Jumat, 19 Mei 2017

Para "Penentang Masih Mau'ud a.s." Menjadi Para "Penentang Al-Quran dan Nabi Besar MUhammad Saw." Berkenaan "Ketentuan Allah Swt." Tentang "Kebinasaan" Para "Pendakwa Palsu" & Perumpamaan Orang-orang yang "Terusir" dari "Surga Keridhaan" Allah Swt.


Bismillaahirrahmaanirrahiim

“ARBA’IN”

ARBA’IN LI-ITMÂMIL HUJJAH ‘ALAL MUKHALLIFÎN
(Empat Puluh Risalah, Menyempurnakan Argumen Bagi Para Penentang)

  Karya

  Mirza Ghulam Ahmad a.s.
(Al-Masih Al-Mau’ud a.s.   -- Al-Masih yang Dijanjikan a.s.)


Bagian 25

ARBA’ÎN KE III

  PARA PENENTANG MASIH MAU’UD A.S. MENJADI PARA PENENTANG AL-QURAN DAN NABI BESAR MUHAMMAD SAW.  TENTANG KETENTUAN ALLAH SWT. MENGENAI KEBINASAAN PARA PENDAKWA PALSU & PERUMPAMAAN ORANG-ORANG YANG TERUSIR DARI  SURGA KERIDHAAN  ALLAH SWT.  

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir  Bab sebelumnya   telah dikemukakan topik    Kebinasaan Abu Jahal dan Kawan-kawan   di Perang Badar & Jaminan Pertolongan Allah Swt. Kepada Masih Mau’ud a.s.  Doa buruk dan takabbur yang dipanjatkan dalam Perang Badar: Allāhumma, man kāna minnā  kādziban fa-ahnahu fiy hādza mawātini” (Ya Allah,  barangsiapa  di antara kami berdua dalam pandangan Engkau berdusta,   maka matikanlah dia dalam peperangan ini!)  doa buruk dan takabur  yang dipanjatkan  Abu Jahal tersebut sesuai dengan firman Allah Swt. dalam Al-Quran berikut ini:
وَ  اِذۡ  قَالُوا اللّٰہُمَّ  اِنۡ کَانَ ہٰذَا ہُوَ الۡحَقَّ مِنۡ عِنۡدِکَ فَاَمۡطِرۡ عَلَیۡنَا حِجَارَۃً مِّنَ السَّمَآءِ اَوِ ائۡتِنَا بِعَذَابٍ اَلِیۡمٍ ﴿﴾ وَ مَا کَانَ اللّٰہُ  لِیُعَذِّبَہُمۡ  وَ اَنۡتَ فِیۡہِمۡ ؕ وَ مَا کَانَ اللّٰہُ مُعَذِّبَہُمۡ وَ ہُمۡ یَسۡتَغۡفِرُوۡنَ ﴿﴾

Dan ingatlah ketika mereka berkata: “Ya Allah, jika  Al-Quran ini  benar-benar   kebenaran dari Engkau  maka hujanilah kami dengan batu dari langit atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih.”  Tetapi Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka selama engkau berada di tengah-tengah mereka  dan  Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka sedangkan  mereka  meminta ampun. (Al-Anfāl [8]:33-34).
        Kira-kira seperti kata-kata itu jugalah Abu Jahal mendoa di medan perang Badar (Bukhari — Kitab Tafsir). Doa itu dikabulkan secara harfiah. Abu Jahal bersama 7 orang  pemimpin Quraisy yang lain  -- seperti halnya para pemimpin kafir kaum Nabi Shalih a.s. (QS.27:46-54) --  terbunuh dan mayat-ayat mereka dilemparkan ke dalam sebuah lubang.
        Orang-orang kafir Mekkah mendapat hukuman Ilahi dalam perang Badar setelah Nabi Besar Muhammad saw.  meninggalkan Mekkah hijrah ke Madinah. Berdasarkan ayat 35 keberadaan  Rasul-rasul  Allah  di satu tempat berfungsi semacam perisai terhadap hukuman-hukuman dari langit. Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan:
     “Memang banyak orang yang ingkar di  dunia ini,  tetapi seorang yang munkar yang sangat merugi adalah yang tidak tahu akan  dirinya sendiri sebelum matinya bahwa dia itu dusta. Apakah Tuhan   di waktu itu berkuasa dan sekarang tidak lagi? Na’udzubillâh, sekali-kali tidak demikian, bahkan setiap yang hidup Dia melihatnya, dan pada akhirnya Tuhan-lah yang akan menang. [Dia berfirman]:
“Seorang Pemberi peringatan telah datang ke dunia,  tetapi dunia tidak menerimanya, namun Tuhan akan menerimanya, dan dengan serangan-Nya yang hebat akan dizahirkan-Nya kebenarannya.
     Dia-lah Tuhan Yang memiliki Tangan kuat, kapankah langit dan bumi beserta isi-isinya    pernah tunduk kepada kehendak manusia? Satu hari akan tiba yang Dia Sendiri menentukannya. Inilah tanda orang yang benar, ujian dan cobaan selalu ada pada mereka. Tuhan dengan penampakkan kebesaran-Nya turun pada hati mereka. Bagaimanakah bangunan itu akan runtuh sedangkan di dalamnya duduk bertahta Raja Yang Hakiki?
      Ejeklah dan tertawakanlah sepuas kalian, caci-makilah semau kalian, buatlah hal yang menyakiti hati sekemampuan  kalian, buatlah setiap macam rencana untuk membasmiku hingga ke akar-akarnya sekuat  tenaga kalian. Tetapi ingatlah, tak lama lagi Tuhan akan menampakkan, bahwa Tangan Tuhan tidak pernah terkalahkan. Orang bodoh berkata, “Aku akan sukses dengan rencanaku!” Tetapi Tuhan berfirman, “Hai manusia yang kena laknat! Perhatikanlah, Aku akan menghancurkan semua rencana kalian di atas tanah!”

Penentangan Para Ulama Islam Menggenapi Kebenaran Kabar Gaib Mengenai Masih Mau’ud a.s. dan Imam Mahdi a.s.

    Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan salah satu tanda kebenaran pendakwaannya sebagai Masih Mau’ud a.s. adalah mendapat penentangan sengit dari para ulama Islam sebagaimana yang terjadi terhadap  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dari para pemuka agama  kaum Yahudi, Allah Swt. berfirman  kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ لَمَّا ضُرِبَ ابۡنُ مَرۡیَمَ  مَثَلًا  اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ  یَصِدُّوۡنَ ﴿﴾  وَ قَالُوۡۤاءَ اٰلِہَتُنَا خَیۡرٌ اَمۡ ہُوَ ؕ مَا ضَرَبُوۡہُ  لَکَ  اِلَّا جَدَلًا ؕ بَلۡ ہُمۡ قَوۡمٌ خَصِمُوۡنَ ﴿﴾  اِنۡ ہُوَ اِلَّا عَبۡدٌ اَنۡعَمۡنَا عَلَیۡہِ وَ جَعَلۡنٰہُ  مَثَلًا   لِّبَنِیۡۤ   اِسۡرَآءِیۡلَ ﴿ؕ﴾
Dan apabila   Ibnu Maryam dikemukakan  sebagai misal tiba-tiba kaum engkau meneriakkan  penentangan  terhadapnya,  dan mereka berkata: "Apakah tuhan-tuhan kami lebih baik ataukah dia?" Mereka tidak menyebutkan hal itu kepada engkau melainkan perbantahan semata. Bahkan mereka adalah kaum yang biasa berbantah.    اِنۡ ہُوَ اِلَّا عَبۡدٌ اَنۡعَمۡنَا عَلَیۡہِ وَ جَعَلۡنٰہُ  مَثَلًا   لِّبَنِیۡۤ   اِسۡرَآءِیۡلَ  --   Ia (Isa Ibnu Maryam a.s.)  tidak lain melainkan seorang hamba yang telah Kami  anugerahi nikmat kepadanya, dan Kami menjadikan dia suatu perumpamaan  bagi Bani Israil. (Az-Zukhruf [43]:58-60).
        Shadda (yashuddu) berarti: ia menghalangi dia dari sesuatu, dan shadda (yashiddu) berarti: ia mengajukan sanggahan (protes) (Aqrab-ul-Mawarid). Makna “tuhan-tuhan kami” dalam ayat: وَ قَالُوۡۤاءَ اٰلِہَتُنَا خَیۡرٌ اَمۡ ہُوَ --  dan mereka berkata: "Apakah tuhan-tuhan kami lebih baik ataukah dia?" maknanya adalah para pemimpin agama  atau para pemimpin firqah agama mereka yang mereka “pertuhankan” – yakni ditaati secara taqlid buta --  sebagaimana yang terjadi di kalangan Bani Israil (Ahli Kitab), firman-Nya:
وَ قَالَتِ الۡیَہُوۡدُ عُزَیۡرُۨ  ابۡنُ اللّٰہِ وَ قَالَتِ النَّصٰرَی الۡمَسِیۡحُ  ابۡنُ  اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ ۚ یُضَاہِـُٔوۡنَ  قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ ؕ قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ ۚ۫ اَنّٰی  یُؤۡفَکُوۡنَ ﴿﴾  اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ مَرۡیَمَ ۚ وَ مَاۤ  اُمِرُوۡۤا  اِلَّا  لِیَعۡبُدُوۡۤا  اِلٰـہًا  وَّاحِدًا ۚ لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ؕ سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾  یُرِیۡدُوۡنَ  اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ بِاَفۡوَاہِہِمۡ وَ یَاۡبَی اللّٰہُ  اِلَّاۤ  اَنۡ  یُّتِمَّ  نُوۡرَہٗ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡکٰفِرُوۡنَ ﴿﴾  ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ ۙ وَ لَوۡ کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾
Dan  orang-orang Yahudi berkata: “Uzair adalah  anak Allah”, dan orang-orang Nasrani berkata: “Al-Masih adalah  anak  Allah.” Demikian itulah perkataan mereka dengan mulutnya, mereka  meniru-niru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah membinasakan mereka, bagaimana mereka sampai dipalingkan dari Tauhid?   Mereka telah menjadikan ulama-ulama mereka dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan begitu juga Al-Masih ibnu Maryam,   padahal  mereka tidak diperintahkan melainkan supaya mereka menyembah Tuhan Yang Mahaesa. Tidak ada Tuhan kecuali Dia. Maha-suci Dia dari apa yang mereka sekutukan Mereka berkehendak mema-damkan cahaya Allah  dengan mulut mereka, tetapi Allah menolak bahkan menyempurnakan cahaya-Nya, walau pun orang-orang kafir tidak menyukai.   Dia-lah Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang haq (benar), supaya Dia mengunggulkannya atas semua agama walau-pun orang-orang musyrik tidak me-nyukainya.  (At-Taubah [9]:30-33).
        Itulah makna ayat وَ قَالُوۡۤاءَ اٰلِہَتُنَا خَیۡرٌ اَمۡ ہُوَ --  dan mereka berkata: "Apakah tuhan-tuhan kami lebih baik ataukah dia?" (QS,43:58).  Yakni kedatangan Al-Masih a.s.  fi kalangan Bani Israil (kaum Yahudi)  -- yang dilahirkan “tanpa ayah”   -- adalah tanda bahwa orang-orang Yahudi akan dihinakan dan direndahkan serta akan kehilangan kenabian untuk selama-lamanya. Karena matsal berarti sesuatu yang semacam dengan atau sejenis dengan yang lain (QS.6:39).

Terjadinya Gerhana Bulan dan Gerhana Matahari Pada Bulan Ramadhan yang Sama

       Jadi makna ayat  وَ لَمَّا ضُرِبَ ابۡنُ مَرۡیَمَ  مَثَلًا  اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ  یَصِدُّوۡنَ – “Dan apabila   Ibnu Maryam dikemukakan  sebagai misal tiba-tiba kaum engkau meneriakkan  penentangan  terhadapnya”   di samping arti yang diberikan   dapat pula berarti bahwa bila kaum Nabi Besar Muhammad saw.   — yaitu kaum Muslimin — diberitahu bahwa orang lain yang seperti dan merupakan sesama Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. – sebagaimana Nabi Besar Muhammad Saw. merupakan misal Nabi Musa a.s. (QS.46:11) -- akan dibangkitkan di antara mereka, untuk memperbaharui mereka dan mengembalikan kejayaan ruhani mereka yang telah hilang (QS.32:6), mereka bukannya bergembira atas kabar gembira  dengan kedatangan Masih Mau’ud a.s. tersebut  malah mereka berteriak  mengajukan protes dan bahkan berusaha untuk membunuhnya, seperti yang dilakukan kaum Yahudi kepada Nabi Isa Ibnu Maryam a.s..
     Dengan demikian makna ayat 58  dapat dianggap mengisyaratkan kepada nubuatan  kedatangan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.   untuk kedua kalinya, yakni Masih Mau’ud a.s. yang muncul dari kalangan umat Islam. Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan:
     “Jika Tuhan menghendaki, kepada para  maulvi penentang dan pir (ajengan) pun bisa    diberikan mata yang dengannya mereka dapat  mengenal waktu dan masa  kapan saat turunnya Al-Masih dengan pasti. Telah menjadi kepastian bahwa kabar-gaib Quran Syarif dan hadits akan sempurna, dimana tertulis bahwa Masih Mau’ud akan zahir ke dunia ini  akan mengalami banyak kesedihan akibat ulah para ulama Islam sendiri.      
    Mereka mengkafirkannya dan memberikan  fatwa harus dibunuh serta difitnah akan dikeluarkan dari Islam, dianggap perusak agama. Maka di hari itu kabar gaib tersebut akan sempurna di tangan para maulvi. Sungguh sayang mereka tidak mau berfikir bahwa jika memang dakwa ini bukan kehendak Tuhan mengapa pula para diri pendakwa ini banyak terdapat dalil-dalil yang benar, sebagaimana terdapat pada nabi-nabi terdahulu yang suci dan benar?
       Malam itu adalah malam dukacita bagi mereka, dimana terjadinya gerhana bulan dan matahari tepat pada tanggal dan bulan Ramadhan, ketika aku mendakwakan diri sebagai Mahdi. Bukankah hari itu adalah hari musibah  atas mereka, dimana telah sempurnanya kabar gaibku tentang kematian Lekh Ram. Tuhan telah menurunkan tanda-tanda bagai curah hujan, akan tetapi mereka menutup matanya supaya tidak dapat menyaksikan kesempurnaan itu bahwa pendakwaan ini tidak  meleset, bahkan zahirnya tepat pada permulaan abad, pada saat kedatangannya sedang ditunggu-tunggu.

Para Penentang Masih Mau'ud a.s. Menjadi para Penentang Al-Quran dan Nabi Besar Muhammad saw.

     Sejak zaman Adam, hal ini sudah menjadi Sunnatullah bahwa seorang Mushlih Agung selalu datang pada permulaan abad, tepat pada saat diperlukan. Sebagaimana Nabi kita Muhammad saw. datang pada permulaan abad  ketujuh setelah Hadhrat Isa a.s., ketika dunia sedang berada dalam kegelapan. Dan jika angka 7 dilipatgandakan maka akan menjadi 14. Oleh sebab itu permulaan abad ke-14 telah ditakdirkan untuk Masih Mau’ud, hal  itu mengisyaratkan kepada keadaan kerusuhan dan kerusakan umat manusia sebagaimana terjadi di zaman setelah Hadhrat Isa a.s. hingga kedatangan Rasulullah saw..
      Kerusuhan dan kerusakan  di zaman Masih Mau’ud pun akan sama seperti itu pula, dan sebagaimana baru saja dijelaskan, yakni Allah telah menetapkan satu perkara besar di dalam Quran Syarif, dimana dalil itu pulalah yang dilontarkan kepada kaum Yahudi dan Nasrani. Dalil itu adalah bahwa Allah Ta’ala tidak memberi tempo kepada seorang pendakwa dusta dalam nubuatan (kenabian) atau ma’mur minallâh (yang mendapat perintah Allah).
      Bagaimanakah keimanan para maulvi itu, di mulutnya mengatakan beriman kepada Quran Syarif, tetapi menolak dalil-dalil yang telah ada di dalamnya. Jika memang mereka beriman kepada Quran Syarif dan mau mengoreksi kebenaranku atau kedustaanku menggunakan ketentuan itu, maka dengan mudah mereka akan mendapatkan kebenaran.
      Tetapi bagi para penentangku, mereka tidak menerima peraturan Quran Syarif itu, bahkan berkata, “Jika ada seseorang mengaku bahwa dia adalah Nabi Allah atau Rasul atau Ma’mur minallâh yang bercakap-cakap dengan-Nya, dan untuk memperbaiki akhlak manusia  secara perlahan-lahan dia menzahirkan jalan yang lurus, dan dia dapat hidup dalam waktu 23 atau 25 tahun -- yakni ketentuan waktu yang dijanjikan dalam nubuatan Rasulullah saw. terlewati – dan orang itu tidak mati dalam waktu yang telah ditentukan dan tidak pula terbunuh, maka  hal tersebut tidaklah menjadi suatu kelaziman, bahwa orang itu adalah nabi yang benar atau rasul yang benar atau seorang pembaharu  dari Allah dan mujaddid, walaupun pada kenyataannya Allah berkata-kata kepadanya”.   
    Anggapan yang demikian itu adalah kufur, sebab lazim darinya lahir pendustaan dan pengingkaran terhadap Kalam Tuhan. Sebab tiap orang berakal mengetahui bahwa Allah Ta’ala di dalam Quran Syarif memberikan dalil itu untuk membuktikan kebenaran Nabi Muhammad saw.. yaitu, “Jika orang ini berdusta, Aku akan membinasakannya.”
      Semua ulama tahu, bahwa meremehkan dalil ini adalah perbuatan kufur, sebab memperolok-olokkan dalil Tuhan ini – yang Dia Sendiri memberikannya atas kebenaran Rasulullah saw. dan Quran Syarif – jelas adalah mendustakan Kitabullah dan Rasul-Nya dan jelas dia itu kufur.
      Tetapi apa mau dikata perihal mereka, barangkali menurut mereka mendustai Tuhan adalah boleh, dan boleh saja berkata bagai seorang pengumpat seperti itu. Dan mungkin semua kedengkian ini adalah kedengkian Tuan Hafiz Muhammad Yusuf, sebab pada setiap pertemuan dia selalu berkata, “Seorang manusia selama 23 tahun mendustai Tuhan tidak akan mati.” Barangkali timbulnya ucapan itu karena dia telah beberapa kali mendustai Allah, Na’udzubillâh. Dan dia berkata, “Aku telah menerima ilham dan hingga hari ini masih hidup.”

Pengingkaran  Maulvi Abdullah   Ghaznawi  Mengenai Pernyataannya Sendiri Berkenaan Kebenaran Masih Mau’ud a.s.

      Jadi, dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa firman Tuhan berkenaan dengan Rasulullah saw. – yakni  ”Jika ia berdusta atas nama Kami maka Kami akan potong urat nadinya” – maka firman inipun menjadi bohong,[1] serta beranggapan pula, “Kenapa Tuhan tidak memotong urat nadi kami?”
     Jawabnya adalah, ayat ini berkaitan dengan nabi-nabi, rasul-rasul, atau orang-orang yang menerima perintah dari Tuhan, yang mengajak ratusan ribu manusia kepadanya yang apabila mengingkarinya dunia bisa binasa. Sedangkan jika  ada seorang insan semacam itu yang mendakwakan dirinya menerima perintah dari Tuhan tetapi tidak menyatakan (mendakwakan diri) sebagai pembaharu kaum dan tidak pula menerima nubuatan  dan kenabian, kecuali hanya untuk membuat tertawaan dan mengobarkan kerusuhan dengan pengakuan bahwa, “Aku telah menerima ilham atau melihat mimpi” kemudian mencampur-adukkan kebohongan di dalamnya. Dia tak ubahnya bagaikan ulat kekotoran, yang lahir dari kotoran sendiri dan mati di  dalam kotoran  itu juga.
    Tidak pantas Tuhan memberikan orang yang kotor semacam itu suatu kehormatan bahwa “Jika engkau mendustai Aku maka akan Kubinasakan engkau”, bahkan karena dia orang yang sangat hina sekali maka tidak seorangpun yang mengikutinya, tak seorangpun yang menganggapnya sebagai nabi atau rasul atau ma’mur minallâh (orang yang diperintah Allah).
      Walau pun ia selama 23 tahun bergelimang mendustai Tuhan, kami tidak tahu banyak tentang keadaan Tuan Muhammad Yusuf dan tidak pula mengharapkannya dalam hal ini, sebab Tuhan yang lebih tahu   keadaan yang sebenarnya tentang  perbuatannya. Kalau hanya dua ucapannya kami masih ingat dan pernah mendengar, dan sekarang dia mengingkarinya:
     Pertama, beberapa tahun yang lalu ia di dalam pertemuan-pertemuan besar mengatakan bahwa, “Maulvi Abdullah Gaznawi berkata kepadaku  bahwa telah turun satu  cahaya di Qadian dan anak keturunanku bernasib sial mahrum (luput) darinya”.  
     Kedua,  bahwa, “Tuhan telah melahirkan seorang manusia dan berkata-kata kepadanya, bahwa Mirza Ghulam Ahmad berada dalam kebenaran tetapi mengapa orang-orang mengingkarinya.”
    Kini aku berfikir, bahwa jika Tuan Hafiz sekarang mengingkari kedua wakiah (rujukan) tersebut, yang dia sendiri sering menerangkannya di hadapan orang banyak, maka – Na’udzubillâh – walaupun sebenar-benarnya dia mengingkari Tuhan, sebab seorang yang berkata benar   kalaupun dia mati tak mungkin bisa mengingkarinya.
     Sebagaimana saudaranya Tuan Muhammad Yaqub memberikan kesaksikan[2] bahwa di dalam tabir suatu mimpi Tuan Maulvi Abdullah Ghaznawi berkata, “Cahaya yang akan menerangi dunia adalah Mirza Ghulam Ahmad Qadiani”.     
    Sekarang, sempurnalah sudah bahwa Tuan Hafiz berulang-ulang menjelaskan kedua wakiah (rujukan/kisah) itu tetapi belum mengerti,  sehingga dianggap bahwa karena tuntutan usia tua kemampuan untuk mengingat menjadi hilang.
      Ketika aku  mendengar ucapan Tuan Hafiz tentang kasyaf Tuan Maulvi Abdullah tersebut di atas, sebenarnya aku telah 8 tahun lebih dulu menulisnya di dalam buku Izalah Auham. Apakah bisa seorang yang berakal menerima bahwa aku menulis satu kebohongan dari diriku sendiri dan Tuan Hafiz membacanya kemudian diam saja?
     Tak tahu ada apa di dalam diri Tuan Hafiz. Rupanya dia dengan sengaja  menyembunyikan bukti  suatu kebenaran. Dan dengan niat baik  pada lain kesempatan akan kuzahirkan, tetapi tak ada gunanya menyia-nyiakan umur, kinipun sudah saatnya untuk memperlihatkannya. Apa faedahnya bagi manusia kehidupan jasmaninya jika hanya menaburkan racun bagi kehidupan ruhaninya.
       Sering sekali aku mendengar dari Tuan Hafiz bahwa beliau adalah salah seorang yang membenarkanku, dan sikap mengadakan mubahalah (tanding doa meminta keputusan) dengan pendusta, dan dia banyak melewatkan umurnya dalam urusan ini. Dia selalu memperdengarkan mimpi-mimpinya di dalam mempertahankan diri, dan pernah pula bermubahalah dengan seorang penentang. Lalu kenapa kemudian condong kepada dunia?”

Perumpamaan “Anjing yang Menjulurkan Lidahnya

      Penyataan Masih Mau’ud a.s.  berkenaan Maulvi Abdullah Gaznawi: “Dia selalu memperdengarkan mimpi-mimpinya di dalam mempertahankan diri, dan pernah pula bermubahalah dengan seorang penentang. Lalu kenapa kemudian condong kepada dunia?”  selaras dengan firman Allah Swt. mengenai perumpamaan “seekor anjing” berikut ini, berikut firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ اتۡلُ عَلَیۡہِمۡ  نَبَاَ الَّذِیۡۤ  اٰتَیۡنٰہُ  اٰیٰتِنَا فَانۡسَلَخَ مِنۡہَا فَاَتۡبَعَہُ الشَّیۡطٰنُ فَکَانَ مِنَ  الۡغٰوِیۡنَ ﴿﴾ وَ لَوۡ شِئۡنَا لَرَفَعۡنٰہُ بِہَا وَ لٰکِنَّہٗۤ اَخۡلَدَ اِلَی الۡاَرۡضِ وَ اتَّبَعَ ہَوٰىہُ ۚ فَمَثَلُہٗ  کَمَثَلِ الۡکَلۡبِ ۚ اِنۡ  تَحۡمِلۡ عَلَیۡہِ یَلۡہَثۡ اَوۡ تَتۡرُکۡہُ یَلۡہَثۡ ؕ ذٰلِکَ مَثَلُ الۡقَوۡمِ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا ۚ فَاقۡصُصِ الۡقَصَصَ لَعَلَّہُمۡ یَتَفَکَّرُوۡنَ ﴿﴾
Dan ceritakanlah kepada mereka  berita orang-orang yang telah Kami berikan Tanda-tanda Kami kepadanya, lalu ia melepaskan diri darinya maka syaitan mengikutinya dan jadilah ia termasuk orang-orang yang sesat.  Dan seandainya  Kami menghendaki niscaya Kami meninggikan derajatnya dengan itu, akan tetapi ia cenderung ke bumi  dan mengikuti hawa nafsunya, maka keadaannya seperti seekor anjing yang kehausan, jika engkau menghalaunya ia menju-lurkan lidahnya dan jika engkau membiarkannya ia tetap menjulurkan   lidahnya. Demikianlah misal orang-orang yang mendustakan Tanda-tanda Kami, maka kisahkanlah kisah ini supaya mereka merenungkannya. (Al-A’rāf [7]:176-177).
    Yang dimaksudkan ayat 76  bukanlah seseorang tertentu melainkan semua orang yang kepada mereka Allah Swt.    memperlihatkan Tanda-tanda  Ilahi  melalui seorang nabi Allah yang kedatangannya dijanjikan  tapi  karena berbagai pertimbangan duniawi kemudian mereka menolaknya (mendustakannya).  
  Ungkapan semacam itu terdapat di tempat lain dalam Al-Quran (seperti QS.2:18). Ayat itu telah dikenakan secara khusus kepada seorang yang bernama Bal’am bin Ba’ura (Bileam bin Beor) yang menurut kisah pernah hidup di zaman Nabi Musa a.s. dan konon dahulunya ia seorang wali Allah yang doa-doanya maqbul. Tetapi kesombongan merusak pikirannya dan ia mengakhiri hidupnya dalam kenistaan.
   Ayat itu dapat juga dikenakan kepada Abu Jahal, pemimpin kaum kafir Mekkah, atau kepada  Abdullah bin Ubbay bin Salul  -- pemimpin orang-orang munafik Madinah,  atau dapat pula kepada tiap-tiap pemimpin kekafiran termamsuk di Akhir Zaman ini yang mendustakan dan menentang Masih Mau’ud a.s. (Rasul Akhir Zaman).
  Seandainya mereka tetap berpegang-teguh terhadap Tanda-tanda Ilahi yang telah disaksikannya:  لَرَفَعۡنٰہُ بِہَا  -- “niscaya Kami meninggikan derajatnya dengan itu,” yakni Allah Swt. akan menjadikan mereka menjadi orang-orang terpilih yang  bersama-sama dengan Rasul Allah yang kebenaran pendakwaannya mereka saksikan  sendiri.
  Makna ayat: وَ لٰکِنَّہٗۤ اَخۡلَدَ اِلَی الۡاَرۡضِ وَ اتَّبَعَ ہَوٰىہُ  --  “akan tetapi ia cenderung ke bumi  dan mengikuti hawa nafsunya,“ yakni ia lebih cenderung kepada hal-hal yang bersifat kebendaan (duniawi) -- pada khususnya kecintaan akan uang  -- sehingga bukannya kemuliaan akhlak dan ruhani yang diperolehnnya (QS.4:70-71), melainkan kehinaan martabat, sebagaimana iblis yang kemudian “diusir” Allah Swt.  dari “keadaan surgawi” yang sebelumnya dinikmatinya  lalu  menjadi pemimpin kekafiran  (QS.7:12-19).
   Sehubungan dengan hal tersebut selanjutnya Allah Swt. berfirman:  فَمَثَلُہٗ  کَمَثَلِ الۡکَلۡبِ ۚ اِنۡ  تَحۡمِلۡ عَلَیۡہِ یَلۡہَثۡ اَوۡ تَتۡرُکۡہُ یَلۡہَثۡ  -- “maka keadaannya seperti seekor anjing yang kehausan, jika engkau menghalaunya ia menjulurkan lidahnya dan jika engkau membiarkannya ia tetap menjulurkan   lidahnya.
    Yalhats   dari lahatsa, yang berarti nafasnya tersengal-sengal karena kelelahan atau kepenatan, maksudnya  adalah  baik diminta ataupun tidak untuk berkorban pada jalan agama (jalan Allah Swt.)  orang semacam itu nampaknya terengah-engah seperti seekor anjing kehausan, seakan-akan beban pemberian pengorbanan yang terus menerus bertambah membuatnya amat penat sekali.

Orang-orang yang Terusir dari  “Surga Keridhaaan” Allah Swt.

  Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai orang-orang yang “bernasib malang” – yang terusir dari “surga keridhaan Allah Swt.”   --  seperti itu:
سَآءَ مَثَلَاۨ الۡقَوۡمُ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اَنۡفُسَہُمۡ کَانُوۡا یَظۡلِمُوۡنَ ﴿ مَنۡ یَّہۡدِ اللّٰہُ فَہُوَ الۡمُہۡتَدِیۡ ۚ وَ مَنۡ یُّضۡلِلۡ  فَاُولٰٓئِکَ  ہُمُ  الۡخٰسِرُوۡنَ ﴿
Sangat buruk misal  orang-orang yang mendustakan Tanda-tanda Kami, dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim.    Barangsiapa yang diberi pe-tunjuk oleh Allah   maka dialah yang mendapat petunjuk, dan barangsiapa yang Dia sesatkan  maka mereka itu-lah orang-orang yang rugi. (Al-A’rāf [7]:178-179).
   Orang-orang  beragama yang seperti itu bukannya berusaha untuk “menghidupkan agama” dan “menegakkan syariat” – sebagaima
   Orang-orang  beragama yang seperti itu bukannya berusaha untuk “menghidupkan agama” dan “menegakkan syariat” – sebagaimana yang dilakukan Masih Mau’ud a.s. dan para pengikut hakiki beliau a.s. (QS.61:10),  melainkan menjadi orang-orang yang “mencari kehidupan duniawi melalui agama,” firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ  رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ  الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ  عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ ٪﴿ 
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama, walaupun orang musyrik tidak menyukai. (Ash-Shaf [61]:10). 

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
                                                                              ***
Pajajaran Anyar,  18 Mei     2017









[1] Sekali-kali kami tidak mengharapkan bahwa diri tuan Hafiz, na’udzubillâh, bahwa beliau pernah mendustai Tuhan, kemudian karena dia tidak mendapatkan hukuman dari Tuhan maka berakidah seperti itu. Kami yakin bahwa mendustai Tuhan adalah pekerjaan orang-orang kotor dan berdosa dan pada akhirnya dia pasti dibinasakan. (Pen).
[2] Sekali-kali aku tidak percaya   bahwa Tuan Hafiz mengingkari kedua wakiah (kisah) itu, sebab saksi wakiah-wakiah tersebut bukan hanya aku, tetapi juga suatu jemaat Muslim yang besar. Dan di dalam buku Izalah Auham (Memperbaiki Kesalah-fahaman)  ucapan lisan kasyaf  Tuan maulvi Abdullah tetap termaksud di dalamnya. Aku tahu sebenarnya bahwa Tuan Hafiz tidak sekali-kali akan mengucapkan pendustaan nyata seperti itu. Walaupun akan terjerumus ke dalam satu musibah besar di khalayak ramai, saudaranya Muhammad Yaqub pun tidak mengingkarinya, lalu bagaimana mungkin dia akan mengingkari…. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Persamaan "Sunnatullaah" Mengeai "Kebinasaan Para Pendusta" Atas Nama "Allah Swt." Dalam "Al-Quran" Dengan "Sunnatullaah" Dalam "Kitab-kitab Ilhami"Dalam "Bible"

Bismillaahirrahmaanirrahiim “ARBA’IN” ARBA’IN LI-ITMÂMIL HUJJAH ‘ALAL MUKHALLIFÎN (Empat Puluh Risalah, Menyempurnakan Argu...