Bismillaahirrahmaanirrahiim
“ARBA’IN”
ARBA’IN LI-ITMÂMIL HUJJAH ‘ALAL MUKHALLIFÎN
(Empat Puluh Risalah, Menyempurnakan Argumen Bagi Para
Penentang)
Karya
Mirza Ghulam Ahmad
a.s.
(Al-Masih Al-Mau’ud a.s.
-- Al-Masih yang Dijanjikan a.s.)
MAKNA IMAM MAHDI A.S.
AKAN “MEMBAGI-BAGIKAN HARTA” YANG BERLIMAPAH-RUAH DI AKHIR ZAMAN & PEMBUKAAN KHAZANAH RUHANI AL-QURAN DI AKHIR ZAMAN KEPADA MASIH
MAU’UD A.S.
Bagian 6
ARBA’ÎN KE I
D
|
alam
akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan topik Dua Makna Penyebutan “Sifat Ahmad” Nabi Besar Muhammad saw. sehubungan
dengan penyebutan nama “Ahmad”
oleh Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
mengenai Nabi Besar Muhammad saw. dalam Ash-Shaf
[61]:7.Makna ayat: وَ
مُبَشِّرًۢا بِرَسُوۡلٍ یَّاۡتِیۡ مِنۡۢ
بَعۡدِی اسۡمُہٗۤ اَحۡمَدُ -- dan memberi
kabar gembira mengenai seorang rasul
yang akan datang sesudahku namanya Ahmad”
mengandung dua makna:
(1) Mengisyaratkan
kepada Nabi Besar Muhammad saw. yang
merupakan misal Nabi Musa a.s. (Ulangan 18:15-19; QS.11:18; QS.46:11;
QS.73:16) tetapi beliau menyebutkan nama sifat jamal (kehalusan) Nabi Besar Muhammad saw. yaitu Ahmad.
(2) Mengisyaratkan kepada teman
sejawat beliau di kalangan Bani
Ismail – yakni misal Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58) atau “burung”
keempat Nabi Ibrahim a.s. (QS.2:261)
atau Masih Mau’ud a.s. yakni Mirza Ghulam Ahmad a.s., yang sekaligus merupakan kedatangan kedua kali secara ruhani Nabi Besar Muhammad saw.
(QS.62:3-4), yang akan mewujudkan kejayaan Islam yang kedua kali (QS.61:10) dengan cara-cara yang damai (lembut), sebagaimana halnya misi Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. yang lebih menekankan kepada pemaafan (pengampunan), bukan pembalasan sebagaimana ajaran Taurat (Matius 5:38-48; QS. 5.45-46).
Jadi, mengisyaratkan kepada penjelmaan
sifat “Ahmad” Nabi Besar Muhammad
saw. itulah yang dimaksud dengan pengutusan
kedua kali Nabi Besar Muhammad saw. secara
ruhani di Akhir Zaman ini dalam
wujud Masih Mau’ud a.s. atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., yang akan mewujudkan kembali kejayaan Islam kedua kali (QS.61:10) dengan cara-cara yang lembut dan penuh kasih-sayang (rahmat) tersebut,
firman-Nya:
ہُوَ
الَّذِیۡ بَعَثَ فِی الۡاُمِّیّٖنَ
رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا
عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِہٖ وَ
یُزَکِّیۡہِمۡ وَ
یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾ وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ
لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ
الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾ ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ
یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ ذُو الۡفَضۡلِ
الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa
yang buta huruf seorang rasul dari antara mereka,
yang membacakan kepada mereka
Tanda-tanda-Nya, mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada me-reka Kitab dan Hikmah وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ -- walaupun sebelumnya
mereka berada dalam kesesatan yang nyata وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ
لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ
الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ -- Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara me-reka, yang
belum bertemu dengan mereka. وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ
-- Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa,
Maha Bijaksana. ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ -- Itulah karunia
Allah, Dia menganugerahkannya kepada
siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah
mempunyai karunia yang besar. (Al-Jumu’ah [62]:3-5).
Hadits-hadits Tentang Misi Damai Masih Mau’ud a.s.
Sebagai Hakim yang Adil
Jadi, itulah makna perkataan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.: وَ مُبَشِّرًۢا بِرَسُوۡلٍ
یَّاۡتِیۡ مِنۡۢ بَعۡدِی اسۡمُہٗۤ اَحۡمَدُ -- dan memberi
kabar gembira mengenai seorang rasul
yang akan datang sesudahku namanya Ahmad”
dalam firman-Nya:
وَ اِذۡ قَالَ عِیۡسَی ابۡنُ مَرۡیَمَ یٰبَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ اِنِّیۡ
رَسُوۡلُ اللّٰہِ اِلَیۡکُمۡ مُّصَدِّقًا لِّمَا بَیۡنَ
یَدَیَّ مِنَ التَّوۡرٰىۃِ وَ مُبَشِّرًۢا بِرَسُوۡلٍ یَّاۡتِیۡ مِنۡۢ
بَعۡدِی اسۡمُہٗۤ اَحۡمَدُ ؕ
فَلَمَّا جَآءَہُمۡ بِالۡبَیِّنٰتِ
قَالُوۡا ہٰذَا سِحۡرٌ مُّبِیۡنٌ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Isa ibnu Maryam berkata: ”Hai Bani Israil, sesungguhnya aku Rasul Allah kepada kamu menggenapi apa
yang ada sebelumku yaitu Taurat, وَ مُبَشِّرًۢا بِرَسُوۡلٍ
یَّاۡتِیۡ مِنۡۢ بَعۡدِی اسۡمُہٗۤ اَحۡمَدُ -- dan memberi
kabar gembira mengenai seorang rasul
yang akan datang sesudahku namanya Ahmad.”
Maka tatkala ia datang kepada mereka dengan bukti-bukti yang jelas mereka berkata: “Ini adalah sihir
yang nyata.” (Ash-Shaf [61]:7).
Pernyataan Masih
Mau’ud a.s. sebelum ini: “Aku adalah penentang orang yang mengangkat pedang dan menumpahkan darah manusia atas nama agama” sesuai dengan berbagai sabda Nabi Besar
Muhammad Saw. mengenai misi kedatangan
Imam Mahdi a.s. atau Masih Mau’ud a.s. berikut ini:
Dari Abu Hurairah r.a berkata bahwa Nabi Muhammad Rasulullah
saw. bersabda: “Bagaimana keadaan kamu
apabila turun Isa bin Maryam di antara
kamu dan menjadi Imam kamu dari antara kamu” (Bukhari jilid II hal.166).
Dari Abu
Said Khudri r.a meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda: “Aku memberi kabar gembira tentang Imam Mahdi a.s yang akan dibangkitkan
dalam umatku dalam keadaan bahwa pada
waktu itu diantara manusia ada banyak perselisihan dan ada banyak kegoncangan
maka ia akan memenuhi bumi dengan para
marta dan keadilan, setelah penuh dengan ketidakadilan. Allah dan penghuni langit dan penghuni bumi
akan rela kepadanya dan ia akan
membagikan harta kepada semua orang dengan sama rata“ (Musnad
Ahmad bin Hambal jilid III hal.37).
Dari Abu
Said Al Khudri r.a meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda: “Al-Mahdi itu dari keturunanku, indah paras mukanya, bagus hidungnya, memenuhi muka bumi dengan kebaikan dan
keadilan, setelah penuh kejahatan dan kezaliman, berkuasa tujuh tahun”.
(Abu
Daud dan Misykat hal.470).
Rasulullah saw bersabda kepada Auf bin Malik : “……………fitnah-fitnah akan datang kelak
berturut-turut hingga akhirnya datang seorang laki-laki dari ahlil baitku yang
dipanggil orang Al Mahdi (Imam
Mahdi), andaikata engkau mengalaminya
ikutlah dia, masuklah ke golongan
orang-orang yang mendapat petunjuk”.
(Muntakhab
Kanzul Ummal, pada hamisy Musnad
Ahmad hal.404 j.5).
Dari Hadhrat Zabir bin Abdullah r.a berkata
bahwa Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa yang mengingkari keluarnya (kedatangan) Al Mahdi (Imam Mahdi
a.s), kufurlah ia kepada apa yang
diturunkan kepada Muhammad”. (Kitab Yanabi’ul Muwaddah hal.448).
Abu Hurairah r.a berkata bahwa Rasulullah saw
bersabda: “………….Nabi Musa a.s berkata,
“Hai Tuhanku! Sesungguhnya saya melihat dalam alwah (papan tulis)
bahwa akan ada satu kaum (umat), mereka diberikan ilmu awal dan akhir.
Dan mereka akan melawan dalam abad-abad
kesesatan dengan masih dajjal (kaum yang penipu). Nabi Musa a.s berkata:
“Hai Tuhanku jadikanlah itu umatku”.
Tuhan menjawab: “Itulah umat Ahmad”.
(Dalailun
Nubuate jilid I hal.14).
Dari
Ibnu Umar r.a berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: “Mahdi akan keluar di atas kepalanya
serban (memakai sorban) dan bersamanya ada penyeru yang menyerukan: Mahdi
Khalifah Allah ikutilah kamu dia” (Riwayat
Abu Nu’aim).
Rasulullah saw bersabda: “Sudah dekat orang yang hidup dari antara kamu akan bertemu dengan Ibnu Maryam sebagai Imam Mahdi dan Hakim yang adil, Ia akan memecahkan
salib dan akan membunuh babi”.
(Musnad
Ahmad bin Hambal jil.II hal.156).
“Love For All
Hatred For None” (Cinta Untuk Semua Tidak Ada Kebencian Bagi Seorang Pun)
Sehubungan dengan sabda-sabda Nabi
Besar Muhammad saw. tersebut selanjutnya
Masih Mau’ud a.s. bersabda:
“Aku
tegaskan kepada kaum Muslim, Kristen, Hindu, dan Ariya, bahwa bagiku tidak ada seorangpun musuh di dunia ini. Demikian rupa
kecintaanku
terhadap manusia bagaikan seorang ibu mencintai anaknya, bahkan lebih daripada itu. Aku
hanyalah musuh bagi itikad-itikad batil (palsu) yang
menyebabkan kebenaran menjadi
rusak. Mencintai manusia adalah tugasku dan memusuhi setiap
kerusakan akhlak, kecurangan, perbuatan buruk, kezaliman (keaniayaan), perbuatan
syirik dan kedustaan adalah pekerjaanku.”
Karena pada hakikatnya pengutusan Masih Mau’ud a.s. di Akhir Zaman ini merupakan pengutusan kedua kali secara ruhani Nabi Besar Muhammad saw. (QS.61:3-4) sebagai rahmat
bagi seluruh alam (QS.21:108) maka
demikian pula halnya dengan makna nama
(sifat) “Ahmad” Nabi Besar Muhammad
saw. yang disebut oleh Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s., sehubungan dengan Masih
Mau’ud a.s., firman-Nya:
لَقَدۡ
جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌ مِّنۡ اَنۡفُسِکُمۡ عَزِیۡزٌ عَلَیۡہِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِیۡصٌ
عَلَیۡکُمۡ بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ رَءُوۡفٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Sungguh
benar-benar telah datang kepada kamu seorang Rasul dari antara kamu sendiri, berat terasa olehnya apa yang menyusahkan
kamu, ia sangat mendambakan
kesejahteraan bagi kamu dan
terhadap orang-orang beriman ia
sangat berbelas kasih lagi penyayang.
(At-Taubah [9]:128).
Ayat ini boleh dikenakan kepada orang-orang beriman maupun kepada
orang-orang kafir -- tetapi terutama kepada orang-orang beriman. Bagian permulaannya mengenai orang-orang kafir dan bagian terakhir
mengenai orang-orang beriman. Kepada orang-orang
kafir nampaknya ayat ini mengatakan: “Rasulullāh
saw. merasa sedih melihat kamu mendapat kesusahan, yaitu sekalipun
kamu mendatangkan kepadanya segala macam keaniayaan dan kesusahan, namun
hatinya begitu sarat dengan rasa kasih-sayang kepada umat manusia, sehingga
tidak ada tindakan yang datang dari pihak kamu dapat membuatnya menjadi keras
hati terhadap kamu dan membuat ia menginginkan keburukan bagi kamu. Ia begitu
penuh kasih-sayang dan belas kasihan terhadap kamu, sehingga ia tidak tega hati
melihat kamu menyimpang dari jalan kebenaran hingga mendatangkan kesusahan
kepada kamu.”
Kepada orang-orang
beriman ayat ini berkata: “Rasulullāh saw. penuh dengan
kecintaan, kasih-sayang, dan rahmat bagi kamu, yaitu ia dengan riang dan
gembira ikut dengan kamu dalam menanggung kesedihan dan kesengsaraan kamu. Lagi
pula, seperti seorang ayah yang penuh dengan kecintaan ia memperlakukan kamu,
dengan sangat murah hati dan kasih-sayang.”
Keterpaksaan Melakukan Perang
di Zaman Nabi Besar Muhammad Saw.
Pada hakikatnya peperangan yang dilakukan oleh Nabi
Besar Muhammad saw. dan para sahabat r.a. dengan orang-orang kafir yang terus menerus berusaha menggagalkan misis suci
beliau saw. dengan segala cara –
termasuk melakukan pembunuhan (QS.8:31) --
hanyalah keterpaksaan belaka
dan sesuai izin dan perintah Allah Swt., sebab jika tidak demikian maka agama
Islam dan umat Islam tidak akan pernah
ada di dunia ini, firman-Nya:
اُذِنَ لِلَّذِیۡنَ یُقٰتَلُوۡنَ
بِاَنَّہُمۡ ظُلِمُوۡا ؕ وَ اِنَّ
اللّٰہَ عَلٰی نَصۡرِہِمۡ
لَقَدِیۡرُۨ ﴿ۙ﴾الَّذِیۡنَ اُخۡرِجُوۡا مِنۡ
دِیَارِہِمۡ بِغَیۡرِ حَقٍّ اِلَّاۤ
اَنۡ یَّقُوۡلُوۡا رَبُّنَا اللّٰہُ ؕ وَ لَوۡ لَا دَفۡعُ اللّٰہِ النَّاسَ
بَعۡضَہُمۡ بِبَعۡضٍ لَّہُدِّمَتۡ صَوَامِعُ وَ بِیَعٌ وَّ صَلَوٰتٌ وَّ مَسٰجِدُ
یُذۡکَرُ فِیۡہَا اسۡمُ اللّٰہِ کَثِیۡرًا ؕ وَ لَیَنۡصُرَنَّ اللّٰہُ مَنۡ
یَّنۡصُرُہٗ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ ﴿﴾ اَلَّذِیۡنَ اِنۡ مَّکَّنّٰہُمۡ فِی الۡاَرۡضِ اَقَامُوا الصَّلٰوۃَ وَ اٰتَوُا
الزَّکٰوۃَ وَ اَمَرُوۡا بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَ
نَہَوۡا عَنِ الۡمُنۡکَرِ ؕ وَ لِلّٰہِ
عَاقِبَۃُ الۡاُمُوۡرِ ﴿﴾
Diizinkan berperang
bagi mereka yang telah diperangi, karena mereka telah dizalimi, dan
sesung-uhnya Allah berkuasa menolong mereka. Yaitu orang-orang yang telah diusir dari rumah-rumah mereka tanpa haq hanya karena mereka berkata: “Rabb (Tuhan) kami Allah.” Dan seandainya Allah tidak menangkis
sebagian manusia oleh sebagian yang lain niscaya akan hancur
biara-biara, gereja-gereja,
rumah-rumah ibadah, dan masjid-masjid yang di dalamnya banyak
disebut nama Allah, dan
Allah pasti akan menolong siapa
yang menolong-Nya, sesungguhnya Allah
Maha Kuasa, Maha Perkasa. Orang-orang yang jika Kami meneguhkannya di bumi mereka men-dirikan shalat, membayar zakat, menyuruh
berbuat kebaikan dan melarang dari
keburukan. Dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.
(Al-Hajj
[22]:40-42).
Makna “Pembagian Harta” Oleh Imam Mahdi a.s.
Lebih lanjut Masih Mau’ud a.s. bersabda
mengenai alasan mengapa penting bagi
umat manusia untuk beriman dan membantu misi
sucinya di Akhir Zaman ini, yang
sangat erat hubungannya makna “pembagian harta” oleh Imam Mahdi a.s. dalam hadits sebelum
ini:
“Penyebab
timbulnya gejolak kasih-sayangku terhadap sesama manusia adalah karena aku telah menemukan satu “tambang emas”
dan mendapat kabar di “tambang mutiara”.
Dan aku adalah orang yang bernasib baik,
sebab aku telah mendapatkan satu “permata manikam
berlian” yang berkilau dari “tambang” itu, dan nilai “berlian” tersebut jika aku
bagi-bagikan kepada anda semua maka aku
masih akan lebih kaya daripada seorang
yang terkaya, pemilik emas dan perak di dunia saat ini.
Tahukan
anda sekalian apakah mutiara (berlian) itu? Tak lain dan tak bukan adalah Tuhan
Yang Maha Benar. Dan bagaimanalah
cara memperoleh-Nya? Caranya adalah mengenal-Nya,
mengimani-Nya dengan sebenar-benarnya. Munculkanlah rasa
cinta kepada-Nya, dan dapatkanlah
berkat-berkat yang banyak dari-Nya.”
Sehubungan dengan hal tersebut –
sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya --
dari Abu Said Khudri r.a. meriwayatkan bahwa
Rasulullah saw bersabda: “Aku memberi
kabar gembira tentang Imam Mahdi a.s
yang akan dibangkitkan dalam umatku dalam keadaan bahwa pada waktu itu diantara manusia ada banyak perselisihan dan ada banyak
kegoncangan maka ia akan memenuhi
bumi dengan para marta dan keadilan, setelah penuh dengan ketidakadilan. Allah dan penghuni langit dan penghuni bumi
akan rela kepadanya dan ia akan
membagikan harta kepada semua orang dengan sama rata“ (Musnad
Ahmad bin Hambal jilid III hal.37).
Jadi, yang
dimaksud dengan “harta kekayaan” berlimpah-ruah yang akan dibagi-bagikan oleh
Imam Mahdi a.s. atau Masih Mau’ud a.s. bukanlah berupa harta-kekayaan -- sebagaimana disangka umumnya para penafsir
hadits tersebut -- melainkan harta
kekayaan ruhani berupa rahasia-rahasia
baru khazanah ruhani Al-Quran
yang dibukakan
Allah Swt. kepada beliau di Akhir Zaman ini, yang jauh lebih berlimpah-ruah dan lebih bermutu daripada khazanah
ruhani Al-Quran yang pernah dianugerahkan
Allah Swt. kepada para wali Allah dan
para mujaddid sebelumnya, firman-Nya:
عٰلِمُ الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی
غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا ﴿ۙ﴾ اِلَّا
مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ بَیۡنِ یَدَیۡہِ وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا﴿ۙ﴾ لِّیَعۡلَمَ
اَنۡ قَدۡ اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ رَبِّہِمۡ وَ اَحَاطَ
بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ اَحۡصٰی کُلَّ شَیۡءٍ
عَدَدًا ﴿٪﴾
Dia-lah Yang mengetahui yang gaib, maka Dia tidak menzahirkan rahasia gaib-Nya kepada siapa
pun, kecuali kepada Rasul yang Dia ridhai, maka sesungguhnya baris-an pengawal berjalan di hadapannya
dan di belakangnya, supaya
Dia mengetahui bahwa sungguh
mereka telah menyampaikan Amanat-amanat Rabb (Tuhan) mereka, dan Dia meliputi semua yang ada pada mereka dan Dia membuat perhitungan mengenai segala sesuatu. (Al-Jin
[72]:27-29).
Ungkapan, “izhhar ‘ala al-ghaib,” berarti, diberi
pengetahuan dengan sering dan secara berlimpah-limpah mengenai rahasia gaib
bertalian dengan dan mengenai peristiwa dan kejadian yang sangat penting. Ayat ini merupakan ukuran yang tiada tara bandingannya guna membedakan antara sifat
dan jangkauan rahasia-rahasia gaib
yang dibukakan kepada seorang rasul Tuhan
dan rahasia-rahasia gaib yang
dibukakan kepada orang-orang mukmin
bertakwa lainnya.
Perbedaan itu letaknya pada kenyataan bahwa, kalau rasul-rasul Tuhan dianugerahi izhhar
‘ala al-ghaib -- penguasaan atas yang gaib, maka rahasia-rahasia yang diturunkan kepada orang-orang bertakwa dan orang-orang suci lainnya tidak menikmati
kehormatan serupa itu.
Tambahan pula wahyu Ilahi yang dianugerahkan kepada rasul-rasul Tuhan -- karena
ada dalam pemeliharaan-istimewa-Ilahi -- keadaannya aman
dari pemutar-balikkan atau pemalsuan oleh jiwa-jiwa yang jahat, sedang rahasia-rahasia
yang dibukakan kepada orang-orang
bertakwa lainnya tidak begitu terpelihara.
Kekikiran dan Kemiskinan Khazanah Ruhani Al-Quran
Selanjutnya Masih Mau’ud
a.s. menjelaskan mengenai
orang-orang yang kikir dan miskin ruhani:
“Nilai
kekayaan
yang berikut adalah sangat zalim
(aniaya), yakni membiarkan orang lain mati kelaparan dan berfoya-foya
sendirian. Sifat yang seperti itu tidak terdapat pada diriku, hatiku hancur-luluh menyaksikan kefakiran dan kelaparan mereka. Nyawaku hampir putus melihat kesusahan dan kegelapan mereka. Aku
menghendaki agar rumah mereka penuh dengan khazanah langit, dan memperoleh
mutiara keyakinan-keyakinan
dan mutiara kebenaran hingga memenuhi lubuk hati mereka.
Jelaslah,
bahwa setiap sesuatu mencintai asal jenisnya
(sesamanya), sehingga semut pun
tidak luput dari hal itu. Jika ada satu yang tidak berdaya maka mereka tidak
tega membiarkannya. Oleh sebab itu itu barangsiapa
diseru kepada jalan Allah,
kewajiban utamanya adalah mencintai-Nya,
karena itulah aku sangat mencintai manusia.”
Sehubungan dengan rumah-rumah yang penuh dengan “khazanah langit” yang dimaksud
Masih Mau’ud a.s. tersebut
Allah Swt. berfirman:
اَللّٰہُ نُوۡرُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ مَثَلُ
نُوۡرِہٖ کَمِشۡکٰوۃٍ فِیۡہَا مِصۡبَاحٌ ؕ
اَلۡمِصۡبَاحُ فِیۡ زُجَاجَۃٍ ؕ اَلزُّجَاجَۃُ کَاَنَّہَا کَوۡکَبٌ دُرِّیٌّ
یُّوۡقَدُ مِنۡ شَجَرَۃٍ مُّبٰرَکَۃٍ
زَیۡتُوۡنَۃٍ لَّا
شَرۡقِیَّۃٍ وَّ لَا غَرۡبِیَّۃٍ ۙ
یَّکَادُ زَیۡتُہَا یُضِیۡٓءُ وَ لَوۡ لَمۡ تَمۡسَسۡہُ نَارٌ ؕ نُوۡرٌ عَلٰی
نُوۡرٍ ؕ یَہۡدِی اللّٰہُ لِنُوۡرِہٖ مَنۡ
یَّشَآءُ ؕ وَ یَضۡرِبُ اللّٰہُ الۡاَمۡثَالَ لِلنَّاسِ ؕ وَ اللّٰہُ بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ ﴿ۙ﴾ فِیۡ بُیُوۡتٍ اَذِنَ اللّٰہُ اَنۡ تُرۡفَعَ وَ یُذۡکَرَ فِیۡہَا اسۡمُہٗ ۙ
یُسَبِّحُ لَہٗ فِیۡہَا بِالۡغُدُوِّ وَ
الۡاٰصَالِ ﴿ۙ﴾ رِجَالٌ ۙ لَّا تُلۡہِیۡہِمۡ تِجَارَۃٌ وَّ لَا بَیۡعٌ عَنۡ ذِکۡرِ اللّٰہِ وَ اِقَامِ الصَّلٰوۃِ وَ اِیۡتَآءِ
الزَّکٰوۃِ ۪ۙ یَخَافُوۡنَ یَوۡمًا تَتَقَلَّبُ فِیۡہِ الۡقُلُوۡبُ وَ
الۡاَبۡصَارُ ﴿٭ۙ﴾ لِیَجۡزِیَہُمُ اللّٰہُ اَحۡسَنَ مَا عَمِلُوۡا وَ یَزِیۡدَہُمۡ مِّنۡ
فَضۡلِہٖ ؕ وَ اللّٰہُ یَرۡزُقُ مَنۡ یَّشَآءُ
بِغَیۡرِ حِسَابٍ ﴿﴾
Allah adalah Nur seluruh langit dan bumi. Perumpamaan
nur-Nya seperti sebuah relung yang di dalamnya ada pelita. Pelita itu ada dalam kaca. Kaca itu seperti bintang yang gemerlapan. Pelita
itu dinyalakan dengan minyak
dari sebatang pohon kayu yang diberkati, yaitu pohon
zaitun yang bukan di timur dan bukan di barat, minyaknya hampir-hampir bercahaya walaupun api tidak menyentuhnya. نُوۡرٌ عَلٰی نُوۡرٍ ؕ یَہۡدِی اللّٰہُ لِنُوۡرِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ -- Nur di atas nur. Allah memberi bimbingan menuju nur-Nya
kepada siapa yang Dia kehendaki, وَ یَضۡرِبُ اللّٰہُ الۡاَمۡثَالَ لِلنَّاسِ ؕ وَ اللّٰہُ بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ -- dan Allah
mengemukakan tamsil-tamsil untuk manusia, dan Allāh Maha Me-ngetahui segala
sesuatu. فِیۡ
بُیُوۡتٍ اَذِنَ اللّٰہُ اَنۡ
تُرۡفَعَ وَ یُذۡکَرَ فِیۡہَا اسۡمُہٗ ۙ یُسَبِّحُ لَہٗ فِیۡہَا بِالۡغُدُوِّ وَ الۡاٰصَالِ -- Di dalam rumah yang Allah
telah mengizinkan supaya ditinggikan dan nama-Nya diingat di dalamnya,
bertasbih kepada-Nya di dalamnya
pada waktu pagi dan petang. رِجَالٌ ۙ لَّا تُلۡہِیۡہِمۡ تِجَارَۃٌ وَّ لَا بَیۡعٌ عَنۡ ذِکۡرِ اللّٰہِ وَ اِقَامِ الصَّلٰوۃِ وَ اِیۡتَآءِ
الزَّکٰوۃِ -- Orang-orang lelaki, tidak melalaikan mereka dari mengingat Allah perniagaan dan tidak pula jual-beli, mendirikan shalat dan membayar zakat, یَخَافُوۡنَ یَوۡمًا تَتَقَلَّبُ فِیۡہِ
الۡقُلُوۡبُ وَ الۡاَبۡصَارُ -- mereka
takut akan hari ketika di dalamnya hati dan mata berubah-ubah, لِیَجۡزِیَہُمُ اللّٰہُ اَحۡسَنَ مَا عَمِلُوۡا وَ یَزِیۡدَہُمۡ مِّنۡ
فَضۡلِہٖ -- supaya Allah
memberi mereka ganjaran yang sebaik-baik-nya
atas apa yang telah mereka kerjakan, وَ یَزِیۡدَہُمۡ مِّنۡ فَضۡلِہٖ ؕ وَ اللّٰہُ یَرۡزُقُ مَنۡ
یَّشَآءُ بِغَیۡرِ حِسَابٍ -- dan Allah
akan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan.
(An-Nūr
[24]:26-39).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik
Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 12 April 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar