Jumat, 14 April 2017

Makna "Imam Mahdi a.s." Akan Membagi-bagikan "Harta yang Berlimah-ruah" di Akhir Zaman & Pembukaan "Khazanah Ruhani Al-Quran" di Akhir Zaman Kepada Masih Mau'ud a.s.


Bismillaahirrahmaanirrahiim

“ARBA’IN”

ARBA’IN LI-ITMÂMIL HUJJAH ‘ALAL MUKHALLIFÎN
(Empat Puluh Risalah, Menyempurnakan Argumen Bagi Para Penentang)

  Karya
  Mirza Ghulam Ahmad a.s.
(Al-Masih Al-Mau’ud a.s.   -- Al-Masih yang Dijanjikan a.s.)



MAKNA IMAM MAHDI A.S. AKAN “MEMBAGI-BAGIKAN HARTA” YANG BERLIMAPAH-RUAH DI AKHIR ZAMAN &  PEMBUKAAN KHAZANAH RUHANI AL-QURAN DI  AKHIR ZAMAN KEPADA  MASIH MAU’UD A.S.

Bagian 6

ARBA’ÎN KE I

D
alam akhir  Bab sebelumnya telah dikemukakan topik  Dua Makna Penyebutan “Sifat Ahmad” Nabi Besar Muhammad saw.  sehubungan dengan  penyebutan nama “Ahmad”  oleh Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  mengenai  Nabi Besar Muhammad saw.  dalam  Ash-Shaf [61]:7.Makna ayat: وَ مُبَشِّرًۢا  بِرَسُوۡلٍ یَّاۡتِیۡ  مِنۡۢ  بَعۡدِی اسۡمُہٗۤ  اَحۡمَدُ --  dan memberi kabar gembira mengenai seorang rasul yang akan datang sesudahku namanya Ahmad     mengandung dua makna:
      (1) Mengisyaratkan kepada Nabi Besar Muhammad saw.   yang merupakan misal Nabi Musa a.s. (Ulangan 18:15-19; QS.11:18; QS.46:11; QS.73:16) tetapi beliau menyebutkan nama sifat jamal (kehalusan) Nabi Besar Muhammad saw. yaitu Ahmad.
      (2) Mengisyaratkan kepada teman sejawat beliau di kalangan Bani Ismail – yakni misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58) atau “burung” keempat Nabi Ibrahim a.s. (QS.2:261)  atau Masih Mau’ud a.s. yakni Mirza Ghulam Ahmad a.s., yang  sekaligus merupakan kedatangan kedua kali secara ruhani Nabi Besar Muhammad saw. (QS.62:3-4), yang akan mewujudkan kejayaan  Islam yang kedua kali (QS.61:10) dengan cara-cara yang damai (lembut), sebagaimana halnya misi   Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. yang lebih menekankan kepada pemaafan (pengampunan), bukan pembalasan  sebagaimana ajaran Taurat  (Matius 5:38-48; QS. 5.45-46).
         Jadi, mengisyaratkan kepada penjelmaan sifat “Ahmad” Nabi Besar Muhammad saw. itulah yang dimaksud dengan pengutusan kedua kali Nabi Besar Muhammad saw. secara ruhani di Akhir Zaman ini dalam wujud Masih Mau’ud a.s. atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.,  yang akan mewujudkan kembali kejayaan Islam kedua kali  (QS.61:10) dengan cara-cara yang lembut dan penuh kasih-sayang (rahmat) tersebut,    firman-Nya:
  ہُوَ الَّذِیۡ  بَعَثَ فِی  الۡاُمِّیّٖنَ  رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ  یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتِہٖ  وَ  یُزَکِّیۡہِمۡ وَ  یُعَلِّمُہُمُ  الۡکِتٰبَ وَ  الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾  وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾   ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta huruf  seorang  rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nyamensucikan mereka, dan mengajarkan kepada me-reka Kitab dan Hikmah  وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ --   walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ -- Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara me-reka, yang belum bertemu dengan mereka.  وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ  -- Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksanaذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ  --  Itulah karunia Allah, Dia menganugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Al-Jumu’ah [62]:3-5).

Hadits-hadits Tentang Misi Damai Masih Mau’ud a.s.  Sebagai Hakim yang Adil

        Jadi, itulah makna  perkataan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.:  وَ مُبَشِّرًۢا  بِرَسُوۡلٍ یَّاۡتِیۡ  مِنۡۢ  بَعۡدِی اسۡمُہٗۤ  اَحۡمَدُ --  dan memberi kabar gembira mengenai seorang rasul yang akan datang sesudahku namanya Ahmad      dalam firman-Nya:
وَ اِذۡ قَالَ عِیۡسَی ابۡنُ  مَرۡیَمَ یٰبَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ  اِنِّیۡ  رَسُوۡلُ  اللّٰہِ  اِلَیۡکُمۡ مُّصَدِّقًا  لِّمَا بَیۡنَ  یَدَیَّ  مِنَ  التَّوۡرٰىۃِ وَ مُبَشِّرًۢا  بِرَسُوۡلٍ یَّاۡتِیۡ  مِنۡۢ  بَعۡدِی اسۡمُہٗۤ  اَحۡمَدُ ؕ فَلَمَّا جَآءَہُمۡ  بِالۡبَیِّنٰتِ قَالُوۡا ہٰذَا  سِحۡرٌ  مُّبِیۡنٌ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Isa ibnu Maryam berkata: ”Hai Bani Israil, sesungguhnya aku Rasul Allah kepada kamu menggenapi apa yang ada sebelumku yaitu Taurat, وَ مُبَشِّرًۢا  بِرَسُوۡلٍ یَّاۡتِیۡ  مِنۡۢ  بَعۡدِی اسۡمُہٗۤ  اَحۡمَدُ --  dan memberi kabar gembira mengenai seorang rasul yang akan datang sesudahku namanya Ahmad.”  Maka tatkala ia datang kepada mereka dengan bukti-bukti yang jelas mereka berkata: “Ini adalah  sihir yang nyata.” (Ash-Shaf [61]:7).
        Pernyataan Masih Mau’ud a.s. sebelum ini: “Aku adalah penentang orang yang mengangkat pedang  dan menumpahkan darah manusia atas nama agama”   sesuai dengan berbagai sabda Nabi Besar Muhammad Saw. mengenai misi kedatangan Imam Mahdi a.s. atau Masih Mau’ud a.s. berikut ini:
         Dari Abu Hurairah r.a berkata bahwa Nabi Muhammad Rasulullah saw. bersabda: “Bagaimana keadaan kamu apabila turun Isa bin Maryam di antara kamu dan menjadi Imam kamu dari antara kamu”  (Bukhari jilid II hal.166).
         Dari  Abu Said Khudri r.a meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda: “Aku memberi kabar gembira tentang Imam Mahdi a.s yang akan dibangkitkan dalam umatku dalam keadaan bahwa pada waktu itu diantara manusia ada banyak perselisihan dan ada banyak kegoncangan maka ia akan memenuhi bumi dengan para marta dan keadilan, setelah penuh dengan ketidakadilan. Allah dan penghuni langit dan penghuni bumi akan rela kepadanya dan ia akan membagikan harta kepada semua orang dengan sama rata“ (Musnad Ahmad bin Hambal jilid III hal.37).
     Dari   Abu Said Al Khudri r.a meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda: “Al-Mahdi itu dari keturunanku, indah paras mukanya, bagus hidungnya, memenuhi muka bumi dengan kebaikan dan keadilan, setelah penuh kejahatan dan kezaliman, berkuasa tujuh tahun”. (Abu Daud dan Misykat hal.470).
        Rasulullah saw bersabda  kepada Auf bin Malik : “……………fitnah-fitnah akan datang kelak berturut-turut hingga akhirnya datang seorang laki-laki dari ahlil baitku yang dipanggil orang Al Mahdi (Imam Mahdi), andaikata engkau mengalaminya ikutlah dia, masuklah ke golongan orang-orang yang mendapat petunjuk”. (Muntakhab Kanzul Ummal, pada hamisy Musnad Ahmad hal.404 j.5).
        Dari Hadhrat Zabir bin Abdullah r.a berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa yang mengingkari keluarnya (kedatangan) Al Mahdi (Imam Mahdi a.s), kufurlah ia kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad”. (Kitab Yanabi’ul Muwaddah hal.448).
         Abu Hurairah r.a berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: “………….Nabi Musa a.s berkata, “Hai Tuhanku! Sesungguhnya saya melihat dalam alwah (papan tulis) bahwa akan ada satu kaum (umat), mereka diberikan ilmu awal dan akhir. Dan mereka akan melawan dalam abad-abad kesesatan dengan masih dajjal (kaum yang penipu). Nabi Musa a.s berkata: “Hai Tuhanku jadikanlah itu umatku”. Tuhan menjawab: “Itulah umat Ahmad”. (Dalailun Nubuate jilid I hal.14).
        Dari Ibnu Umar r.a berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: “Mahdi akan keluar di atas kepalanya serban (memakai sorban) dan bersamanya ada penyeru yang menyerukan: Mahdi Khalifah Allah ikutilah kamu dia” (Riwayat Abu Nu’aim).
        Rasulullah saw bersabda: “Sudah dekat orang yang hidup dari antara kamu akan bertemu dengan Ibnu Maryam sebagai Imam Mahdi dan Hakim yang adil, Ia akan memecahkan salib dan akan membunuh babi”. (Musnad Ahmad bin Hambal jil.II hal.156).

Love For All Hatred For None” (Cinta Untuk Semua Tidak Ada Kebencian Bagi Seorang Pun)

          Sehubungan dengan sabda-sabda Nabi Besar Muhammad saw.  tersebut selanjutnya Masih Mau’ud a.s. bersabda:
      “Aku tegaskan kepada kaum Muslim, Kristen, Hindu, dan Ariya, bahwa bagiku tidak ada seorangpun musuh di dunia ini. Demikian rupa kecintaanku terhadap manusia bagaikan seorang ibu mencintai anaknya, bahkan lebih daripada itu. Aku hanyalah musuh bagi itikad-itikad batil (palsu) yang menyebabkan kebenaran menjadi rusak.   Mencintai manusia adalah tugasku dan memusuhi setiap kerusakan akhlak, kecurangan, perbuatan buruk, kezaliman (keaniayaan), perbuatan syirik dan kedustaan adalah pekerjaanku.”
       Karena pada hakikatnya pengutusan Masih Mau’ud a.s. di Akhir Zaman ini merupakan pengutusan kedua kali secara ruhani Nabi Besar Muhammad saw. (QS.61:3-4)   sebagai rahmat bagi seluruh alam (QS.21:108) maka demikian pula halnya dengan makna nama (sifat) “Ahmad” Nabi Besar Muhammad saw. yang disebut oleh Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., sehubungan dengan Masih Mau’ud a.s.,  firman-Nya:
لَقَدۡ جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌ مِّنۡ اَنۡفُسِکُمۡ عَزِیۡزٌ عَلَیۡہِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِیۡصٌ عَلَیۡکُمۡ بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ رَءُوۡفٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Sungguh benar-benar  telah datang kepada kamu seorang Rasul dari antara kamu sendiri, berat terasa olehnya apa yang menyusahkan kamu, ia sangat mendambakan kesejahteraan bagi kamu dan  terhadap orang-orang beriman  ia sangat berbelas kasih lagi penyayang. (At-Taubah [9]:128).
        Ayat ini boleh dikenakan kepada orang-orang beriman  maupun kepada orang-orang kafir -- tetapi terutama kepada orang-orang beriman. Bagian permulaannya mengenai orang-orang kafir dan bagian terakhir mengenai orang-orang beriman.  Kepada orang-orang kafir nampaknya ayat ini mengatakan: “Rasulullāh saw. merasa sedih melihat kamu mendapat kesusahan, yaitu sekalipun kamu mendatangkan kepadanya segala macam keaniayaan dan kesusahan, namun hatinya begitu sarat dengan rasa kasih-sayang kepada umat manusia, sehingga tidak ada tindakan yang datang dari pihak kamu dapat membuatnya menjadi keras hati terhadap kamu dan membuat ia menginginkan keburukan bagi kamu. Ia begitu penuh kasih-sayang dan belas kasihan terhadap kamu, sehingga ia tidak tega hati melihat kamu menyimpang dari jalan kebenaran hingga mendatangkan kesusahan kepada kamu.”
       Kepada orang-orang beriman  ayat ini berkata: “Rasulullāh saw. penuh dengan kecintaan, kasih-sayang, dan rahmat bagi kamu, yaitu ia dengan riang dan gembira ikut dengan kamu dalam menanggung kesedihan dan kesengsaraan kamu. Lagi pula, seperti seorang ayah yang penuh dengan kecintaan ia memperlakukan kamu, dengan sangat murah hati dan kasih-sayang.”

Keterpaksaan  Melakukan Perang di Zaman Nabi Besar Muhammad  Saw.

        Pada hakikatnya peperangan yang dilakukan oleh Nabi Besar Muhammad saw. dan para sahabat r.a. dengan orang-orang kafir yang terus menerus berusaha menggagalkan misis suci  beliau saw.  dengan segala cara – termasuk melakukan pembunuhan  (QS.8:31) --  hanyalah keterpaksaan belaka dan sesuai izin dan perintah Allah Swt.,  sebab jika tidak demikian maka  agama Islam dan umat Islam tidak akan pernah ada di dunia ini, firman-Nya:
اُذِنَ لِلَّذِیۡنَ یُقٰتَلُوۡنَ بِاَنَّہُمۡ ظُلِمُوۡا ؕ وَ اِنَّ  اللّٰہَ  عَلٰی  نَصۡرِہِمۡ  لَقَدِیۡرُۨ  ﴿ۙ﴾الَّذِیۡنَ اُخۡرِجُوۡا مِنۡ دِیَارِہِمۡ  بِغَیۡرِ  حَقٍّ اِلَّاۤ  اَنۡ یَّقُوۡلُوۡا رَبُّنَا اللّٰہُ ؕ وَ لَوۡ لَا دَفۡعُ اللّٰہِ النَّاسَ بَعۡضَہُمۡ بِبَعۡضٍ لَّہُدِّمَتۡ صَوَامِعُ وَ بِیَعٌ وَّ صَلَوٰتٌ وَّ مَسٰجِدُ یُذۡکَرُ فِیۡہَا اسۡمُ اللّٰہِ کَثِیۡرًا ؕ وَ لَیَنۡصُرَنَّ اللّٰہُ مَنۡ یَّنۡصُرُہٗ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ ﴿﴾ اَلَّذِیۡنَ  اِنۡ مَّکَّنّٰہُمۡ  فِی الۡاَرۡضِ اَقَامُوا الصَّلٰوۃَ وَ اٰتَوُا الزَّکٰوۃَ وَ اَمَرُوۡا بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَ  نَہَوۡا عَنِ الۡمُنۡکَرِ ؕ وَ لِلّٰہِ  عَاقِبَۃُ  الۡاُمُوۡرِ ﴿﴾
Diizinkan berperang bagi mereka yang telah diperangi, karena mereka telah dizalimi, dan sesung-uhnya Allah berkuasa menolong mereka.   Yaitu orang-orang yang telah diusir dari rumah-rumah mereka tanpa haq  hanya karena mereka berkata: “Rabb (Tuhan) kami Allah.”   Dan seandainya Allah tidak menangkis   sebagian manusia oleh sebagian yang lain niscaya akan hancur  biara-biara, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah, dan masjid-masjid yang di dalamnya banyak disebut nama  Allah,   dan  Allah pasti akan menolong siapa yang menolong-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa, Maha Perkasa.   Orang-orang yang jika Kami meneguhkannya di bumi mereka men-dirikan shalat, membayar zakatmenyuruh berbuat kebaikan dan melarang dari keburukan.  Dan kepada Allah-lah kembali segala urusan. (Al-Hajj [22]:40-42).

Makna “Pembagian Harta” Oleh Imam Mahdi a.s.

      Lebih lanjut Masih Mau’ud a.s.  bersabda mengenai alasan mengapa  penting bagi umat manusia  untuk beriman dan membantu misi sucinya di Akhir Zaman ini, yang sangat erat hubungannya  makna “pembagian harta” oleh Imam Mahdi a.s. dalam hadits sebelum ini:
        “Penyebab timbulnya gejolak kasih-sayangku terhadap sesama manusia adalah karena aku telah menemukan satu “tambang emas” dan mendapat kabar di “tambang mutiara”. Dan aku adalah orang yang bernasib baik, sebab aku  telah mendapatkan satu “permata manikam berlian” yang berkilau dari “tambang” itu, dan nilai “berlian” tersebut jika aku bagi-bagikan kepada anda semua maka aku masih akan lebih kaya daripada seorang yang terkaya, pemilik emas dan perak di dunia saat ini.
      Tahukan anda sekalian apakah mutiara (berlian)  itu? Tak lain dan tak bukan adalah Tuhan Yang Maha Benar. Dan bagaimanalah cara memperoleh-Nya? Caranya adalah mengenal-Nya, mengimani-Nya dengan sebenar-benarnya. Munculkanlah rasa cinta kepada-Nya, dan dapatkanlah berkat-berkat yang banyak dari-Nya.”
        Sehubungan dengan hal tersebut – sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya --  dari  Abu Said Khudri r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda: “Aku memberi kabar gembira tentang Imam Mahdi a.s yang akan dibangkitkan dalam umatku dalam keadaan bahwa pada waktu itu diantara manusia ada banyak perselisihan dan ada banyak kegoncangan maka ia akan memenuhi bumi dengan para marta dan keadilan, setelah penuh dengan ketidakadilan. Allah dan penghuni langit dan penghuni bumi akan rela kepadanya dan ia akan membagikan harta kepada semua orang dengan sama rata“ (Musnad Ahmad bin Hambal jilid III hal.37).
        Jadi, yang dimaksud dengan “harta kekayaan”   berlimpah-ruah yang akan dibagi-bagikan oleh Imam Mahdi a.s. atau Masih Mau’ud a.s.  bukanlah berupa harta-kekayaan   -- sebagaimana disangka umumnya para penafsir hadits tersebut  --   melainkan harta kekayaan ruhani berupa rahasia-rahasia baru khazanah ruhani Al-Quran yang  dibukakan Allah Swt.  kepada beliau di Akhir Zaman ini, yang jauh lebih berlimpah-ruah dan lebih bermutu daripada khazanah ruhani Al-Quran yang pernah dianugerahkan Allah Swt. kepada para wali Allah dan para mujaddid sebelumnya, firman-Nya:
عٰلِمُ الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا ﴿ۙ﴾  اِلَّا مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ  بَیۡنِ یَدَیۡہِ  وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا﴿ۙ﴾    لِّیَعۡلَمَ  اَنۡ  قَدۡ  اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ رَبِّہِمۡ وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ اَحۡصٰی کُلَّ  شَیۡءٍ عَدَدًا ﴿٪﴾
Dia-lah Yang mengetahui yang gaib, maka Dia tidak menzahirkan rahasia gaib-Nya kepada siapa pun,  kecuali kepada Rasul yang Dia ridhai, maka sesungguhnya baris-an pengawal berjalan di hadapannya dan di belakangnya, supaya Dia mengetahui bahwa  sungguh  mereka telah menyampaikan Amanat-amanat Rabb (Tuhan) mereka,  dan Dia meliputi semua yang ada pada mereka dan Dia membuat perhitungan mengenai segala sesuatu. (Al-Jin [72]:27-29).
 Ungkapan, “izhhar ‘ala al-ghaib,” berarti, diberi pengetahuan dengan sering dan secara berlimpah-limpah mengenai rahasia gaib bertalian dengan dan mengenai peristiwa dan kejadian yang sangat penting.  Ayat ini merupakan ukuran yang tiada tara bandingannya guna membedakan antara sifat dan jangkauan rahasia-rahasia gaib yang dibukakan kepada seorang rasul Tuhan dan rahasia-rahasia gaib yang dibukakan kepada orang-orang mukmin bertakwa lainnya.
Perbedaan itu letaknya pada kenyataan bahwa, kalau rasul-rasul Tuhan dianugerahi izhhar ‘ala al-ghaib  --  penguasaan atas yang gaib, maka rahasia-rahasia yang diturunkan kepada orang-orang bertakwa dan orang-orang suci lainnya tidak menikmati kehormatan serupa itu.
    Tambahan pula wahyu Ilahi yang dianugerahkan kepada rasul-rasul Tuhan  -- karena ada dalam pemeliharaan-istimewa-Ilahi  --  keadaannya aman dari pemutar-balikkan atau pemalsuan oleh jiwa-jiwa yang jahat, sedang rahasia-rahasia yang dibukakan kepada orang-orang bertakwa lainnya tidak begitu terpelihara.

Kekikiran dan Kemiskinan Khazanah Ruhani Al-Quran

Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai  orang-orang yang kikir   dan  miskin  ruhani:   
    “Nilai kekayaan yang berikut adalah sangat zalim (aniaya), yakni membiarkan orang lain mati kelaparan dan berfoya-foya sendirian. Sifat yang seperti itu tidak terdapat pada diriku, hatiku hancur-luluh menyaksikan kefakiran  dan kelaparan mereka. Nyawaku hampir putus melihat kesusahan dan kegelapan mereka. Aku menghendaki agar rumah mereka penuh dengan khazanah langit, dan memperoleh mutiara keyakinan-keyakinan dan mutiara kebenaran hingga memenuhi lubuk hati mereka.
      Jelaslah, bahwa setiap sesuatu mencintai asal jenisnya (sesamanya), sehingga semut pun tidak luput dari hal itu. Jika ada satu yang tidak berdaya maka mereka tidak tega membiarkannya. Oleh sebab itu itu barangsiapa diseru kepada jalan Allah, kewajiban  utamanya adalah mencintai-Nya, karena itulah aku sangat mencintai manusia.”
       Sehubungan dengan  rumah-rumah  yang penuh dengan “khazanah langit” yang dimaksud  Masih Mau’ud a.s. tersebut Allah Swt. berfirman:
اَللّٰہُ  نُوۡرُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ مَثَلُ نُوۡرِہٖ کَمِشۡکٰوۃٍ  فِیۡہَا مِصۡبَاحٌ ؕ اَلۡمِصۡبَاحُ فِیۡ زُجَاجَۃٍ ؕ اَلزُّجَاجَۃُ کَاَنَّہَا کَوۡکَبٌ دُرِّیٌّ یُّوۡقَدُ مِنۡ شَجَرَۃٍ مُّبٰرَکَۃٍ  زَیۡتُوۡنَۃٍ  لَّا شَرۡقِیَّۃٍ  وَّ لَا غَرۡبِیَّۃٍ ۙ یَّکَادُ زَیۡتُہَا یُضِیۡٓءُ وَ لَوۡ لَمۡ تَمۡسَسۡہُ نَارٌ ؕ نُوۡرٌ عَلٰی نُوۡرٍ ؕ یَہۡدِی اللّٰہُ  لِنُوۡرِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ یَضۡرِبُ اللّٰہُ الۡاَمۡثَالَ لِلنَّاسِ ؕ وَ اللّٰہُ  بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ ﴿ۙ﴾ فِیۡ  بُیُوۡتٍ اَذِنَ اللّٰہُ  اَنۡ تُرۡفَعَ وَ یُذۡکَرَ فِیۡہَا اسۡمُہٗ ۙ یُسَبِّحُ لَہٗ  فِیۡہَا بِالۡغُدُوِّ وَ الۡاٰصَالِ ﴿ۙ﴾ رِجَالٌ ۙ لَّا تُلۡہِیۡہِمۡ تِجَارَۃٌ  وَّ لَا بَیۡعٌ عَنۡ ذِکۡرِ اللّٰہِ وَ  اِقَامِ الصَّلٰوۃِ  وَ  اِیۡتَآءِ الزَّکٰوۃِ ۪ۙ یَخَافُوۡنَ یَوۡمًا تَتَقَلَّبُ فِیۡہِ الۡقُلُوۡبُ وَ الۡاَبۡصَارُ ﴿٭ۙ﴾ لِیَجۡزِیَہُمُ اللّٰہُ  اَحۡسَنَ مَا عَمِلُوۡا وَ یَزِیۡدَہُمۡ مِّنۡ فَضۡلِہٖ ؕ وَ اللّٰہُ یَرۡزُقُ مَنۡ یَّشَآءُ  بِغَیۡرِ  حِسَابٍ  ﴿﴾
Allah adalah Nur  seluruh langit dan bumi. Perumpamaan nur-Nya   seperti sebuah relung  yang di dalamnya ada pelita. Pelita itu ada dalam kaca. Kaca itu seperti bintang yang gemerlapan. Pelita itu dinyalakan dengan minyak dari sebatang pohon kayu yang diberkati, yaitu  pohon zaitun yang bukan di timur dan bukan di barat, minyaknya hampir-hampir bercahaya walaupun api tidak menyentuhnya. نُوۡرٌ عَلٰی نُوۡرٍ ؕ یَہۡدِی اللّٰہُ  لِنُوۡرِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ  -- Nur di atas nur. Allah memberi bimbingan menuju nur-Nya kepada siapa yang Dia kehendakiوَ یَضۡرِبُ اللّٰہُ الۡاَمۡثَالَ لِلنَّاسِ ؕ وَ اللّٰہُ  بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ --  dan Allah mengemukakan tamsil-tamsil untuk manusia, dan Allāh Maha  Me-ngetahui segala sesuatu.  فِیۡ  بُیُوۡتٍ اَذِنَ اللّٰہُ  اَنۡ تُرۡفَعَ وَ یُذۡکَرَ فِیۡہَا اسۡمُہٗ ۙ یُسَبِّحُ لَہٗ  فِیۡہَا بِالۡغُدُوِّ وَ الۡاٰصَالِ  -- Di dalam rumah yang Allah telah mengizinkan supaya ditinggikan dan nama-Nya diingat di dalamnyabertasbih kepada-Nya di dalamnya pada waktu pagi dan petang. رِجَالٌ ۙ لَّا تُلۡہِیۡہِمۡ تِجَارَۃٌ  وَّ لَا بَیۡعٌ عَنۡ ذِکۡرِ اللّٰہِ وَ  اِقَامِ الصَّلٰوۃِ  وَ  اِیۡتَآءِ الزَّکٰوۃِ --     Orang-orang lelaki, tidak melalaikan mereka dari mengingat Allah perniagaan dan tidak pula jual-beli, mendirikan shalat dan membayar zakat, یَخَافُوۡنَ یَوۡمًا تَتَقَلَّبُ فِیۡہِ الۡقُلُوۡبُ وَ الۡاَبۡصَارُ  --  mereka takut akan hari ketika   di dalamnya hati dan mata berubah-ubah, لِیَجۡزِیَہُمُ اللّٰہُ  اَحۡسَنَ مَا عَمِلُوۡا وَ یَزِیۡدَہُمۡ مِّنۡ فَضۡلِہٖ   --  supaya  Allah memberi mereka ganjaran yang sebaik-baik-nya atas apa yang telah mereka kerjakan, وَ یَزِیۡدَہُمۡ مِّنۡ فَضۡلِہٖ ؕ وَ اللّٰہُ یَرۡزُقُ مَنۡ یَّشَآءُ  بِغَیۡرِ  حِسَابٍ    -- dan Allah akan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan. (An-Nūr [24]:26-39).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
                                                                              ***
Pajajaran Anyar,  12 April 2017




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Persamaan "Sunnatullaah" Mengeai "Kebinasaan Para Pendusta" Atas Nama "Allah Swt." Dalam "Al-Quran" Dengan "Sunnatullaah" Dalam "Kitab-kitab Ilhami"Dalam "Bible"

Bismillaahirrahmaanirrahiim “ARBA’IN” ARBA’IN LI-ITMÂMIL HUJJAH ‘ALAL MUKHALLIFÎN (Empat Puluh Risalah, Menyempurnakan Argu...