Bismillaahirrahmaanirrahiim
“ARBA’IN”
ARBA’IN LI-ITMÂMIL HUJJAH ‘ALAL MUKHALLIFÎN
(Empat Puluh Risalah, Menyempurnakan Argumen Bagi Para
Penentang)
Karya
Mirza Ghulam Ahmad
a.s.
(Al-Masih Al-Mau’ud a.s.
-- Al-Masih yang Dijanjikan a.s.)
Bagian 13
ARBA’ÎN KE II
“DUEL MAKAR” DALAM PERISTIWA PENYALIBAN NABI ISA IBNU MARYAM
A.S. YANG DIMENANGI "MAKAR TANDINGAN" ALLAH SWT. & GENAPNYA MAKNA NUBUATAN
YAKSIRUSH- SHALIB” (MEMATAHKAN SALIB) YANG DILAKUKAN MASIH MAU’UD A.S.
Oleh
Ki Langlang Buana
Kusuma
|
D
|
alam akhir Bab sebelumnya telah
dikemukakan topik Jaminan Kesuksesan Perjuangan Suci Para Rasul
Allah & “Duel Makar” yang Senantiasa Dimenangkan Allah Swt.
Sehubungan dengan topik tersebut dalam
firman-Nya berikut ini utusan (rasul)
Allah Swt. yang hakiki
senantiasa mendapat jaminan pertolongan Allah Swt. dalam menghadapi para penentangnya yang takabbur dan zalim,
firman-Nya:
اِنَّ
الَّذِیۡنَ یُحَآدُّوۡنَ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗۤ اُولٰٓئِکَ فِی الۡاَذَلِّیۡنَ ﴿﴾ کَتَبَ
اللّٰہُ لَاَغۡلِبَنَّ اَنَا وَ
رُسُلِیۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ قَوِیٌّ
عَزِیۡزٌ ﴿﴾
Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya
mereka itu termasuk orang-orang yang
sangat hina. ﴿﴾ کَتَبَ
اللّٰہُ لَاَغۡلِبَنَّ اَنَا وَ
رُسُلِیۡ -- Allah
telah menetapkan: “Aku dan rasul-rasul-Ku pasti akan menang.” اِنَّ اللّٰہَ قَوِیٌّ
عَزِیۡزٌ -- Sesungguhnya Allah Maha Kuat, Maha
Perkasa. (Al-Mujadalah [58]:21-22)
Ada tersurat nyata
pada lembaran-lembaran sejarah bahwa kebenaran senantiasa menang terhadap kepalsuan, bagaimana pun
hebatnya makar buruk yang dirancang oleh para penentang Rasul Allah tersebut, firman-Nya:
وَ قَدۡ مَکَرُوۡا مَکۡرَہُمۡ وَ
عِنۡدَ اللّٰہِ مَکۡرُہُمۡ ؕ وَ اِنۡ کَانَ مَکۡرُہُمۡ لِتَزُوۡلَ مِنۡہُ الۡجِبَالُ ﴿﴾ فَلَا
تَحۡسَبَنَّ اللّٰہَ مُخۡلِفَ وَعۡدِہٖ
رُسُلَہٗ ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ
ذُو انۡتِقَامٍ ﴿ؕ﴾
Dan sungguh mereka telah melakukan makar mereka,
tetapi makar mereka ada di sisi Allah,
dan jika sekali pun makar
mereka dapat me-mindahkan gunung-gunung. Maka janganlah
engkau menyangka
bahwa Allah akan menyalahi janji-Nya kepada rasul-rasul-Nya, sesungguhnya Allah
Maha Perkasa, Yang memiliki
pembalasan. (Ibrahim [14]:47-48).
Makna ayat: وَ عِنۡدَ اللّٰہِ مَکۡرُہُمۡ -- “tetapi makar mereka ada di sisi
Allah” yaitu Allah Swt. sungguh-sungguh mengetahui makar
buruk mereka, dan Dia akan menggagalkannya,
berikut firman Allah Swt. mengenai “duel
makar” antara Allah Swt. dengan para penentang
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. yang berusaha membunuh
beliau melalui penyaliban (QS.4:158-159) yang dimenangkan
Allah Swt.:
فَلَمَّاۤ اَحَسَّ عِیۡسٰی مِنۡہُمُ الۡکُفۡرَ قَالَ مَنۡ
اَنۡصَارِیۡۤ اِلَی اللّٰہِ ؕ قَالَ الۡحَوَارِیُّوۡنَ نَحۡنُ اَنۡصَارُ اللّٰہِ ۚ اٰمَنَّا بِاللّٰہِ ۚ وَ اشۡہَدۡ
بِاَنَّا مُسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾ رَبَّنَاۤ
اٰمَنَّا بِمَاۤ اَنۡزَلۡتَ وَ اتَّبَعۡنَا الرَّسُوۡلَ فَاکۡتُبۡنَا مَعَ
الشّٰہِدِیۡنَ ﴿﴾ وَ
مَکَرُوۡا وَ مَکَرَ اللّٰہُ ؕ وَ اللّٰہُ خَیۡرُ الۡمٰکِرِیۡنَ ﴿٪﴾
Maka
tatkala Isa merasa ada kekafiran pada mereka yakni kaumnya ia berkata: ”Siapakah penolong-penolongku dalam urusan Allah?” Para hawari
berkata: “Kamilah para penolong urusan Allah. Kami beriman ke-pada Allah, dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah
orang-orang yang berserah diri. Ya Rabb
(Tuhan) kami, kami beriman kepada apa
yang telah Engkau turunkan dan kami
mengikuti Rasul ini maka catatlah
kami bersama orang-orang yang menjadi
saksi.” وَ مَکَرُوۡا وَ مَکَرَ اللّٰہُ ؕ -- Dan mereka, yakni musuh Al-Masih, merancang makar buruk dan Allah
pun merancang makar tandingan
وَ اللّٰہُ خَیۡرُ الۡمٰکِرِیۡنَ -- dan Allah
sebaik-baik Perancang makar. (Âli ‘Imran [3]:53-55).
“Duel Makar” Dalam Peristiwa Penyaliban Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
yang Menggelincirkan Orang-orang yang “Berhati Bengkok”
Berikut adalah pernyataan Allah Swt. mengenai
keunggulan “makar tandingan” Allah
Swt. pada peristiwa upaya membunuh
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. melalui penyaliban yang dirancang
oleh para pemuka agama Yahudi,
firman-Nya:
وَّ قَوۡلِہِمۡ اِنَّا قَتَلۡنَا
الۡمَسِیۡحَ عِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ رَسُوۡلَ اللّٰہِ ۚ وَ مَا قَتَلُوۡہُ وَ مَا
صَلَبُوۡہُ وَ لٰکِنۡ شُبِّہَ لَہُمۡ ؕ وَ
اِنَّ الَّذِیۡنَ اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ لَفِیۡ شَکٍّ مِّنۡہُ ؕ مَا لَہُمۡ
بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ اِلَّا اتِّبَاعَ
الظَّنِّ ۚ وَ مَا قَتَلُوۡہُ یَقِیۡنًۢا
﴿﴾ۙ بَلۡ رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ عَزِیۡزًا
حَکِیۡمًا ﴿﴾
Dan karena
ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa Ibnu Maryam, Rasul Allah,” وَ
مَا قَتَلُوۡہُ وَ مَا صَلَبُوۡہُ وَ لٰکِنۡ شُبِّہَ لَہُمۡ -- padahal
mereka tidak membunuhnya secara biasa dan tidak pula mematikannya melalui penyaliban, akan tetapi ia disamarkan kepada mereka seperti telah mati di
atas salib. وَ اِنَّ الَّذِیۡنَ
اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ لَفِیۡ شَکٍّ مِّنۡہُ -- Dan sesungguhnya orang-orang
yang berselisih dalam hal ini niscaya ada dalam keraguan mengenai ini, مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ اِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ -- mereka
tidak memiliki pengetahuan yang pasti mengenai ini melainkan menuruti dugaan belaka وَ مَا قَتَلُوۡہُ یَقِیۡنًۢا-- dan mereka tidak yakin telah membunuhnya. بَلۡ رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ ؕ وَ کَانَ
اللّٰہُ عَزِیۡزًا حَکِیۡمًا -- Bahkan Allah telah mengangkatnya kepada-Nya dan Allah
Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (An-Nisā
[4]:158-159).
Makna kalimat mā
shalabū hu berkenaan ayat: وَ مَا قَتَلُوۡہُ وَ مَا صَلَبُوۡہُ وَ لٰکِنۡ
شُبِّہَ لَہُمۡ -- padahal mereka tidak membunuhnya secara biasa dan tidak pula mematikannya melalui penyaliban,
akan tetapi ia disamarkan kepada mereka seperti telah mati di
atas salib” artinya mereka tidak menyebabkan kematian dia pada
tiang salib, sebab shalab itu cara
membunuh yang terkenal.
Orang berkata
“shalaba al-lishsha” yakni “ia
membunuh pencuri itu dengan memakunya pada tiang salib”. Ayat itu tidak
mengingkari kenyataan bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dipakukan ke tiang salib, tetapi menyangkal
beliau mati di atas tiang salib itu, sebab jika itu terjadi
berarti makar buruk kaum Yahudi terhadap Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. berhasil.
Kata-kata “syubbiha lahum” artinya:
Nabi Isa a.s. ditampakkan kepada
orang-orang Yahudi seperti orang yang
mati disalib; atau maknanya hal kematian
Nabi Isa a.s. menjadi samar atau
menjadi teka-teki kepada mereka. Syubbiha
'alaihi al-amru, artinya “hal itu dibuat kalang-kabut, samar atau teka-teki
kepadanya” (Lexicon Lane).
Ungkapan, mā qatalūhu yaqīnan artinya: (1) mereka tidak membunuh dia dengan nyata;
(2) mereka tidak mengubah dugaan mereka jadi keyakinan,
yakni pengetahuan mereka mengenai kematian
Nabi Isa a.s. pada tiang salib tidak demikian pasti (meyakinkan) sampai tidak ada suatu celah keraguan pun dalam pikiran mereka bahwa
mereka benar-benar telah membunuh
beliau.
Dalam hal ini
kata ganti hu dalam qatalūhu menunjuk kepada kata benda zhann
(dugaan). Orang-orang Arab berkata “qatalasy-syai’a khubran”, yakni “ia
memperoleh pengetahuan sepenuhnya dan
pasti mengenai hal itu supaya meniadakan segala kemungkinan untuk meragukan hal itu” (Lexicon Lane; Lisan-al-‘Arab;
dan Al-Mufradat).
Bukti-bukti Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Tidak Wafat Tergantung di Kayu Salib
Bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tidak
wafat pada tiang salib tapi wafat secara wajar, jelas nampak dari Al-Quran. Fakta-fakta berikut,
sebagaimana dikisahkan dalam Injil
sendiri, memberi dukungan yang kuat
kepada keterangan Al-Quran itu:
1. Karena Nabi
Isa Ibnu Maryam a.s. itu
seorang Nabi Allah, beliau tak
mungkin mati pada kayu salib, sebab menurut Bible: "orang yang tergantung itu kutuklah bagi
Tuhan Allah" (Ulangan
21:23).
2. Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s. telah berdoa kepada
Tuhan dalam kesakitan yang amat sangat supaya "biarkanlah kiranya cawan (kematian di atas salib) ini lepas dariku"
(Markus 14:36; Matius 26:29; Lukas 22:42); dan doa
beliau telah terkabul (Iberani 5:7).
3. Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s. telah mengabarkan sebelumnya bahwa seperti Nabi Yunus a.s. yang telah masuk ke perut ikan besar dan telah keluar lagi hidup-hidup (Matius 12:40), beliau
akan tinggal dalam "perut bumi"
selama tiga hari dan akan keluar lagi hidup-hidup.
4. Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s. telah menubuatkan
pula bahwa beliau akan pergi mencari
kesepuluh suku bangsa Israil yang
hilang (Yahya 10:16). Bahkan
orang-orang Yahudi di masa Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. pun mempercayai bahwa suku-suku bangsa Israil yang hilang
itu telah terpencar ke berbagai
negeri (Yahya 7:34, 35).
5. Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s. telah
terpancang pada tiang salib hanya
selama kira-kira 3 jam (Yahya
19:14) dan sebagai orang yang memiliki kesehatan jasmani yang normal,
beliau tidak mungkin wafat dalam
waktu yang sependek itu.
6. Segera sesudah Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. diturunkan dari tiang salib, pinggang beliau ditusuk dan
darah serta air keluar darinya. Hal demikian merupakan tanda yang pasti bahwa
beliau masih hidup (Yahya 19:34).
7. Orang-orang Yahudi sendiri merasa tidak yakin mengenai kematian Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. sebab
mereka telah meminta kepada Pilatus untuk menempatkan penjaga di kuburannya "supaya
jangan murid-muridnya datang mencuri Dia, serta mengatakan kepada kaum, bahwa
Ia sudah bangkit dari antara orang mati" (Matius 27:64).
8. Tidak didapatkan dalam semua Injil barang sebuah
pun pernyataan tertulis dari seorang
saksi yang menerangkan bahwa Nabi
Isa Ibnu Maryam a.s. telah wafat ketika beliau diturunkan dari tiang salib atau ketika beliau
ditempatkan dalam kuburan. Lagi pula,
tidak seorang pun dari antara murid beliau hadir di tempat kejadian penyaliban, semuanya melarikan diri
tatkala Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dibawa ke tempat penyaliban.
Kejadian yang sebenarnya nampaknya demikian, boleh
jadi disebabkan oleh impian istrinya agar "Jangan berbuat barang apapun ke atas orang yang benar itu" (Matius 27 : 19), maka
Pilatus telah percaya bahwa Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s. tidak bersalah, dan karenanya telah
bersekongkol dengan Yusuf Arimatea -- seorang tokoh dari perkumpulan Essene, tempat Nabi
Isa Ibnu Maryam a.s. sendiri pernah menjadi anggotanya, sebelum beliau diutus
sebagai nabi -- untuk menolong jiwa
beliau.
Sidang pemeriksaan perkara Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. berlangsung pada hari Jum'at, karena Pilatus dengan sengaja mengulur waktu dengan perhitungan bahwa esok harinya jatuh Hari Sabat, saat orang-orang terhukum tidak dapat dibiarkan di atas tiang salib sesudah matahari terbenam.
Ketika pada
akhirnya Pilatus merasa terpaksa menghukum Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. ia memberikan keputusannya hanya 3 jam
sebelum terbenamnya matahari, dengan
demikian meyakinkan dirinya bahwa tidak ada orang yang normal kesehatannya
tinggal di atas tiang salib dalam
waktu yang sesingkat itu dapat mati.
Selain itu Pilatus telah sudi mengusahakan agar Nabi Isa Ibnu Maryam a.s diberi anggur atau cuka dicampur dengan rempah-rempah mur (myrrh) untuk mengurangi perasaan sakitnya.
Tatkala sesudah
3 jam lamanya tergantung, beliau diturunkan dari salib dalam keadaan tidak
sadarkan diri (mungkin karena pengaruh cuka yang diminumkan kepada beliau),
Pilatus dengan senang hati mengabulkan permintaan Yusuf Arimatea dan menyerahkan tubuh beliau kepadanya.
Lain halnya dari kedua penjahat yang digantung
bersama-sama Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., tulang-tulang
beliau tidak dipatahkan, dan Yusuf
Arimatea telah meletakkan beliau di suatu rongga
yang ruangnya luas, digali di bagian samping bukit padas. Ketika itu tidak ada
ilmu pemeriksaan mayat (medical autopsy), tidak ada percobaan stethoscopis,
tidak diadakan pemeriksaan dari segi hukum dengan pertolongan kesaksian dari
mereka yang terakhir bersama beliau ("Mystical
life of Yesus" oleh H. Spencer Lewis).
9. Marham Isa
(salep Isa) yang terkenal itu dibuat dan dipakai untuk mengobati luka-luka Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., dan beliau diurus
serta dirawat oleh Yusuf Arimatea dan
Nicodemus yang juga seorang yang
sangat terpelajar dan anggota yang amat terhormat dari Ikatan Persaudaraan Essene.
10. Setelah luka-luka beliau cukup sembuh, Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. meninggalkan kuburan itu dan menemui beberapa murid beliau dan bersantap bersama
mereka, lalu menempuh perjalanan jauh
dari Yerusalem ke Galilea dengan berjalan kaki (Lukas 24:50).
11. "The
Crucifixion by an Eye Witness," sebuah buku yang untuk pertama
kalinya iterbitkan pada tahun 1873 di Amerika Serikat, merupakan terjemahan
dalam bahasa Inggeris dari sebuah naskah surat dalam bahasa Latin purba yang
ditulis 7 tahun sesudah peristiwa salib oleh seorang warga Essene di Yerusalem kepada seorang anggota perkumpulan itu di
Iskandaria, memberi dukungan yang
kuat kepada pendapat bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s telah diturunkan dari
salib dalam keadaan masih hidup. Buku itu menceriterakan secara terinci
semua kejadian yang menjurus kepada peristiwa
salib, pemandangan di bukit tempat terjadinya penyaliban dan juga peristiwa-peristiwa yang terjadi kemudian.
Membantah Dua Pendapat Mengenai Upaya Pembunuhan
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. yang Gagal
Dua pendapat yang berbeda tersebar di
tengah-tengah orang-orang Yahudi mengenai dugaan
wafat Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. karena penyaliban.
Beberapa di antara mereka berpendapat bahwa beliau pertama-tama dibunuh, kemudian tubuh beliau digantung pada tiang salib, sedang yang lainnya
berpendapat bahwa beliau dibunuh
dengan dipakukan pada tiang salib. Pendapat yang pertama
tercermin dalam Kisah Rasul-rasul 5:50, kita baca: "Yang sudah kamu ini bunuh dan menggantungkan
Dia pada kayu itu."
Al-Quran membantah
kedua pendapat ini dengan mengatakan: وَ مَا قَتَلُوۡہُ وَ مَا صَلَبُوۡہُ -- "mereka
tidak membunuhnya, dan tidak pula mematikannya di atas salib." Pertama
Al-Quran menolak pembunuhan Nabi Isa Ibnu Mryam a.s. dalam bentuk apapun,
dan selanjutnya menyangkal cara pembunuhan yang khas dengan jalan
menggantungkan pada salib.
Al-Quran tidak menolak kenyataan bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. digantung pada tiang salib,tetapi Al-Quran
hanya menyangkal wafatnya di atas tiang salib.
Makna ayat: بَلۡ رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ ؕ وَ کَانَ
اللّٰہُ عَزِیۡزًا حَکِیۡمًا -- “Bahkan Allah telah
mengangkatnya kepada-Nya dan Allah
Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” Orang-orang Yahudi dengan gembira mengumandangkan telah membunuh Nabi Isa a.s. di atas tiang salib, sehingga dengan demikian
telah membuktikan bahwa pendakwaan beliau sebagai nabi Allah tidak benar.
Ayat itu bersama-sama ayat sebelumnya mengandung sangkalan yang keras terhadap tuduhan
tersebut serta membersihkan beliau
dari noda yang didesas-desuskan, lalu mengutarakan keluhuran derajat ruhani beliau dan bahwa beliau telah mendapat kehormatan di hadirat Allah Swt..
Dalam ayat itu
sama sekali tidak ada sebutan mengenai kenaikan beliau ke langit dengan
tubuh jasmani karena Allah Swt. tidak membutuhkan tempat tinggal. Ayat itu
hanya mengatakan bahwa Allah Swt. menaikkan
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. ke haribaan-Nya
Sendiri, hal demikian menunjukkan dengan jelas suatu kenaikan ruhani, sebab tidak ada tempat kediaman tertentu dapat
ditunjukkan bagi Allah Swt..
Menggenapi Nubuatan Nabi Besar Muhammad
Saw. Makna “Yaksirush-shalib (Mematahkan Salib)
Demikianlah rahasia gaib yang dibukakan Allah Swt.
kepada Masih Mau’ud a.s. di Akhir
Zaman ini (QS.3:180; QS.72-27-29) berkenaan
misteri penyaliban Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. yang telah menggelincirkan
orang-orang yang berhati bengkok sehingga timbul berbagai macam penafsiran yang keliru mengenai peristiwa penyaliban yang melahirkan fitnah Dajjal yang sebelumnya telah diperingatkan oleh para nabi Allah, terutama oleh Nabi Besar Muhammad saw..
Bukti-bukti selamatnya Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
dari kematian terkutuk di tiang salib
– sebgaimana yang diinginkan oleh para pemuka Yahudi -- tersebut merupakan penggenapan nubuatan dalam sabda Nabi
Besar Muhammad saw. mengenai salah satu tugas Imam Mahdi as. atau Masih Mau’ud
a.s. di Akhir zaman ini, yaitu “yaksiru
shalib” (mematahkan salib – HR Al-Bukhari dan Muslim) yaitu membatalkan faham “kematian
terkutuk” Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di tiang
salib untuk “menebus dosa manusia”,
firman-Nya:
وَ جَعَلۡنَا ابۡنَ
مَرۡیَمَ وَ اُمَّہٗۤ اٰیَۃً وَّ اٰوَیۡنٰہُمَاۤ اِلٰی رَبۡوَۃٍ ذَاتِ قَرَارٍ وَّ مَعِیۡنٍ ﴿﴾
Dan
Kami menjadikan Ibnu Maryam dan ibunya suatu Tanda, dan Kami
melindungi keduanya ke suatu dataran yang tinggi yang memiliki lembah-lembah
hijau dan sumber-sumber
mata air yang mengalir (Al-Mu’minūn
[23]51).
Oleh sebab kematian
Yesus (Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.) seperti
pula kelahirannya telah menjadi
masalah yang banyak dipertentangkan,
dan beberapa kekacauan pendapat dan keraguan masih tetap ada mengenai
bagaimana dan di mana beliau melampaukan hari-hari
terakhir dalam kehidupan beliau yang padat karya itu, dan oleh karena
persoalan cara menemui ajal beliau
pun merupakan persoalan yang sangat penting
bagi agama Kristen maka pada
tempatnya diberikan catatan yang agak
lengkap mengenai persoalan yang penting tapi rumit ini.
Perjalanan Nabi
Isa Ibnu Maryam a.s. dari Palestina ke Kasymir
Al-Quran dan Bible dikuatkan oleh kenyataan-kenyataan sejarah yang telah
diakui sahnya, memberi dukungan kuat
kepada pandangan bahwa Yesus (Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.) tidak wafat di atas salib sebagaimana dikemukakan Allah Swt. dalam Al-Quran. Dalil-dalil dan keteranggan-keterangan berikut
menunjang dan mendukung pernyataan itu:
(1) Dalam bukunya "The Unknown Life of Yesus".
Nicholas Notovitch. seorang pengembara bangsa Rus yang pernah melawat ke Timur
Jauh pada kira-kira tahun 1877 menceriterakan. bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. pemah datang ke Kasymir dan Afghanistan.
Sir Francis Younghusband yang pada waktu Nicholas Notovitch mengunjungi Kasymir
adalah seorang penduduk berkebangsaan Inggris di istana Maharaja Kasymir,
bertemu dengan dia di dekat Zojila Pass.
Penyelidikan terbaru mengenai
perjalanan-perjalanan Nabi Isa a.s.
di Timur memberikan dukungan kuat kepada buku Notovitch. Profesor
Nicholus Roerich dalam bukunya "Heart
of Asia" mengatakan: "Di
Srinagar kami mula-mula menemukan hikayat yang
aneh sekitar kunjungan Yesus ke tempat itu. Kemudian kami melihat betapa
tersebar-luasnya di India, di Laddakh, dan di Asia Tengah hikayat mengenai
kunjungan Yesus ke berbagai-bagai daerah itu.
Di seluruh Asia Tengah, di Kasymir, di Laddakh, dan di Tibet, dan bahkan
lebih ke utara lagi masih terdapat kepercavaan yang kuat bahwa Yesus atau Isa
berkeliling di daerah itu” ("Glimpses of World History"
oleh Yawaharlal Nehru).
Beberapa sarjana telah berlindung di belakang
beberapa bagian yang samar pada buku Notovitch, untuk menyebutkan bahwa Yesus datang ke Timur sebelum dan bukan
sesudah beliau mendapat tugas sebagai nabi
Allah. Tetapi seorang
anak yang berumur baru 13 tahun atau 14 tahun seperti usia Yesus ketika datang ke India, tidak mungkin mempunyai gagasan
melaksanakan suatu perjalanan panjang
dan sulit ke tempat yang begitu jauh,
dan dengan demikian menantang bahaya maut di tengah perjalanan.
Gerangan tarikan apa atau tujuan apakah yang
mendorong Yesus pada usia yang semuda
itu datang ke India? Dan seandainya
beliau sungguh datang ke India pada masa itu, kepentingan apakah yang mendorong
orang-orang India dan Kasymir untuk memelihara
catatan mengenai kegiatan-kegiatan dan
pengembaraan-pengembaraan seorang
anak yang berusia 13 atau 14 tahun?
Kenyataan berdasarkan pada catatan-catatan sejarah yaitu bahwa
sesudah Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. ditolak
oleh orang-orang Yahudi dan jiwa beliau dalam keadaan bahaya di
Palestina, Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. meninggalkan
negeri itu guna mencari — untuk
memenuhi nubuatan-nubuatan lama dalam
Bible. — "Sepuluh suku Bani Israil
yang hilang" dan menempuh perjalanan
jauh serta berbahaya ke India dan Kasymir dan menjalani suatu kehidupan
yang penuh peristiwa-peristiwa sampai
mencapai usia yang amat tua yaitu 120 tahun (Kanz al-Ummal, Jilid
6).
Saat itulah catatan-catatan mengenai kegiatan-kegiatan
beliau mulai disimpan. "Sepuluh suku
Bani Israil yang hilang” itu, sesudah mereka dicerai-beraikan oleh
bangsa-banasa Assiria dan Babilonia, dan telah menetap di Irak dan Iran, dan kemudian ketika orang-orang Iran di bawah Darius dan Cyrus meluaskan daerah jajahannya lebih jauh lagi ke timur -- yaitu ke Afghanistan dan India -- maka suku-suku
Bani Israil itu hijrah bersama-sama dengan mereka ke
negeri-negeri tersebut.
(2) Orang-orang Kasymir dan Afghan adalah
keturunan "Sepuluh Suku Bani Israil
sang Hilang” itu. Kenyataan ini nampak jelas dari riwayat, sejarah, dan
catatan tertulis mengenai kedua kaum tersebut. Nama kota-kota dan kabilah-kabilah
mereka, bentuk tubuh mereka
dan sebagainya, semuanya menyerupai
orang-orang Yahudi.
Barang-barang pusaka
mereka dan prasasti-prasasti kuno
mereka menyokong pandangan itu. Ceritera-ceritera rakyatnva penuh dengan kisah-kisah yang berbau Yahudi. Nama Kasymir
sendiri sebenarnya Kasyir yang
berarti "seperti Siria" (atau nampaknya nama Kasyir itu diambil dari Kasyi atau Kusy, seorang cucu Nabi Nuh a.s.). Semua kenyataan memberi kepastian kepada pandangan bahwa bangsa Afghan dan Kasymir sebagian besar adalah keturunan "Sepuluh Suku Bani Israil yang Hilang."
(3) Bukti-bukti tersebut cukup menjadi
saksi untuk menunjukkan kenyataan, bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. sungguh-sungguh
datang ke Kasymir dan orang-orang Kasymir adalah keturunan "Sepuluh Suku Bani Israil yang Hilang”.
Tetapi bukti terbesar dan paling terang mengenai kedatangan beliau ke Kasymir dan telah tinggal dan wafat di sana adalah adanya kuburan beliau di kampung Khanyar, Srinagar, Kasymir. Kuburan yang disebut Rauzabal itu. dikenal dengan berbagai
sebutan, yaitu: kuburan Yus Asaf, kuburan Nabi Sahib (Baginda Nabi), kuburan Syahzadah Nabi (Nabi Pangeran),
dan bahkan kuburan Isa Sahib (Baginda
Isa).
Menurut penuturan sejarah yang telah terbukti sahnya, Yus Asaf datang ke Kasymir lebih dari
1900 tahun lampau dan mengajar dengan memakai tamsil dan mempergunakan banyak tamsil-tamsil
yang tercantum dalam Injil. Dalam sebagian buku sejarah tertentu. beliau
digambarkan sebagai seorang nabi.
Tambahan pula Yus Asaf itu suatu nama dalam Bible, yang berarti "Yasu”
yaitu ”pengumpul" yang merupakan
salah satu nama sifat Yesus, sebab
tugas beliau adalah mengumpulkan suku-suku Bani Israil yang telah hilang ke pangkuan Majikannya,
sebagaimana beliau sendiri katakan: "Ada
lagi padaKu domba lain yang bukan masuk kandang domba ini, maka sekalian itu
juga wajib Aku bawa, dan domba-domba itu kelak mendengar akan seruanku, lalu akan menjadi sekawan, dan gembala
seorang sahaja" (Injil Yahya
10:16).
Kutipan-kutipan yang bernilai sejarah
seperti berikut memberi juga sedikit penjelasan mengenai masalah ini:
"Makam
itu pada umumnya dikenal sebagai makam seorang nabi. Beliau seorang pangeran
yang datang ke Kasymir dari sebuah negeri asing dan giat dalam mengajar
orang-orang Kasymir, Namanya Yus Asaf” (Tarikh A'zhami, hlm.
82-85).
"Yus
Asaf mengembara di beberapa negeri
hingga beliau tiba di sebuah negeri
yang disebut Kasymir. Beliau menjelajah seluruh negeri tersebut dan
tinggal di sana hingga beliau wafat" (Ikmal-ad-Din, hlm. 258-359).
"Hikayat
Kasymir itu — demikian diberitahukan kepada sava — menyebutkan seorang nabi yang tinggal di sana dan memberikan pelajaran
seperti dilakukan oleh Yesus dengan tamsil-tamsil dan kisah-kisah pendek, yang
sampai saat ini dituturkan orang di Kasymir” (John
Noel's Article in Asia. Oct. 1930).
"Oleh
sebab itu kepergian Isa a.s. ke
India dan wafat di Srinagar tidak bertentangan dengan kebenaran, baik dari segi
akal atau sejarah" (Tafsir
al-Manar, jilid 6).
Tetapi kupasan yang lebih baik dan lebih
lengkap mengenai masalah ini lihat buku
"Masih Hindustan Mein"
ditulis oleh Hadhrat Ahmad (Mirza Ghulam Ahmad a.s.), Masih Mau'ud a.s.. Lihat
pula buku terkenal bernama "Nazarene
Gospel Restored” yang pengarangnya berpendapat bahwa sekalipun secara
resmi disalibkan pada tahun 30 Masehi namun Yesus masih hidup selama 20 tahun
sesudah kebangkitannya kembali.
Tidak mungkin ada lukisan lebih bagus
mengenai tempat di mana sesudah beliau terhindar
dari kematian terkutuk di atas salib, Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dan
ibunda beliau tinggal dengan aman-sentausa dan pulang ke rahmatullāh, daripada yang dikemukakan oleh Al-Quran dalam kata-kata "dataran yang tinggi yang memiliki lembah-lembah hijau dan sumber-sumber
air yang mengalir" yang merupakan lukisan yang sangat tepat
mengenai Lembah Kasymir yang indah itu. Nicholas Notovitch menamakan Kasymir
"Lembah Kebahagiaan Abadi".
Dengan demikian genaplah kebenaran firman Allah Swt.:
وَ جَعَلۡنَا ابۡنَ
مَرۡیَمَ وَ اُمَّہٗۤ اٰیَۃً وَّ اٰوَیۡنٰہُمَاۤ اِلٰی رَبۡوَۃٍ ذَاتِ قَرَارٍ وَّ مَعِیۡنٍ ﴿﴾
Dan
Kami menjadikan Ibnu Maryam dan ibunya suatu Tanda, dan Kami
melindungi keduanya ke suatu dataran yang tinggi yang memiliki lembah-lembah
hijau dan sumber-sumber
mata air yang mengalir (Al-Mu’minūn
[23]51).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik
Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 26 April
2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar