Bismillaahirrahmaanirrahiim
“ARBA’IN”
ARBA’IN LI-ITMÂMIL HUJJAH ‘ALAL MUKHALLIFÎN
(Empat Puluh Risalah, Menyempurnakan Argumen Bagi Para
Penentang)
Karya
Mirza Ghulam Ahmad
a.s.
(Al-Masih Al-Mau’ud a.s.
-- Al-Masih yang Dijanjikan a.s.)
Bagian 9
ARBA’ÎN KE I
PENTINGNYA BERIMAN
KEPADA NABI BESAR MUHAMMAD SAW. DAN KEPADA RASUL
AKHIR ZAMAN (MASIH MAU’UD A.S.) YANG MERUPAKAN PENGUTUSAN KEDUA KALI SECARA RUHANI NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Oleh
Ki Langlang Buana
Kusuma
|
D
|
alam akhir
Bab sebelumnya telah dikemukakan topik
Sabda-sabda Nabi Besar Muhammad saw. Mengenai
Kedatangan Imam Mahdi a.s. Sebagai “Hakim
yang Adil” berikut ini:
Dari Abu Hurairah r.a. berkata bahwa
Nabi Muhammad Rasulullah saw. bersabda: “Bagaimana keadaan kamu apabila
turun Isa bin Maryam di antara kamu dan menjadi imam kamu dari antara
kamu” (Bukhari jilid II, hal.166).
Dari Abu Said al-Khudri r.a. meriwayatkan
bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Aku memberi kabar gembira tentang Imam Mahdi a.s. yang akan
dibangkitkan dalam umatku dalam keadaan
bahwa pada waktu itu di antara manusa ada banyak perselisihan dan
ada banyak kegoncangan maka ia akan memenuhi bumi dengan para marta
dan keadilan setelah penuh dengan ketidak-adilan. Allah dan penghuni langit serta penghuni
bumi akan ridha kepadanya
dan ia
akan membagikan harta kepada semua
orang dengan sama rata” (Musnad
Ahmad bin Hanbal, jilid III hal.37).
Dari Abu Said al-Khudri r.a. meriwayatkan
bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Al-Mahdi itu dari keturunanku, indah paras mukanya, bagus hidungnya, memenuhi bumi dengan kebaikan
dan keadilan, setelah penuh kejahatan dan kezaliman, berkuasa tujuh tahun” (Abu Daud dan Misykat,
hal. 470).
Rasulullah saw. bersabda kepada Auf bin
Malik r.a.: “…..fitnah-fitnah akan datang kelak
berturut-turut hingga akhirnya datang seorang laki-laki dari
ahli-baitku yang dipanggil orang
Al-Mahdi (Imam Mahdi), andaikata
engkau mengalaminya ikutilah dia, masuklah ke golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Muntakhab
Kanzul Ummal, pada Hamisy Musnad
Ahmad bin Hanbal. Jld 5, hal.404).
Dari Zabir bin Abdulah r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang mengingkari
keluarnya (kedatangan) Al-Mahdi
(Imam Mahdi) kufurlah ia kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad.”
(Kitab Yanabi’ul Muwaddah, hal. 448).
Abu Hurairah r.a. berkata bahwa
Rasulullah saw. bersabda: “…..Nabi Musa a.s. berkata, ‘Hai Tuhan-ku, sesungguhnya aku melihat dalam alwah (papan-tulis) bahwa
akan ada satu kaum (umat), mereka
diberi ilmu awal dan akhir. Dan
mereka akan melawan dalam abad-abad kesesatan terhadap Masih Dajjal.” Nabi Musa a.s. berkata, “Hai Tuhanku, jadikanlah itu
umatku.” Tuhan menjawab, “Itulah umat
Ahmad.” (Dalailun Nubuate, jilid I, hal. 14).
Ibnu Umar r.a. berkata bahwa Rasulullah
saw. bersabda: “Mahdi akan keluar, di atas kepadanya serban (memakai sorban) dan bersamanya ada penyeru yang menyerukan: “Mahdi
Khalifah Allah, ikutilah dia
oleh kamu!” (Riwayat Abu Nu’aim).
Rasulullah saw. bersabda: “Sudah
dekat orang yang hidup di antara kamu akan bertemu dengan Ibnu Maryam sebagai Imam Mahdi dan Hakim yang adil, ia akan memecahkan salib dan akan membunuh babi” (Musnad
Ahmad bin Hanbal, jilid II, hal, 156).
Nubuatan Penentangan
Umat Islam Terhadap Misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
Dengan demikian terjawablah makna sabda
Nabi Besar Muhammad saw.: “Lā mahdiyun
illā ‘Isa ‘bnu Maryam” (tidak ada Mahdi kecuali ‘Isa Ibnu Maryam” – Ibnu
Majah) yakni Imam Mahdi a.s.
dan Al-Masih
Mau’ud a.s. orangnya sama,
sebagaimana halnya Rasul Akhir Zaman
yang ditunggu-tunggu oleh semua umat
beragama dengan nama (sebutan) yang
berlainan pun merujuk kepada orang yang sama pula, yaitu Mirza
Ghulam Ahmad a.s. atau Al-Masih
Mau’ud a.s. sebagai misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. yang
dibangkitkan dari kalangan umat Islam di Akhir
Zaman ini (QS.62:3-4) – bukan Nabi Isa Ibnu Maryam dari Bani Israil (QS.60:7) karena beliau telah wafat
(QS.3:56; QS.5:117-119; QS.21:35) –
firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ لَمَّا
ضُرِبَ ابۡنُ مَرۡیَمَ مَثَلًا اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ یَصِدُّوۡنَ ﴿﴾
Dan
apabila Ibnu Maryam dikemukakan sebagai
misal tiba-tiba kaum engkau
meneriakkan penentangan terhadapnya (Az-Zukhruf [43]:58).
Shadda
(yashuddu) berarti: ia menghalangi dia dari sesuatu, dan shadda
(yashiddu) berarti: ia mengajukan sanggahan (protes) (Aqrab-ul-Mawarid). Yakni sebagaimana hanya Kedatangan Al-Masih
Ibnu Maryam Israili a.s. di kalangan Bani
Israil merupakan as-Sā’ah
(tanda kiamat) bagi Bani Israil,
(QS.43:62) yakni akibat berupa membunuh Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di tiang salib maka orang-orang
Yahudi akan dihinakan dan direndahkan serta akan kehilangan kenabian untuk selama-lamanya -- sebagai akibat kutukan Nabi Daud a.s. dan kutukan
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.5:79-80) -- maka
dengan kedatangan misal Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. kenyataan yang
sama akan terjadi di kalangan Bani Ismail (umat Islam).
Karena matsal berarti
sesuatu yang semacam dengan atau sejenis dengan yang lain (QS.6:39), ayat
ini -- di samping arti yang diberikan dalam ayat ini -- dapat pula berarti bahwa bila kaum Nabi Besar Muhammd saw. — yaitu kaum Muslimin — diberitahu bahwa orang
lain yang dibangkitkan Allah Swt. di kalangan mereka yang seperti
dan merupakan sesama Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. untuk memperbaharui mereka dan mengembalikan kejayaan ruhani mereka yang telah hilang (QS.32:6), maka daripada bergembira atas kabar gembira itu malah mereka berteriak mengajukan protes – sebagaimana yang
dilakukan para pemuka kaum Yahudi
kepada Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
sebelumnya. Jadi, ayat ini dapat dianggap mengisyaratkan kepada kedatangan Nabi
Isa Ibnu Maryam a.s. kedua kalinya dalam wujud Imam Mahdi a.s. atau Al-Masih
Mau’ud a.s..
Tantangan
Untuk Dapat Menandingi
Sehubungan dengan hal
tersebut selanjutnya Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai kebenaran pendakwaannya sebagai Rasul
Akhir Zaman yang kedatangannya ditunggu-tunggu
oleh semua umat beragama dengan nama
yang berlainan:
“Tuhan-ku Yang memiliki seluruh langit dan bumi,
dengan kesaksian-Nya aku berkata bahwa aku datang dari-Nya, dan Dia dengan Tanda-tanda-Nya memberikan kesaksian akan kebenaranku.
Dustalah aku jika ada yang sanggup menandingiku dalam Tanda-tanda
langit. Pembohonglah aku
jika dalam pengabulan doa-doa ada yang menyamaiku. Dan jika ada yang dapat menandingiku dalam ilmu-ilmu
Quran Syarif maka aku adalah
penipu. Jika ada yang menandingiku
dalam hal membuka rahasia-rahasia Tuhan yang diberikan kepadaku
dengan kekuasaan-Nya maka aku bukan
datang dari-Nya.
Di
manakah kini pendeta-pendeta yang mengatakan, na’ūdzubillâh,
bahwa tidak ada suatupun kabar
suka dari Sayyidina Muhammad saw., dan tidak pula suatu bukti yang nampak darinya. Aku berkata dengan sebenar-benarnya,
bahwa seorang Insan kamil (manusia sempurna) telah berlalu dari dunia ini, yang kabar-kabar
sukanya dan doa-doanya telah dikabulkan. Dan bukti lainnya adalah satu perkara yang hingga kini -- dengan pengikut
umat yang benar -- bagaikan gelombang yang bergulung-gulung di sungai, itulah agama
yang benar, agama
Islam.
Di
manakah dia orang yang mempunyai
kemampuan dan kekuatan menandingi Islam dalam tanda-tanda dan berkat-berkatnya?
Di negeri manakah dia tinggal? Seseorang yang memeluk suatu agama, padahal agama yang dianutnya itu kosong dari ruh langit maka berarti ia
telah menyia-nyiakan imannya.
Agama hendaknya suatu agama yang hidup,
yang di dalamnya terkandung jiwa kehidupan yang bersatu dengan Tuhan Yang Hidup.”
Semua Martabat
Keruhanian Terbuka Para Pengikut Sejati Nabi Besar Muhammad Saw.
Jadi, menurut Masih Mau’ud a.s., sebagai bukti bahwa hanya Nabi Besar Muhammad saw. sajalah satu-satunya Rasul
Allah yang secara ruhani hidup selamanya, dan agama Islam satu-satunya syariat sebagai petunjuk terakhir dan paling sempurna yang dapat mempertemukan manusia dengan Allah Swt. di dalam kehidupan di dunia ini juga
(QS.3:32 & 86; QS.33:22; QS.5:4), bahwa semua martabat keruhanian terbuka hanya bagi para pengikut sejati Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
وَ مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ وَ
الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ
النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ
اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ﴾ ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی
بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Dan barangsiapa
taat kepada Allah dan Rasul ini
maka mereka akan termasuk di antara
orang-orang yang Allah memberi nikmat kepada
mereka yakni: nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang
shalih, dan mereka itulah
sahabat yang sejati. Itulah karunia dari Allah, dan cukuplah
Allah Yang Maha Mengetahui. (An-Nisā [70-71).
Ayat 70 sangat penting sebab ia
menerangkan semua jalur kemajuan ruhani yang
terbuka bagi kaum Muslimin. Keempat martabat keruhanian — nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid,
dan orang-orang shalih — kini
semuanya dapat dicapai hanya dengan
jalan mengikuti Nabi Besar Muhammad
saw.. Bukti kebenaran ayat tersebut di Akhir Zaman ini adalah Masih
Mau’ud a.s..
Hal tersebut merupakan kehormatan
khusus bagi Nabi Besar Muhammad saw.
semata. Tidak ada nabi Allah lain menyamai
beliau saw. dalam perolehan nikmat atau kehormatan
tersebut. Kesimpulan itu lebih lanjut ditunjang oleh
ayat yang membicarakan nabi-nabi Allah secara umum, firman-Nya:
وَ
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِاللّٰہِ وَ
رُسُلِہٖۤ اُولٰٓئِکَ ہُمُ
الصِّدِّیۡقُوۡنَ ٭ۖ وَ الشُّہَدَآءُ
عِنۡدَ رَبِّہِمۡ ؕ
“Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, mereka adalah orang-orang shiddiq dan saksi-saksi di sisi Rabb
(Tuhan) mereka” (Al-Hadīd [57]: 20).
Pentingnya Beriman dan Mentaati Nabi Besar Muhammad
Saw.
Apabila kedua ayat ini
dibaca bersama-sama maka kedua ayat itu berarti bahwa, kalau para pengikut nabi-nabi Allah lainnya dapat mencapai martabat shiddiq, syahid, dan shalih dan
tidak lebih tinggi dari itu, maka pengikut Nabi Besar Muhammad saw. dapat naik ke martabat nabi juga.
Sehubungan dengan
ayat tersebut (QS.4:70), dalam Kitab “Bahr-ul-Muhit”
(jilid III, hlm. 287) menukil Al-Raghib
yang mengatakan: “Allah Swt. telah
membagi orang-orang beriman dalam empat
golongan dalam ayat ini, dan telah menetapkan bagi mereka empat tingkatan,
sebagian di antaranya lebih rendah dari yang lain, dan Dia telah mendorong
orang-orang beriman sejati agar jangan tertinggal dari keempat tingkatan ini.”
Dan Al-Raghib membubuhkan bahwa: “Kenabian itu ada dua macam: umum dan khusus.
Kenabian khusus, yakni kenabian yang membawa syariat, sekarang tidak dapat
dicapai lagi; tetapi kenabian yang umum masih tetap dapat dicapai.”
Sejalan dengan
firman Allah Swt. dalam QS.4:70 dan pernyataan Al-Raghib tersebut Masih Mau’ud
a.s. mengakhiri tulisannya dalam Arba’in
yang pertama, beliau menjelaskan:
“Aku tidak mendakwakan bahwa hanya
kepada aku sajalah terbuka rahasia-rahasia
gaib dan penampakkan mukjizat nabiullah, bahkan aku
mengatakan, bahwa barangsiapa yang mensucikan hatinya lalu mencintai
Allah dan Rasul-Nya [saw.], kemudian ia
mengikuti aku maka ia juga
bisa memperoleh nikmat ini
dari Allah Ta’ala.
Tapi ingat, bahwa pintu ini tertutup
bagi para penentang. Dan jika memang terbuka bagi para penentang maka marilah berlomba denganku dalam hal Tanda-tanda dari langit.
Dan sekali lagi ingatlah, bahwa hal ini tak mungkin akan dapat. Inilah satu
dalil yang hidup untuk
kebenaranku
dan kebenaran Islam.
Selesai sudah Arba’in nomor
pertama, dan salam sejahtera atas
orang-orang yang mengikuti petunjuk.
Penulis selebaran
Mirza Ghulam Ahmad
Masih Mau’ud
dari Qadian
23 Juli 1900
Proses Bertahap Penyempurnaan Hukum Syariat
Pernyataan Masih Mau’ud a.s. dalam
bagian akhir Arba’in I tersebut sesuai dengan firman Allah Swt. berikut ini:
اِنَّ الدِّیۡنَ عِنۡدَ اللّٰہِ
الۡاِسۡلَامُ ۟ وَ مَا اخۡتَلَفَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ اِلَّا مِنۡۢ
بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ الۡعِلۡمُ بَغۡیًۢا بَیۡنَہُمۡ ؕ وَ مَنۡ یَّکۡفُرۡ
بِاٰیٰتِ اللّٰہِ فَاِنَّ اللّٰہَ سَرِیۡعُ
الۡحِسَابِ ﴿﴾
Sesungguhnya
agama yang benar di sisi Allah adalah Islam,
dan sekali-kali tidaklah berselisih orang-orang yang diberi Kitab
melainkan setelah ilmu datang kepada
mereka karena kedengkian di antara
mereka. Dan barang-siapa kafir kepada
Tanda-tanda Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat dalam menghisab. (Âli ‘Imran [3]:20).
Semua agama
senantiasa mengajarkan dan menanamkan kepercayaan Tauhid
Ilahi dan kepatuhan kepada kehendak Allah Swt. – berupa peraturan
syariat (agama) -- namun demikian hanya dalam agama Islam (Al-Quran) sajalah paham kepatuhan kepada kehendak Ilahi mencapai kesempurnaan (QS.5:4), sebab kepatuhan
sepenuhnya kepada kehendak Allah Swt. meminta pengejewantahan penuh Sifat-sifat
Allah Swt., dan hanya pada Islam (Al-Quran) sajalah pengenjewantahan
demikian telah terjadi. Jadi
dari semua tatanan keagamaan
hanya Islam yang berhak disebut agama Allah dalam arti kata yang sebenarnya.
Semua agama yang benar -- lebih atau kurang -- dalam bentuknya
yang asli adalah agama Islam, sedang
para pengikut agama-agama itu adalah
(disebut) Muslim dalam arti kata secara harfiah (QS.22:79),
tetapi nama Al-Islam dan
Muslim
tidak diberikan Allah Swt. kepada agama-agama sebelum Islam sebelum tiba saat ketika
peraturan agama menjadi lengkap
dalam segala ragam seginya, karena nama itu (Islam dan Muslim)
dicadangkan untuk syariat yang terakhir
dan mencapai kesempurnaan dalam
wujud agama Islam atau Al-Quran , firman-Nya:
اَلۡیَوۡمَ
اَکۡمَلۡتُ لَکُمۡ دِیۡنَکُمۡ وَ اَتۡمَمۡتُ عَلَیۡکُمۡ نِعۡمَتِیۡ وَ رَضِیۡتُ
لَکُمُ الۡاِسۡلَامَ دِیۡنًا ؕ
Hari ini telah Aku sempurnakan agama kamu bagimu, telah Aku engkapkan nikmat-Ku atas kamu,
dan telah Aku sukai Islam sebagai agama bagi kamu. (Al-Māidah [5]:4).
Ikmāl
(menyempurnakan) dan itmām (melengkapkan) merupakan akar-akar kata
(masdar), yang pertama berhubungan dengan kaifiat (kualitas) dan yang
kedua berhubungan dengan kammiat (kuantitas). Kata yang pertama (ikmāl
-- menyempurnakan) menunjukkan bahwa ajaran-ajaran serta perintah-perintah mengenai pencapaian kemajuan jasmani, ruhani,
dan akhlak manusia telah terkandung
dalam Al-Quran dalam bentuk
yang paripurna; sedang yang kedua (itmām -- melengkapkan) menunjukkan bahwa tidak ada suatu keperluan manusia yang lepas dari perhatian (diabaikan) ajaran Islam (Al-Quran). Kata yang pertama (ikmāl) berhubungan dengan perintah-perintah
yang bertalian dengan segi fisik atau
keadaan lahiriah manusia, sedang yang
kedua (itmām) berhubungan dengan segi ruhaniah dan batiniahnya.
Jadi, penyempurnaan dan pelengkapan agama dan nikmat
Allah disebut dalam ayat tersebut (QS.5:4) berdampingan dengan hukum yang berlaku bertalian dengan makanan-makanan, untuk menjelaskan bahwa penggunaan makanan yang halal dan thayyib merupakan salah satu
dasar yang amat penting untuk
meraih nilai akhlak yang baik
dan pada gilirannya memberi dasar tempat-berpijak guna mencapai kemajuan ruhani.
Pemberian Nama Islam dan Muslim Kepada Agama
Terakhir dan Tersempurna
serta Pemeluknya
Mengisyaratkan kepada penyempurnaan
hukum syariat secara bertahap sampai diwahyukan-Nya
agama Islam (Al-Quran) kepada Nabi
Besar Muhammad saw. -- itu pulalah
firman Allah Swt. berikut ini:
یٰۤاَیُّہَا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا ارۡکَعُوۡا وَ
اسۡجُدُوۡا وَ اعۡبُدُوۡا رَبَّکُمۡ وَ افۡعَلُوا الۡخَیۡرَ لَعَلَّکُمۡ
تُفۡلِحُوۡنَ ﴿ۚٛ﴾ وَ جَاہِدُوۡا فِی اللّٰہِ حَقَّ جِہَادِہٖ ؕ
ہُوَ اجۡتَبٰىکُمۡ وَ مَا جَعَلَ عَلَیۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ مِنۡ حَرَجٍ ؕ
مِلَّۃَ اَبِیۡکُمۡ اِبۡرٰہِیۡمَ ؕ ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ
مِنۡ قَبۡلُ وَ فِیۡ ہٰذَا لِیَکُوۡنَ
الرَّسُوۡلُ شَہِیۡدًا عَلَیۡکُمۡ وَ تَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ ۚۖ
فَاَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ وَ اٰتُوا
الزَّکٰوۃَ وَ اعۡتَصِمُوۡا بِاللّٰہِ ؕ
ہُوَ مَوۡلٰىکُمۡ ۚ فَنِعۡمَ الۡمَوۡلٰی وَ نِعۡمَ النَّصِیۡرُ ﴿٪﴾
Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah, sembahlah Rabb (Tuhan)
kamu, dan berbuatlah kebaikan
supaya kamu memperoleh kebahagiaan. Dan berjihadlah
kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya,
Dia telah memilih kamu, dan Dia tidak menjadikan kesukaran pada kamu dalam urusan
agama, Ikutilah
agama bapak kamu, Ibrahim, Dia telah memberi kamu nama Muslimin dahulu dan dalam Kitab ini, supaya
Rasul itu menjadi saksi atas kamu dan supaya kamu menjadi saksi atas umat
manusia. Maka dirikanlah shalat,
bayarlah zakat, dan berpegang teguhlah kepada Allah. Dia Pelindung kamu maka Dia-lah
sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong. (Al-Hājj
[22]:78-79).
Firman Allah Swt.
dalam ayat 78 merupakan inti (pokok)
ajaran agama apa pun yang bersumber dari Allah Swt., dan jika ada agama
yang ajarannya tidak sesuai dengan firman Allah Swt.
tersebut berarti bahwa ajaran
agama-agama tersebut telah terjadi penyimpangan
akibat campur-tangan manusia dan
berarti bahwa agama-agama tersebut
tidak mendapat jaminan pemeliharaan
Allah Swt. sebagaimana terhadap agama Islam (Al-Quran - QS.15:10).
Terjadinya penyimpangan pada agama-agama sebelum Islam
(Al-Quran) terjadi karena memang fungsi dan misi agama-agama tersebut bersifat
sementara waktu sesuai dengan tingkat kemampuan
akal dan perkembangan jiwa manusia pada waktu itu (QS.2:107), sebab
Allah Swt. tidak pernah membebani manusia
melebihi kemampuannya (QS.2:287).
Sebagaimana kurikulum
pelajaran untuk Perguruan Tinggi tidak akan diberikan kepada siswa sekolah tingkat SD,
SLTP dan SLTA melainkan hanya untuk mahasiawa,
demikian pula ajaran agama yang paling sempurna (Islam/Al-Quran) belum diwahyukan
Allah SWt. kepada para rasul
Allah yang diutus sebelum Nabi Besar Muhammad saw. karena kaum-kaum para rasul Allah tersebut tidak akan mampu memahaminya dan mengamalkannya.
Dua Macam Jihad & Nubuatan Nabi
Yesaya a.s. Mengenai Nama Islam
dan Muslim
Ayat selanjutnya
(79) menjelaskan mengenai pentingnya “jihad” (kerja-keras) dalam mengamalkan hukum
syariat (agama) agar meraih hasilnya
sesuai yang dikehendaki Allah Swt. dan Nabi Besar Muhammad saw., agar manusia
layak disebut “Khalifah (wakil) Allah di
muka bumi” atau sebagai “umat terbaik” yang dijadikan untuk manfaat seluruh manusia (QS.2:144;
QS.3:111).
Menurut
ajaran Islam (Al-Quran) jihad
itu ada dua macam: (1) Jihad
melawan keinginan-keinginan dan kecenderungan buruk manusia sendiri
(QS.12:54), dan (2) jihad
melawan musuh-musuh kebenaran yang berlaku zalim, yang meliputi pula berperang
untuk membela diri (QS.22:40-42).
Jihad macam pertama dapat dinamakan “Jihad dalam Allah”
(QS.29:70) dan yang terakhir “Jihad di jalan Allah”. Nabi Besar Muhammad
saw. telah menamakan jihad yang pertama itu sebagai jihad besar (jihad kabir) dan yang kedua sebagai jihad kecil (jihad saghir).
Kata-kata ہُوَ سَمّٰىکُمُ
الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ وَ فِیۡ ہٰذَا -- “Dia telah memberi kamu nama Muslimin, dahulu dan dalam Kitab ini,”
menunjuk kepada nubuatan Yesaya:
“maka engkau akan disebut dengan nama
yang baharu, yang akan ditentukan oleh firman Tuhan .....” (Yesaya 62:2 dan 65:15)
Isyarat dalam kata-kata“وَ فِیۡ ہٰذَا -- dan dalam Kitab ini” ditujukan kepada doa
Nabi Ibrahim a.s. yang
dikutip dalam Al-Quran pada saat
membangun kembali Baitulllah bersama
Nabi Isma’il a.s. (QS.2:228-230) yaitu: “Ya Rabb
(Tuhan) kami, jadikanlah kami berdua ini
hamba yang menyerahkan diri kepada Engkau, dan juga dari anak-cucu kami jadikanlah satu umat yang tunduk kepada Engkau.”
(Al-Baqarah
[2]:129).
Pentingnya Beriman Kepada Nabi Besar Muhammad Saw. dan Beragama
Islam & Pentingnya Beriman kepada Rasul
Akhir Zaman
Dari penjelasan
berbagai ayat-ayat Al-Quran tersebut
maka dapat dimengerti mengapa Allah Swt.
telah berfirman:
وَ مَنۡ
یَّبۡتَغِ غَیۡرَ الۡاِسۡلَامِ دِیۡنًا فَلَنۡ یُّقۡبَلَ مِنۡہُ ۚ وَ ہُوَ فِی
الۡاٰخِرَۃِ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan barangsiapa
mencari agama yang bukan agama
Islam, maka agama itu tidak akan pernah diterima darinya, dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang rugi. (Âli ‘Imran [3]:86).
Logikanya adalah ketika seseorang sudah siap
untuk memasuki jenjang pendidikan di tingkat Perguruan
Tinggi tetapi ia -- karena tidak mau bersusah-payah berpikir dan belajar -- lalu memilih menempuh pendidikan pada tingkatan SD
atau SLTP atau SLTA maka ia telah merugikan
dirinya sendiri dan sampai kapan pun tidak akan pernah meraih gelar kesarjanaan. Selanjutnya Allah Swt.
berfirman mengenai alasan penolakan-Nya:
کَیۡفَ یَہۡدِی اللّٰہُ قَوۡمًا کَفَرُوۡا بَعۡدَ اِیۡمَانِہِمۡ وَ
شَہِدُوۡۤا اَنَّ الرَّسُوۡلَ حَقٌّ وَّ جَآءَہُمُ الۡبَیِّنٰتُ ؕ وَ
اللّٰہُ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ
الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾ اُولٰٓئِکَ جَزَآؤُہُمۡ اَنَّ عَلَیۡہِمۡ لَعۡنَۃَ اللّٰہِ وَ
الۡمَلٰٓئِکَۃِ وَ النَّاسِ اَجۡمَعِیۡنَ ﴿ۙ﴾ خٰلِدِیۡنَ
فِیۡہَا ۚ لَا یُخَفَّفُ عَنۡہُمُ الۡعَذَابُ وَ لَا ہُمۡ
یُنۡظَرُوۡنَ ﴿ۙ﴾ اِلَّا الَّذِیۡنَ تَابُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِ
ذٰلِکَ وَ اَصۡلَحُوۡا ۟ فَاِنَّ اللّٰہَ
غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿ ﴾
Bagaimana mungkin
Allah akan memberi petunjuk kepada suatu kaum yang kafir setelah mereka beriman, dan mereka telah menjadi saksi pula
bahwa sesungguhnya rasul itu benar, dan juga telah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata? Dan Allah
tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. Mereka
inilah orang-orang yang atas
mereka balasannya adalah laknat Allah, malaikat dan manusia
seluruhnya. Mereka kekal di dalamnya, azab
tidak akan diringankan dari mereka, dan tidak pula mereka akan diberi tangguh. Kecuali orang-orang yang bertaubat setelah itu dan melakukan perbaikan, maka sesungguhnya
Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
(Âli
‘Imran [3]:87-90).
Makna
ayat 87 tentu saja suatu kaum yang mula-mula
beriman kepada kebenaran seorang nabi
Allah dan menyatakan keimanan
mereka kepada nabi Allah tersebut secara
terang-terangan dan menjadi saksi
atas Tanda-tanda Ilahi, tetapi
kemudian menolaknya karena takut kepada mayoritas manusia yang menentang rasul Allah tersebut, atau karena pertimbangan duniawi lainnya, mereka kehilangan segala hak untuk mendapat lagi petunjuk
kepada jalan yang lurus.
Atau, ayat itu
dapat pula mengisyaratkan kepada mereka yang beriman kepada para nabi Allah
terdahulu tetapi menolak beriman kepada Nabi Besar Muhammad saw. – sebagaimana dilakukan golongan
Ahli Kitab yang mengetahui berbagai nubuatan mengenai nabi Besar Muhammad
saw. bagaikan mengenali anak-anak mereka sendiri (QS.2:147;
QS.6:21), dan berlaku pula bagi penolakan
terhadap Rasul Akhir Zaman yang
kedatangannya ditunggu-tunggu oleh
semua umat beragama, firman-Nya:
کَیۡفَ یَہۡدِی اللّٰہُ قَوۡمًا کَفَرُوۡا بَعۡدَ اِیۡمَانِہِمۡ وَ
شَہِدُوۡۤا اَنَّ الرَّسُوۡلَ حَقٌّ وَّ جَآءَہُمُ الۡبَیِّنٰتُ ؕ وَ
اللّٰہُ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ
الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾
Bagaimana mungkin Allah
akan memberi petunjuk kepada suatu
kaum yang kafir setelah mereka
beriman, dan mereka telah menjadi
saksi pula bahwa sesungguhnya rasul itu benar, dan juga telah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata? Dan Allah
tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. اُولٰٓئِکَ جَزَآؤُہُمۡ اَنَّ عَلَیۡہِمۡ لَعۡنَۃَ اللّٰہِ وَ
الۡمَلٰٓئِکَۃِ وَ النَّاسِ اَجۡمَعِیۡنَ -- Mereka
inilah orang-orang yang atas
mereka balasannya adalah laknat Allah, malaikat dan manusia
seluruhnya. خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا ۚ لَا یُخَفَّفُ عَنۡہُمُ الۡعَذَابُ وَ
لَا ہُمۡ
یُنۡظَرُوۡنَ -- Mereka kekal di dalamnya, azab
tidak akan diringankan dari mereka, dan tidak pula mereka akan diberi tangguh. Kecuali orang-orang yang bertaubat setelah itu dan melakukan perbaikan, maka sesungguhnya
Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
(Âli
‘Imran [3]:87-89).
Hanya semata-mata bertaubat dan menyesal
atas perbuatan-perbuatan jahat yang
dilakukan di masa yang sudah-sudah tidak cukup untuk mendapat pengampunan Ilahi, satu janji yang sungguh-sungguh untuk menjauhi perilaku buruk dan satu tekad bulat untuk membenahi orang-orang lain pun diperlukan untuk maksud itu, itulah
makksud firman-Nya:
اِلَّا الَّذِیۡنَ تَابُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِ
ذٰلِکَ وَ اَصۡلَحُوۡا ۟ فَاِنَّ اللّٰہَ
غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿ ﴾
Kecuali orang-orang yang bertaubat
setelah itu dan melakukan perbaikan,
maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Âli ‘Imran [3]:89-90).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik
Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 18 April
2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar