Bismillaahirrahmaanirrahiim
“ARBA’IN”
ARBA’IN LI-ITMÂMIL HUJJAH ‘ALAL MUKHALLIFÎN
(Empat Puluh Risalah, Menyempurnakan Argumen Bagi Para
Penentang)
Karya
Mirza Ghulam Ahmad
a.s.
(Al-Masih Al-Mau’ud a.s.
-- Al-Masih yang Dijanjikan a.s.)
Bagian 25
ARBA’ÎN KE III
PARA PENENTANG
MASIH MAU’UD A.S. MENJADI PARA PENENTANG
AL-QURAN DAN NABI BESAR MUHAMMAD SAW. TENTANG KETENTUAN
ALLAH SWT. MENGENAI KEBINASAAN
PARA PENDAKWA PALSU & PERUMPAMAAN ORANG-ORANG YANG TERUSIR DARI SURGA KERIDHAAN ALLAH SWT.
Oleh
Ki Langlang Buana
Kusuma
D
|
alam akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan topik Kebinasaan
Abu Jahal dan Kawan-kawan
di Perang Badar & Jaminan Pertolongan Allah Swt.
Kepada Masih Mau’ud a.s. Doa
buruk dan takabbur yang dipanjatkan dalam Perang Badar:
Allāhumma,
man kāna minnā kādziban fa-ahnahu fiy hādza
mawātini” (Ya Allah, barangsiapa di antara kami berdua dalam pandangan Engkau
berdusta, maka matikanlah
dia dalam peperangan ini!) doa buruk dan takabur yang dipanjatkan Abu Jahal tersebut sesuai dengan
firman Allah Swt. dalam Al-Quran berikut ini:
وَ
اِذۡ قَالُوا اللّٰہُمَّ اِنۡ کَانَ ہٰذَا ہُوَ الۡحَقَّ مِنۡ عِنۡدِکَ
فَاَمۡطِرۡ عَلَیۡنَا حِجَارَۃً مِّنَ السَّمَآءِ اَوِ ائۡتِنَا بِعَذَابٍ
اَلِیۡمٍ ﴿﴾ وَ مَا کَانَ اللّٰہُ لِیُعَذِّبَہُمۡ وَ اَنۡتَ فِیۡہِمۡ ؕ وَ مَا کَانَ اللّٰہُ
مُعَذِّبَہُمۡ وَ ہُمۡ یَسۡتَغۡفِرُوۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika mereka berkata: “Ya Allah,
jika Al-Quran ini
benar-benar kebenaran dari
Engkau maka hujanilah kami dengan batu dari langit atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih.”
Tetapi Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka selama engkau berada di tengah-tengah mereka dan Allah
sekali-kali tidak akan mengazab mereka sedangkan mereka meminta ampun. (Al-Anfāl [8]:33-34).
Kira-kira seperti
kata-kata itu jugalah Abu Jahal
mendoa di medan perang Badar (Bukhari — Kitab Tafsir). Doa itu dikabulkan secara harfiah. Abu Jahal bersama 7 orang pemimpin Quraisy
yang lain -- seperti halnya para pemimpin kafir kaum Nabi Shalih a.s. (QS.27:46-54) --
terbunuh dan mayat-ayat mereka dilemparkan ke dalam sebuah lubang.
Orang-orang kafir Mekkah mendapat hukuman Ilahi dalam perang Badar setelah Nabi Besar Muhammad saw. meninggalkan
Mekkah hijrah ke Madinah. Berdasarkan
ayat 35 keberadaan Rasul-rasul Allah di satu tempat berfungsi semacam perisai terhadap hukuman-hukuman dari langit.
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan:
“Memang banyak
orang yang ingkar di dunia ini, tetapi seorang
yang munkar yang sangat merugi adalah yang tidak tahu akan dirinya sendiri
sebelum matinya bahwa dia itu dusta. Apakah Tuhan di waktu itu berkuasa dan sekarang tidak lagi?
Na’udzubillâh, sekali-kali tidak demikian, bahkan setiap yang hidup Dia melihatnya, dan pada akhirnya Tuhan-lah yang akan menang. [Dia berfirman]:
“Seorang Pemberi peringatan telah datang ke dunia, tetapi dunia
tidak menerimanya, namun Tuhan akan
menerimanya, dan dengan serangan-Nya
yang hebat akan dizahirkan-Nya kebenarannya.”
Dia-lah Tuhan Yang memiliki Tangan
kuat, kapankah langit dan bumi
beserta isi-isinya pernah tunduk kepada kehendak
manusia? Satu hari akan tiba yang Dia Sendiri menentukannya. Inilah tanda orang
yang benar, ujian dan cobaan selalu ada pada mereka. Tuhan
dengan penampakkan kebesaran-Nya turun pada hati mereka. Bagaimanakah bangunan itu
akan runtuh sedangkan
di dalamnya duduk bertahta Raja Yang Hakiki?
Ejeklah
dan tertawakanlah sepuas kalian, caci-makilah semau kalian, buatlah hal yang menyakiti hati
sekemampuan kalian, buatlah setiap macam rencana untuk membasmiku hingga ke akar-akarnya sekuat tenaga kalian. Tetapi ingatlah, tak lama lagi Tuhan
akan menampakkan, bahwa Tangan Tuhan tidak pernah terkalahkan. Orang bodoh
berkata, “Aku akan sukses dengan
rencanaku!” Tetapi Tuhan berfirman, “Hai
manusia yang kena laknat! Perhatikanlah, Aku akan menghancurkan semua rencana kalian di atas tanah!”
Penentangan Para Ulama Islam Menggenapi Kebenaran Kabar Gaib Mengenai
Masih Mau’ud a.s. dan Imam Mahdi a.s.
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan salah satu tanda
kebenaran pendakwaannya sebagai Masih Mau’ud a.s. adalah mendapat penentangan
sengit dari para ulama Islam sebagaimana yang terjadi
terhadap Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dari
para pemuka agama kaum Yahudi, Allah
Swt. berfirman kepada Nabi Besar
Muhammad saw.:
وَ لَمَّا ضُرِبَ ابۡنُ مَرۡیَمَ مَثَلًا
اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ یَصِدُّوۡنَ
﴿﴾ وَ قَالُوۡۤاءَ اٰلِہَتُنَا خَیۡرٌ اَمۡ ہُوَ ؕ
مَا ضَرَبُوۡہُ لَکَ اِلَّا جَدَلًا ؕ بَلۡ ہُمۡ قَوۡمٌ خَصِمُوۡنَ
﴿﴾ اِنۡ ہُوَ اِلَّا عَبۡدٌ اَنۡعَمۡنَا عَلَیۡہِ
وَ جَعَلۡنٰہُ مَثَلًا لِّبَنِیۡۤ
اِسۡرَآءِیۡلَ ﴿ؕ﴾
Dan apabila
Ibnu Maryam dikemukakan sebagai
misal tiba-tiba kaum engkau
meneriakkan penentangan terhadapnya, dan mereka berkata: "Apakah tuhan-tuhan kami lebih baik ataukah
dia?" Mereka tidak menyebutkan
hal itu kepada engkau melainkan perbantahan
semata. Bahkan mereka adalah kaum
yang biasa berbantah. اِنۡ ہُوَ اِلَّا عَبۡدٌ اَنۡعَمۡنَا عَلَیۡہِ
وَ جَعَلۡنٰہُ مَثَلًا لِّبَنِیۡۤ
اِسۡرَآءِیۡلَ --
Ia (Isa
Ibnu Maryam a.s.) tidak lain melainkan seorang hamba yang telah Kami
anugerahi nikmat kepadanya, dan Kami menjadikan dia suatu perumpamaan
bagi Bani Israil. (Az-Zukhruf [43]:58-60).
Shadda (yashuddu)
berarti: ia menghalangi dia dari sesuatu, dan shadda (yashiddu) berarti:
ia mengajukan sanggahan (protes) (Aqrab-ul-Mawarid). Makna
“tuhan-tuhan kami” dalam ayat: وَ قَالُوۡۤاءَ اٰلِہَتُنَا خَیۡرٌ اَمۡ
ہُوَ -- dan mereka berkata:
"Apakah tuhan-tuhan kami lebih baik
ataukah dia?" maknanya adalah para pemimpin
agama atau para pemimpin firqah agama mereka yang mereka “pertuhankan” – yakni ditaati secara taqlid buta -- sebagaimana yang terjadi di kalangan Bani Israil (Ahli Kitab), firman-Nya:
وَ قَالَتِ الۡیَہُوۡدُ عُزَیۡرُۨ ابۡنُ
اللّٰہِ وَ قَالَتِ النَّصٰرَی الۡمَسِیۡحُ ابۡنُ
اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ ۚ یُضَاہِـُٔوۡنَ قَوۡلَ الَّذِیۡنَ
کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ ؕ قٰتَلَہُمُ
اللّٰہُ
ۚ۫ اَنّٰی
یُؤۡفَکُوۡنَ ﴿﴾ اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ
وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا مِّنۡ
دُوۡنِ اللّٰہِ وَ الۡمَسِیۡحَ
ابۡنَ مَرۡیَمَ ۚ وَ مَاۤ
اُمِرُوۡۤا اِلَّا
لِیَعۡبُدُوۡۤا اِلٰـہًا وَّاحِدًا ۚ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ؕ سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾ یُرِیۡدُوۡنَ اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ بِاَفۡوَاہِہِمۡ وَ یَاۡبَی اللّٰہُ اِلَّاۤ اَنۡ یُّتِمَّ
نُوۡرَہٗ وَ لَوۡ کَرِہَ الۡکٰفِرُوۡنَ ﴿﴾ ہُوَ الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ ۙ وَ
لَوۡ کَرِہَ
الۡمُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾
Dan orang-orang
Yahudi berkata: “Uzair adalah
anak Allah”, dan orang-orang Nasrani berkata: “Al-Masih adalah anak
Allah.” Demikian itulah perkataan
mereka dengan mulutnya, mereka meniru-niru perkataan orang-orang kafir
yang terdahulu. Allah membinasakan
mereka, bagaimana mereka sampai
dipalingkan dari Tauhid? Mereka
telah menjadikan ulama-ulama mereka dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan
begitu juga Al-Masih ibnu Maryam, padahal mereka
tidak diperintahkan melainkan supaya
mereka menyembah Tuhan Yang Mahaesa. Tidak
ada Tuhan kecuali Dia. Maha-suci Dia
dari apa yang mereka sekutukan. Mereka berkehendak mema-damkan cahaya Allah
dengan mulut mereka, tetapi Allah
menolak bahkan menyempurnakan cahaya-Nya, walau pun orang-orang kafir tidak menyukai. Dia-lah Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang haq
(benar), supaya Dia mengunggulkannya
atas semua agama walau-pun orang-orang
musyrik tidak me-nyukainya. (At-Taubah [9]:30-33).
Itulah makna ayat وَ قَالُوۡۤاءَ
اٰلِہَتُنَا خَیۡرٌ اَمۡ ہُوَ -- dan mereka berkata: "Apakah tuhan-tuhan kami lebih baik ataukah
dia?" (QS,43:58). Yakni kedatangan
Al-Masih a.s. fi kalangan Bani Israil (kaum Yahudi) -- yang dilahirkan “tanpa ayah” -- adalah tanda bahwa orang-orang Yahudi akan dihinakan dan direndahkan serta akan kehilangan
kenabian untuk selama-lamanya. Karena matsal berarti sesuatu yang semacam dengan atau sejenis dengan yang lain (QS.6:39).
Terjadinya Gerhana Bulan
dan Gerhana Matahari Pada Bulan Ramadhan yang Sama
Jadi makna ayat وَ لَمَّا ضُرِبَ ابۡنُ مَرۡیَمَ مَثَلًا
اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ یَصِدُّوۡنَ – “Dan apabila Ibnu Maryam dikemukakan sebagai misal tiba-tiba kaum engkau meneriakkan penentangan terhadapnya” di
samping arti yang diberikan dapat pula berarti bahwa bila kaum Nabi Besar Muhammad saw. — yaitu kaum Muslimin — diberitahu bahwa orang
lain yang seperti dan merupakan sesama Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. – sebagaimana Nabi Besar Muhammad
Saw. merupakan misal Nabi Musa a.s.
(QS.46:11) -- akan dibangkitkan di antara mereka, untuk memperbaharui mereka dan mengembalikan kejayaan ruhani mereka
yang telah hilang (QS.32:6), mereka bukannya
bergembira atas kabar gembira dengan
kedatangan Masih Mau’ud a.s. tersebut
malah mereka berteriak mengajukan protes dan bahkan berusaha
untuk membunuhnya, seperti yang
dilakukan kaum Yahudi kepada Nabi Isa Ibnu Maryam a.s..
Dengan demikian makna
ayat 58 dapat dianggap mengisyaratkan
kepada nubuatan kedatangan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
untuk kedua kalinya, yakni Masih
Mau’ud a.s. yang muncul dari kalangan
umat Islam. Selanjutnya Masih Mau’ud
a.s. menjelaskan:
“Jika Tuhan
menghendaki, kepada para maulvi penentang dan pir (ajengan) pun bisa diberikan mata yang dengannya mereka dapat mengenal waktu dan masa kapan saat turunnya Al-Masih dengan pasti. Telah menjadi kepastian bahwa kabar-gaib Quran Syarif dan hadits akan sempurna, dimana tertulis bahwa Masih Mau’ud akan
zahir ke dunia ini akan mengalami banyak kesedihan akibat ulah para ulama Islam
sendiri.
Mereka mengkafirkannya dan memberikan
fatwa harus dibunuh serta difitnah akan dikeluarkan
dari Islam, dianggap perusak agama.
Maka di hari itu kabar gaib tersebut akan sempurna
di tangan para maulvi. Sungguh sayang mereka
tidak mau berfikir bahwa jika memang
dakwa ini bukan kehendak Tuhan mengapa pula para diri pendakwa ini banyak terdapat dalil-dalil
yang benar, sebagaimana
terdapat pada nabi-nabi terdahulu yang suci dan benar?
Malam
itu adalah malam
dukacita bagi mereka, dimana
terjadinya gerhana bulan dan matahari tepat pada tanggal dan bulan Ramadhan, ketika aku
mendakwakan diri sebagai Mahdi. Bukankah hari
itu adalah hari musibah atas
mereka, dimana telah sempurnanya kabar gaibku tentang kematian Lekh Ram. Tuhan telah menurunkan tanda-tanda bagai curah hujan, akan tetapi mereka
menutup matanya supaya tidak dapat menyaksikan kesempurnaan
itu bahwa pendakwaan ini tidak
meleset, bahkan zahirnya tepat pada permulaan abad, pada saat kedatangannya
sedang ditunggu-tunggu.
Para Penentang Masih Mau'ud a.s. Menjadi para Penentang Al-Quran dan Nabi Besar Muhammad saw.
Sejak zaman Adam, hal ini sudah menjadi Sunnatullah bahwa seorang Mushlih Agung selalu datang pada permulaan abad, tepat pada saat diperlukan.
Sebagaimana Nabi kita Muhammad saw.
datang pada permulaan abad ketujuh setelah Hadhrat Isa a.s.,
ketika dunia sedang berada dalam kegelapan. Dan jika angka 7
dilipatgandakan maka akan menjadi 14.
Oleh sebab itu permulaan abad ke-14
telah ditakdirkan untuk Masih Mau’ud, hal itu mengisyaratkan kepada keadaan kerusuhan dan kerusakan umat manusia sebagaimana terjadi di zaman setelah Hadhrat Isa a.s. hingga kedatangan Rasulullah saw..
Kerusuhan dan kerusakan di zaman Masih Mau’ud pun akan sama
seperti itu pula, dan sebagaimana baru saja dijelaskan, yakni Allah telah menetapkan satu perkara besar
di dalam Quran Syarif, dimana dalil
itu pulalah yang dilontarkan kepada kaum
Yahudi dan Nasrani. Dalil itu
adalah bahwa Allah Ta’ala tidak memberi
tempo kepada seorang pendakwa
dusta dalam nubuatan (kenabian) atau ma’mur
minallâh (yang mendapat
perintah Allah).
Bagaimanakah keimanan para
maulvi itu, di mulutnya mengatakan beriman
kepada Quran Syarif, tetapi menolak
dalil-dalil yang telah ada di dalamnya. Jika memang mereka
beriman kepada Quran Syarif dan mau mengoreksi kebenaranku atau kedustaanku menggunakan ketentuan
itu, maka dengan mudah mereka akan
mendapatkan kebenaran.
Tetapi bagi para penentangku, mereka tidak
menerima peraturan Quran Syarif itu, bahkan berkata, “Jika ada seseorang mengaku bahwa dia adalah Nabi Allah
atau Rasul atau Ma’mur
minallâh yang bercakap-cakap dengan-Nya, dan untuk memperbaiki
akhlak manusia secara perlahan-lahan
dia menzahirkan jalan yang lurus,
dan dia dapat hidup dalam waktu 23 atau
25 tahun -- yakni ketentuan waktu
yang dijanjikan dalam nubuatan Rasulullah saw. terlewati – dan orang itu tidak mati dalam waktu yang telah
ditentukan dan tidak pula terbunuh,
maka hal tersebut tidaklah menjadi suatu kelaziman, bahwa orang
itu adalah nabi yang
benar atau rasul yang benar atau seorang
pembaharu dari Allah dan mujaddid, walaupun pada
kenyataannya Allah berkata-kata kepadanya”.
Anggapan
yang demikian itu adalah kufur, sebab lazim
darinya lahir pendustaan dan pengingkaran terhadap Kalam
Tuhan. Sebab tiap orang berakal mengetahui bahwa Allah Ta’ala di dalam Quran Syarif
memberikan dalil itu untuk membuktikan kebenaran Nabi
Muhammad saw.. yaitu, “Jika orang ini berdusta, Aku akan
membinasakannya.”
Semua ulama
tahu, bahwa meremehkan dalil ini
adalah perbuatan kufur,
sebab memperolok-olokkan dalil Tuhan ini – yang Dia Sendiri
memberikannya atas kebenaran
Rasulullah saw. dan Quran Syarif – jelas adalah mendustakan
Kitabullah dan Rasul-Nya dan jelas dia itu kufur.
Tetapi apa mau dikata perihal mereka, barangkali
menurut mereka mendustai
Tuhan adalah boleh, dan boleh
saja berkata bagai seorang pengumpat seperti itu. Dan mungkin semua kedengkian ini adalah
kedengkian Tuan Hafiz Muhammad Yusuf, sebab pada setiap pertemuan dia selalu berkata, “Seorang manusia selama 23 tahun mendustai Tuhan tidak akan mati.”
Barangkali timbulnya ucapan itu karena dia
telah beberapa kali mendustai
Allah, Na’udzubillâh. Dan dia
berkata, “Aku telah menerima ilham dan
hingga hari ini masih hidup.”
Pengingkaran Maulvi
Abdullah Ghaznawi Mengenai Pernyataannya Sendiri
Berkenaan Kebenaran Masih Mau’ud a.s.
Jadi, dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa firman Tuhan berkenaan dengan Rasulullah
saw. – yakni ”Jika ia berdusta atas nama Kami maka Kami akan potong urat nadinya”
– maka firman inipun menjadi bohong,[1] serta beranggapan pula, “Kenapa Tuhan tidak memotong urat nadi kami?”
Jawabnya adalah, ayat ini berkaitan dengan nabi-nabi, rasul-rasul, atau orang-orang yang menerima perintah dari Tuhan, yang mengajak
ratusan ribu manusia kepadanya yang apabila
mengingkarinya dunia bisa binasa. Sedangkan jika ada seorang
insan semacam itu yang mendakwakan
dirinya menerima perintah dari Tuhan tetapi tidak menyatakan (mendakwakan
diri) sebagai pembaharu kaum
dan tidak pula menerima nubuatan dan kenabian, kecuali hanya untuk membuat tertawaan dan
mengobarkan kerusuhan dengan pengakuan bahwa, “Aku telah menerima ilham atau melihat mimpi” kemudian mencampur-adukkan kebohongan di
dalamnya. Dia tak ubahnya bagaikan ulat
kekotoran, yang lahir dari kotoran sendiri dan mati di dalam kotoran itu juga.
Tidak pantas Tuhan memberikan orang yang kotor semacam itu suatu kehormatan bahwa “Jika engkau mendustai
Aku maka akan Kubinasakan engkau”,
bahkan karena dia orang yang sangat hina
sekali maka tidak seorangpun yang mengikutinya, tak
seorangpun yang menganggapnya
sebagai nabi atau rasul atau ma’mur
minallâh (orang yang
diperintah Allah).
Walau pun ia selama 23 tahun bergelimang mendustai
Tuhan, kami tidak tahu banyak
tentang keadaan Tuan Muhammad Yusuf
dan tidak pula mengharapkannya dalam
hal ini, sebab Tuhan yang lebih tahu keadaan yang sebenarnya tentang perbuatannya.
Kalau hanya dua ucapannya kami masih ingat dan pernah mendengar, dan sekarang dia mengingkarinya:
Pertama,
beberapa tahun yang lalu ia di dalam pertemuan-pertemuan
besar mengatakan bahwa, “Maulvi
Abdullah Gaznawi berkata kepadaku bahwa
telah turun satu cahaya
di Qadian dan anak keturunanku
bernasib sial mahrum (luput) darinya”.
Kedua, bahwa, “Tuhan
telah melahirkan seorang manusia dan berkata-kata kepadanya, bahwa Mirza Ghulam Ahmad berada dalam kebenaran tetapi mengapa orang-orang
mengingkarinya.”
Kini aku berfikir, bahwa jika Tuan
Hafiz sekarang mengingkari kedua wakiah (rujukan) tersebut, yang dia sendiri sering menerangkannya di
hadapan orang banyak, maka – Na’udzubillâh
– walaupun sebenar-benarnya dia
mengingkari Tuhan, sebab seorang yang berkata
benar kalaupun dia mati tak mungkin bisa mengingkarinya.
Sebagaimana saudaranya Tuan Muhammad Yaqub memberikan
kesaksikan[2] bahwa di dalam tabir
suatu mimpi Tuan Maulvi Abdullah
Ghaznawi berkata, “Cahaya yang akan
menerangi dunia adalah Mirza Ghulam Ahmad Qadiani”.
Sekarang,
sempurnalah sudah bahwa Tuan Hafiz berulang-ulang menjelaskan kedua
wakiah (rujukan/kisah) itu tetapi belum
mengerti, sehingga dianggap bahwa
karena tuntutan usia tua kemampuan
untuk mengingat menjadi hilang.
Ketika aku mendengar ucapan Tuan
Hafiz tentang kasyaf Tuan Maulvi Abdullah tersebut di atas,
sebenarnya aku telah 8 tahun lebih dulu
menulisnya di dalam buku Izalah Auham. Apakah bisa seorang yang
berakal menerima bahwa aku menulis
satu kebohongan dari diriku sendiri
dan Tuan Hafiz membacanya kemudian diam saja?
Tak tahu ada apa di dalam diri Tuan Hafiz.
Rupanya dia dengan sengaja menyembunyikan bukti suatu kebenaran. Dan dengan niat
baik pada lain kesempatan akan kuzahirkan, tetapi tak ada gunanya menyia-nyiakan umur, kinipun sudah saatnya untuk memperlihatkannya. Apa faedahnya bagi manusia kehidupan jasmaninya jika hanya menaburkan racun bagi kehidupan ruhaninya.
Sering sekali aku mendengar dari Tuan
Hafiz bahwa beliau adalah salah
seorang yang membenarkanku, dan sikap
mengadakan mubahalah (tanding doa meminta keputusan) dengan pendusta, dan dia
banyak melewatkan umurnya dalam urusan ini. Dia selalu memperdengarkan mimpi-mimpinya di dalam mempertahankan diri,
dan pernah pula bermubahalah dengan
seorang penentang. Lalu kenapa kemudian condong kepada dunia?”
Perumpamaan “Anjing
yang Menjulurkan Lidahnya”
Penyataan Masih Mau’ud a.s.
berkenaan Maulvi Abdullah Gaznawi: “Dia selalu memperdengarkan mimpi-mimpinya di dalam mempertahankan
diri, dan pernah pula bermubahalah
dengan seorang penentang. Lalu kenapa kemudian condong kepada dunia?” selaras dengan firman Allah Swt. mengenai
perumpamaan “seekor anjing” berikut ini, berikut firman-Nya kepada Nabi
Besar Muhammad saw.:
وَ اتۡلُ عَلَیۡہِمۡ نَبَاَ الَّذِیۡۤ اٰتَیۡنٰہُ
اٰیٰتِنَا فَانۡسَلَخَ مِنۡہَا فَاَتۡبَعَہُ الشَّیۡطٰنُ فَکَانَ مِنَ الۡغٰوِیۡنَ ﴿﴾ وَ لَوۡ شِئۡنَا
لَرَفَعۡنٰہُ بِہَا وَ لٰکِنَّہٗۤ اَخۡلَدَ اِلَی الۡاَرۡضِ وَ اتَّبَعَ ہَوٰىہُ ۚ
فَمَثَلُہٗ کَمَثَلِ الۡکَلۡبِ ۚ
اِنۡ تَحۡمِلۡ عَلَیۡہِ یَلۡہَثۡ اَوۡ
تَتۡرُکۡہُ یَلۡہَثۡ ؕ ذٰلِکَ مَثَلُ الۡقَوۡمِ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا
ۚ فَاقۡصُصِ الۡقَصَصَ لَعَلَّہُمۡ یَتَفَکَّرُوۡنَ ﴿﴾
Dan ceritakanlah kepada mereka berita orang-orang yang telah Kami berikan Tanda-tanda
Kami kepadanya, lalu ia melepaskan
diri darinya maka syaitan
mengikutinya dan jadilah ia termasuk
orang-orang yang sesat. Dan seandainya Kami menghendaki niscaya Kami meninggikan derajatnya dengan
itu, akan tetapi ia cenderung ke
bumi dan mengikuti hawa nafsunya, maka keadaannya seperti seekor anjing yang
kehausan, jika engkau menghalaunya
ia menju-lurkan lidahnya dan jika
engkau membiarkannya ia tetap menjulurkan lidahnya. Demikianlah misal orang-orang yang mendustakan
Tanda-tanda Kami, maka kisahkanlah
kisah ini supaya mereka
merenungkannya. (Al-A’rāf [7]:176-177).
Yang dimaksudkan ayat 76 bukanlah seseorang
tertentu melainkan semua orang
yang kepada mereka Allah Swt. memperlihatkan
Tanda-tanda Ilahi melalui seorang nabi Allah yang kedatangannya
dijanjikan tapi karena berbagai pertimbangan duniawi kemudian mereka menolaknya (mendustakannya).
Ungkapan
semacam itu terdapat di tempat lain dalam Al-Quran (seperti QS.2:18). Ayat itu
telah dikenakan secara khusus kepada seorang yang bernama Bal’am bin Ba’ura (Bileam bin Beor) yang menurut kisah pernah hidup
di zaman Nabi Musa a.s. dan
konon dahulunya ia seorang wali Allah
yang doa-doanya maqbul. Tetapi kesombongan
merusak pikirannya dan ia mengakhiri
hidupnya dalam kenistaan.
Ayat itu dapat juga dikenakan kepada Abu Jahal, pemimpin kaum kafir Mekkah,
atau kepada Abdullah bin Ubbay bin Salul -- pemimpin orang-orang munafik Madinah, atau dapat pula kepada tiap-tiap pemimpin kekafiran termamsuk di Akhir
Zaman ini yang mendustakan dan menentang Masih Mau’ud a.s. (Rasul Akhir Zaman).
Seandainya mereka tetap berpegang-teguh terhadap Tanda-tanda
Ilahi yang telah disaksikannya: لَرَفَعۡنٰہُ بِہَا
-- “niscaya Kami meninggikan derajatnya
dengan itu,” yakni Allah Swt. akan menjadikan mereka menjadi orang-orang terpilih yang bersama-sama dengan Rasul Allah yang kebenaran pendakwaannya
mereka saksikan sendiri.
Makna ayat: وَ لٰکِنَّہٗۤ اَخۡلَدَ اِلَی الۡاَرۡضِ
وَ اتَّبَعَ ہَوٰىہُ -- “akan tetapi ia cenderung ke bumi dan mengikuti
hawa nafsunya,“ yakni ia lebih cenderung kepada hal-hal yang bersifat kebendaan (duniawi) -- pada khususnya kecintaan akan uang -- sehingga bukannya kemuliaan akhlak dan ruhani yang diperolehnnya (QS.4:70-71),
melainkan kehinaan martabat, sebagaimana iblis yang kemudian “diusir” Allah Swt. dari “keadaan
surgawi” yang sebelumnya dinikmatinya lalu
menjadi pemimpin kekafiran (QS.7:12-19).
Sehubungan dengan hal tersebut selanjutnya
Allah Swt. berfirman: فَمَثَلُہٗ کَمَثَلِ الۡکَلۡبِ ۚ اِنۡ تَحۡمِلۡ عَلَیۡہِ یَلۡہَثۡ اَوۡ تَتۡرُکۡہُ
یَلۡہَثۡ -- “maka
keadaannya seperti seekor anjing yang
kehausan, jika engkau menghalaunya ia
menjulurkan lidahnya dan jika engkau
membiarkannya ia tetap menjulurkan
lidahnya.”
Yalhats
dari lahatsa, yang berarti nafasnya tersengal-sengal karena kelelahan atau kepenatan, maksudnya
adalah baik diminta ataupun tidak untuk
berkorban pada jalan agama (jalan Allah Swt.) orang semacam itu nampaknya terengah-engah seperti seekor anjing kehausan, seakan-akan beban pemberian pengorbanan yang terus
menerus bertambah membuatnya amat penat sekali.
Orang-orang yang Terusir dari “Surga
Keridhaaan” Allah Swt.
Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai
orang-orang yang “bernasib malang” –
yang terusir dari “surga keridhaan Allah Swt.” --
seperti itu:
سَآءَ مَثَلَاۨ الۡقَوۡمُ الَّذِیۡنَ
کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اَنۡفُسَہُمۡ کَانُوۡا یَظۡلِمُوۡنَ ﴿ ﴾ مَنۡ یَّہۡدِ
اللّٰہُ فَہُوَ الۡمُہۡتَدِیۡ ۚ وَ مَنۡ یُّضۡلِلۡ فَاُولٰٓئِکَ
ہُمُ الۡخٰسِرُوۡنَ ﴿ ﴾
Sangat buruk misal orang-orang yang mendustakan
Tanda-tanda Kami, dan kepada diri mereka sendirilah mereka
berbuat zalim. Barangsiapa yang diberi pe-tunjuk oleh Allah
maka dialah yang mendapat
petunjuk, dan barangsiapa yang Dia
sesatkan maka mereka itu-lah orang-orang yang rugi. (Al-A’rāf [7]:178-179).
Orang-orang beragama yang seperti itu bukannya berusaha untuk “menghidupkan agama” dan “menegakkan
syariat” – sebagaima
Orang-orang beragama yang seperti itu bukannya berusaha untuk “menghidupkan agama” dan “menegakkan
syariat” – sebagaimana yang dilakukan Masih
Mau’ud a.s. dan para pengikut hakiki
beliau a.s. (QS.61:10), melainkan
menjadi orang-orang yang “mencari
kehidupan duniawi melalui agama,”
firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ لَوۡ کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ ٪﴿ ﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama, walaupun orang musyrik tidak menyukai. (Ash-Shaf [61]:10).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik
Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 18 Mei 2017
[1] Sekali-kali
kami tidak mengharapkan bahwa diri tuan Hafiz, na’udzubillâh, bahwa
beliau pernah mendustai Tuhan,
kemudian karena dia tidak mendapatkan hukuman
dari Tuhan maka berakidah seperti itu. Kami yakin bahwa mendustai Tuhan adalah pekerjaan
orang-orang kotor dan berdosa dan
pada akhirnya dia pasti dibinasakan.
(Pen).
[2] Sekali-kali aku
tidak percaya bahwa Tuan Hafiz mengingkari kedua wakiah (kisah)
itu, sebab saksi wakiah-wakiah
tersebut bukan hanya aku, tetapi juga suatu jemaat Muslim yang besar. Dan di
dalam buku Izalah Auham (Memperbaiki Kesalah-fahaman) ucapan lisan kasyaf Tuan maulvi Abdullah tetap termaksud di
dalamnya. Aku tahu sebenarnya bahwa Tuan Hafiz tidak sekali-kali akan
mengucapkan pendustaan nyata seperti
itu. Walaupun akan terjerumus ke dalam satu musibah besar di khalayak ramai,
saudaranya Muhammad Yaqub pun tidak mengingkarinya, lalu bagaimana mungkin dia
akan mengingkari….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar