
maka Aku ingin supaya dikenal. Langit dan bumi adalah masa yang padat yang isi
dan rahasianya tersembunyi lalu Kami memisahkan keduanya.”
Menurut Al-Quran Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. Telah Wafat
Ini berarti telah diciptakan manusia di
abad ini yang sedang mencari sifat
dan karakteristik benda (material)
di bumi, sementara di pihak lain manusia
lannya diciptakan untuk mencapai pintu gerbang
di langit yang telah dibuka.
“Mereka mengejek engaku dan berkata: “Inikah orang yang diutus Allah?”
Katakanlah kepada mereka: “Aku hanya seorang
manusia ciptaan Tuhan, kepadaku telah
diwahyukan bahwa Tuhan kamu adalah
Tuhan Yang Esa.” (Farsi) “Bergembirakah karena waktu engkau telah
tiba dan jejak kaki orang Muslim
telah dicetak pada menara yang tinggi.” (Urdu) – “Kesamaan Nabi Suci
Muhammad saw., Pemimpin semua nabi.”
Hal ini
mengisyaratkan bahwa musuh-musuh akan berusaha
membuat satu masalah agar orang-orang berfikir bahwa, “Orang ini bukanlah orang suci bahkan tidak beriman.”
(Arab) -
“Hai Isa, Aku akan mewafatkan engkau dan meninggikan
engkau ke sisi-Ku. Aku akan menempatkan Jemaat engkau di atas penentang
engkau sampai Hari Kiamat”. Akan ada sahabat pertama yang menerima di masa awal, yang menerima setelah menyaksikan Tanda yang
berulang.”
(Urdu) – “Aku akan memperlihatkan cahaya-Ku. Aku akan memuliakan engkau sebagai perwujudan kekuasaan-Ku. Seorang
Pemberi ingat telah datang ke dunia tetapi dunia tidak menerimanya, tetapi Tuhan akan menerimanya serta akan
memperlihatkan kebenaran dengan serangan dahsyat.”
(Arab) – “Allah adalah Pelindungnya. Kecintaan
Allah adalah pelindungnya. Kami
mewahyukannya dan Kami yang
melindunginya. Allah adalah
Pelindung yang terbaik dan Dia Maha
Pemurah, Maha Penyayang.
Pemimpin
kaum ingkar mencoba menakuti engkau. Jangan takut, engkau akan unggul.
Allah akan menolong engkau dalam setiap
bidang. Hari-Ku akan menjadi hari peradilan besar. Aku telah memberikan
perkataankan-Ku: “Aku dan rasul-rasulku
pasti akan memang.” Tak seorang pun
dapat mengubah perkataan-Ku. Engkau beserta-ku dan Aku beserta engkau. Aku menciptakan malam dan siang untuk engkau. Berbuatlah sebagaimana yang kamu kehendaki,
Aku telah mengampuni engkau. Engkau
di sisi-Ku berada dalam kedudukan yang tidak diketahui orang-orang.
Apakah mereka berfikir bahwa ia orang yang misterius yang tinggal
di langit atau tersembunyi dalam gua?
Katakanlah: “Allah akan memperlihatkan
keajaiban demi keajaiban. Setiap hari Dia membuat keajaiban baru. Dia Yang menurunkan hujan ke bawah setelah
mereka kehilangan harapan.” Katakanlah kepada mereka: “Kemukakanlah argumentasi kamu kalau kamu orang benar.” Berikanlah kabar
suka kepada orang yang beriman bahwa mereka
mempunyai tempat kebenaran di sisi Tuhan mereka.” Kepada-Nya
akan naik semua perkataan murni. Salam atas Ibrahim (yaitu diriku
yang lemah ini). Kami telah mencurahkan
cinta kami kepadanya dan telah menjauhkannya dari kesedihan. Kami sendiri yang
melakukan itu, maka ikutilah jejak Ibrahim.”
Tujuan Kesinambungan Pengutusan Rasul Allah Dari Kalangan Bani Adam
Demikianlah berbagai wahyu
(ilham) Ilahi yang diterima Mirza Ghulam Ahmad a.s. -- Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah -- sebagai dalil bahwa beliau adalah Imam Mahdi a.s. dan juga Masih Mau’ud a.s. yang kedatangannya dinubuatkan Allah
Swt. dan Nabi Besar Muhammad saw. dalam Al-Quran serta hadits-hadits.,
sebagai penggenapan janji
Allah Swt. mengenai kesinambungan rasul Allah dari kalangan Bani Adam,
firman-Nya:
وَ لِکُلِّ اُمَّۃٍ اَجَلٌ ۚ فَاِذَا جَآءَ
اَجَلُہُمۡ لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ
سَاعَۃً وَّ لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾ یٰبَنِیۡۤ اٰدَمَ
اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ
ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ
﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا
عَنۡہَاۤ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ
ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Dan
bagi tiap-tiap umat ada batas waktu,
maka apabila telah datang batas waktunya,
mereka tidak dapat mengundurkannya
barang sesaat pun dan tidak pula
dapat memajukannya. یٰبَنِیۡۤ اٰدَمَ اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ
یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ -- Wahai Bani
Adam, jika datang kepada kamu rasul-rasul dari antara kamu
yang menceritakan Ayat-ayat-Ku kepada kamu, فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ
یَحۡزَنُوۡنَ -- maka barangsiapa
bertakwa dan memperbaiki diri, maka tidak
akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan bersedih hati.
وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا
وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ اُولٰٓئِکَ
اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ -- Dan
orang-orang yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan takabur berpaling darinya, mereka itu penghuni Api, mereka kekal
di dalamnya. (Al-A’rāf [7]:35-37).
Makna ayat: وَ لِکُلِّ اُمَّۃٍ اَجَلٌ ۚ فَاِذَا جَآءَ
اَجَلُہُمۡ لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ
سَاعَۃً وَّ لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ -- “Dan bagi tiap-tiap umat ada batas waktu,
maka apabila telah datang batas waktunya,
mereka tidak dapat mengundurkannya
barang sesaat pun dan tidak pula
dapat memajukannya“ bahwa apabila waktu yang ditetapkan untuk menghukum
suatu kaum tiba, waktu itu tidak
dapat dihindarkan, diulur-ulur, atau ditunda-tunda.
Seperti
pada beberapa ayat-ayat sebelumnya (yakni QS.7:27, 28 & 32) seruan dengan kata-kata Hai anak-cucu Adam,
ditujukan kepada umat manusia di
zaman Nabi Besar Muhammad saw. dan kepada generasi-generasi yang
akan lahir kemudian, bukan kepada umat manusia
yang hidup di masa jauh silam (kaum-kaum purbakala) yang
datang tak lama sesudah masa Nabi Adam
a.s..
Ada pun tujuan
dari kesinambungan pengutusan para rasul
Allah dari kalangan Bani Adam
tersebut selain sebagai “kaum pengganti” kaum-kaum sebelumnya yang diazab Allah Swt. -- karena kedurhakaan mereka kepada Allah Swt. dan rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan
kepada mereka – juga untuk menghidupkan akhlak
dan ruhani orang-orang yang beriman kepada Rasul Allah
yang dijanjikan tersebut, firman-Nya:
فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ
عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ
-- maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri, maka tidak akan ada ketakutan menimpa mereka dan
tidak pula mereka akan bersedih hati.”
Kata-kata dalam ayat selanjutnya: وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا
عَنۡہَاۤ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ
ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ -- Dan
orang-orang yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan takabur berpaling darinya, mereka itu penghuni Api, mereka kekal
di dalamnya” berarti bahwa mereka yang
menolak Utusan-utusan Allah akan melihat dengan mata kepala sendiri penyempurnaan kabar-kabar gaib yang meramalkan kekalahan dan kegagalan mereka. Mereka akan merasakan hukuman yang dijanjikan
kepada mereka karena menentang
utusan-utusan Allah Swt..
Tidak Melakukan Protes
Kepada Ilham-ilham Ilahi Dalam Buku Barāhin-e-Ahmadiyyah
Tetapi Menentang Pendakwaan
Sebagai Imam Mahdi a.s. dan Masih Mau’ud a.s.
Sekarang,
coba perhatikan, semua ilham
itu adalah ilham-ilham yang terdapat
dalam Barâhin-e-Ahmadiyyah,
yang tentangnya Maulvi Muhammad Hussain
Batalwi telah menulis review
(tanggapannya). Demikian pula semua
ulama kenamaan dari Punjab dan Hindustan
menerimanya, dan tak seorang pun ada
yang menyangkalnya. Padahal di dalam ilham-ilham tersebut banyak
terdapat salam dan shalawat
dari Allah Ta’ala atas diriku. Dan ilham-ilham ini datangnya dariku
ketika mereka mengakuiku, tetapi setelah para ulama menentangku maka
beribu-ribu sangkalan
diajukannya, itulah sebabnya walau
betapa kerasnya mereka menentang pendakwaanku tetapi tidak menyangkal ilham-ilham
itu sebab mereka telah mengakuinya.
Setelah dipikirkan, menjadi jelaslah bahwa dasar-dasar
pendakwaanku sebagai Masih Mau’ud adalah ilham-ilham
tersebut, dan di dalam ilham-ilham itulah Tuhan memberi nama Isa kepadaku. Dan tanda-tanda Masih
Mau’ud adalah ilham-ilham tersebut, dan di
dalam ilham-ilham itulah Tuhan memberikan nama Isa
kepadaku, dan tanda-tanda Masih Mau’ud dan kebenarannya
semua diterangkan atas kebenaranku.
Seandainya para ulama sebelumnya tahu bahwa dari ilham-ilham itu
terbukti kebenaran pendakwaan orang ini, pasti mereka sekali-kali tidak akan menerima kebenaran ilham-ilham tersebut. Semua ini adalah kekuasaan Tuhan hingga mereka
mengabulkan (menerima kebenaran) ilham-ilham tersebut, bagaikan terperangkap ke dalamnya.
Pendeknya,
mereka tidak berpikir ketika menentang ilham-ilham itu, bahwa orang yang mendakwakan diri sebagai Masih memang benar dialah orangnya, yang kepadanya diturunkan ilham-ilham
dari Tuhan Azza wa Jalla,
dan terhadapnyalah Rasulullah saw. memuliakannya, dimana beliau bersabda,
“Betapa bahagianya umat itu yang pada
permulaannya ada aku dan di akhirnya ada Masih Mau’ud”.
Dari
hadits-hadits jelas terbukti, bahwa
walaupun orang itu berasal dari satu umat (ummati), tetapi
padanya terdapat keistimewaan nabi-nabi.
Lalu kenapa pula tidak boleh mengucapkan
salam
dan shalawat kepadanya? Tidak diketahui penghalang apa yang terdapat di dalam akal orang-orang itu, sehingga mereka menganggapnya suatu kehinaan,
sampai-sampai mengucapkan shalawat dan salam pun terhadapnya
diharamkan? Padahal semenjak kejadian dunia ini hingga zaman
Rasulullah saw. para nabi memuliakannya (Masih Mau’ud a.s.).
Inilah
sebabnya kami selalu menasihati
mereka agar takut kepada Tuhan. Ketahuilah, bahwa orang yang
dikatakan Masih Mau’ud
bukanlah orang biasa-biasa, karena
dia telah tertulis di dalam Kitab
Tuhan, yang jauh sebelum kita semua
para nabi memuliakannya. Jika kamu memang mengimaninya tidak ada
paksaan dari kami, tetapi jika kamu mempelajarinya dari kitab-kitab maka
inilah yang kamu dapati. Dan jika kamu katakan bahwa Masih
Mau’ud adalah yang turun
dari langit[1], maka yang
demikian itu adalah pendustaan dan penentangan terhadap Kitab-kitab
suci-Nya”.
Menurut Al-Quran Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. telah Wafat
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. – sesuai dengan beberapa pernyataan ayat Al-Quran
(QS.3:56 & 145; QS.5:17-18; QS.21:35) -- mengemukakan tentang telah wafatnya Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
“Telah
menjadi keputusan yang tak
dapat disangkal lagi dari Quran Syarif, bahwa Nabi Isa a.s. telah wafat.
Mustahil jika Tuhan sendiri di dalam
Quran Syarif telah menerangkan bahwa Hadhrat
Isa telah wafat tetapi kalian mau menurunkannya dari langit! Apakah sekarang ini kisah-kisah Quran Syarif telah mansukh (dihapus)? Padahal inilah
Quran Syarif -- yang jika mendengar satu ayatnya saja -- ratusan ribu sahabah menundukkan kepala, taat tanpa
bantahan sedikitpun juga, bahwa semua
nabi yang datang sebelum Hadhrat Rasulullah saw., termasuk Isa a.s., telah wafat. Dan Quran
Syarif itu jugalah yang kami sajikan ke hadapan anda sekalian, tetapi anda
tidak memperhatikannya sedikitpun.
Tidak pula Anda sekalian memperhatikan
buku-buku yang sedemikian banyaknya. Kapan dan dimanakah waktu luang anda
sekalian?
Tetapi
seandainya anda sekalian mau membaca
dengan teliti selebaran-selebaranku selama 2 jam saja – seperti Tuhfah Glorawiyah dan Tuhfah Gaznawiyah – yang ditulis
untuk memberi petunjuk Pir Mehr Ali Syah dan Maulvi Abdul Jabbar dan Abdul Wahid serta Abdul Haq dan lain-lain, yang semuanya dari golongan Gaznawiyah, dari sana anda sekalian akan dapat mengetahui apa kata Quran Syarif tentang Masih yang sebenarnya. Ingatlah! Seberapa jauh yang anda sekalian
perjuangkan tentang kehidupan
(masih hidupnya) Al-Masih,
semuanya itu bertentangan dengan Kalam Ilahi.”
Sehubungan dengan kenyataan tersebut
Allah Swt. berfirman mengenai telah wafatnya
seluruh Rasul Allah sebelum Nabi
Besar Muhammad saw. – tanpa kecuali,
termasuk Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., firman-Nya:
وَ مَا
جَعَلۡنَا لِبَشَرٍ مِّنۡ قَبۡلِکَ الۡخُلۡدَ ؕ اَفَا۠ئِنۡ مِّتَّ
فَہُمُ الۡخٰلِدُوۡنَ﴿﴾
Dan Kami sekali-kali tidak menjadikan seorang manusia pun sebelum
engkau hidup kekal, maka jika engkau mati maka apakah
me-reka itu akan hidup kekal? (Al-Anbiya [21]:35).
Menurut
ayat ini bahwa tidak seorang pun – termasuki Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. -- yang
kebal terhadap kehancuran dan kematian
jasmani, bahkan Nabi Besar Muhammad saw. pun tidak. Kekekalan dan keabadian
merupakan Sifat-sifat khusus Allah Swt.
Ayat ini dapat pula mengandung maksud semua syariat dan sistem agama yang bermacam-macam di masa sebelum Nabi Besar Muhammad saw. telah ditetapkan dan ditakdirkan untuk mengalami kehancuran dan kematian ruhani, dan hanyalah syariat Nabi Besar Muhammad saw. -- syariat
Islam - sajalah yang ditakdirkan Allah
Swt. akan hidup dan akan berlaku terus sampai Akhir Zaman (QS.3:20 & 86).
Allah Swt. berfirman lagi mengenai telah wafatnya Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
sebelum munculnya ajaran Trinitas dan
penebusan dosa dan penyembahan terhadap Maryam binti ‘Imran -- ibunda Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. sebagai
“bunda Tuhan” -- firman-Nya:
وَ اِذۡ قَالَ اللّٰہُ
یٰعِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ ءَاَنۡتَ قُلۡتَ
لِلنَّاسِ اتَّخِذُوۡنِیۡ وَ اُمِّیَ اِلٰہَیۡنِ مِنۡ دُوۡنِ
اللّٰہِ ؕ قَالَ سُبۡحٰنَکَ مَا یَکُوۡنُ لِیۡۤ
اَنۡ اَقُوۡلَ مَا لَیۡسَ لِیۡ ٭ بِحَقٍّ ؕ اِنۡ کُنۡتُ قُلۡتُہٗ فَقَدۡ
عَلِمۡتَہٗ ؕ تَعۡلَمُ مَا فِیۡ
نَفۡسِیۡ وَ لَاۤ اَعۡلَمُ مَا فِیۡ نَفۡسِکَ ؕ اِنَّکَ
اَنۡتَ عَلَّامُ الۡغُیُوۡبِ ﴿﴾ مَا قُلۡتُ
لَہُمۡ اِلَّا مَاۤ اَمَرۡتَنِیۡ بِہٖۤ اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ رَبِّیۡ وَ رَبَّکُمۡ ۚ وَ کُنۡتُ
عَلَیۡہِمۡ شَہِیۡدًا مَّا
دُمۡتُ فِیۡہِمۡ ۚ فَلَمَّا تَوَفَّیۡتَنِیۡ کُنۡتَ اَنۡتَ الرَّقِیۡبَ
عَلَیۡہِمۡ ؕ وَ اَنۡتَ عَلٰی
کُلِّ شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa ibnu Maryam, apakah engkau telah berkata kepada manusia: Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan
selain Allah?" Ia
berkata: “Maha Suci Engkau. Tidak patut
bagiku mengatakan apa
yang sekali-kali bukan hakku. Jika aku
telah mengatakannya maka sungguh
Engkau mengetahuinya. Engkau me-ngetahui
apa yang ada dalam diriku, sedangkan aku
tidak mengetahui apa yang ada dalam diri Engkau, sesungguh-nya Engkau benar-benar Maha Mengetahui segala yang gaib. Aku sekali-kali tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang telah Engkau perintahkan kepadaku, yaitu: ”Beribadahlah kepada Allah, Rabb-ku
(Tuhan-ku) dan Rabb
(Tuhan) kamu.” Dan aku
menjadi saksi atas mereka selama aku berada di antara mereka, tetapi tatkala
Engkau telah
mewafatkanku maka Engkau-lah Yang benar-benar menjadi
Pengawas atas mereka, dan Engkau
adalah Saksi atas segala sesuatu. (Al-Māidah [5]:117-118).
Orang yang Dijanjikan Allah Swt. Telah Datang
“Wahai
saudara-saudaraku yang kucintai! Ketahuilah
bahwa orang yang akan datang itu kini telah datang. Dan abad
yang pada permulaannya akan turun Al-Masih
telah berlalu 17 tahun, dan hal itu telah sempurna. Tetapi di
dalam abad yang tentang kedatangannya
telah kabarkan oleh para wali berdasarkan ucapan-ucapan anda sekalian bahwa satupun dari yang sekecil-kecilnya mujaddid
tidak
lahir (muncul) di dalamnya, kecuali satu
dajjal. Apakah dosa semacam itu tidak akan ditanyakan tanggungjawabnya
di hadapan Tuhan?
Walau bagaimanapun kerasnya hati, namun hendaknya
anda sekalian takut kepada
Tuhan. Janganlah tergesa-gesa mendustai orang semacam itu, yang
kelahirannya (kemunculannya) pada awal abad telah dibenarkan oleh peristiwa terjadinya gerhana bulan dan matahari
pada bulan Ramadhan.
Selain itu, kelemahan Islam
dan serangan musuh-musuh Islam yang gencar sekali telah menuntut perlunya kedatangannya. Juga para Sahabah yang telah lalu pun telah memberikan kepastian yang tak terbantahkan. Dengan terjadinya gerhana itu maka jelaslah bahwa dia (Al-Masih Mau’ud) akan lahir pada awal
abad ke 14, dan hal itu telah terjadi di Punjab.
Pada
akhirnya, satu saat maut (kematian) pun
akan datang dan semuanya akan ditinggalkan di sana. Ketahuilah, aku
datang dari Allah tetapi anda sekalian mendustakanku dan mengkafirkanku serta menyebutku dajjal. Lalu jawaban
apakah yang akan anda sekalian berikan di
hadapan Tuhan?
Apakah jawaban anda sekalian seperti jawaban yang diberikan oleh kaum
Yahudi ketika mereka menolak pendakwaan Rasulullah saw., yang
semuanya itu termaktub di dalam Kitab
mereka, yakni mereka menjawab bahwa semua
tanda yang telah ada di dalam Taurat tidak sempurna dan sebagiannya
masih tertinggal (belum genap)?
Maka kini
sudah waktunya Tuhan memberikan jawabannya, bahwa semua apa yang ada di tangan anda sekalian tidak benar, dan
apa-apa yang sedang anda sekalian kerjakan semuanya tidak benar. Dengar dan taatilah apa-apa yang disampaikan oleh orang yang diutus sebagai Hakim yang adil! Itulah jawaban dari Tuhan.
Sekarang
terserah pada anda sekalian, jika anda sekalian mau maka terimalah. Kehendak anda sekalian memang
berpegang pada contoh kaum Yahudi
dan Nasrani,
yakni “Kami tidak akan beriman kepada
Hadhrat Isa a.s. dan kepada Hadhrat
Muhammad saw. selama tanda-tandanya belum sempurna (genap).”
Cara “Menghakimi“
Keshahihah Hadits-hadits
Oleh karena nasibnya yang sial
-- akibat panjangnya waktu dan perkembangan serta perubahan -- maka hal yang demikian tidaklah mungkin, karena itu
mereka mati dalam kekufuran. Oleh sebab itu janganlah anda sekalian
bernasib seperti itu, sebagaimana yang dialami kaum Yahudi dan Nasrani.
Jika yang anda sekalian miliki segala-galanya benar, maka apa perlunya
kedatangan mujaddid yang
Hakaman
‘adalan (hakim yang adil)? Setiap golongan mengatakan, bahwa ”Apa yang kami miliki itulah yang benar”, oleh sebab itu yang benar adalah yang
keluar dari mulut Sang Hakam (hakim).
Jika anda sekalian beriman, maka dengan hukum
Tuhan yang hakam (bijaksana)
telah tetapkan, untuk meninggalkan
sebagian hadits dan menakwilkannya
bukanlah suatu hal sulit.
Berikut ini adalah usul (pendapat)
dari para pemimpin anda sekalian, bahwa hadits anu shahih dan yang anu benar serta yang anu masyhur, lalu yang anu maudhu
(dibuat-buat). Semuanya itu bukanlah perintah Tuhan dan bukan
pula dari wahyu
untuk mengklarifikasikannya.
Kemudian mengapa pula suatu hadits yang sebenarnya bertentangan
dengan hadits hadits lain serta bertentangan pula dengan hukum Tuhan tidak ditolak? Apakah menjadi suatu keharusan bahwa setiap datang seorang utusan
(rasul) Tuhan maka wajib mentaati setiap fatwa umat di
waktu itu, dimana fatwa itu ditujukan kepada utusan tersebut?
Kalau
memang inilah ukuran standarnya maka tiada suatu nubuwatan (kabar gaib)
tentang Hadhrat Al-Masih akan
terbukti, dan tidak pula nubuwatan
tentang Hadhrat Muhammad saw. akan nyata. Misalnya, bagi Al-Masih
terdapat tanda-tanda di dalam kitab
nabi-nabi yang ada pada
tangan orang-orang Yahudi, bahwa selama
Nabi Elia belum datang kedua
kalinya maka Al-Masih tidak akan datang. Dalam tanda kedua adalah bahwa Al-Masih akan datang sebagai seorang raja,
dan akan membebaskan kaum Yahudi dari
cengkraman bangsa lain.
Perlu Menakwilkan
Bahasa Nubuatan
Tetapi
bagaimana buktinya? Apakah Al-Masih datang dalam wujud seorang raja? Atau sebelum kedatangan Al-Masih
terlebih dulu Nabi Elia telah turun kedua kalinya dari langit? Bahkan kedua
kabar tersebut tidak tepat, dan tidak ada tanda yang benar seperti itu
untuk Al-Masih. Pada akhirnya sesuai dengan takwil tersebut Hadhrat Al-Masih menunaikan tugas,
walaupun hingga sekarang orang-orang
Yahudi tetap tidak menerimanya.
Bahkan membuatnya tertawaan
dan ejekan, dan – na’udzubillāh -- mereka menganggapnya pembohong. Dan
mereka berkata bahwa, “Di dalam kitab nabi-nabi jelas dikatakan bahwa Nabi
Elia sendirilah yang akan datang kedua kalinya. Tidak dikatakan bahwa seseorang
yang menyerupainya yang akan datang”.
Dilihat
dari segi ibarat (perumpamaan) nampaknya Yahudi memang benar,
karena Al-Masih yang akan
datang itu yang tertera di dalam kitab-kitab
mereka akan zahir sebagai seorang
raja. Dan dalam makna-makna harfiah tersebut juga
Yahudi tampaknya benar, tetapi di dalam kenyataannya meragukan.
Jadi apa lagi yang masih ada (tersisa) bahwa Hadhrat Al-Masih adalah nabi
yang benar? Sebab
hakikat yang sebenarnya adalah bahwa mengenai kabar suka bisa termasuk
secara kiasan dan samaran, dimana perubahan
dan pertukarannya bisa juga terjadi,
karena itu setiap nabi atau pembawa kabar suka yang datang
sebagai Hakam (hakim), dia menggenapi sebagian ucapan-ucapan
umat dan membatalkan sebagian lainnya. Dan apa-apa yang dipastikan oleh mereka itu sebagian ada benarnya dan sebagian
lagi ada salahnya, karena di
dalamnya ada yang bercampur-aduk dan ada pula yang salah
serta terbalik mengartikannya.
Oleh karena
itu barangsiapa
berkeras kepala terhadap diriku
dengan berpendirian bahwa, “Kami tidak akan beriman kepadanya selama tanda-tanda yang diberikan oleh Syiah dan Sunni belum sempurna (genap) semuanya”, maka orang itu benar-benar aniaya.
Orang-orang itu jika hidup di zaman
Rasulullah saw., mereka
sekali-kali tidak akan beriman kepada beliau saw..
Demikian
pula seandainya mereka hidup di zaman Nabi Isa a.s. mereka
pun tidak akan menerimanya. Untuk itu bagi pencari jalan kebenaran,
inilah satu sarana yang bersih dan aman, bahwa untuk mendukung bahwa seseorang itu benar dalam pendakwaannya, jika tanda-tandanya telah nyata dalam tanda-tanda langit maka dia
takut untuk mendustakannya, sebab pernyataan-pernyataan tertulis dari
hadits-hadits yang dipegang oleh
setiap mazhab untuk menguatkan dalil-dalilnya
merupakan satu khazanah baginya.
Pada
dasarnya semua itu tidak lebih dari syakwasangka yang buruk, bahwa Masih
Mau’ud akan turun dari langit,
dan hanya akan merupakan keragu-raguan belaka yang tidak mempunyai dasar, sebab yang demikian itu mendustakan Quran Syarif dan hadits mi’raj, karena Rasulullah saw. pun naik ke langit tetapi tidak
ada yang melihat beliau benar-benar naik ke langit biru.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik
Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 6 Mei 2017
[1] Tak satu pun
yang melihat di malam mikraj, bahwa Hadhrat Rasulullah saw.
naik ke langit dan tidak pula beliau saw. turun dari langit. Lalu apakah wajib
orang-orang mengatakan bahwa Masih itu lebih mulia daripada Rasulullah saw.? (Pen).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar