Minggu, 23 April 2017

Pentingnya Beriman Kepada Nabi Besar Muhammad Saw. dan Kepada "Rasul Akhir Zaman" (Masih Mau'ud a.s.) yang Merupakan Pengutusan Kedua Kali Secara Ruhani Nabi Besar Muhammad Saw.




Bismillaahirrahmaanirrahiim

“ARBA’IN”

ARBA’IN LI-ITMÂMIL HUJJAH ‘ALAL MUKHALLIFÎN
(Empat Puluh Risalah, Menyempurnakan Argumen Bagi Para Penentang)

  Karya

  Mirza Ghulam Ahmad a.s.
(Al-Masih Al-Mau’ud a.s.   -- Al-Masih yang Dijanjikan a.s.)


Bagian 9

ARBA’ÎN KE I

PENTINGNYA BERIMAN KEPADA NABI BESAR MUHAMMAD SAW. DAN KEPADA RASUL AKHIR ZAMAN (MASIH MAU’UD A.S.) YANG MERUPAKAN PENGUTUSAN KEDUA KALI SECARA RUHANI NABI BESAR MUHAMMAD SAW.

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir  Bab sebelumnya telah dikemukakan topik    Sabda-sabda Nabi Besar Muhammad saw. Mengenai Kedatangan Imam Mahdi a.s.  Sebagai “Hakim yang Adil   berikut ini:
       Dari Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Nabi Muhammad Rasulullah saw. bersabda: “Bagaimana keadaan kamu apabila turun Isa bin Maryam di antara kamu dan menjadi imam kamu dari antara kamu” (Bukhari jilid II, hal.166).
      Dari Abu Said al-Khudri r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Aku memberi kabar gembira tentang Imam Mahdi a.s. yang akan dibangkitkan dalam umatku dalam keadaan bahwa pada waktu itu   di antara manusa ada banyak perselisihan dan ada banyak kegoncangan maka ia akan memenuhi bumi dengan para marta dan keadilan setelah penuh dengan ketidak-adilan. Allah dan penghuni langit serta penghuni bumi akan ridha kepadanya dan  ia akan membagikan harta kepada semua orang dengan sama rata” (Musnad Ahmad bin Hanbal, jilid III hal.37).
      Dari Abu Said al-Khudri r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Al-Mahdi itu dari keturunanku, indah paras mukanya, bagus hidungnya, memenuhi bumi dengan kebaikan dan keadilan, setelah penuh kejahatan dan kezaliman, berkuasa tujuh tahun” (Abu Daud dan Misykat, hal. 470).
        Rasulullah saw. bersabda kepada Auf bin Malik r.a.:  “…..fitnah-fitnah akan datang kelak berturut-turut hingga akhirnya datang seorang laki-laki dari ahli-baitku yang dipanggil orang Al-Mahdi (Imam Mahdi), andaikata engkau mengalaminya ikutilah dia, masuklah ke golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Muntakhab Kanzul Ummal, pada Hamisy Musnad Ahmad bin Hanbal. Jld 5, hal.404).
      Dari Zabir bin Abdulah r.a.   berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang mengingkari keluarnya (kedatangan) Al-Mahdi (Imam Mahdi) kufurlah ia kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad.” (Kitab Yanabi’ul Muwaddah, hal. 448).
        Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda: “…..Nabi Musa a.s. berkata, ‘Hai Tuhan-ku, sesungguhnya aku melihat dalam alwah (papan-tulis) bahwa akan ada satu kaum (umat), mereka diberi ilmu awal dan akhir. Dan mereka akan melawan dalam abad-abad  kesesatan terhadap Masih Dajjal.” Nabi Musa a.s. berkata, “Hai Tuhanku, jadikanlah itu umatku.” Tuhan menjawab, “Itulah umat Ahmad.” (Dalailun Nubuate, jilid I, hal. 14).
    Ibnu Umar r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Mahdi akan keluar, di atas kepadanya serban (memakai sorban) dan bersamanya ada penyeru yang menyerukan: “Mahdi Khalifah Allah, ikutilah  dia oleh kamu!” (Riwayat Abu Nu’aim).
       Rasulullah saw. bersabda: “Sudah dekat orang yang hidup di antara kamu akan bertemu dengan Ibnu Maryam sebagai Imam Mahdi dan Hakim yang adil,  ia akan memecahkan salib dan akan membunuh babi” (Musnad Ahmad bin Hanbal, jilid II, hal, 156).

Nubuatan Penentangan Umat Islam Terhadap Misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.

      Dengan demikian terjawablah makna sabda Nabi Besar Muhammad saw.: “Lā mahdiyun illā ‘Isa ‘bnu Maryam” (tidak ada Mahdi kecuali ‘Isa Ibnu Maryam” – Ibnu Majah) yakni Imam Mahdi a.s. dan  Al-Masih Mau’ud a.s. orangnya sama, sebagaimana halnya Rasul Akhir Zaman yang ditunggu-tunggu oleh semua umat beragama dengan nama (sebutan) yang berlainan pun  merujuk kepada orang yang sama pula, yaitu Mirza Ghulam Ahmad a.s. atau Al-Masih Mau’ud a.s.  sebagai misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. yang dibangkitkan dari kalangan umat Islam  di Akhir Zaman ini (QS.62:3-4) – bukan  Nabi Isa Ibnu Maryam dari Bani Israil (QS.60:7) karena beliau  telah wafat (QS.3:56; QS.5:117-119;  QS.21:35) – firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ لَمَّا ضُرِبَ ابۡنُ مَرۡیَمَ  مَثَلًا  اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ  یَصِدُّوۡنَ ﴿﴾
Dan apabila   Ibnu Maryam dikemukakan  sebagai misal tiba-tiba kaum engkau meneriakkan  penentangan  terhadapnya (Az-Zukhruf [43]:58).
      Shadda (yashuddu) berarti: ia menghalangi dia dari sesuatu, dan shadda (yashiddu) berarti: ia mengajukan sanggahan (protes) (Aqrab-ul-Mawarid). Yakni sebagaimana hanya  Kedatangan Al-Masih Ibnu Maryam Israili a.s. di kalangan Bani Israil  merupakan   as-Sā’ah (tanda kiamat) bagi Bani Israil, (QS.43:62)  yakni  akibat berupa membunuh Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di tiang salib  maka orang-orang Yahudi akan dihinakan dan direndahkan serta akan kehilangan kenabian untuk selama-lamanya  -- sebagai akibat kutukan Nabi Daud a.s. dan kutukan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.5:79-80) --   maka dengan kedatangan misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. kenyataan yang sama    akan terjadi di kalangan Bani Ismail (umat Islam).
      Karena matsal berarti sesuatu yang semacam dengan atau sejenis dengan yang lain (QS.6:39), ayat ini  --  di samping arti yang diberikan dalam ayat ini  -- dapat pula berarti bahwa bila kaum Nabi Besar Muhammd saw.  — yaitu kaum Muslimin — diberitahu bahwa orang lain yang dibangkitkan Allah Swt. di kalangan mereka yang  seperti dan merupakan sesama Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  untuk memperbaharui mereka dan mengembalikan kejayaan ruhani mereka yang telah hilang (QS.32:6), maka daripada bergembira atas kabar gembira itu malah mereka berteriak  mengajukan protes – sebagaimana yang dilakukan para pemuka kaum Yahudi kepada Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. sebelumnya. Jadi, ayat ini dapat dianggap mengisyaratkan kepada kedatangan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. kedua kalinya dalam wujud Imam Mahdi a.s. atau Al-Masih Mau’ud a.s..

Tantangan Untuk Dapat Menandingi

      Sehubungan dengan hal tersebut selanjutnya Masih Mau’ud a.s.  bersabda mengenai kebenaran pendakwaannya sebagai Rasul Akhir Zaman yang kedatangannya ditunggu-tunggu oleh semua umat beragama dengan nama yang berlainan: 
       “Tuhan-ku Yang memiliki seluruh langit dan bumi, dengan kesaksian-Nya aku berkata  bahwa aku datang dari-Nya, dan Dia dengan Tanda-tanda-Nya memberikan kesaksian akan  kebenaranku. Dustalah aku jika ada yang sanggup menandingiku dalam Tanda-tanda langit. Pembohonglah aku jika dalam pengabulan doa-doa ada yang menyamaiku. Dan jika ada yang dapat menandingiku dalam ilmu-ilmu Quran Syarif maka aku adalah penipu. Jika ada yang menandingiku dalam hal membuka rahasia-rahasia  Tuhan yang diberikan kepadaku dengan kekuasaan-Nya maka aku bukan datang dari-Nya.
       Di manakah kini pendeta-pendeta  yang mengatakan, na’ūdzubillâh, bahwa tidak ada suatupun  kabar suka  dari Sayyidina Muhammad saw., dan tidak pula suatu bukti yang nampak darinya. Aku berkata dengan sebenar-benarnya,  bahwa seorang Insan kamil (manusia sempurna) telah berlalu dari dunia ini, yang kabar-kabar sukanya dan doa-doanya telah dikabulkan. Dan bukti lainnya adalah satu perkara yang hingga kini --  dengan pengikut umat yang benar  -- bagaikan gelombang yang bergulung-gulung di sungai,  itulah agama  yang benar, agama Islam.
     Di manakah dia orang yang mempunyai kemampuan dan kekuatan menandingi Islam dalam tanda-tanda dan berkat-berkatnya? Di negeri manakah dia tinggal? Seseorang yang memeluk suatu agama, padahal agama yang dianutnya itu kosong dari ruh langit maka berarti ia telah menyia-nyiakan imannya. Agama hendaknya suatu agama yang hidup, yang di dalamnya terkandung jiwa kehidupan yang bersatu dengan Tuhan Yang Hidup.”

Semua Martabat Keruhanian Terbuka Para Pengikut Sejati Nabi Besar Muhammad Saw.

       Jadi, menurut Masih Mau’ud a.s.,  sebagai bukti bahwa hanya Nabi Besar Muhammad saw. sajalah satu-satunya  Rasul Allah yang secara ruhani hidup selamanya, dan agama Islam satu-satunya syariat sebagai petunjuk   terakhir dan paling sempurna  yang dapat mempertemukan manusia dengan Allah Swt. di dalam kehidupan di dunia ini juga  (QS.3:32 & 86; QS.33:22; QS.5:4), bahwa semua martabat keruhanian terbuka hanya bagi para pengikut sejati Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
وَ مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ﴾ ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Dan  barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul ini maka mereka akan termasuk di antara orang-orang  yang Allah memberi nikmat kepada mereka yakni: nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang shalih, dan mereka  itulah sahabat yang sejati.   Itulah karunia dari Allah,  dan cukuplah Allah Yang Maha Mengetahui. (An-Nisā [70-71).
       Ayat 70 sangat penting sebab ia menerangkan semua jalur kemajuan ruhani yang terbuka bagi kaum Muslimin. Keempat martabat keruhanian —  nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang shalih — kini semuanya dapat dicapai hanya dengan jalan mengikuti Nabi Besar Muhammad saw.. Bukti kebenaran ayat tersebut  di Akhir Zaman ini adalah Masih  Mau’ud a.s.. 
           Hal tersebut  merupakan kehormatan khusus bagi  Nabi Besar Muhammad saw. semata. Tidak ada nabi Allah  lain menyamai beliau saw. dalam perolehan nikmat  atau kehormatan tersebut.   Kesimpulan itu lebih lanjut ditunjang oleh ayat yang membicarakan nabi-nabi Allah secara umum, firman-Nya:
وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِاللّٰہِ  وَ رُسُلِہٖۤ  اُولٰٓئِکَ ہُمُ الصِّدِّیۡقُوۡنَ ٭ۖ وَ الشُّہَدَآءُ  عِنۡدَ رَبِّہِمۡ ؕ
 “Dan orang-orang yang beriman kepada Allah   dan rasul-rasul-Nya, mereka adalah orang-orang shiddiq dan saksi-saksi di sisi Rabb (Tuhan) mereka” (Al-Hadīd [57]: 20).

Pentingnya Beriman dan Mentaati   Nabi Besar Muhammad Saw.

      Apabila kedua ayat ini dibaca bersama-sama maka kedua ayat itu berarti bahwa, kalau para pengikut nabi-nabi Allah lainnya dapat mencapai martabat shiddiq, syahid, dan shalih dan tidak lebih tinggi dari itu, maka pengikut  Nabi Besar Muhammad saw.  dapat naik ke martabat nabi    juga.
        Sehubungan dengan ayat tersebut (QS.4:70), dalam Kitab “Bahr-ul-Muhit” (jilid III, hlm. 287) menukil Al-Raghib yang mengatakan: “Allah Swt. telah membagi orang-orang beriman  dalam empat golongan dalam ayat ini, dan telah menetapkan bagi mereka empat tingkatan, sebagian di antaranya lebih rendah dari yang lain, dan Dia telah mendorong orang-orang beriman sejati agar jangan tertinggal dari keempat tingkatan ini.” Dan Al-Raghib membubuhkan bahwa: “Kenabian itu ada dua macam: umum dan khusus. Kenabian khusus, yakni kenabian yang membawa syariat, sekarang tidak dapat dicapai lagi; tetapi kenabian yang umum masih tetap dapat dicapai.”
        Sejalan dengan firman Allah Swt. dalam QS.4:70 dan pernyataan Al-Raghib tersebut Masih Mau’ud a.s.  mengakhiri tulisannya dalam Arba’in yang pertama, beliau menjelaskan:
     “Aku tidak mendakwakan bahwa hanya kepada aku sajalah terbuka rahasia-rahasia gaib dan penampakkan mukjizat nabiullah, bahkan aku mengatakan, bahwa barangsiapa yang mensucikan hatinya lalu mencintai Allah dan Rasul-Nya [saw.], kemudian ia mengikuti aku maka ia juga bisa memperoleh nikmat ini dari Allah Ta’ala.
      Tapi ingat, bahwa pintu ini tertutup bagi para penentang. Dan jika memang terbuka bagi para penentang maka marilah berlomba denganku dalam hal Tanda-tanda dari langit. Dan sekali lagi ingatlah, bahwa hal ini tak mungkin akan dapat. Inilah satu dalil yang hidup untuk kebenaranku dan kebenaran Islam.
      Selesai sudah Arba’in nomor pertama, dan salam sejahtera atas orang-orang yang mengikuti petunjuk.

Penulis selebaran
Mirza Ghulam Ahmad
Masih Mau’ud dari Qadian  
23 Juli 1900

Proses Bertahap Penyempurnaan Hukum Syariat

     Pernyataan Masih Mau’ud a.s. dalam  bagian akhir Arba’in I tersebut sesuai dengan firman Allah Swt.  berikut ini:
اِنَّ الدِّیۡنَ عِنۡدَ اللّٰہِ الۡاِسۡلَامُ ۟ وَ مَا اخۡتَلَفَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ اِلَّا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ الۡعِلۡمُ بَغۡیًۢا بَیۡنَہُمۡ ؕ وَ مَنۡ یَّکۡفُرۡ بِاٰیٰتِ اللّٰہِ فَاِنَّ اللّٰہَ سَرِیۡعُ  الۡحِسَابِ ﴿﴾
Sesungguhnya agama  yang benar di sisi Allah adalah Islam,  dan sekali-kali tidaklah berselisih orang-orang yang diberi Kitab melainkan setelah ilmu datang kepada mereka karena kedengkian di antara mereka. Dan barang-siapa kafir kepada Tanda-tanda Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat dalam menghisab. (Âli ‘Imran [3]:20).
        Semua agama senantiasa mengajarkan dan menanamkan kepercayaan Tauhid Ilahi dan kepatuhan kepada kehendak Allah Swt. –  berupa peraturan syariat (agama) -- namun demikian hanya dalam agama Islam (Al-Quran) sajalah paham kepatuhan   kepada kehendak Ilahi mencapai kesempurnaan (QS.5:4),  sebab kepatuhan sepenuhnya kepada kehendak Allah Swt. meminta pengejewantahan penuh Sifat-sifat Allah Swt.,    dan hanya pada Islam (Al-Quran) sajalah pengenjewantahan demikian telah terjadi.   Jadi  dari semua tatanan keagamaan hanya Islam yang berhak disebut agama Allah  dalam arti kata yang sebenarnya.
       Semua agama yang benar  --  lebih atau kurang  --  dalam bentuknya yang asli adalah agama Islam, sedang para pengikut agama-agama itu adalah (disebut)  Muslim dalam arti kata secara harfiah (QS.22:79), tetapi  nama Al-Islam dan Muslim tidak diberikan Allah Swt.  kepada agama-agama sebelum Islam sebelum tiba saat ketika peraturan agama menjadi lengkap dalam segala ragam seginya, karena nama itu (Islam dan Muslim) dicadangkan untuk syariat yang terakhir dan mencapai kesempurnaan dalam wujud  agama Islam atau  Al-Quran , firman-Nya:
اَلۡیَوۡمَ اَکۡمَلۡتُ لَکُمۡ دِیۡنَکُمۡ وَ اَتۡمَمۡتُ عَلَیۡکُمۡ نِعۡمَتِیۡ وَ رَضِیۡتُ لَکُمُ الۡاِسۡلَامَ دِیۡنًا ؕ
Hari ini telah  Aku sempurnakan agama kamu bagimu, telah  Aku engkapkan nikmat-Ku atas kamu, dan  telah Aku sukai  Islam sebagai agama bagi kamu. (Al-Māidah [5]:4).
         Ikmāl (menyempurnakan) dan itmām (melengkapkan) merupakan akar-akar kata (masdar), yang pertama berhubungan dengan kaifiat (kualitas) dan yang kedua berhubungan dengan kammiat (kuantitas). Kata yang pertama (ikmāl  -- menyempurnakan) menunjukkan bahwa ajaran-ajaran serta perintah-perintah mengenai pencapaian kemajuan jasmani, ruhani, dan akhlak manusia telah terkandung dalam Al-Quran dalam bentuk yang paripurna; sedang yang kedua (itmām   -- melengkapkan)  menunjukkan bahwa tidak ada suatu keperluan manusia yang lepas dari perhatian (diabaikan) ajaran Islam (Al-Quran).  Kata yang pertama (ikmāl) berhubungan dengan perintah-perintah yang bertalian dengan segi fisik atau keadaan lahiriah manusia, sedang yang kedua (itmām)  berhubungan dengan segi ruhaniah dan batiniahnya.
       Jadi, penyempurnaan dan pelengkapan agama dan nikmat Allah disebut dalam ayat tersebut (QS.5:4) berdampingan dengan hukum yang berlaku bertalian dengan makanan-makanan,  untuk menjelaskan bahwa penggunaan makanan yang halal dan thayyib merupakan salah satu dasar yang amat penting untuk meraih  nilai akhlak yang baik dan pada gilirannya memberi dasar tempat-berpijak guna mencapai kemajuan ruhani.  

Pemberian Nama Islam dan Muslim  Kepada   Agama Terakhir dan Tersempurna serta  Pemeluknya

        Mengisyaratkan kepada  penyempurnaan hukum syariat secara bertahap  sampai diwahyukan-Nya agama Islam (Al-Quran) kepada Nabi Besar Muhammad saw.  -- itu pulalah firman Allah Swt. berikut ini:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا ارۡکَعُوۡا  وَ اسۡجُدُوۡا وَ اعۡبُدُوۡا رَبَّکُمۡ وَ افۡعَلُوا الۡخَیۡرَ  لَعَلَّکُمۡ  تُفۡلِحُوۡنَ ﴿ۚٛ﴾ وَ جَاہِدُوۡا فِی اللّٰہِ حَقَّ جِہَادِہٖ ؕ ہُوَ اجۡتَبٰىکُمۡ وَ مَا جَعَلَ عَلَیۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ مِنۡ حَرَجٍ ؕ مِلَّۃَ  اَبِیۡکُمۡ اِبۡرٰہِیۡمَ ؕ ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ وَ فِیۡ ہٰذَا  لِیَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ شَہِیۡدًا عَلَیۡکُمۡ وَ تَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ ۚۖ فَاَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ  وَ اٰتُوا الزَّکٰوۃَ  وَ اعۡتَصِمُوۡا بِاللّٰہِ ؕ ہُوَ مَوۡلٰىکُمۡ ۚ فَنِعۡمَ الۡمَوۡلٰی وَ نِعۡمَ النَّصِیۡرُ ﴿٪﴾
Hai orang-orang yang beriman,   rukuklah kamu, sujudlah, sembahlah Rabb (Tuhan) kamu, dan berbuatlah kebaikan supaya kamu memperoleh kebahagiaan.  Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad  yang sebenar-benarnya, Dia telah memilih kamu, dan Dia tidak menjadikan kesukaran pada kamu dalam urusan agama,  Ikutilah agama bapak kamu, Ibrahim, Dia telah memberi kamu nama Muslimin  dahulu dan dalam Kitab ini,   supaya Rasul itu menjadi saksi atas kamu  dan supaya kamu menjadi saksi atas umat manusia. Maka dirikanlah shalat, bayarlah zakat, dan berpegang teguhlah kepada Allah. Dia Pelindung kamu  maka Dia-lah sebaik-baik Pelindung  dan sebaik-baik Penolong. (Al-Hājj [22]:78-79).
       Firman Allah Swt. dalam ayat 78 merupakan inti (pokok) ajaran agama apa pun yang  bersumber dari Allah Swt., dan jika ada agama yang ajarannya  tidak sesuai dengan firman Allah Swt. tersebut  berarti bahwa   ajaran agama-agama tersebut telah terjadi penyimpangan akibat campur-tangan manusia dan berarti bahwa agama-agama tersebut tidak mendapat jaminan pemeliharaan Allah Swt. sebagaimana  terhadap agama Islam (Al-Quran - QS.15:10).
     Terjadinya penyimpangan pada agama-agama sebelum Islam (Al-Quran) terjadi karena memang  fungsi dan misi agama-agama tersebut bersifat sementara waktu sesuai dengan tingkat kemampuan akal dan   perkembangan  jiwa  manusia pada waktu itu (QS.2:107), sebab Allah Swt. tidak pernah membebani manusia melebihi kemampuannya (QS.2:287).    
        Sebagaimana kurikulum pelajaran untuk Perguruan Tinggi tidak akan diberikan kepada siswa  sekolah tingkat SD, SLTP dan SLTA melainkan hanya untuk mahasiawa, demikian pula ajaran agama yang paling sempurna  (Islam/Al-Quran)  belum diwahyukan Allah SWt.  kepada  para rasul Allah yang diutus sebelum Nabi Besar Muhammad saw. karena kaum-kaum para rasul Allah tersebut tidak akan mampu memahaminya dan mengamalkannya.

Dua Macam Jihad  &   Nubuatan Nabi Yesaya a.s. Mengenai  Nama  Islam dan Muslim   

         Ayat selanjutnya (79) menjelaskan  mengenai  pentingnya “jihad” (kerja-keras) dalam mengamalkan  hukum syariat (agama) agar meraih hasilnya sesuai yang dikehendaki Allah Swt. dan Nabi Besar Muhammad saw., agar manusia layak disebut “Khalifah (wakil) Allah di muka bumi”   atau sebagai “umat terbaik” yang dijadikan untuk manfaat seluruh manusia (QS.2:144; QS.3:111).
       Menurut ajaran Islam (Al-Quran)  jihad itu ada dua macam: (1) Jihad melawan keinginan-keinginan dan kecenderungan buruk manusia sendiri (QS.12:54), dan (2) jihad melawan musuh-musuh kebenaran  yang berlaku zalim, yang meliputi pula berperang untuk membela diri (QS.22:40-42).
        Jihad macam pertama dapat dinamakan “Jihad dalam Allah” (QS.29:70) dan yang terakhir “Jihad di jalan Allah”. Nabi Besar Muhammad saw.  telah menamakan jihad yang pertama itu sebagai jihad besar (jihad kabir) dan yang kedua sebagai jihad kecil (jihad saghir).
       Kata-kata ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ وَ فِیۡ ہٰذَا --  “Dia telah memberi kamu nama Muslimin, dahulu dan dalam Kitab ini,” menunjuk kepada nubuatan Yesaya: “maka engkau akan disebut dengan nama yang baharu, yang akan ditentukan oleh firman Tuhan .....” (Yesaya 62:2 dan 65:15)
        Isyarat dalam kata-kataوَ فِیۡ ہٰذَا  -- dan dalam Kitab ini” ditujukan kepada doa  Nabi Ibrahim a.s.  yang dikutip dalam Al-Quran pada saat membangun kembali Baitulllah bersama Nabi Isma’il a.s. (QS.2:228-230)  yaitu:   “Ya Rabb (Tuhan) kami, jadikanlah kami berdua ini hamba yang menyerahkan diri kepada Engkau, dan juga dari anak-cucu kami jadikanlah satu umat yang tunduk kepada Engkau.” (Al-Baqarah [2]:129).

Pentingnya Beriman Kepada Nabi Besar Muhammad Saw. dan Beragama Islam & Pentingnya Beriman  kepada Rasul Akhir Zaman
     
      Dari penjelasan berbagai  ayat-ayat Al-Quran tersebut maka  dapat dimengerti mengapa Allah Swt.  telah berfirman:
وَ مَنۡ یَّبۡتَغِ غَیۡرَ الۡاِسۡلَامِ دِیۡنًا فَلَنۡ یُّقۡبَلَ مِنۡہُ ۚ وَ ہُوَ فِی الۡاٰخِرَۃِ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan   barangsiapa mencari agama yang bukan agama Islam, maka  agama itu tidak akan pernah diterima darinya, dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang rugi. (Âli ‘Imran [3]:86).
     Logikanya adalah ketika seseorang   sudah siap untuk memasuki jenjang pendidikan di  tingkat Perguruan Tinggi  tetapi ia  -- karena tidak mau bersusah-payah berpikir  dan belajar --  lalu memilih menempuh pendidikan pada  tingkatan SD atau SLTP atau SLTA maka ia telah merugikan dirinya sendiri dan sampai kapan pun tidak akan pernah meraih gelar kesarjanaan. Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai alasan penolakan-Nya:
کَیۡفَ یَہۡدِی اللّٰہُ  قَوۡمًا کَفَرُوۡا بَعۡدَ اِیۡمَانِہِمۡ وَ شَہِدُوۡۤا اَنَّ الرَّسُوۡلَ حَقٌّ وَّ جَآءَہُمُ الۡبَیِّنٰتُ ؕ وَ اللّٰہُ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾ اُولٰٓئِکَ جَزَآؤُہُمۡ  اَنَّ عَلَیۡہِمۡ لَعۡنَۃَ اللّٰہِ وَ الۡمَلٰٓئِکَۃِ وَ النَّاسِ اَجۡمَعِیۡنَ ﴿ۙ﴾ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا ۚ لَا یُخَفَّفُ عَنۡہُمُ الۡعَذَابُ وَ لَا  ہُمۡ  یُنۡظَرُوۡنَ ﴿ۙ﴾   اِلَّا الَّذِیۡنَ تَابُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِ ذٰلِکَ وَ اَصۡلَحُوۡا ۟ فَاِنَّ اللّٰہَ  غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿
Bagaimana mungkin Allah akan memberi petunjuk kepada suatu kaum yang kafir setelah mereka beriman, dan mereka telah menjadi saksi pula bahwa sesungguhnya  rasul itu benar, dan juga telah datang kepada mereka bukti-bukti  yang nyata?  Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.   Mereka inilah orang-orang yang atas mereka balasannya   adalah    laknat Allah, malaikat dan manusia seluruhnya.   Mereka kekal di dalamnya, azab tidak akan diringankan dari mereka, dan tidak pula mereka akan diberi tangguh. Kecuali orang-orang yang bertaubat setelah itu dan melakukan perbaikan,  maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Âli ‘Imran [3]:87-90).
      Makna ayat 87 tentu saja suatu kaum yang mula-mula beriman kepada kebenaran seorang nabi Allah dan menyatakan keimanan mereka kepada nabi Allah tersebut secara terang-terangan dan menjadi saksi atas Tanda-tanda Ilahi, tetapi kemudian menolaknya karena takut kepada mayoritas manusia yang menentang rasul Allah tersebut, atau karena pertimbangan duniawi lainnya, mereka kehilangan segala hak untuk mendapat lagi petunjuk kepada jalan yang lurus.
         Atau, ayat itu dapat pula mengisyaratkan kepada mereka yang beriman kepada para nabi Allah terdahulu tetapi menolak  beriman kepada Nabi Besar  Muhammad saw. – sebagaimana dilakukan golongan Ahli Kitab yang mengetahui berbagai nubuatan mengenai nabi Besar Muhammad saw. bagaikan mengenali anak-anak mereka sendiri (QS.2:147; QS.6:21), dan berlaku pula bagi penolakan terhadap  Rasul Akhir Zaman  yang kedatangannya ditunggu-tunggu oleh semua umat beragama, firman-Nya:
کَیۡفَ یَہۡدِی اللّٰہُ  قَوۡمًا کَفَرُوۡا بَعۡدَ اِیۡمَانِہِمۡ وَ شَہِدُوۡۤا اَنَّ الرَّسُوۡلَ حَقٌّ وَّ جَآءَہُمُ الۡبَیِّنٰتُ ؕ وَ اللّٰہُ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾   
Bagaimana mungkin Allah akan memberi petunjuk kepada suatu kaum yang kafir setelah mereka beriman, dan mereka telah menjadi saksi pula bahwa sesungguhnya  rasul itu benar, dan juga telah datang kepada mereka bukti-bukti  yang nyata?  Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.  اُولٰٓئِکَ جَزَآؤُہُمۡ  اَنَّ عَلَیۡہِمۡ لَعۡنَۃَ اللّٰہِ وَ الۡمَلٰٓئِکَۃِ وَ النَّاسِ اَجۡمَعِیۡنَ       --   Mereka inilah orang-orang yang atas mereka balasannya   adalah  laknat Allah, malaikat dan manusia seluruhnya. خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا ۚ لَا یُخَفَّفُ عَنۡہُمُ الۡعَذَابُ وَ لَا  ہُمۡ  یُنۡظَرُوۡنَ --   Mereka kekal di dalamnya, azab tidak akan diringankan dari mereka, dan tidak pula mereka akan diberi tangguh. Kecuali orang-orang yang bertaubat setelah itu dan melakukan perbaikan,  maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Âli ‘Imran [3]:87-89).
        Hanya semata-mata bertaubat dan menyesal atas perbuatan-perbuatan jahat yang dilakukan di masa yang sudah-sudah tidak cukup untuk mendapat pengampunan Ilahi, satu janji yang sungguh-sungguh untuk menjauhi perilaku buruk dan satu tekad bulat untuk membenahi orang-orang lain pun diperlukan untuk maksud itu, itulah makksud firman-Nya:
اِلَّا الَّذِیۡنَ تَابُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِ ذٰلِکَ وَ اَصۡلَحُوۡا ۟ فَاِنَّ اللّٰہَ  غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿
Kecuali orang-orang yang bertaubat setelah itu dan melakukan perbaikan,  maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Âli ‘Imran [3]:89-90).

 (Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
                                                                              ***

Pajajaran Anyar,  18 April    2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Persamaan "Sunnatullaah" Mengeai "Kebinasaan Para Pendusta" Atas Nama "Allah Swt." Dalam "Al-Quran" Dengan "Sunnatullaah" Dalam "Kitab-kitab Ilhami"Dalam "Bible"

Bismillaahirrahmaanirrahiim “ARBA’IN” ARBA’IN LI-ITMÂMIL HUJJAH ‘ALAL MUKHALLIFÎN (Empat Puluh Risalah, Menyempurnakan Argu...